ログイン"Terima kasih, Putri Mahkota." Arya kembali menyampaikan terima kasih.Anggi mengerutkan kening. "Ke depannya kita sudah satu keluarga, nggak perlu terlalu sungkan. Panggil saja dia Zahra." Kalau nanti sudah menikah, setiap hari memanggil "Putri Mahkota" terus, bukankah jadi canggung?Sejak dia dan Luis saling menaruh hati, dia lebih sering memanggilnya "suamiku", jarang sekali memanggil dengan sebutan resmi seperti pangeran, putra mahkota, atau kaisar."Panggil Zenna dengan namanya langsung, panggil Ishaq sebagai kakak. Kalau bertemu aku dan Kaisar, ikut saja cara Zahra memanggil kami," kata Anggi.Meskipun pernikahan agung belum dilangsungkan, begitu titah turun, Arya sudah menjadi pendamping Zahra. Itu berarti, mereka sudah keluarga.Lagi pula, Anggi sudah melihatnya tumbuh besar. Semakin dilihat semakin cocok. Jadi, Anggi sama sekali tidak ingin mempersulitnya.Bibir Arya mengatup rapat, lalu dia mengangguk perlahan. "Baik, Ibunda."Wajahnya terasa panas. Dia berpura-pura tenang da
Di Paviliun Hangat, dia teringat banyak hal. Dulu ketika Zahra pergi ke Biro Falak, dia juga sering menunggu di paviliun ini bersama Ando dan Titiek.Tahun demi tahun berlalu. Paviliun Hangat masih ada, Biro Falak juga masih ada, hanya Aska yang sudah berkelana jauh. Sementara dirinya, tetap saja orang yang tidak bisa masuk ke Biro Falak."Tuan, biar Putri Mahkota yang mengeluarkan titah untuk memerintahkan Pangeran Ishaq keluar dari Biro Falak, lalu pindah dari istana dan mendirikan kediaman sendiri. Bukankah cara itu bisa?" Sembilan memeras otak, akhirnya terpikir cara ini.Arya tersenyum pahit. "Di tangannya ada segel Biro Falak. Dia adalah calon pemimpin berikutnya. Lagi pula, Guru tidak ada, jadi dialah yang memimpin Biro Falak. Bahkan Zahra pun nggak bisa memerintahkannya sembarangan."Sembilan termangu sesaat. "Kalau begitu, pikirkan cara lain. Selama bisa membuat Pangeran Ishaq keluar dari Biro Falak, setidaknya kita masih punya ruang untuk berusaha."Arya mengerutkan kening. "
Zahra membuka mulutnya. "Nggak bisa, nggak bisa. Kalaupun Kakak harus menikah, tetap tidak boleh cari janda cantik."Arya mengangguk. "Tentu tidak boleh.""Tapi kalau tidak ada gadis yang mau menggoda Kak Ishaq ...."Benar juga. Tidak ada gadis dari keluarga baik-baik yang mau menggoda Pangeran Mahkota. Kalau begitu, bukankah dia akan selamanya tidak bisa menyentuh Zahra?Memikirkannya saja sudah membuat Arya putus asa."Zahra, urusan ini tidak bisa dilakukan terlalu tergesa-gesa. Bisa nggak kamu jangan sekeras ini?" Mata Arya tampak penuh permohonan.Zahra menggeleng. "Nggak bisa."Jika urusan keturunan kekaisaran belum terselesaikan, bagaimana dia bisa tenang? Kalaupun dia melahirkan sendiri, mana bisa dibandingkan dengan beberapa saudara yang melahirkan bersama?Di satu sisi sikapnya tegas, di sisi lain dia menggenggam tangan Arya. "Arya, kamu pasti bisa. Aku percaya padamu."Tatapan Zahra begitu indah. Tanpa sadar dia mengangguk. "Mm, aku pasti akan menemukan caranya."Zahra tersen
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arya.Zahra tersenyum. Padahal mereka bertemu setiap hari, bagaimana mungkin Arya tidak tahu apakah dia baik-baik saja atau tidak.Bodoh."Mm, baik-baik saja," jawab Zahra sambil berjalan menuju Istana Emas.Arya, Sembilan, Ando, dan Titiek pun ikut menyusul.Setelah kembali ke Istana Emas.Arya ingin mencari kesempatan untuk mencium dan memeluknya, tetapi siapa sangka Zahra terus sibuk. Sesekali para pelayan istana datang untuk mengukur tubuhnya dan menyesuaikan pakaian."Tuan Muda juga perlu diukur, untuk persiapan busana pernikahan," kata orang dari Biro Busana.Arya baru tersadar. "Waktunya begitu mepet, apa masih sempat?""Seluruh bordir sudah dipersiapkan sejak awal. Sekarang hanya tinggal tahap akhir. Tuan tidak perlu khawatir, semuanya akan selesai tepat waktu.""Terima kasih atas jerih payahnya.""Sebuah kehormatan bagi kami," jawab orang dari Biro Busana.Setelah pengukuran selesai, mereka akhirnya pergi.Arya memberi isyarat dengan pandangan pada
