Se connecter
Jika Zahra benar-benar tidak menyukai Arya, dia hanya bisa memilih pria lain. Asalkan perasaannya terhadap Aska bukanlah perasaan seperti itu."Ibunda, aku datang hari ini memang untuk membicarakan hal ini dengan Ibunda.""Oh? Apakah kamu sudah memilih?"Zahra mengangguk. "Keluarga Jenderal Tantomo, Arya."Meskipun masih dalam perkiraan, jawaban ini tetap terasa sedikit di luar dugaan. Bagaimanapun, saat dulu Aska menyatakan akan membantu Arya, Anggi tidak benar-benar yakin semuanya pasti berhasil.Menatap Zahra, hati Anggi terasa getir. "Zahra, katakan pada Ibunda, itu benar-benar pilihan dari lubuk hatimu?""Tentu saja, Ibunda.""Zahra, pernikahan setiap gadis adalah perkara yang sangat penting. Aku dan ayahandamu sama-sama berharap kamu bisa memilih orang yang kamu sukai. Kalau memang terlalu terburu-buru, sebenarnya juga bisa ditunda."Walaupun mereka memiliki rencana, rencana apa pun tidak pernah lebih penting daripada kebahagiaan anak."Ibunda harus menepati janji."Zahra sangat
Di Istana Abadi.Arya, Ando, dan Titiek, beserta para pelayan lainnya, semuanya menunggu di luar aula. Setelah Puspa menyajikan teh, dia pun ikut keluar.Dia menatap Titiek, bertanya dengan mata, apa yang hendak dibicarakan Putri Mahkota hari ini? Bahkan dirinya juga diusir.Titiek melirik Arya yang berdiri di samping.Puspa mengerutkan alis. Ada hubungannya dengan Arya? Kalau begitu, pasti berkaitan dengan pemilihan pendamping. Jadi, apa keputusan Zahra?Puspa melirik diam-diam, melihat raut Arya yang tampak berseri-seri. Sepertinya hasilnya baik.Titiek melangkah mendekati Puspa dan berbisik, "Belakangan ini kamu masih membaca buku-buku itu?"Wajah Puspa langsung memerah. "Kenapa tiba-tiba membahas itu?"Permaisuri memang tahu dia suka membaca cerita-cerita itu, dengan sedikit ilustrasi pria tampan dan wanita cantik. Bahkan Permaisuri juga mendukungnya memiliki hobi di waktu luang.Titiek berkata lagi, "Hari itu, saat Putri Mahkota memanggilmu, apa yang dibicarakan?"Puspa teringat h
Namun, di antara alis dan matanya terlukis sedikit kesedihan. Senyuman itu pun terasa getir.Bibir Zahra bergerak pelan. Bagaimana mungkin dia tidak tahu apa yang sedang Arya pikirkan?"Aku di sini." Melihat Zahra tidak berbicara, Arya berjalan kembali dua langkah, membuka payung dan memayungkannya di atas kepala Zahra untuk melindunginya dari sinar matahari.Sepasang mata yang seakan-akan bisa berbicara itu, bagaikan bintang yang kehilangan cahayanya, hanya menyisakan kilau sisa."Ada apa?" Arya tak tahan melihatnya mengerutkan kening dan tetap diam. Seketika, dia merasa khawatir. "Apa perkataan atau perbuatanku membuatmu serbasalah?"Dia sudah tahu. Buah yang dipaksakan untuk matang mana mungkin terasa manis?"Kalau begitu ... ke depannya aku masih boleh menjadi pengawal pribadimu?" Arya merasa takut.Ketika dia dengan berani mengejar Zahra, dia sudah membayangkan berbagai kemungkinan. Namun, jika pada akhirnya Zahra benar-benar tidak menyukainya, bahkan membencinya, sampai tidak mau
Ferris tertegun sejenak. "Ah, benar juga."Dia juga mendekat ke Zenna. "Kenapa aku nggak terpikirkan itu ya? Putri Zenna benar-benar pintar."Dengan akting mereka yang begitu buruk, bukankah mereka sudah ketahuan sejak kemunculan pertama mereka?"Ferris, kenapa aku merasa kata-katamu ini seperti sedang menyindir?" kata Zenna sambil menyipitkan mata."Mana mungkin," kata Ferris dengan ekspresi yang makin serius.Zenna langsung berkata, "Ekspresimu tadi jelas-jelas bilang kalau tindakan ini kekanak-kanakan ...."Ferris terdiam karena dia memang berpikir tindakan itu kekanak-kanakan. Meskipun ilmu bela dirinya tidak bisa mengalahkan putri mahkota, untung saja dia sangat cepat dalam kabur. Lagi pula, putri mahkota juga tidak berniat mengejarnya. Jika tidak, dia mustahil bisa lolos saat dikepung Arya dan putri mahkota."Putri Harmoni, maksudku nggak begitu," kata Ferris yang meminta maaf dengan tulus.Zenna mengangkat bahunya, tidak peduli Ferris itu tulus atau tidak. Dia juga terpaksa mela
Terdengar suara langkah kaki kuda lagi, lalu terlihat seorang pria bertopeng memelesat datang.Zenna berbisik, "Kak Arya, jangan dulu. Nanti kamu baru jadi pahlawan penyelamat si cantik."Arya langsung terdiam dan tetap hendak maju. Namun, Zenna mencengkeram lengan bajunya dan mengernyitkan alisnya sambil menggelengkan kepala, melarangnya untuk maju.Pada detik berikutnya, orang bertopeng itu sudah bertarung dengan Zahra. Namun, Zahra tidak memegang senjata, jelas berada di posisi kurang menguntungkan. Melihat itu, Arya merasa cemas dan hendak menerjang maju.Zahra tiba-tiba melompat dengan menjejak punggung kuda, lalu meluncur lurus ke arah Arya. "Kak Arya, tolong ...."Dia hampir saja terjungkal dan mencium tanah.Arya terpaksa berbalik dan menangkap Zahra, lalu menurunkannya ke tanah dengan selamat."Siapa kamu?" bentak Zahra.Saat melihat Zenna, Zahra merasa makin aneh. Namun, di detik berikutnya, pedang lentur di pinggang pria berbaju hitam itu meluncur keluar dan melayangkan sera
"Aku hanya lebih muda beberapa bulan darimu saja. Kamu saja tahu, kenapa aku nggak boleh tanya?" kata Zenna.Ferris langsung terdiam."Kalau kamu nggak mau bilang, aku akan teriak. Aku akan bilang kamu melecehkanku," ancam Zenna.Ferris kembali terdiam."Putri, kamu juga nggak bisa begitu."Setelah terdiam sejenak, Ferris mengeluarkan sebuah belati pendek dari kantongnya. "Ini untukmu. Kamu bilang ingin punya belati kecil yang tajam untuk melindungi diri, aku jadi susah payah mencarikannya untukmu. Tapi, aku baru saja menemukannya, kamu malah mau memfitnahku."Saat menatap sarung belati yang bertatahkan permata itu, Zenna jelas menyukainya. "Aku suka, cantik sekali."Melihat Zenna menyukainya, Ferris pun terlihat agak bangga. Namun ....Zenna mengangkat kepala dan menatap Ferris. "Maksudmu, Kak Arya datang ke sini untuk berkencan dengan Kak Zahra?"Ferris menganggukkan kepala. Melihat gadis kecil itu, entah mengapa dia merasa Zenna makin lama makin menggemaskan dan juga makin cerdas. D







