공유

Bab 52

작가: Ummi
last update 최신 업데이트: 2025-11-16 22:46:09

Bima melangkah mendekat, menatap tajam mata dokter itu. Auranya berubah, udara di ruangan terasa lebih dingin, lebih berat, lebih menyesakkan.

"Aku bisa mendeteksi racun dalam tubuh seseorang hanya dengan melihatnya. Termasuk racun yang kamu konsumsi sendiri untuk meningkatkan stamina, campuran Ginseng dan Guarana yang overdosis. Dosisnya sudah berbahaya. Dalam sebulan, ginjalmu akan rusak."

Dr. Wirawan semakin pucat. "Ba-bagaimana kamu-"

"Aku juga bisa membuat racun yang lebih cepat meru
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 111

    Dia berdiri dengan susah payah, memegang dadanya yang terluka parah oleh pukulan Tuan Santoso tadi. "Kita mundur untuk hari ini," lanjutnya. "Tapi ini belum berakhir. Aku sudah punya rencana B." Master Feng mengerutkan kening. "Rencana B?" Grandmaster Shadow berjalan ke meja besar di sudut ruangan. Di atas meja ada peta besar dengan beberapa titik yang ditandai. "Teknik Racun Keabadian bukan satu-satunya kekuatan yang kita cari," ujarnya sambil menunjuk salah satu titik di peta—lokasi di pegunungan Tibet. "Ada satu artefak kuno yang tersembunyi di Kuil Racun Kuno," lanjutnya. "Artefak yang konon bisa memberikan kekuatan Racun Keabadian pada siapapun yang menyentuhnya, tanpa perlu belajar tekniknya." Master Feng mata membulat. "Kamu bicara tentang... Poison God's Relic?" "Ya," jawab Grandmaster Shadow dengan senyum kejam di balik topengnya. "Selama ini kami mencari Teknik Racun Keabadian dari Nenek Badar dan Bima. Tapi ada cara lebih mudah—mendapatkan sumber asli kekuatan

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 110

    Dia berjalan menghampiri Bima yang masih terduduk lemah. Nenek Badar berlutut, memeriksa kondisi muridnya dengan tangan gemetar, bukan karena lemah, tapi karena khawatir. "Bocah bodoh, kamu terlalu memaksakan diri," ujarnya dengan nada memarahi tapi penuh kasih sayang. "Kamu menggunakan Teknik Racun Keabadian terlalu banyak. Tubuhmu bisa rusak permanen kalau kamu tidak hati-hati." Bima tersenyum lemah. "Aku tidak punya pilihan, Nenek. Aku harus melindungi Irene." Nenek Badar menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Kamu memang muridku. Keras kepala dan bodoh." "Eiits, nenek!" Bima melindungi kepalanya yang h Ndak dipukul lagi oleh nenek Badar. Pletak!! Tapi Bima tidak bisa mengelak pukulan di kepala itu. Namun, sedetik kemudian nenek Badar mulai mengalirkan energi Mana penyembuhan ke tubuh Bima, menetralkan sisa-sisa racun dan memperbaiki kerusakan internal. Padahal ia tahu, tak perlu melakukan itu karna Bima kebal terhadap racun. Tapi ia masih ingin menutupi kekuatan B

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 109

    Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon. "Bawa gadis itu ke sini. Sekarang." 5 menit kemudian, pintu terbuka. Dua orang Shadow Blade masuk membawa seorang gadis muda—Lin Xiao, adik Lin Mei. Gadis itu terlihat pucat dan lemah, tapi masih hidup. Lin Mei langsung berlari dan memeluk adiknya dengan erat sambil menangis. "Xiao! Kamu tidak apa-apa?!" Lin Xiao mengangguk lemah. "Jiejie... aku takut..." "Sudah aman sekarang," bisik Lin Mei sambil memeluk adiknya dengan erat. Nenek Badar tersenyum tipis melihat reuni itu. Lalu dia menatap Grandmaster Shadow. "Gadis itu sudah aman. Aku akan tepati janjiku." Dia mulai berjalan maju, melepas energi Racun Keabadian secara perlahan. Bima terkejut bukan main dengan mata membulat. "Nenek! Jangan!" Tapi Nenek Badar menggeleng. "Bima, kadang kekuatan terbesar bukan datang dari berapa kuat kamu bisa memukul, tapi dari berapa banyak nyawa yang bisa kamu selamatkan. Aku sudah hidup cukup lama. Sudah waktunya aku berkorban untuk generasi

