LOGINSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
Binatang-binatang buas di alam rahasia ini. Semua ini bermula darinya. Korvan Greyne berdiri di atas formasi darah merah di puncak bukit itu, menatap langit merah tua di atasnya. Selama ratusan tahun tersegel di sini, tubuh dan kultivasinya terkikis oleh kekuatan segel yang menekan setiap sel dalam tubuhnya. Tapi kekuatan yang terlepas dari tubuhnya itu tidak menghilang. Ia mengendap di alam rahasia ini, meresap ke tanah, ke udara, ke makhluk-makhluk yang tumbuh di dalamnya. Binatang-binatang buas di sini adalah hasil dari darah dan kultivasinya yang bocor selama ratusan tahun. Dengan formasi ini, ia bisa mengambilnya kembali. Formasi ini sudah ia siapkan jauh sebelum situasinya memburuk. Ditanam langsung ke dalam batu bukit selama bertahun-tahun, menunggu saat yang tepat. Masalahnya, jiwa binatang-binatang itu masih dalam kondisi mengamuk. Menyerap dalam kondisi seperti itu tidak efisien. Ia hanya bisa menerima sebagian kecil, dan bahkan sebagian yang diserap mungkin
Pedang itu bergerak. Sebelum pikirannya sempat menyusul, naluri Korvan sudah memilih. "Hentikan dia! Halangi dia!" Suaranya keluar lebih keras dari yang sebelumnya terdengar darinya. Lalu seluruh tubuhnya meledak dalam kabut abu-abu yang bergerak mundur ke arah sebaliknya. Ia kabur. Dua bawahannya saling pandang sejenak. Luka di tubuh mereka masih menganga. Kekuatan yang Ryan perlihatkan sudah lebih dari cukup untuk membuat insting bertahan hidup yang tersisa dalam diri mereka berteriak. Tapi mereka ragu terlalu lama untuk bertindak. Korvan, yang sudah berlari, menoleh ke belakang dan melihat mereka tidak bergerak. Ekspresinya berubah. Bukan marah. Bibirnya menyempit menjadi garis tipis, dan matanya datar seperti permukaan batu yang sudah lama tidak tersentuh cahaya. Matanya bersinar merah sebentar. "Segel Darah Terlarang." Tiga kata itu diucapkan dengan nada yang hampir terdengar menyesal. Hampir. AAAARGH!! Dua teriakan meledak bersamaan dari mulut kedua bawahannya. Mer
Korvan Greyne berdiri di tempatnya selama dua detik penuh.Luka di dadanya yang dihasilkan dari tumbukan tadi masih berdenyut. Tangan kanannya mengepal di udara, jari-jarinya belum sepenuhnya turun dari posisi serangan. Dan di hadapannya, pemuda puncak Primordial Chaos itu berdiri dengan jubah berlumuran darahnya sendiri, tapi posisi tubuhnya stabil.Apakah fisik anak ini benar-benar lebih keras dari ras mereka?Logika yang sudah ia bangun selama ratusan tahun tentang superioritas ras mereka atas manusia mulai retak di tepinya. Manusia seharusnya rapuh. Satu pukulan dari anggota rasnya yang bahkan sudah melemah seharusnya sudah lebih dari cukup. Ia sudah menyaksikan itu ribuan kali. Ini tidak masuk akal sama sekali.Tapi Ryan tidak memberinya waktu untuk mencari jawaban."Teknik Pedang Es!"Pedang Iblis Darah bergerak, dan sinar pedang emas meledak keluar bersama semburan energi es yang men
Ryan tidak mundur.Ia menarik napas dalam-dalam.Enam Dao muncul serentak di belakangnya, memancarkan tekanan enam jenis energi yang saling melengkapi. Energi iblis yang kelam mengalir keluar dari dalamnya, diimbangi kilatan Energi Gao yang bersih dan tajam. Wujud Roh Sejati muncul, Harimau Putih berbulu salju dengan surai emas dan sisik giok di bawah bulunya, mengambil posisi di belakang Ryan seperti dinding hidup.Pola ilahi ungu-emas mulai merambat di permukaan kulitnya dari dalam, menerangi pembuluh darahnya dari bawah kulit. Terlihat seperti jaringan cahaya yang bergerak.Urat-uratnya menonjol. Kultivasinya berdenyut pada frekuensi yang berbeda dari sebelumnya.Ia mengangkat pedangnya."Pedang Abadi!"SRIIIING!Cahaya emas meledak dari bilah pedangnya, melancip menjadi pancaran yang merobek udara di depannya.Kedua bawahan Korvan bereaksi serentak. Cahaya merah darah m