Jantungnya berdegup kencang, bahkan lebih keras daripada suara ketukan pintu."Masuk," kata Arya mempersilakan Sembilan.Sembilan berpikir, pemilik toko itu melihat Yara masih gadis, masa sampai memberikan buku yang terlalu vulgar kepadanya?Memikirkan itu, dia sedikit merasa lega. Kemudian, dia mendorong pintu dan masuk, menyerahkan dua buku cerita yang tidak terlalu vulgar. "Ini buku cerita yang hamba carikan."Arya melirik sekilas. "Buku cerita?" Memang hanya Sembilan yang suka membaca buku-buku semacam ini.Sembilan tersenyum, "Pangeran sejak kecil diasuh oleh Master Cahyo. Di dalam hati pasti ada sifat seperti Buddha, setidaknya dalam urusan pria dan wanita .... Jadi, buku-buku ini semua tentang orang dari kalangan Buddha yang kembali ke dunia fana."Arya menerimanya. "Baik."Dia terdiam sejenak, lalu menatap Sembilan. "Kamu jangan cuma suka baca saja. Kamu juga harus berusaha. Kalau nggak, ke depannya jangan baca lagi."Sembilan mengangguk, menepuk dadanya sambil bersumpah, "Hamb
Awalnya, Sembilan tersentak. "Mana mungkin, mana mungkin. Dari lubuk hati terdalam, hamba justru berharap Tuan Arya bahagia.""Kalau begitu, cepat bawa aku ke sana. Sebentar lagi gerbang kediaman akan ditutup.""Hamba .... Baiklah." Sembilan tak berani lagi mengelak.Tak sampai sejam, akhirnya mereka tiba di Rumah Buku Minat. Lokasinya memang relatif terpencil. Tak heran ada buku-buku cerita semacam itu di sana."Aduh, Tuan Sembilan datang." Pemilik Rumah Buku Minat langsung menyambut Sembilan dengan senyuman.Begitu melihat Yara, dia sedikit terkejut. Mengapa membawa seorang gadis? Oh, tidak. Dari pakaiannya, jelas dia adalah gadis bangsawan. Pasti dari keluarga pejabat atau ningrat.Sembilan berkata, "Hari ini aku nggak mau basa-basi. Ada nggak buku cerita tentang biksu yang jatuh ke dunia fana?""Oh ... tentu ada.""Kalau begitu, jangan banyak omong. Aku mau semuanya." Yara berbicara lugas, lalu melemparkan sebongkah perak ke penjaga toko. "Satu pun nggak boleh kurang.""Oh ... baik
Dika menoleh pada Puri. "Apakah dua pelayanmu akan terus menemanimu tinggal di Negeri Cakrabirawa nantinya?"Puri memberi hormat, "Menjawab Jenderal, hamba akan selalu mendampingi Putri.""Aku ingat masih ada seorang pelayan lagi?" Dika melihat sekeliling, tapi di ruangan itu tidak ada pelayan berna
Anggi mengernyit, menatap Sakura dan Lukman."Kaisar sudah mengeluarkan titah. Katanya selama para murid tabib wanita berhasil menyelesaikan pelajaran, mereka bisa masuk istana menjadi tabib wanita. Yang lebih unggul bahkan bisa diangkat sebagai tabib istana. Lalu, kenapa jumlahnya hanya segini?"Lu
Mengenai Leliana di depannya .... Junaryo menatap pelayan itu dan bertanya, "Kamu sangat familier dengan ibu kota. Kamu pasti pernah tinggal di sini sebelum pergi ke Negara Darmo, 'kan?""Ya." Jelita tersenyum dan menawarkan, "Apa Jenderal mau minum teh sebentar di tempatku?""Baiklah," sahut Junary
Anggi tersenyum tipis.Dika kembali menceritakan seluruh kejadian itu pada Luis. Luis berkata, "Aku juga merasa apa yang dikatakan Dika benar. Kamu nggak perlu mengambil risiko."Luis menoleh pada Anggi dan menggenggam tangannya. "Kita nggak bisa selalu hidup dalam kewaspadaan, sampai-sampai melewat







