로그인ini bab kedua siang ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Suara itu terdengar seperti orang yang menahan tangis terlalu lama.Selvia Windson berlari dari arah yang berlawanan, rambutnya berantakan, jubahnya masih berbekas dari kondisi ketika Ryan menemukannya di dalam sangkar tadi. Dia sudah menunggu di tempat persembunyian yang Ryan siapkan. Tapi terlalu lama tanpa kabar.Ledakan-ledakan itu terasa bahkan menembus formasi pelindung yang Ryan pasang dengan susah payah, sampai batu tempatnya bersandar bergetar berulang kali. Selvia tidak bisa lagi diam.Dia tidak tahu situasinya secara jelas. Tapi ia tahu, diam di tempat sementara Ryan ada di sana sendirian adalah sesuatu yang tubuhnya menolak untuk lakukan.Di dasar lubang, kepala Ryan terangkat.Ia melihat Selvia yang berlari panik di kejauhan.Dan ia tersenyum.Bukan senyum yang tertekan. Bukan senyum yang dipaksakan. Melainkan senyum yang muncul dari seseorang yang baru mendapat kabar yang sudah lama ia tunggu.Korvan melihat senyum itu dan rahangnya mengencang. Tidak suka melihat ma
Tebasan Ryan mengguncang domain itu.Korvan merasakan getaran itu menjalar ke seluruh telapak tangannya yang menerima serangan. Bukan guncangan ringan. Getaran itu cukup untuk membuat lapisan dasar domainnya berderit selama setengah detik.Ini seharusnya tidak mungkin. Kultivator Creation biasa tidak akan mampu membuat domain miliknya bergetar sama sekali. Tapi domain ini memang tidak stabil sejak awal, dan manusia di depannya bukan kultivator Creation.Tapi perbedaan dua ranah tetaplah dua ranah. Getaran sesaat tidak akan mengubah hasil akhirnya.Telapak tangan merah darah yang menutupi seluruh langit di dalam domain itu tidak hancur. Ia hanya goyah sebentar sebelum kembali menekan ke bawah dengan kekuatan yang tidak berkurang.Ryan melihat telapak raksasa itu mendekat dan ia tidak mengelak sama sekali.Seluruh kapasitas fisik tubuhnya yang sudah ditempa melampaui batas normal reaktif sepe
Korvan Greyne mengapung di atas bukit, matanya terpejam. Dari formasi darah di bawah kakinya, pancaran cahaya merah tua memancar ke seluruh langit alam rahasia itu, memanggil arus-arus darah dan roh dari ratusan binatang buas yang tersebar di mana-mana. Mereka tidak mati langsung. Kekuatan mereka diisap perlahan, mengalir ke dalam tubuh Korvan seperti ratusan sungai kecil yang bermuara ke satu waduk.Kultivasinya naik. Meridiannya yang tadi retak mulai menutup dari dalam.Kemudian sebuah bayangan melesat di tepi pandangannya.Korvan membuka mata.Ryan berdiri di sisi bukit itu, tatapannya langsung mengunci Korvan tanpa basa-basi.Korvan tersenyum. Senyum yang untuk pertama kalinya hari ini tidak mengandung ketegangan di baliknya. "Bagus. Aku tidak perlu repot-repot mencarimu lagi."Formasi di bawah kakinya tiba-tiba meredup, berhenti menyerap.Ryan merasakan aura yang mengepul dari Korvan da
Binatang-binatang buas di alam rahasia ini. Semua ini bermula darinya. Korvan Greyne berdiri di atas formasi darah merah di puncak bukit itu, menatap langit merah tua di atasnya. Selama ratusan tahun tersegel di sini, tubuh dan kultivasinya terkikis oleh kekuatan segel yang menekan setiap sel dalam tubuhnya. Tapi kekuatan yang terlepas dari tubuhnya itu tidak menghilang. Ia mengendap di alam rahasia ini, meresap ke tanah, ke udara, ke makhluk-makhluk yang tumbuh di dalamnya. Binatang-binatang buas di sini adalah hasil dari darah dan kultivasinya yang bocor selama ratusan tahun. Dengan formasi ini, ia bisa mengambilnya kembali. Formasi ini sudah ia siapkan jauh sebelum situasinya memburuk. Ditanam langsung ke dalam batu bukit selama bertahun-tahun, menunggu saat yang tepat. Masalahnya, jiwa binatang-binatang itu masih dalam kondisi mengamuk. Menyerap dalam kondisi seperti itu tidak efisien. Ia hanya bisa menerima sebagian kecil, dan bahkan sebagian yang diserap mungkin
