로그인“Dimana kamu sembunyikan Mas Arsa?” tanya Jenna dengan penuh emosi.Andira tertawa sinis. “Kamu tidak salah mempertanyakan dimana keberadaan pria itu kepadaku?”Jenna menuding wajah Andira. “Kamu masih istri sahnya. Tentu saja dia sebagai suami membagi waktunya bersama dengan kamu. Kamu itu jangan egois, ya? Yang membutuhkan Mas Arsa itu bukan cuma kamu.”Andira tertawa pelan melihat Jenna yang emosional melayangkan berbagai ucapan kepada dirinya. Andira menyimpulkan bahwa Jenna pasti sangat merindukan Arsa. Dan Arsa tidak diketahui dimana keberadaannya. Sekarang dialah yang dituduh menyembunyikan.“Memangnya kamu pikir ..., siapa yang membutuhkan Arsa? Aku?” Andira menunjuk dirinya sendiri.“Kalau kamu memang masih membutuhkannya, untuk apa menggugatnya cerai? Anak-anakmu bahkan sudah dirampas oleh Arsa karena kamu tak mau menyetujui Arsa menikah denganku. Selain itu, kamu juga berselingkuh,” ucap Jenna memiringkan bibirnya.Andira menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan terakhir
Apa harus demikian?” tanya Cindy sambil merapikan beberapa dokumen di dalam kotak kardus.Sembari meminum expresso hangat di tangan ... Andira menjawab, “tenang. Semuanya aman.”Wanita yang sedang dalam proses meresmikan status jandanya itu terlihat sangat tenang. Tenang, namun tatapan mata yang cukup tajam menerawang jauh. Seolah sedang menyusun rencana yang akan ia realisasikan. “Sudah selesai semuanya 'kan? Kalau sudah, panggil petugas cargo untuk mengangkut semua ini dan dipindahkan ke tempat yang aman,” saran Andira membuat Cindy dan Fauzan mengangguk..“Baiklah kalau begitu. Karena aku pulang kerjanya cepat, aku akan pergi berlibur sebentar,” ujar Fauzan sembari meregangkan otot tubuhnya.Hari ini Andira meminta kepada kedua karyawannya menuntaskan pekerjaan selesai dengan cepat. Andira juga ada jadwal untuk moot court bersama anak-anak fakultas hukum universitas di Jakarta. Jadi, dia lebih fokus menyiapkan materi untuk para calon praktisi hukum di masa depan.“Silakan gunaka
“Lebih baik kamu berhenti saja dari pekerjaanmu ini,” kata Demian sambil meletakan cangkir kopi susu ditangan.Andika mengerutkan keningnya. “Kenapa harus demikian?”“Demi keamanan mu,” kata Demian.“Sayang sekali harus begitu. Aku bersusah payah membangun karier ku,” sahut Andira dengan lesu.Saran dari Demian yang memintanya berhenti dari pekerjaan sebagai praktisi hukum, sama sekali tidak disetujui oleh Andira. Ia cinta dengan pekerjaan itu. Bagaimana mungkin harus berhenti begitu saja.Sebelum menikah, Andira merintis karir sebagai jaksa muda. Dan wanita itu harus merelakan pekerjaannya setelah menikah dan punya anak. Dan setelah anak-anaknya sudah bisa ditinggal, ia beralih profesi menjadi pengacara dan membangun firma hukum sendiri. Sekarang harus berhenti, sungguh disayangkan."Aku menemukan indikasi bahwa suamimu ada rencana ingin menjebak mu. Dia menginginkan kamu berhenti dari pekerjaanmu dengan cara menjebloskan kamu ke penjara.
