Share

bab 7 Bayangan Kaesar.

Author: Pita
last update Last Updated: 2025-09-02 20:03:45

Pangeran Kaesar Avdar duduk santai di kursi kayu berukir naga emas. Segelas anggur merah berkilau di tangannya, bibirnya melengkung dengan senyum penuh kemenangan.

“Langkah pertama sudah berhasil,” gumamnya. “Putra Mahkota kini menjadi bahan cemoohan. Hanya tinggal menunggu waktu hingga ia benar-benar tersingkir dari tahta.”

Di hadapannya, seorang pelayan berlutut dengan kepala menunduk.

“Pangeran, kabar sudah menyebar. Banyak bangsawan mulai meragukan Pangeran Jagatra. Mereka… sudah mulai melirik Anda sebagai calon pewaris yang lebih layak.”

Kaesar tertawa kecil. Tawanya dingin, penuh perhitungan.

“Bagus. Biarkan mereka percaya Jagatra adalah pengkhianat. Saat kepercayaan itu runtuh, bahkan ayahanda sendiri tidak akan punya alasan untuk mempertahankannya.”

Namun, di balik keangkuhan itu, ada sesuatu yang membayangi Kaesar. Bayangan berupa ambisi yang tak mengenal batas, bercampur dengan kebencian mendalam pada kakaknya.

Ia masih mengingat masa kecil mereka ketika Jagatra selalu menjadi pusat perhatian rakyat, dielu-elukan sebagai pewaris sah. Kaesar, meski mendapat kasih sayang lebih dari ibu, tetap merasa terlempar dari cahaya itu.

“Sejak dulu, semua orang hanya melihatnya. Jagatra si anak emas, pewaris mahkota, calon raja bijaksana. Tapi mereka tidak tahu… aku lebih pantas dari dia. Aku lebih layak dari siapa pun.”

Mata Kaesar berkilat. Tangannya mengepal begitu keras hingga gelas anggur pecah, meneteskan cairan merah seperti darah di lantai.

Di sudut ruangan, dua orang pengawal pribadinya yang diam-diam lebih loyal padanya dibanding kerajaan menunduk menunggu perintah.

“Sebarkan lebih banyak isu,” kata Kaesar tajam. “Cari setiap celah untuk menjatuhkan pangeran Jagatra Dan bila perlu… buat skenario baru. Aku tidak peduli seberapa kotor cara yang digunakan.”

Bayangan ambisi Kaesar semakin pekat. Dan di tengah cahaya lilin yang bergoyang, tampak jelas: inilah awal dari permainan licik seorang adik yang akan melakukan segalanya demi merebut tahta.

Sementara itu, di kamar lain, Jagatra tidak menyadari bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai dan musuh terbesarnya ada dalam darahnya sendiri.

Langkah-langkah tergesa terdengar di luar pintu kamar Kaesar. Seorang pengawal masuk dengan wajah panik.

“Pangeran, ada kabar… rakyat di desa sebelah barat mulai bergumam tentang kebenaran surat fitnah itu. Mereka mulai percaya bahwa Pangeran Jagatra tidak setia pada kerajaan.”

Kaesar tersenyum miring.

“Bagus. Biarkan suara rakyat bergema. Fitnah tanpa saksi sering kali lebih kuat daripada kebenaran itu sendiri.”

Namun setelah pengawal itu pergi, Kaesar terdiam di kursinya. Matanya menatap kosong ke arah jendela, ke arah istana tempat Jagatra berada.

Ada sesuatu yang mengusiknya bayangan Jagatra yang selalu berdiri tegak meski terus dipukul dari segala arah. Ia benci kakaknya, tapi di balik kebencian itu, ada ketakutan kecil yang tak pernah mau ia akui:

Bagaimana jika Jagatra benar-benar bertahan? Bagaimana jika ia lebih kuat dari yang kubayangkan?

Kaesar menggenggam pedang pendek di sampingnya, ujung jarinya menyentuh dinginnya baja.

“Tidak. Aku tidak boleh ragu. Jagatra harus jatuh. Dan kalau fitnah tidak cukup… aku akan menemukan cara lain. Apa pun caranya.”

Bayangan api lilin menari di wajahnya, menegaskan tekad penuh kelicikan itu.