Kedua bawahan Korvan Greyne saling pandang sebentar. Yang satu menoleh ke kepala mereka. "Kenapa dibiarkan pergi begitu saja, Tuan Muda?" Korvan tidak menjawab. Matanya mengikuti punggung Ryan yang sudah hampir mencapai mulut gua. Ryan menoleh setengah badan, satu alis naik sedikit. Nada suaranya bukan menantang. Lebih terdengar seperti orang yang benar-benar heran dengan pertanyaan yang tidak perlu dijawab. "Menghentikanku? Kalau aku mau pergi, bisakah kalian?" Sebelum jawaban muncul, tubuhnya sudah tidak ada. Bukan berlari. Bukan mundur pelan-pelan. Ia menghilang dalam satu langkah, kecepatannya membuat udara di bekas posisinya berdenyut sesaat. Bawahan pertama menggerakkan tangan ke depan secara refleks, lalu menyadari tidak ada gunanya. Rahangnya mengeras. "Kecepatannya..." "Biarkan." Korvan menghela napas dan menurunkan bahunya. Bukan tidak ada pertimbangan di balik itu. Kalau mereka bertiga maju bersama, belum tentu kalah. Tapi harganya tidak akan kecil. Dalam ko
Bawahan pertama menatap Selvia dengan dahi berkerut. "Tuan Muda, perempuan ini tampaknya murid dari sekte di luar sana. Kalau seseorang datang mencarinya, dengan kondisi kita sekarang, saya khawatir..." "Hanya mereka yang berusia di bawah tiga puluh tahun yang bisa masuk ke alam rahasia ini." Pria besar itu memotong dengan nada meremehkan. "Kalau mau masuk dengan paksa dari luar, butuh kultivator Ranah Star Seed ke atas, dan itu berisiko merobohkan ruang di sini. Tidak ada yang mau ambil risiko itu hanya demi seorang murid." Dia bangkit dari kursi batunya, matanya berkilat penuh keganasan. "Dan siapapun yang berusia di bawah tiga puluh tahun yang berani masuk ke sini, akan kujadikan bahan pemulihan." "Darah kultivator jauh lebih bergizi untuk kultivasi kita daripada darah binatang-binatang dungu itu." Langkahnya membawa ia mendekati Selvia. Satu gerakan tangannya membuat sangkar tak kasat mata itu lenyap. Tanpa tekanan yang mengikatnya, tubuh Selvia langsung terkulai. Pria itu
Ryan melesat maju tanpa memberi mereka kesempatan pulih. Aura mengintimidasinya yang kuat membuat para pengikut Sekte Dawn Sword membeku di tempat, seolah terjebak dalam rawa tak berdasar. 'Apakah anak ini benar-benar dari Nexopolis dan bukan dari Gunung Langit Biru?' Keraguan mulai menggerogoti
Tanpa ada keraguan, Philip Bark mengangkat pedangnya untuk menahan serangan itu. "Pedang Seribu Petir!" Jurus andalan Philip Bark menggetarkan udara. Meski bukan teknik terhebat, kemampuan ini cukup ditakuti di kalangan elite Nexopolis. Dia tidak berani meremehkan serangan Zeke Fernando sediki
Rasa takutnya begitu besar hingga Calvin Robert rela mempermalukan diri sendiri. Dalam hati dia berpikir, selama masih hidup, masih ada kesempatan untuk membalas dendam di masa depan. "Kau tak apa?" tanya Ryan dengan nada tenang namun mengandung ancaman terselubung. "Ya, ya! Tuan Ryan, saya moho
Dalam sekejap, seluruh tubuh Theodore Crypt diselimuti niat membunuh yang pekat. "Baik!" Ryan menyipitkan mata, menggenggam erat Pedang Claiomh Solais. Dia tidak pernah gentar menghadapi lawan setingkat. "Murid, aku bahkan tidak perlu bergerak untuk memadatkan niat pedang!" Theodore Crypt berteria