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 108

    Energi ungu gelap meledak dari tubuhnya, membentuk kabut beracun yang menyebar dengan kecepatan luar biasa, memenuhi seluruh ruangan dalam sekejap. 4 Elite Shadow Guard yang berlari langsung terhenti di tengah jalan. Tubuh mereka kaku, tidak bisa bergerak, seperti dibekukan oleh racun. Mereka mencoba berteriak tapi suara tidak keluar. Mata mereka membulat penuh ketakutan saat tubuh mereka perlahan mulai membusuk dari dalam. Dalam 10 detik, 4 Elite Shadow Guard itu roboh menjadi mayat yang sudah membusuk parah, seolah sudah mati berbulan-bulan. 10 Elite Shadow Guard, kekuatan terbaik milik kelompok Bulan Sabit, semuanya mati dalam waktu kurang dari 2 menit. Nenek Badar berdiri di tengah ruangan dengan tenang, dikelilingi kabut beracun yang perlahan menghilang, tidak terpengaruh olehnya sama sekali. Dia menatap Grandmaster Shadow dan Master Feng dengan tatapan dingin. "Kalian berdua," ujarnya dengan suara rendah penuh ancaman, "siapa yang mau mati duluan?" Master Feng mu

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 107

    Suasana di ruangan gudang pelabuhan berubah total. Jika sebelumnya Grandmaster Shadow dan Elite Shadow Guard memancarkan aura dominan dan menakutkan, sekarang mereka semua merasakan tekanan yang jauh lebih berat. Nenek Badar berdiri dengan tenang, tapi energi yang mengalir dari tubuhnya membuat udara bergetar hebat. Energi Racun Keabadian versi master, ungu gelap pekat dengan kilatan hitam, mengalir seperti kabut mematikan di sekitarnya. Bima yang terluka di belakang Nenek Badar menatap gurunya dengan campuran lega, khawatir, dan kagum. "Nenek, tubuhmu masih penuh luka," ujar Bima dengan suara lemah. "Kamu baru saja kabur ya. Kamu tidak boleh memaksakan diri-" Pletak!! Bima mengaduh, tapi ia tersenyum. Ternyata pukulan neneknya masih sama, masih menyakitkan. "Diam, Bima," potong Nenek Badar dengan lembut tapi tegas. "Istirahat dulu. Biar Nenek yang urus mereka." Dia tidak menoleh pada Bima, matanya tetap fokus pada Grandmaster Shadow dan 10 Elite Shadow Guard. Dan Bima

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 106

    Master Feng menelan ludah. Untuk pertama kalinya, dia merasakan ketakutan yang begitu besar. Irene dan Lin Mei menatap Bima dengan mata membulat. Mereka tidak pernah melihat Bima se-menakutkan ini. Tapi di dalam hati Bima, dia tahu dia sudah menggunakan terlalu banyak energi. Tubuhnya mulai terasa berat. Teknik Racun Keabadian memakan stamina dan Mana dengan sangat cepat. 'Aku harus mengakhiri ini dengan cepat,' pikir Bima. 'Sebelum tubuhku tidak kuat lagi.' Master Feng melihat ekspresi Bima yang sedikit berubah. Dia tersenyum tipis. "Kamu sudah kehabisan energi, bukan?" ujarnya dengan nada percaya diri kembali. "Teknik sekuat itu pasti memakan banyak stamina. Kamu tidak akan bisa bertahan lama." Bima tidak menjawab, tapi tangannya yang gemetar secara halus sudah menjawab semuanya. Master Feng tertawa. "Aku benar. Kamu sudah di ambang batas." Dia mengangkat tangannya, dan tiba-tiba~ Pintu ruangan meledak terbuka! BLAM! 10 orang lagi masuk, tapi kali ini bukan Sha

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status