Di sisi lain istana, Jagatra berdiri di balkon kamarnya, memandang langit malam yang penuh bintang. Hatinya masih bergulat dengan fitnah yang menjeratnya, tanpa tahu bahwa di balik kedamaian malam itu, ada bayangan adik kandungnya sendiri yang sedang merencanakan langkah-langkah gelap untuk menghancurkannya.

Bayangan itu bernama Kaesar Avdar.

Malam semakin larut, namun Kaesar belum juga memejamkan mata. Lilin-lilin sudah hampir padam, meninggalkan bau asap tipis yang memenuhi ruangan.

Di atas meja kayu, terbentang peta kerajaan Aethelgard Silvanus. Jari Kaesar menyusuri jalur desa, kota, hingga istana. Ia berhenti pada titik yang menandai balairung kerajaan tempat Jagatra biasanya berdiri di sisi Raja William.

“Pangeran Jagatra, kau mungkin masih tersenyum sekarang,” bisiknya lirih, penuh dendam. “Tapi senyum itu akan segera lenyap. Aku akan merenggut semua yang kau miliki tahta, rakyat, bahkan cinta yang mungkin akan kau temukan.”

Bayangan tubuhnya membesar di dinding, seolah menggambarkan ambisi yang semakin rakus, menelan nurani yang tersisa.

Di luar jendela, angin malam berembus membawa suara lonceng penjaga yang bertugas. Jagatra di kamarnya yang jauh di sisi lain istana, masih mencoba menenangkan hatinya yang dilanda fitnah.

Dua saudara, dua dunia, dua takdir. Satu berjuang bertahan, satu bertekad menghancurkan.

Dan malam itu menjadi saksi lahirnya permusuhan yang kelak akan mengubah seluruh wajah kerajaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 105 Audina terseret fitnah.

    Di sudut kota bawah Aethelgard, Audina berdiri di depan kios kain tempat ia biasa membantu sejak fajar,Bisik-bisik terdengar bahkan sebelum matahari sepenuhnya naik,tatapan orang-orang berubah lebih lama, lebih tajam, seolah mencari kesalahan di wajahnya.“Audina Veleryna Arsela?” tanya seorang prajurit istana, nada suaranya netral namun dingin.Audina mengangguk. “Aku.”“Kau diminta hadir di Balai Rakyat,sekarang.”Kerumunan langsung bergolak,seorang wanita tua berbisik, “Itu dia yang katanya dekat dengan Pangeran Mahkota.”Audina membeku..Di Balai Rakyat, gulungan kertas telah ditempel rapi,tinta masih segar, cap kerajaan tercetak jelas. Tuduhannya singkat namun mematikan: pengaruh tak pantas terhadap keputusan Pangeran Mahkota, koneksi rahasia dengan pihak istana, potensi ancaman stabilitas.Audina membaca semuanya tanpa berkedip,lalu ia tertawa kecil bukan karena lucu, melainkan karena pahitnya terasa terlalu nyata.

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 104 Kaesar menunjukkan taring.

    Pintu Balai Agung menutup perlahan di belakang Kaesar,Lorong istana membentang dingin, Kaesar melangkah tanpa pengawal, tanpa gelar yang diteriakkan, tanpa bayang-bayang ibu yang selama ini menuntunnya.Di balik tiang marmer terakhir, seorang pelayan istana menunduk terlalu cepat.“Pangeran..”Kaesar berhenti.“Apa kau tahu bedanya bayangan dan taring?” tanya Kaesar tanpa menoleh.Pelayan itu terdiam.“Bayangan hanya mengikuti,” lanjut Kaesar. “Tapi taring menunggu,Ia diam, ia disembunyikan, tapi sekali menggigit tak ada yang lupa.”lalu melanjutkan kembali langkahnya.Di sayap barat istana, tempat para bangsawan jarang melintas, Kaesar memasuki sebuah ruang baca lama, debu menempel di rak-rak tinggi, namun satu meja sudah bersih terlalu bersih untuk ruangan yang katanya tak terpakai.Seseorang telah menunggu disana.“Pangeran Kaesar,” ucap sosok itu sambil menunduk setengah. “Atau Kaesar saja?”“Cukup Kaesar

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 103 Saudara yang berkhianat.