Pedang itu bergerak. Sebelum pikirannya sempat menyusul, naluri Korvan sudah memilih. "Hentikan dia! Halangi dia!" Suaranya keluar lebih keras dari yang sebelumnya terdengar darinya. Lalu seluruh tubuhnya meledak dalam kabut abu-abu yang bergerak mundur ke arah sebaliknya. Ia kabur. Dua bawahannya saling pandang sejenak. Luka di tubuh mereka masih menganga. Kekuatan yang Ryan perlihatkan sudah lebih dari cukup untuk membuat insting bertahan hidup yang tersisa dalam diri mereka berteriak. Tapi mereka ragu terlalu lama untuk bertindak. Korvan, yang sudah berlari, menoleh ke belakang dan melihat mereka tidak bergerak. Ekspresinya berubah. Bukan marah. Bibirnya menyempit menjadi garis tipis, dan matanya datar seperti permukaan batu yang sudah lama tidak tersentuh cahaya. Matanya bersinar merah sebentar. "Segel Darah Terlarang." Tiga kata itu diucapkan dengan nada yang hampir terdengar menyesal. Hampir. AAAARGH!! Dua teriakan meledak bersamaan dari mulut kedua bawahannya. Mer
Korvan Greyne berdiri di tempatnya selama dua detik penuh.Luka di dadanya yang dihasilkan dari tumbukan tadi masih berdenyut. Tangan kanannya mengepal di udara, jari-jarinya belum sepenuhnya turun dari posisi serangan. Dan di hadapannya, pemuda puncak Primordial Chaos itu berdiri dengan jubah berlumuran darahnya sendiri, tapi posisi tubuhnya stabil.Apakah fisik anak ini benar-benar lebih keras dari ras mereka?Logika yang sudah ia bangun selama ratusan tahun tentang superioritas ras mereka atas manusia mulai retak di tepinya. Manusia seharusnya rapuh. Satu pukulan dari anggota rasnya yang bahkan sudah melemah seharusnya sudah lebih dari cukup. Ia sudah menyaksikan itu ribuan kali. Ini tidak masuk akal sama sekali.Tapi Ryan tidak memberinya waktu untuk mencari jawaban."Teknik Pedang Es!"Pedang Iblis Darah bergerak, dan sinar pedang emas meledak keluar bersama semburan energi es yang men
"Bagaimanapun, ketika pasukan Klan Spirit Blood tiba nanti, mereka pasti akan mencari kita terlebih dahulu sebagai pengkhianat," tambahnya dengan logika yang masuk akal. "Tapi kita akan bersama Yulaw Hodge dan para Kultivator Gunung Langit Biru lainnya.""Yulaw Hodge dan kelompoknya juga sudah pas
Sauron Phil tidak berani terlalu memikirkan kemungkinan menakutkan itu. Dia memfokuskan seluruh konsentrasinya untuk mengerahkan kekuatan maksimal guna memobilisasi pertahanan. Dia bertekad untuk menahan serangan ini selama mungkin, menguras tenaga Ryan sebanyak yang dia bisa.‘Begitu aku dan kual
Wajah Tetua Agung tampak sangat serius dan dipenuhi amarah. Tangannya bergerak cepat mengambil sebuah pedang pendek yang sangat indah dari Tetua Agung Sekte Demon Blade yang berdiri di sampingnya, lalu melemparkannya dengan kuat pada Inez Kenz."Ini adalah Artefak Immortal tingkat lima yang sangat
"Baik, Tetua Agung!" sahut Sauron Phil dengan penuh semangat.Pemuda berjubah putih itu mengambil kuali kuno dengan hati-hati, senyum penuh kepuasan tersungging di wajahnya saat dia mencoba membiasakan diri dengan Artefak Immortal tingkat enam yang baru diterimanya. Energi spiritual mengalir dari







