ANMELDENPagi Semua ( ╹▽╹ ) Ini bab pertama pagi ini. Selamat berakhir pekan (◠‿・)—☆
Beberapa saat setelah sinar pedang Ryan menghilang, Reinhard Harrow dan Pertapa Cassian tiba-tiba merasakan nyeri tajam di dada. Keduanya tersentak, lalu memuntahkan darah hampir bersamaan.Barulah ketika menunduk, mereka melihat luka menganga yang membentang di dada masing-masing. Tebasan itu menembus daging hingga mencapai tulang, nyaris membelah tubuh mereka menjadi dua. Darah mengalir deras, membasahi jubah yang tadi masih rapi.Tak seorang pun sempat menyadari kapan pedang Ryan mengenai mereka. Sinar pedang itu melintas begitu cepat sehingga bahkan dua ahli Ranah Star Sealed tingkat lima tidak mampu menangkap gerakannya.Reinhard jatuh berlutut sambil menekan dadanya. Di sisi lain, Cassian terhuyung mundur hingga punggungnya membentur dinding batu. Aura kedua pria itu melemah dengan cepat. Luka yang mereka terima cukup parah untuk mengancam nyawa.Reinhard mencoba mengangkat kembali pedang emas-peraknya, tetapi jemarinya kehilangan tenaga. Setiap tarikan napas menimbulkan ny
Dua tebasan merah darah melesat dari pedang melengkung Pertapa Cassian. Keduanya bersilangan di udara, membentuk serangan yang menutup sisi kiri dan kanan Ryan. Di dalam cahaya itu, bayangan jiwa-jiwa penasaran menggeliat sambil mengeluarkan jeritan yang menusuk telinga.Reinhard Harrow menyerang hampir bersamaan. Pedang emas-perak di tangannya berkilat ketika ia mengerahkan esensi pedang hingga membentuk seekor naga raksasa. Tubuh naga itu berwarna emas, sedangkan tanduk dan cakarnya berkilau keperakan. Setiap sisiknya tampak jelas, seolah makhluk itu benar-benar hidup.Raungan naga mengguncang ruang rahasia, bercampur dengan ratapan sepuluh ribu jiwa yang mengikuti serangan Cassian. Awan energi emas dan perak berkumpul di sekelilingnya. Setelah mengibaskan ekor, naga tersebut menerjang lurus ke arah Ryan dengan cakar terentang.Cahaya dari tanduk dan cakarnya semakin tajam saat mendekat. Kedua bagian itu bukan sekadar hiasan dari energi spiritual. Esensi pedang yang terkandung d
Reinhard Harrow dan Pertapa Cassian saling berpandangan. Tawa mereka perlahan berhenti setelah mendengar pertanyaan Ryan. Keduanya kembali memperhatikan pemuda itu, kali ini dengan lebih saksama."Saudara Cassian, ada yang aneh," kata Reinhard sambil mengerutkan kening. "Bocah ini benar-benar tidak terlihat seperti orang yang terkena racun."Ia mengamati wajah dan tubuh Ryan. Napas pemuda itu tetap teratur, kulitnya tidak memerah, dan tidak ada keringat dingin yang membasahi dahinya. Bahkan Energi Kehidupan serta aura spiritualnya tidak menunjukkan tanda-tanda melemah.Orang mungkin bisa menyembunyikan rasa sakit dengan kemauan keras. Namun perubahan pada tubuh dan jiwa akibat racun yang begitu ganas seharusnya tidak mungkin disamarkan sepenuhnya.Cassian mengelus janggutnya. Untuk sesaat, ia juga tidak menemukan penjelasan. Jarumnya jelas telah menusuk kulit Ryan. Ia sendiri melihat darah keluar dari luka tersebut. Dengan begitu, seharusnya Api Dewa Lebur sudah memasuki tubuh pe
Mendengar penjelasan Pertapa Cassian tentang Api Dewa Lebur, Reinhard Harrow merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Tanpa sadar, genggamannya pada pedang emas-perak semakin erat.Selama ini, ia hanya mengetahui bahwa Cassian merupakan kultivator Ranah Star Sealed tingkat lima dengan teknik kultivasi yang tidak biasa. Namun baru sekarang Reinhard memahami betapa mengerikannya metode yang digunakan pertapa tersebut untuk membunuh seseorang.Racun yang membakar jiwa selama berhari-hari, sementara korbannya tidak mampu menghentikan penderitaan itu. Membayangkan dirinya terkena racun semacam itu saja membuat Reinhard bergidik.'Aku tidak boleh sampai bermusuhan dengan orang ini.'Cassian seolah tidak menyadari perubahan sikap Reinhard. Ia masih tersenyum ramah, lalu kembali memandang Ryan."Ada alasan kenapa aku memilih Api Dewa Lebur untuk Jarum Roh Tak Kasatmata," katanya. "Teknik kultivasiku m
Pupil Ryan menyempit ketika beberapa jarum nyaris transparan melesat ke arahnya. Tanpa suara dan tanpa kilatan mencolok, senjata-senjata kecil itu membidik titik-titik vital pada tubuhnya.Namun indra spiritual Ryan sudah menangkap lintasannya sejak jarum-jarum tersebut meninggalkan tangan Pertapa Cassian. Senyum dingin terbit di sudut bibirnya. Alih-alih menghindar, Ryan tetap berdiri di samping Silva Clint dan menggerakkan kedua tangan.Ting! Ting! Ting!Bunyi benturan pelan terdengar berturut-turut. Ketika Ryan membuka kepalan tangannya, beberapa jarum tipis ternyata sudah berada di antara jemarinya. Tidak satu pun berhasil mencapai mata, jantung, ataupun bagian tubuh lain yang diincar Cassian.Reinhard Harrow terpaku melihatnya. Ia tahu betapa cepat dan tersembunyinya serangan itu. Seorang kultivator Ranah Creation biasa mungkin bahkan tidak menyadari bahaya tersebut sampai tubuhnya tertembus.
Ucapan Ryan membuat Reinhard Harrow tertegun. Bahkan kemarahannya sempat tertahan ketika mendengar pemuda Ranah Creation itu menyatakan tidak takut menghadapi dua ahli Ranah Star Sealed tingkat lima sekaligus.Sesaat kemudian, Reinhard tertawa keras. Namun tidak ada kegembiraan dalam tawanya."Bagus! Kau memang luar biasa berani!" serunya. "Dengan kultivasi Ranah Creation, kau sanggup melukai putraku sampai seperti itu." "Aku mengakui kemampuanmu, tetapi berani meremehkanku di hadapanku sendiri bukan keberanian lagi. Itu kebodohan!"Matanya yang memerah tertuju kepada Ryan. "Bocah, kau harus mati!"Di belakangnya, Fabian masih tergeletak dengan napas lemah. Pemandangan itu terus mengobarkan amarah Reinhard. Putra yang selama ini menjadi harapan keluarganya telah dilumpuhkan tepat di rumah mereka sendiri, sementara pelakunya justru berbicara seolah tidak terjadi apa-apa.Reinhard mengangkat pedang emas-peraknya. Kilau kedua warna itu berpendar pada bilah senjata, sementara energi sp