    Beberapa bangsawan menunduk, yang lain menatap lantai marmer seolah takut melihat pantulan wajah mereka sendiri, wajah orang-orang yang terlalu lama hidup di dalam kebohongan yang nyaman.Kaesar berdiri kaku, napasnya berat.“Sepanjang hidupku, aku diajarkan satu hal bahwa tugasku adalah menggantikan Jagatra jika ia dianggap tidak layak.”Ia menoleh ke arah Ratu Elean.“Bukan karena aku lebih pantas,tapi karena aku lebih mudah dibentuk.”Ratu Elean tidak menyangkal.“Aku membesarkanmu sebagai tameng,jika Jagatra jatuh, kerajaan tidak ikut runtuh.”Jagatra mengepalkan tangannya, namun suaranya tetap terkendali. “Dan demi tameng itu, kau menyiapkan pisau di belakangku.”Kaesar menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali.“Semua dukungan yang kudapat,” ucap Kaesar, “semua fitnah yang beredar bukan kebetulan.”Ratu Elan menghela napas panjang. “Aku tidak memulainya,tapi aku membiarkannya.”Beberapa bangsawan terperanj

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 102 Rahasia kelahiran.

    Balai Agung belum sepenuhnya kosong saat seorang pejabat arsip berambut putih melangkah kembali ke tengah aula,tangannya gemetar memegang satu map yang berbeda lebih tipis, bersegel lama dengan lilin yang warnanya sudah pudar.“Yang Mulia,” ucapnya ragu pada Raja William. “Dalam proses penelusuran arsip keputusan darurat kami menemukan lampiran yang selama ini diklasifikasikan sebagai pribadi kerajaan.”Raja William mengangkat wajah. Ratu Elean menegang, kali ini lebih jelas.“Bacakan,” perintah Raja, suaranya serak.Pejabat itu menelan ludah. “Ini bukan tentang kebijakan, Ini tentang kelahiran.”Jagatra menoleh perlahan, alisnya berkerut tipis sedangkan Kaesar berdiri kaku, seolah tubuhnya menolak bergerak lebih jauh.“Lampiran ini,” lanjut pejabat itu, “menyatakan bahwa pada malam kelahiran Pangeran Kaesar, terjadi keadaan darurat di istana,dokumen ini ditandatangani oleh tabib kerajaan dan disahkan oleh Yang Mulia Ratu Elean.”

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 101 luka yang membuka mata.

    Kaesar melangkah maju setengah langkah, wajahnya tidak lagi setenang yang selama ini ia pakai.“Jadi, seluruh hidupku adalah hasil keputusan yang tidak pernah kuambil sendiri?”Ratu Elean membuka mata,tatapannya lurus, ia tak menghindar.“Kau dibesarkan untuk kuat,nukan untuk bertanya.”balas Ratu elean datar.Kaesar tertawa.“Dan Jagatra dibesarkan untuk jujur,tanpa pernah diberi kejujuran.”Jagatra tidak menyela, Ia membiarkan luka itu berbicara sendiri.Seorang bangsawan tua berdiri dengan tangan gemetar.“Jika keputusan darurat ini digunakan tanpa legitimasi hukum maka semua penguatan dukungan selama ini...”“tidak sah,” sambung pejabat arsip kerajaan dengan suara tertahan.“Dan banyak keputusan politik berdiri di atas fondasi rapuh.”Bisik-bisik kembali bergelombang, kali ini bukan rumor, melainkan ketakutan.Raja William menatap kedua putranya bergantian, tidak ada kebanggaan di wajahnya hanya pe

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 100 Rahasia besar terungkap.

    Balai Agung dibuka lebih awal dari biasanya,tidak ada pengumuman megah, tidak ada panggilan paksa,namun bangku-bangku terisi perlahan oleh para bangsawan, kesatria, pejabat, bahkan perwakilan rakyat yang jarang diizinkan masuk sejauh itu berada disana.Jagatra masuk tanpa iring-iringan berlebihan, Ia berjalan sendiri ke tengah aula, berhenti beberapa langkah dari singgasana.Raja William sudah duduk di singgasananya,di sisi kanan, Ratu Elean anggun seperti biasa,di sisi kiri, Kaesar berdiri dengan wajah tenang yang sudah ia pelajari selama bertahun-tahun.“Pangeran Mahkota,” suara Raja William menggema, datar. “Kau meminta audiensi terbuka, katakan tujuanmu.”Jagatra mengangguk. “Aku datang bukan untuk membela diriku dan bukan pula untuk menuduh.” ucap Jagatra dengan suara tegas.Bisik-bisik langsung terdengar.“Aku datang,” lanjut Jagatra, “untuk membuka satu kebenaran yang selama ini disimpan demi apa yang disebut stabilitas.”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status