เข้าสู่ระบบ“Kenapa jauh sekali? Bukannya harus mengurus berkas data diri untuk berangkat ke sana?” protes rekan kerja pria.
Anthonius masih membisu dengan pikiran ke mana-mana. Ia disuguhkan seorang pria berjas hitam dengan penampilan yang terlihat tegas dan kuat sedang berdiri di depan restoran dan menatap ke arah dalam.
Ia memperhatikan keadaan sekitar dan tatapannya tidak mengarah kepada siapa pun, melainkan ke arah dirinya.
‘Siapa dia? Apakah dia adalah anak buah dari ayah Anthonius?’
“Iya juga. Kamu ada ide untuk liburan ke mana karena ibu Bos menanyakan hadiah kita untuk liburan,” tanya rekan wanita kepada Anthonius sambil mencolek lengannya.
Anthonius menoleh ke arah beberapa rekan kerja yang masih ada di restoran bersama atasannya. Ia tidak mempermasalahkan liburan karena bagi dirinya, menyelesaikan tugas lomba adalah kewajiban.
“Terserah ke mana saja, yang penting saya bisa bermain laptop,” jawab Anthonius datar sambil mengangkat kedua pundaknya.
Lonceng pintu restoran terdengar dan artinya ada seseorang membuka pintu. Sontak, semua sorot mata mengarah kepada sosok yang membuka pintu restoran.
Dia melangkah perlahan dan santai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana kain. Rahang tegas membuat rekan wanita sampai menelan air saliva.
“Maaf, Mas, restoran kami sudah tutup dan kalau mau makan di sini, silakan datang besok pagi,” ucap atasannya sambil menatap lamat.
“Saya hanya ingin bertemu dengan dia,” ucap pria berwajah tegas sambil menunjuk Anthonius.
Anthonius mengangkat satu alis saat melihat pria berpakaian serba hitam menunjuk dirinya. Ia merasa tidak mengenal pria itu, tetapi dia seakan mengenal dirinya dengan baik.
“Maaf, kalau boleh tahu, apa alasan Anda ingin menemui karyawan saya?”
“Izinkan saya bicara dengannya,” ucap pria itu nada dingin dan sangat berat.
“Anth—”
Tanpa banyak bicara dan atasannya belum selesai bicara, ia melepas celemek dan bandana yang terpasang di kepala lalu mengambil tas untuk keluar dari restoran.
Anthonius keluar dari restoran tanpa berpamitan dengan atasan dan rekan kerjanya. Ia terus melangkah sampai hampir tiba di depan pagar kos.
“Kalau kamu tidak ada yang dibicarakan, pergi dari sini dan jangan sampai memancing amarahku keluar!” ancam Anthonius dengan intonasi penekanan.
“Buatlah sistem yang bisa digunakan untuk membalas dendam kalian,” jawab pria itu dengan datar.
“Membuat sistem untuk membalas dendam?” tanya Anthonius bingung yang jiwanya adalah Adrian.
“Ya. Buatlah sistem untuk membalas dendam. Sistem yang bisa membuat kalian balas dendam, tapi ada satu catatan untuk kalian,” jawab pria itu tanpa ekspresi sambil mengalihkan pandangan.
“Apa?” tanya Anthonius dengan intonasi penekanan dan datar.
“Jangan sampai membuat diri kalian membunuh pelaku yang merugikan kalian,” pesan pria itu dengan bijak.
Anthonius masih membisu sambil mengernyitkan dahi dengan menatap aspal yang ada di bawahnya. Ia hendak bertanya kepada pria itu, tetapi wujudnya sudah tidak ada di sampingnya.
Ia menoleh ke kanan, kiri, belakang, depan sambil melangkah untuk mencari keberadaan pria itu tidak ada.
‘Hantu sistem?’ batin Anthonius nada heran.
Ia masuk ke tempat singgah dengan merebahkan badan sambil memikirkan semua perkataan yang belum sempat mengetahui namanya.
