Masuk"Semua akan hadir dalam pertemuan ini?" tanya Ryan tiba-tiba. "Termasuk Zeke Fernando?"
"Seharusnya begitu..."Zend Bark mendadak terdiam, menyadari sesuatu. Dia mendongak menatap Ryan dengan wajah pucat. "Tuan Ryan, Anda tidak berencana pergi ke sana kan? Itu sama saja masuk ke sarang singa!"Seulas senyum dingin tersungging di bibir Ryan. "Aku tidak punya kesabaran menunggu Zeke Fernando datang kemari. Lebih baik aku yang mendatanginya." Dia berhenti sejenak. "LagSetelah Ryan keluar dari Paviliun Moonveil, suara Quillon Wynn mendadak terdengar di dalam benaknya.“Perempuan itu punya fisik yang istimewa. Dia terlahir dengan Tubuh Iblis Bawaan. Luar biasa.”“Tubuh Iblis Bawaan?”Ryan tertegun.Bukankah tubuh seperti itu seharusnya ditempa melalui proses yang sangat panjang? Banyak kultivator iblis menghabiskan hidup untuk mengejarnya, bahkan rela menghancurkan tubuh lama demi membangun fondasi baru. Namun Selene Chase justru sudah memilikinya sejak lahir.Quillon seolah mengangguk di dalam benaknya.“Aku pun sedikit terkejut. Perempuan ini pasti punya kedudukan yang tidak biasa di Wilayah Iblis.”Nada suaranya berubah lebih dalam.“Lahir di Wilayah Iblis, tetapi mampu mendirikan Paviliun Moonveil di dalam Akademi Heavenly Flame. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang biasa, apalagi kekuatan biasa.”Ryan teringat sesuatu, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu. “Mungkinkah Selene Chase ini putri Demon Emperor yang terperangkap itu?”“Bukan.”
Di dalam Paviliun Moonveil, udara terasa berat sampai menekan dada.Selene Chase menggenggam pedangnya erat. Bilah dingin itu menempel di leher Ryan Pendragon, siap menebas kapan saja.Namun Ryan hanya menatap pedang itu tanpa sedikit pun panik.‘Justru bagus,’ pikirnya. ‘Kalau dia tidak mencabut pedang, aku tidak akan pernah bisa memastikan hubungannya dengan Demon Emperor.’Sekarang semuanya menjadi lebih jelas. Sekalipun Selene bukan orang yang dimaksud Demon Emperor, ia tetap seseorang yang sangat peduli pada keberadaan sosok itu.Selene menatap Ryan yang tidak bergeming, lalu mengerutkan kening.“Kau tidak takut aku benar-benar membunuhmu?”Niat membunuhnya semakin pekat.“Sekalipun kau murid Akademi Heavenly Flame, akademi tidak akan berbuat apa-apa kepadaku kalau aku membunuhmu.” “Sejujurnya, Akademi Heavenly Flame bahkan tidak akan berani menyelidiki terlalu jauh.”Ryan mengepalkan tangan, dan secangkir teh muncul di telapaknya.Ia menyesapnya pelan, seolah pedang di leherny
Lina Jirk mengerucutkan bibir dengan kesal, lalu berjalan keluar dari aula.“Peraturan macam apa itu? Sekolah tidak berguna.”Namun baru beberapa langkah, ia teringat sesuatu. Lina berhenti dan berbalik menatap Eliot Lane.“Anu, boleh aku minta tolong?” tanyanya. “Apa kau punya teknik yang bisa menelusuri kejadian yang sudah lama berlalu? Aku mau yang tingkat tinggi.”Eliot mengerutkan kening.Ia tidak tahu apa yang ingin diselidiki Lina, tetapi dari tatapan gadis itu, urusannya jelas bukan hal kecil. Meski begitu, ia tidak banyak bertanya. Eliot hanya mengulurkan jari dan menyentuh kening Lina.Cahaya samar mengalir masuk.Tidak lama kemudian, wajah Lina berubah cerah.“Terima kasih. Aku pergi beberapa hari untuk menyelidiki sesuatu.”Setelah berkata begitu, Lina langsung pergi.Begitu sosok Lina lenyap, seorang pria muncul di sisi Eliot.Kalau Ryan Pendragon ada di sana, ia pasti langsung mengenalinya. Pria itu adalah Divine God Frost Sword, sosok yang dulu terluka parah di Death
