MasukHanya satu pikiran yang tersisa di kepala Yakou Zedd.Mundur. Mundur sekarang. Mundur sebelum terlambat.'Selama aku menyerah, Tetua Agung pasti akan menyelamatkanku.' 'Setelah ini, aku akan meninggalkan Sekte Moon Flower selamanya.' 'Tidak akan pernah muncul di hadapan Ryan Pendragon lagi. Tidak pernah!'Tangannya bergerak secepat kilat. Mutiara Pelindung Laut Utara memancar dari telapaknya, melingkupi seluruh tubuhnya dalam kubah biru muda yang berkilauan. Ia menarik napas dalam-dalam, membuka mulutnya."Aku meny..."BOOM!Cahaya emas meledak tepat di depan wajahnya.Kubah biru itu berguncang keras seperti lonceng yang dipukul palu raksasa. Retak-retak halus menjalar di permukaannya selama sepersekian detik sebelum perlahan menstabilkan diri. Yakou mundur setengah langkah, jantungnya hampir berhenti.'Hampir.'Keringat mengalir deras di punggungnya. Tangannya mengepal di dalam kubah. Tapi kubah itu sudah stabil kembali. Mutiara Pelindung Laut Utara adalah artefak peninggalan
Ryan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan."Aku akan masuk ke dahimu dulu. Perlu istirahat."Sebelum Ryan sempat berkata apa pun, pria itu berubah menjadi sinar iblis yang meluncur dan masuk ke celah di antara kedua alisnya.Hening.Ryan berdiri sendirian di antara reruntuhan yang perlahan-lahan mulai ambruk dari dalam. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan bara. Tulang-tulangnya berderak pelan saat ia menunduk dengan susah payah dan meraih kepala yang tergeletak di tanah.Kepala klon itu berat di tangannya.Tapi ia mengangkatnya.Ruang itu mulai runtuh sepenuhnya. Energi iblis yang tersisa menggulung dari segala penjuru, melingkupi tubuh Ryan yang penuh luka bak ombak yang menelan satu-satunya batu yang masih berdiri di tengah lautan.**Di arena, Yakou Zedd berdiri dengan senyum yang terus melebar.Senyum itu mengisi wajahnya hingga ke sudut-sudut yang biasan
'Anak itu pasti sudah mati.'Klon itu terbaring di antara reruntuhan yang gosong.Setiap serat dalam kerangkanya berteriak kesakitan, tapi pikirannya justru mencari satu-satunya kenyamanan yang tersisa. 'Backlash dari serangan tadi jauh lebih besar dari apa yang aku sendiri terima.' 'Ditambah pantulan dari tekniknya sebelumnya, tidak ada kultivator Primordial Chaos yang bisa menanggung itu semua.''Tidak mungkin ada.''Tidak mungkin.'Tap!Klon itu membeku.Telinganya menangkap sesuatu di antara kesunyian. Hanya satu ketukan, samar, hampir tenggelam dalam suara reruntuhan yang sesekali masih ambruk di sekitarnya.Ia mengabaikannya. 'Mungkin batu yang jatuh.' Pendengarannya mungkin mulai berhalusinasi karena lukanya terlalu parah.Tap! Tap!Kali ini lebih dekat.Perasaan buruk merayap di dalam dadanya pelan-pelan, seperti racun yang bekerja tanpa
Klon itu membeku.Bukan karena taktik. Bukan karena kalkulasi.Seluruh energi iblisnya, seluruh insting bertahan hidup yang telah ia asah selama ribuan tahun, semuanya berhenti sekaligus dalam satu detik yang sama. Tangannya yang sedang membentuk segel bergetar tanpa bisa ia hentikan. Kakinya melangkah mundur satu langkah, dua langkah, tanpa perintah dari otaknya.Sepasang mata itu.Dia mengenalnya.Bukan dari pengalaman pribadi. Dari sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu. Ingatan kolektif bangsa iblis yang diwariskan turun-temurun sejak zaman kuno, tertanam di lapisan terdalam inti keberadaannya, sesuatu yang tidak bisa dilupakan bahkan oleh makhluk yang sudah hidup ribuan tahun."ITU... ITU DIA!"Suaranya putus di tengah kalimat, keluar setengah sebagai teriakan dan setengah sebagai bisikan yang tidak punya bentuk yang jelas. "Yang menekan Niflheim di zaman kuno!" "Tidak! Tidak mungkin!" "Bagaimana bisa makhluk itu ada di sampingmu?! Bukankah dia sudah musnah?!""Aku tidak pe