Adrian memutar otak yang dimaksud dengan pria tadi. Dia terlihat seperti memberitahu jalan ke depan yang kemungkinan pasti terasa sulit ketika mencari tahu tentang semua yang ada di dalamnya.
Sistem balas dendam bisa dilakukan oleh siapa pun dan bisa diikutkan lomba kepadanya.
Namun, jika diikutkan lomba harus diuji terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam tahap final. Adrian menulis semua kebutuhan untuk mengembangkan sistem yang digunakan untuk membalas dendam.
Adrian berpikir bahwa semua itu membutuhkan alat dan bahan-bahan untuk membuat alat sangatlah mahal. Ia mencoba untuk menyusun skrip bahasa pemrograman setelah mengunduh aplikasi yang menjadi bahan untuk menulis skrip.
Adrian menyalurkan bakat yang dimiliki olehnya dan mencoba sekuat mungkin untuk kerangkanya. Ide dari pria yang mendatanginya sangat gila, tetapi patut dicoba karena tidak ada sistem seperti itu.
Ia telah selesai membuat sistem dasarnya dengan memasukkan wajah banyak orang yang dikenal olehnya di dalam sistem tersebut.
Tanpa terasa, hari telah berganti dan matahari telah terbit. Anthonius harus bergegas untuk bekerja, meskipun belum tidur sama sekali.
Anthonius menguap dengan tubuh tegap sambil melakukan peregangan. Tubuh dan matanya terasa lelah, tetapi harus tetap bersemangat untuk bisa menyelesaikan sistem yang waktunya hanya lima bulan lagi dari pendaftaran awal.
Ia hendak memasuki restoran sederhana itu telah disuguhkan antrean sangat panjang dari pagarnya. Sorot mata para pelanggan wanita tertuju kepadanya saat melihat kedatangan pelayan pria tampan dan atletis.
“Itu dia, pelayan yang ramai diperbincangkan!”
“Di mana dia tinggal?”
“Ada yang tahu di mana rumahnya?”
“Aku ingin memacarinya.”
Celotehan para pelanggan wanita sering didengar olehnya. Ia hanya membalas senyuman tipis sebelum melayani pelanggan. Anthonius melewati barisan antrean panjang dan bertemu kembali dengan pria semalam sedang mengantre.
Pria berpakaian serba hitam merupakan petunjuk Anthonius dalam pembuatan dan pengembangan sistem balas dendam.
“Bagaimana petunjuk yang aku berikan semalam?” tanya pria itu datar, tetapi sedikit tersenyum.
“Menarik.”
“Bagus. Lanjutkan!”
Anthonius membisu sambil menatap lamat ke arah pria itu.
‘Menarik sampai membuatku pusing tujuh keliling,’ batin Adrian kesal.
Ia masih penasaran dengan keberadaan pria itu semalam karena langsung menghilang, seperti terbawa angin.
Namun, semalam tidak angin sama sekali sehingga sampai sekarang membuatnya bertanya-tanya dan hendak bertanya keberadaannya semalam malah dipanggil oleh rekan kerja dan atasannya.
“Anthonius, sini masuk! Kita kewalahan!” seru atasan Anthonius.
Anthonius meninggalkan pria itu dengan tatapan tajam dan melewati semua pelanggan yang masih mengantre.
“Kamu cepetan ganti sana karena kita kewalahan dan pelanggan hari ini sangat banyak!”
“Panggil saya, Adrian saja, ya, Bu, semuanya,” pinta Anthonius sambil menatap semua rekan kerjanya.
“Oke. Kalian cepat bekerja!”
Anthonius mulai bekerja dengan mengantarkan makanan dan minuman mulai dari pagi hingga siang. Saat jam istirahat berlangsung, ia keluar untuk membeli makan dan minuman yang menunya berbeda dari restorannya.
Ia melihat seorang anak kecil mengenakan penutup kepala, seperti hendak terbang. Bahkan, ia berpura-pura seperti seorang astonot yang bekerja di luar angkasa.