“Nona Selene juga akan berangkat ke Kerajaan Nine Nether?”Dugaan Ryan Pendragon semakin mengerucut.Kerajaan Nine Nether bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang. Hanya keluarga kerajaan dari Empat Kekaisaran Agung, para kepala dari empat akademi, serta segelintir genius papan atas yang memiliki kelayakan untuk hadir.Namun Selene Chase justru bisa pergi ke sana untuk merayakan hari kelahiran Putri Kesembilan.“Iya.” Selene tersenyum penuh rahasia. “Kau pasti penasaran dengan jati diriku, kan?”Ryan menatapnya tanpa menjawab.“Sayangnya, jati diriku belum pernah kubuka kepada orang luar.”Ryan hanya bisa menghela napas dalam hati. Ketika berhadapan dengannya, wanita ini justru bertingkah seperti gadis kecil yang senang menyimpan rahasia.**Setelah selesai makan, semua orang bersiap pulang.“Ryan, tunggu sebentar.”Begitu mendengar panggilan Selene, Xander Jett dan Za
Quillon Wynn terkekeh pelan.“Kau belum paham, Bocah. Perempuan itu makhluk yang digerakkan perasaan. Bahkan para dewi di sembilan lapis langit pun pada dasarnya sama.” “Kalau kau berhasil menarik perhatian mereka, mereka bisa saja jatuh hati hanya dari kabar yang mereka dengar tentangmu, bahkan tanpa pernah bertemu langsung.”Ryan memutar bola mata dan memilih tidak menanggapi. Ia melirik Selene Chase yang masih menggenggam tangannya.‘Mungkinkah wanita misterius dengan kultivasi setinggi ini benar-benar tertarik kepadaku?’ pikirnya.‘Atau karena tubuhku membawa aura Demon Emperor, sehingga dia langsung menaruh kesan baik?’Pandangannya menyapu wajah Selene yang tertutup cadar tipis.Entah kenapa, tiba-tiba muncul dorongan kecil di dalam dirinya untuk menyingkap cadar itu dan melihat wajah di baliknya dengan jelas.Namun Ryan segera menekan pikiran itu.‘Sadar, sadar,’ batinnya sambil mengalihkan pand
Kata-kata yang dipenuhi keilahian itu menghantam tepat ke bagian paling rapuh dalam hati Cassian Weston. Dalam sekejap, setiap kalimat Ryan Pendragon seperti pisau tak terlihat yang menggerogoti hati Daonya. Setelah itu, bekasnya tertinggal jauh di dalam Jiwa Primordial Cassian. Cap milik Ryan, yang sarat dengan jejak keilahian, terukir begitu dalam hingga sulit digoyahkan. Bahkan seorang Kultivator Ranah Star Sealed pun belum tentu sanggup menghapusnya. Selene Chase yang semula hanya sedikit tertarik kepada Ryan kini memandanginya dengan tatapan yang sepenuhnya berubah. Ia berasal dari latar belakang yang tidak biasa. Sepanjang hidupnya, ia sudah melihat terlalu banyak genius berbakat gila. Ada yang lahir dengan garis darah kuno, ada yang membawa warisan langka, dan ada pula yang sejak kecil dipuja sebagai calon penguasa masa depan. Namun orang yang mampu melakukan hal seperti barusan bisa dihitung dengan jari. Berdasarkan ingatannya, hanya ada satu sosok yang pernah melakuk