Cahaya emas itu muncul pertama kali hanya sebersit kecil di antara gulungan energi iblis yang pekat.Seperti nyala lilin di tengah badai.Lalu ia berlipat ganda.Tunas-tunas cahaya emas menerobos dari dalam lautan gelap tanpa henti, satu demi satu, puluhan demi puluhan, sampai tidak ada lagi sudut di dalam ruang itu yang terbebas dari kilauannya. Energi Gao yang murni dan padat meledak keluar sekaligus, membakar setiap lapisan energi iblis yang mengepung dari semua sisi.Lautan gelap itu kewalahan.Lalu runtuh.BOOOM!Klon itu tidak sempat bereaksi.Pada jarak sedekat itu, Energi Gao yang berpijar menghantam langsung ke arahnya tanpa hambatan. Cahaya emas itu tidak sekadar membakar permukaan. Ia menembus kulit, menjebol setiap lapisan pertahanan iblis yang tersisa, dan menyayat kedua mata merah darahnya dari dalam hingga kepulan asap kehijauan menguar dari rongga matanya.Klon itu menjerit.Bukan karena terluka biasa. Tapi karena rasa sakitnya menembus batas yang ia sendiri tidak p
Klon itu tersentak.Seluruh rongga energi iblis yang mengepung medan itu adalah miliknya, dipancarkan dari inti kekuatannya sendiri, mengandung seluruh daya dari kultivasinya yang tertahan. Ia mengira Ryan akan terus menyerang dari luar dengan sinar-sinar pedang itu.Tapi manusia ini malah menerobos masuk.'Apakah anak itu gila?'Sudut bibir klon itu naik. Pelan. Terkontrol. Seperti seseorang yang baru saja menyaksikan mangsa melompat sendiri ke dalam perangkap.'Biarkan saja.' 'Bahkan jika Pedang Iblis Darah dan Esensi Pedang Abadi terus digunakan di dalam, energi iblis yang melingkupi ruang itu adalah kandang milikku.' 'Kekuatan penuh kultivasi puncak Ranah Dao Integration terkandung dalam setiap lapisannya. Tubuh manusia Primordial Chaos tidak akan bisa bertahan lama di dalamnya.'"Hah! Rupanya otakmu memang sudah tidak beres!" Tawa sinisnya bergema ke seluruh penjuru. "Kalau kau sudah masuk sendi
Di kompleks apartemen Grand City, Ryan yang baru saja hendak membuka pintu, mendadak instingnya yang tajam menangkap kehadiran orang asing di dalam. Begitu masuk, ia mendapati Rindy dan Adel berhadapan dengan seorang wanita anggun yang ia kenali sebagai ibu Rindy. Tampak ada dua praktisi bela di
Sementara itu di lantai teratas kondominium One Icon, Ryan baru saja menerima telepon dari Jeremy. Dua produk Golden Dragon Group telah mendapat persetujuan lisensi dan izin-izin terkait dengan sangat cepat. Jeremy tak bisa menyembunyikan kekagumannya—bahkan dengan koneksinya, proses ini biasanya
Ryan tertegun. Ia tak menyangka Adel yang biasanya pemalu akan berani melakukan ini. Namun ia paham betul, saat ini Adel butuh kepastian. "Tentu saja rasanya lebih baik saat kamu menciumku," jawabnya tulus. Tawa renyah Adel memenuhi ruangan, senyumnya merekah bagai bunga di musim semi. Matanya
'Mengapa Lancelot ada di sini?' Ryan bertanya-tanya dalam hati. Namun saat pandangan mereka bertemu, Lancelot memberikan anggukan singkat yang penuh arti. Ryan paham—jika sesuatu terjadi padanya di arena nanti, Lancelot siap mengambil risiko terungkap identitasnya demi menyelamatkannya. Tepat sa