Ide gila muncul di kepala Adrian. Bahkan, ia mengetahui hal apa saja yang akan dikerjakan olehnya nanti selepas pulang kerja.
“Kamu ingin topi yang dilihat oleh anak itu, Anthonius?” tanya Akbar nada menghina saat mengantre makanan penyetan di luar restoran sederhana.
Anthonius menghela napas kesal saat bertemu dengan pria yang tak tahu diri dan malu setelah dipermalukan olehnya.
Ia mengambil pesanan makanan dan minuman dari penjual sambil tersenyum lalu keluar dari warung itu. Anthonius tersandung hampir terjatuh di aspal hingga makanan dan minuman siang terlempar ke jalan dan dilindas oleh mobil.
“Rasain, kamu gak bisa makan makanan yang gak pantas untukmu!” hina Akbar sambil tertawa.
Anthonius mengepalkan tangan dengan erat sambil napas naik turun cepat. Makanan dan minuman yang dibeli dari hasil kerja keras malah terbuang sia-sia karena kelakuan Akbar yang selalu merundung dan menghinanya.Tertawa Akbar semakin keras sambil memukul kaki. Hinaan yang disertai tertawa membuatnya sangat kesal dan marah.Dia mendekati Akbar sembari menatap dari atas hingga bawah. Bahkan, dia tersenyum miring saat menatap Anthonius lalu menutup hidung.“Pria seperti ini seharusnya tidak berada di sini dan … tidak pantas bekerja di sebuah rumah makan yang terkenal dan melegenda di banyak orang dan hampir seluruh Indonesia mengenalnya,” hina Akbar sambil menunjuk dan meletakkan jari telunjuk ke pundaknya.Anthonius masih membisu ketika Akbar masih meledek dan menghina. Bahkan, dia menyangkut orang tua yang tidak pernah diketahui olehnya.“Orang tuamu pasti tidak pernah mengurusmu sampai kamu harus bekerja sebagai pelayan. Pelayan yang gak becus dan gak tahu hal apa pun. Bahkan, orang tu
“Kenapa jauh sekali? Bukannya harus mengurus berkas data diri untuk berangkat ke sana?” protes rekan kerja pria.Anthonius masih membisu dengan pikiran ke mana-mana. Ia disuguhkan seorang pria berjas hitam dengan penampilan yang terlihat tegas dan kuat sedang berdiri di depan restoran dan menatap ke arah dalam.Ia memperhatikan keadaan sekitar dan tatapannya tidak mengarah kepada siapa pun, melainkan ke arah dirinya.‘Siapa dia? Apakah dia adalah anak buah dari ayah Anthonius?’“Iya juga. Kamu ada ide untuk liburan ke mana karena ibu Bos menanyakan hadiah kita untuk liburan,” tanya rekan wanita kepada Anthonius sambil mencolek lengannya.Anthonius menoleh ke arah beberapa rekan kerja yang masih ada di restoran bersama atasannya. Ia tidak mempermasalahkan liburan karena bagi dirinya, menyelesaikan tugas lomba adalah kewajiban.“Terserah ke mana saja, yang penting saya bisa bermain laptop,” jawab Anthonius datar sambil mengangkat kedua pundaknya.Lonceng pintu restoran terdengar dan art
Anthonius mengabaikan panggilan masuk dari Raihan dan tetap berjalan menuju perjalanan ke kos sembari terus menundukkan kepala, tetapi bola mata masih mengawasi keadaan jalanan yang ada di sekitarnya.Ia harus bisa menghindari kerumunan pria lalu mendengar semua panggilan namanya dari suara pria yang sangat dikenal olehnya.“Tuan muda Anthonius! Berhenti, Tuan muda!” teriak Raihan.Anthonius terus melangkah dan berpura-pura tidak mendengar panggilan namanya berulang kali. Ia mendengar suara klakson sangat keras dan kebisingan yang menegur seseorang menyebrang jalan raya.Ia tidak pulang ke kos malah berlari ke arah lain dengan sekuat tenaga untuk menghindari gerombolan anak buah ayahnya. Anthonius tidak ingin tertangkap dan terjebak dalam rayuan tangan kanan ayahnya yang telah mengasuhnya sejak masih kecil.Anthonius memasuki sebuah bangunan kosong yang bersih dan bersembunyi di balik meja resepsionis sambil bersandar. Suara langkah kaki berlarian dan meminta semuanya berpencar untuk
