LOGINIni Bab Kedua siang ini. Selamat makan siang (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 2/3 Bab Reguler: 2/2
Suara Wendy tidak keras. Tapi di antara pepohonan yang sunyi itu, setiap katanya terdengar jelas."Yang perlu kau lakukan sekarang adalah menjadi lebih kuat." Dia masih menatap wajah Ryan yang tidak sadarkan diri, matanya tertuju jauh ke depan. "Sekte Moon Flower adalah tempat terbaik untukmu saat ini.""Aku sudah mendapat sebagian ingatan dari leluhur kami. Aku tahu asal-usul Sekte Moon Flower yang sebenarnya, jauh lebih dalam dari apa yang terlihat di permukaan."Jeda panjang. Angin bergerak di antara daun-daun."Tidak ada faksi yang mampu melindungi Tablet Reinkarnasi jika fondasinya lemah. Sekte Moon Flower bukan sekte biasa."Wendy berhenti berbicara.Dia menatap wajah Ryan lebih lama dari yang dia sadari. Perlahan, tubuhnya membungkuk ke depan. Jarak antara wajahnya dan wajah Ryan menyempit. Cadar tipisnya bergerak mengikuti napasnya yang pelan. Bibirnya sudah tinggal satu jengkal dari wajah Ry
Divine God Raging Flame tidak langsung menjawab. Dia menatap Batu Asal di tangannya, merasakan energi yang mengalir darinya, lalu mengangkat kepalanya dengan sorot yang sudah lebih tenang."Dengan ini, ditambah kondisi kami yang pulih sepenuhnya, kami sanggup bertahan." Suaranya berat tapi mantap. "Itu bisa aku janjikan.""Bagus."Wendy tidak berkata lebih banyak. Sebuah botol giok kecil meluncur dari tangannya dan melayang ke arah Divine God Raging Flame."Cairan Giok Nine Mystic. Kalian pasti pernah mendengar namanya." Sudut bibirnya hampir tidak bergerak saat berkata, "Lebih dari cukup untuk memulihkan kondisi semua orang di sini."Divine God Raging Flame menangkap botol itu dan membukanya sedikit. Aroma yang keluar membuat matanya melebar. Bukan karena harum. Melainkan karena dalam puluhan tahun berkultivasi, dia hanya pernah mendengar nama obat ini dari cerita orang lain, tidak pernah sekali pu
Serangan itu memakan harganya sendiri. Wendy berdiri diam di tengah gelombang energi yang perlahan mereda. Siapa pun yang cukup teliti memperhatikan akan melihat bahwa warna di balik cadarnya sedikit lebih pucat dari sebelumnya. Membekukan api dan menghancurkan setetes darah esensi dari leluhur faksi besar adalah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan tanpa membayar sebagian dari dirinya sendiri. Tapi tubuhnya tidak bergerak. Punggungnya tetap tegak. Di langit, sisa-sisa bayangan darah itu benar-benar menghilang. Tidak ada lagi bekas, tidak ada lagi tekanan yang menghimpit, bahkan bau besi yang tadi menyeruak di udara pun tersapu bersih oleh angin dingin yang masih berhembus dari tubuh Wendy. Kepingan salju yang melayang turun sejak tadi semakin deras sejenak, lalu perlahan berhenti. Jembatan es di langit retak dari ujung ke ujung, lalu pecah menjadi partikel cahaya biru yang berhamburan sebelum lenyap. Para murid dan tetua Myriad Sword Palace berdiri terpaku. Tidak ada yan
Dari jarak aman, Divine God Raging Flame berdiri mematung. Di sebelahnya, Hao Ken mengerutkan kening dalam. "Ada yang aneh dari perempuan itu." "Aku merasakannya juga." "Aura kultivasinya..." Hao Ken memejamkan mata sejenak, mencoba menganalisis. "Bukan miliknya sendiri sepenuhnya. Seperti ada seseorang lain di baliknya." "Dan kekuatan orang itu..." Dia membuka mata. "Ini menyentuh sesuatu yang sangat tua. Bukan kultivasi zaman ini." "Salah satu leluhur kuno Benua Valorisia?" Divine God Raging Flame memiringkan kepalanya sedikit. "Tapi yang jelas dia mengenal Ryan. Dan dia yang menyelamatkannya barusan." "Kita tunggu." Hao Ken melangkah mundur setengah langkah. "Lihat dulu sejauh mana ini akan berjalan." Tepat saat itu, suara menggelegar keluar dari gumpalan es yang membungkus setetes darah tadi. "Siapa kau?!" Getaran kemarahan dalam suara itu terasa seperti tekanan fisik yang mendorong semua orang mundur satu langkah. "Apakah kau tahu harga yang harus kau bayar karena beran
