MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Lola Ayu, Kak Chen Thomson, kak Eny Rahayu, Kak Pantura Plj1, Kak Patricia Inge, dan Kak Alberth Abraham Parinussa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) karena jumlah koin belum mencapai target maka ini adalah bab terakhir hari ini. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆
"Dari klan mana genius yang berhasil melewati ujian jiwa kelas merah itu?"Bahkan Ryan tidak bisa menahan rasa ingin tahunya untuk yang satu ini.Serena menjawab santai. "Genius dari Klan Phoenix Merah. Namanya Arden Scarlett." Dia berhenti sebentar. "Klan Phoenix Merah sebenarnya bukan klan yang terlalu menonjol di antara Seratus Ras Spirit Sejati, hanya kelas menengah.""Tapi dengan adanya Arden Scarlett, selama tidak ada hal tak terduga, beberapa ratus tahun lagi dia bisa membawa klannya masuk ke era kejayaan yang belum pernah mereka capai sebelumnya."Ryan mengangguk dan menyimpan nama itu di dalam kepala.**Di dalam sebuah ruang kultivasi berdinding batu spiritual di Istana Roh Abadi, dua sosok perempuan tengah duduk bersila dalam keheningan.Energi spiritual mengalir deras masuk ke dalam tubuh keduanya seperti pasang yang tidak berhenti.Pintu ruangan itu terbuka keras.Yuriel Leviathan melangkah masuk. Aura di sekitar tubuhnya menyapu seluruh ruangan, dan hawa yang mengikuti
Dua hari duduk bersila di sudut itu ternyata tidak sia-sia.Satu celah dalam pemahamannya tentang Seratus Langkah Mengejar Petir yang tadinya tersumbat rapat kini terbuka, tidak penuh, tapi cukup untuk membuat dia yakin bahwa waktu yang dibutuhkan sebelum teknik itu bisa dia gunakan sudah tidak akan terlalu lama lagi.Dia menggerakkan jari-jarinya pelan, merasakan aliran energi yang mengikuti pola baru itu. Masih kasar, masih ada yang belum mulus. Tapi fondasi yang dia butuhkan sudah ada.Ryan berdiri dan menepuk jubahnya pelan. Matanya beralih ke Patung Seratus Binatang. Di depan patung, sekelompok genius dari satu klan terakhir masih berjuang melawan tekanan jiwa yang mereka picu. Begitu mereka selesai dan melangkah mundur dari arena, giliran Klan Harimau Darah tiba.Serena berdiri di sampingnya dengan senyum yang terasa seperti orang yang menyimpan sesuatu dan sabar menunggu ditanya. Tangannya terlipat di
Ryan tidak bisa menemukan di mana tepatnya Yuriel Leviathan berdiri di antara kerumunan yang memadati lembah ini. Tapi dia tidak khawatir soal itu.Ini ujian yang diselenggarakan Istana Roh Abadi, dan Yuriel pasti mengikuti setiap perkembangannya. Apa pun yang terjadi di sini, cepat atau lambat akan sampai ke telinganya.Ryan mengalihkan pikirannya sejenak. 'Divine God Beast Tamer, kau begitu yakin bisa membantu. Apakah kau punya metode khusus untuk menghadapi tekanan itu?'Suara Divine God Beast Tamer mendengus pelan. "Kau meragukan kemampuanku? Baiklah, kuakui bahwa secara kekuatan murni aku memang tidak unggul dari kultivator lain selevelku.""Tapi soal binatang iblis dan roh sejati, tidak ada yang menandingi pemahamanku di seluruh benua ini. Tidak dulu, tidak sekarang.""Begini saja. Kalau kau sudah benar-benar mencapai batasmu dan tidak bisa bertahan lagi, serahkan tubuhmu kepadaku sementara. Aku yang akan mengambil alih."