Andira merasakan tubuhnya diangkat sosok yang membekap mulutnya. Kepala Andira bahkan ditutup menggunakan kain hitam, tangan diikat, dan mulut dilakban. Ia menyadari bahwa dirinya pasti diculik. Dan gudang tadi, adalah tempat untuk menjebak dirinya. Sosok yang menggendong tubuhnya itu menurunkannya. Ia bisa merasakan bahwa dirinya berada di dalam mobil. Dalam keadaan terbelenggu, Andira hanya bersikap pasrah walau hati diserang rasa takut. Cukup lama Andira berada di dalam mobil. Bahkan tak ada suara sepatah katapun yang berinteraksi dengannya. Dari pendengaran, terasa mobil telah berhenti. Kemudian, kain hitam yang menutup kepalanya dibuka.Ia terkejut melihat seorang pria yang berada di hadapannya kini. Dengan perlahan, lakban yang menutup bibir Andira, dilepas. Tak lupa belenggu ditangan jua. Kemudian, pria itu tersenyum kepadanya."Demian?!" gumam Andira.Ya. Pria itu adalah Demian. Dia membawa Andira dengan cara yang ekstrim. Seketika, Andira bingung dengan semuanya."Ya. Ini a
Andira 3 hari berada di Korea Selatan bersama anak-anaknya. Ia kini telah pulang ke Indonesia. Saat ia baru saja turun dari pesawat sebuah telepon masuk menghubungi dirinya. Dan itu dari calon mantan suaminya--- yang lebih tepatnya ayah anak-anaknya. Andira merasa heran mengapa Arsa menghubunginyaApakah pria itu mengetahui dirinya yang pergi ke Korea menjumpai anak-anak mereka? Atau ada hal penting yang akan mereka bicarakan? Jika misalkan Mereka ingin membicarakan mengenai perceraian, Andira berharap bahwa perceraiannya tidak dipersulit lagi oleh pria itu.Di Korea Selatan, ia berkomunikasi dengan Cindy bahwa gugatan perdata mengenai perceraian mereka sedang diproses oleh pihak pengadilan. Yang nantinya, ia akan menjalani sidang lagi. Karena sebelumnya sidangnya ditangguhkan. Arsa tidak mau menceraikan dirinya dengan alasan ingin rujuk. Sekarang Apapun alasannya, ia akan membuat pria itu tidak mampu untuk melawan dirinya lagi"Kenapa dia telepon aku?" gumam Andira memandang layar p
"brengsek!" ... Arsa membanting ponselnya hingga hancur berkeping-keping. Orang yang menipunya sampai saat ini belum ditemui di mana keberadaannya. Ia bahkan memarahi asistennya yang tidak becus mencari satu orang saja. "Tega dia menipuku! Di mana dia sekarang?" Arsa terlihat dendam dan marah. "Mas ... Kamu kenapa marah-marah sih?" Jenna yang mendengar suara gaduh, memilih masuk ke ruangan kerja Arsa sambil membawa secangkir teh hangat. "Siapa suruh kamu masuk ke dalam ruangan kerjaku?" bentak Arsa membuat Jenna berjingkat kaget. "Aku ke sini mau mengantarkan teh hangat buat Mas. Biasanya aku juga bebas kan masuk ke ruangan ini?" Arsa mendekati Jenna dana"Keluar. Aku tidak mau melihat wajah kamu!" "Tapi---" "Aku bilang keluar. Kamu dengar tidak?" Mata Arsa memerah karena emosi. "Baik." Jenn dengan wajah sedihnya menunduk dalam dan berjalan dengan lesu. Ia membuka pintu dan keluar dari ruangan kerja sang suami. Setelah berhasil keluar ruangan, ia mengintip wajah Arsa yang t
"Jadi Zeya dan Darrel dikirim ke luar negeri oleh Arsa?" tanya Demian kepada asistennya.Joseph mengangguk. "Benar. Itu semua terjadi setelah dari perdebatan antara ibu Andira dan juga Pak Arsa." "Ibu Andira tidak mau di poligami dan diminta untuk merawat anak dari madunya. Maka dengan itu, Ibu An
Andira sedang berdiri di bibir jurang dekat laut. Bahkan tatapan mata yang kosong itu, melihat bagian dasar jurang yang sangat jauh dari pandangannya. Di dasar jurang itu terdapat batu-batuan tajam. Meskipun tatapan matanya terlihat kosong, bibir mengulas senyum tipis. Entah mengapa wanita itu ter
Sudah lebih dari satu bulan Andira mencari keberadaan anak-anaknya. Namun, ia tidak dapat menemukannya. Ia bahkan meminta bantuan kepada pihak kepolisian untuk mencari di mana kedua buah hatinya yang dibawa pergi secara paksa oleh Arsa. Arsa bahkan memblokir semua aksesnya agar tidak bisa menghubun
Andira saat ini sedang kebingungan mencari kedua anaknya. Ia mendatangi rumah Ibu mertuanya kembali berharap bahwa anaknya ada di sana. Namun sayangnya, rumah itu kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Andira juga bertanya kepada tetangga sekitar di rumah Ibu mertuanya. Berharap bahwa ib