Divine God Raging Flame dan Hao Ken berlari secepat yang mereka bisa. Tapi keduanya tahu mereka tidak akan sampai tepat waktu. Setetes darah dari seseorang yang mampu menembus formasi terlarang dari luar. Itu bukan kekuatan biasa. Bahkan gabungan mereka berdua tidak cukup untuk menandinginya, apalagi melindungi Ryan yang saat ini bahkan tidak bisa berdiri tegak. Setetes darah itu bergerak cepat, menembus udara tanpa hambatan, langsung mengincar tubuh Ryan yang tergeletak di tanah. Aura kematian itu sudah mencengkeram dada Ryan. Matanya yang setengah terbuka menatap bayangan merah yang mendekat, tapi tubuhnya tidak punya cadangan untuk bereaksi. Tangannya bahkan tidak bisa menggenggam Pedang Iblis Darah dengan benar. 'Apakah ini akhirnya...' Lalu satu kepingan salju jatuh. Lalu dua. Lalu ribuan, seolah langit memutuskan menuangkan musim dingin ke tempat ini dalam hitungan detik. Suhu turun drastis. Kepulan napas mulai terbentuk di depan wajah semua orang yang hadir. Di l
Tiga kultivator itu memandang ke atas.Lalu memandang satu sama lain.Tidak ada yang perlu diucapkan. Mereka bertiga tahu. Semuanya tahu."Argh!"Ryan melesat masuk begitu pilar hitam menyentuh area sekitar mereka. Energi iblis dari pilar itu menggulung masuk ke dalam tubuh ketiga kultivator sekaligus, bukan perlahan seperti sebelumnya, tapi seperti banjir yang menjebol bendungan sekaligus. Tidak ada lagi ruang untuk menekan atau melawan. Kontaminasi itu melanda semua organ mereka dalam hitungan detik.Ketiga kultivator itu menjerit. Bukan teriakan pertempuran. Teriakan kesakitan murni.Ryan tidak berhenti. Pedang Iblis Darah mengayun ke arah satu kultivator yang masih mencoba membentuk serangan balasan. Sabetan itu menghantam tubuhnya berkali-kali, membuka luka demi luka yang memancarkan uap energi iblis hitam. Sang kultivator melihat ke bawah pada luka-lukanya, menggertakkan gigi, dan aur
Ekspresi Ryan sedikit berubah saat melihat serangan itu datang tanpa peringatan. Dia segera mengedarkan teknik kultivasinya dan melancarkan pukulan. "Tinju Sepuluh Ribu Vajra!" Cahaya suci menyebar dari kepalan tangannya, dan tanda cahaya keemasan menutupi tangan dan lengannya. Aura suci berputa
Ryan menelan beberapa pil dan mengedarkan teknik Matahari Surgawi untuk menyesuaikan kondisinya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya merasa lebih baik. Ryan kemudian mendekati kuali itu sekali lagi, tetapi kali ini dia tidak menyentuhnya. Sebaliknya, dia menghunus Pedang Surgawi EX-Caliburn. Kek
Sebelumnya, Sphinx terlihat sedikit lemah dan seringkali mengantuk, tapi sekarang ia mulai memancarkan aura layaknya binatang buas purba sejati. Hingga tahap ini, bukan hanya para binatang buas yang akan takluk padanya, bahkan para kultivator dengan hati Dao yang goyah pun akan berlutut di hadapan
"Arena itu akhirnya terlihat. Aku tidak sabar melihat siapa pemenangnya!" teriak seseorang. "Lihat! Siapa yang menang?" "Hmm? Itu aneh. Kenapa masih ada dua orang berdiri di arena?" balas yang lain, kebingungan. "Juga, mengapa pakaian gadis itu berubah?" tanya seorang penonton wanita dengan keni