”Diam kau!” bentak pria berkulit putih dan berkumis tipis.‘Mereka adalah rekan sekolahku di SMA dan mereka suka mengganggu dan merundung anak-anak yang gak punya harta berlebih dan dua pria yang ada di belakang pria berkumis tipis adalah anak dari anggota dewan. Mereka semena-mena terhadap siapapun yang tidak memiliki harta berlebih. Mereka juga pernah melecehkan perempuan dan tidak dijebloskan penjara dengan alasan masih di bawah umur, tetapi menurutku mereka sudah tidak dibawah umur, melainkan usianya sudah bisa membedakan antara baik dan buruk. Nama pria yang sok kaya, bermata sipit dan berkumis tipis adalah Akbar Jumaidi, pria berambut keriting bernama Hilmi Stohler dan pria berambut lurus, cepak dan hampir botak bernama Antonio Kohle,’ beber Anthonius dengan intonasi penekanan.“Ini adalah tempat umum dan seharusnya kalian para pria bisa membedakan tempat yang pantas untuk melakukan perundungan atau tidak. Jika kalian lakukan di sini maka kupastikan kalian tidak akan pernah mela
“Tidak perlu begitu. Kamu lakukan yang menurutmu, aku gak bisa mengatasinya dan kamu jauh lebih tahu daripada aku. Kita saling membantu, kalau kamu mau mengendalikanku, kendalikan agar masalahmu juga terselesaikan, tapi jangan pernah menyebutkan namamu di depan orang yang mengenalmu karena mereka tahu bahwa kamu telah meninggal dan aku juga akan melakukan yang harus aku selesaikan,” jawab Anthonius dengan santai.‘Oke, sepakat,’ jawab Adrian.“Oke, sepakat,” balas Anthonius santai.Waktu pengingat Anthonius berdering dengan keras, lama dan panjang. Ia melihat waktu pengingat di layar ponsel dan menunjukkan bahwa waktunya mengikuti kelas berbisnis digital.“Kamu diam saat aku mengikuti kelas berbisnis digital dan jangan berisik di dalam sana,” ucap Anthonius dengan intonasi penekanan.Anthonius memberikan kalimat penegasan kepada Adrian yang selalu ikut campur saat ada sesuatu yang membuatnya kesal.Anthonius mengikuti kelas bisnis digital selama 1,5 jam dan mendapatkan ilmu yang sanga
Anthonius berpikir bahwa kakek berambut putih itu adalah mantan pelari marathon sehingga langkahnya cepat dan cepat menjauh darinya, padahal ia ingin memeriksa keadaan kakek itu.‘Dasar bodoh. Untung saja, kepala kakek itu gak terbentur batu yang ada di sisi kirimu dan dia malah memastikan kamu baik-baik saja dan meminta maaf kepadamu. Kamu jadi orang sangat lemot sampai berdiri pun lama banget,’ ngomel Adrian dalam tubuhnya.“Berisik, kamu!” sentak Anthonius sambil mengernyitkan dahi.“Kamu bicara sama siapa, Nak? siapa yang mengganggumu?” sahut seorang wanita tua yang rambutnya diikat penuh, berpakaian lengan panjang dengan intonasi penekanan.“Maaf, Nek. Saya … hanya belajar akting saja,” jawab Anthonius secepat kilat.“Kalau belajar akting, lebih baik di dalam rumah aja daripada di luar agar tidak dianggap gila oleh banyak orang jika ada yang melihatmu seperti itu,” saran wanita tua itu.“Baik, Nek,” balas Anthonius sambil tersenyum lebar dan mengangguk sekilas.Anthonius melangka