Mungkin lebih bijak menyerah sekarang, melepaskan esensi darah itu dengan sukarela, dan memilih jalan iblis sepenuhnya. Bakatnya di bidang itu sudah terbukti luar biasa, dan masa depannya di jalan itu tetap cerah bahkan tanpa esensi darah klan mana pun. Tapi sebelum keputusan itu sempat dibuat, bayangan semi-oranye di depannya mengeluarkan raung panjang yang melemah. Energi yang tadi diledakkan sekaligus untuk meningkatkan tekanan justru menguras cadangannya terlalu cepat. Tubuh bayangan itu retak dari dalam, retakan itu melebar cepat dari dada hingga ke ujung sayap. Warnanya memudar dari hampir-oranye kembali ke setengah kuning setengah oranye, lalu dengan satu ledakan cahaya yang menyilaukan, pecah menjadi serpihan yang berhamburan dan lenyap. Gumpalan esensi darah yang pekat melayang di depan genius itu. Genius Klan Unicorn Naga membuang napas panjang, satu-satunya tanda bahwa dia baru saja melewati sesuatu yang hampir melampauinya. Darah mengalir deras dari bibirnya, ta
"Itu benar. Secara keseluruhan, ini tetap menguntungkan bagi mereka." Seseorang di kerumunan mengangguk. "Dengan bakat yang dia miliki ditambah esensi darah yang sudah dia dapatkan, masih ada harapan untuk menembus Ranah Star Seed dengan sisa usianya." "Bagaimanapun, dia adalah genius kedua Klan Unicorn Naga yang berhasil lulus. Bagi klan sebesar mereka, pencapaian ini tetap layak dirayakan." "Soal untung rugi urusan belakangan. Yang paling penting sekarang adalah genius yang satu lagi," sahut suara lain. Semua pandangan bergeser ke satu titik yang sama. ** Genius ketiga Klan Unicorn Naga berdiri tegak di hadapan Patung Seratus Binatang. Dia yang termuda, tapi kultivasinya yang paling dalam di antara ketiganya, dan itu bukan selisih yang tipis. Tubuhnya sudah penuh darah, tekanan dari bayangan semi-oranye di depannya sudah jauh melampaui dua genius sebelumnya, tapi ekspresinya tidak berubah. Aura di sekitarnya tetap stabil seperti tembok batu yang diguyur air deras tapi tid
"Lulus! Dia benar-benar lulus!" "Masa depan genius ini sudah tidak terbendung lagi. Klan Unicorn Naga semakin besar!" "Kalau dua yang lain juga lulus, Klan Unicorn Naga bakal mendominasi wilayah ini selama puluhan ribu tahun ke depan!" Ryan menatap genius kedua yang masih berjuang di hadapan Patung Seratus Binatang. Kondisinya jauh lebih mengenaskan dari yang baru saja lulus. Seluruh tubuhnya basah oleh darah, dan getaran di tubuhnya terasa lebih hebat bahkan dari jarak ini. Napasnya terdengar berat bahkan dari kejauhan, terputus-putus dan tidak beraturan. "Keduanya menghadapi jiwa kelas kuning," kata Ryan. Matanya tidak beranjak dari arena. "Kenapa yang pertama selesai lebih dulu?" "Meski sama-sama kelas kuning, ada gradasi di dalam kelas itu sendiri," jawab Serena. "Genius yang pertama tadi menghadapi jiwa kuning muda. Kepadatan energinya lebih ringan, jadi wajar habis lebih cepat." Ia mengangguk ke arah genius yang masih berjuang. "Sedangkan yang ini menghadapi jiwa kuni
Mengenai masalah Klan Spirit Blood, yang paling cemas adalah para jenius, terutama mereka yang dekat dengan ranah Supreme Emperor. Mereka tidak mudah mempercayai perkataan Ryan dan Yulaw Hodge, tetapi karena masalah ini menyangkut hidup mereka, mereka harus mendapatkan konfirmasi dari para tetua me
Begitu Ryan selesai berbicara, keheningan menguasai seluruh area. Para Ketua Sekte saling berpandangan dengan wajah pucat, tidak ada yang berani bergerak atau bersuara. "Aku! Aku menyerah!" tiba-tiba terdengar suara gemetar. Seorang wakil ketua sekte berdiri dan berteriak sambil gemetar seperti
"Pak Tua, kalian benar-benar sombong!" suara Ryan bergema dingin di seluruh area pertempuran. "Baiklah, karena kalian sangat ingin mati, aku akan mengirim kalian ke akhirat!" Ryan melepaskan semua energi darah yang dahsyat di tubuhnya, mengirimkan gelombang tekanan spiritual ke para tetua Ranah Sup
"Pak Tua, kukira kau kuat, tapi ternyata itu hanya imajinasiku."Ryan lalu mengacungkan Pedang Bintang, melepaskan lebih banyak gelombang dan garis qi pedang ke arah enam tetua Ranah Supreme Emperor lainnya.Pada saat yang sama, dia melepaskan pukulan dengan tangan kirinya dan berteriak, "Petir Pen







