Se connecter“Pagi, sayang. Ada apa ini?” tanya Devan. Luna dan Devan sudah baikan, bahkan tadi malam mereka sempat bercinta dengan hebatnya di atas sofa. Kegiatan yang akhir-akhir ini jarang mereka lakukan akibat anak-anak yang tidak bisa jauh dari Luna. Selain itu kelelahan yang membuat keduanya lebih cepat tidur daripada memikirkan untuk bercinta. Devan sudah mengenakan pakaian kerja. Si kembar menuruni anak tangga bersama suster Intan. Senyum Dika sangat lebar melihat El sudah sembuh dan ceria lagi.Dia segera berlari kecil menuju tangga, lalu bertanya pada El, “El udah sembuh? Dika seneng banget loh. Yeeeee main bertiga lagi.”Si kembar membalas pelukan Dika. Tiganya kembali ceria dan melompat-lompat di ujung tangga paling bawah. Tidak hanya Dika yang rindu mainan, El juga. Tapi kemarin tubuhnya benar-benar lemas.Sementara Luna cerita sama Devan soal apa yang dialami Dika.“Kok jahat banget dia sama anak kecil. Kasihan Dika diperlakukan kayak gitu,” geram Devan. Dia juga beruntung karena Ma
Perhatian Luna yang sejak tadi terbagi antara Nia dan El akhirnya benar-benar tertuju pada Dika. Dari tadi dia merasa ada yang janggal dengan bocah itu. Dika memang berusaha terlihat ceria, bahkan anak ini memang sering kali menyembunyikan perasaannya agar tidak membuat orang lain khawatir. Misalnya saat dia jatuh, dia akan dengan cepat bilang kalau dirinya nggak apa-apa masih kuat, masih sehat. Tapi pagi ini ada yang berbeda dari Dika, mata bocah ini tidak bisa bohong. Bengkak, merah, jelas sekali bekas menangis lama.“Kenapa matanya bengkak, sayang? Kok kayak orang habis nangis?” tanya Luna dengan suara lembut. Kasihan sekali Luna melihat bocah laki-laki ini, usia belum genap 6 tahun tapi sudah ditinggal liburan oleh kedua orang tuanya. Ke luar negeri lagi yang membutuhkan jarak sangat panjang untuk bisa kembali ke Indonesia. Mungkin karena Dika bukan darah daging mereka, jadi keduanya lebih leluasa meninggalkan anaknya bersama sang pengasuh. Tapi kalau untuk Luna pribadi, janganka
“Harusnya aku pasang kamera tersembunyi juga di kamar Maria. Dia sangat berbahaya sekali kalau dibiarkan seperti ini. Kelakuannya benar-benar tidak bisa diampuni. Bahkan terhadap anak sekecil Dika diperlakukan dengan buruk. Gajinya 3 kali lipat dari gajiku, sementara semenjak nyonya dan Tuan pergi berlibur, rumah ini seperti rumahnya sendiri,” gumam sang pelayan.Dia menatap pintu kamar Maria yang masih tertutup. “Kasihan sekali Dika harus mendapatkan pengasuh seperti ini,” gumamnya lagi. Dia pun segera turun ke lantai 1 menuju ke kamarnya yang berada di dekat dapur. Besok dia akan meletakkan kamera tersembunyi di kamar Maria.Di sisi lain, Maria mengurung diri di dalam kamarnya dengan dada naik turun tak beraturan. Pintu ditutup keras sejak tadi, seolah itu satu-satunya cara meluapkan amarah yang menumpuk di kepalanya. Pikirannya kacau, wajahnya memerah, tangannya gemetar. Semua yang dia rencanakan hari ini berantakan tanpa sisa. Kesempatan untuk masuk ke rumah Devan Wijaya lenyap b
Setelah memastikan Maria benar-benar keluar dari kamar Dika dan langkah kakinya sudah tak lagi terdengar di lorong, pelayan itu berdiri beberapa detik di depan pintu. Dadanya terasa sesak, bukan karena lelah, tapi karena marah dan sedih bercampur jadi satu. Sejak tadi dia mendengar jelas suara Maria yang membentak, disusul tangis tertahan seorang anak kecil. Hatinya langsung tidak tenang.Pelayan itu akhirnya masuk ke kamar Dika dengan langkah pelan. Lampu kamar sengaja dibiarkan redup. Di atas ranjang, Dika meringkuk kecil, wajahnya menghadap ke dinding. Bahunya naik turun, tanda bocah itu masih sesenggukan. Matanya sembap, hidungnya merah. Melihat itu saja, air mata pelayan itu langsung jatuh tanpa bisa ditahan.“Dika… ini mbak. Bangun, sayang,” panggilnya lembut sambil mendekat ke ranjang.Dika menoleh pelan. Matanya yang masih basah menatap pelayan itu ragu-ragu, seolah takut dimarahi lagi. Saat melihat wajah yang familiar dan nada suara yang berbeda dari Maria, dia sedikit lega.
“Dev, kamu makan dulu aja. Semua udah terjadi mau bilang apa. Tinggal doakan agar El cepat pulih.”“Iya, nek,” balasnya.“Daddy tadi kemana? Kok gak nemenin Mommy di rumah sakit?” tanya Nia.“Daddy kerja, sayang. Ada rapat,” balas Devan. Nia mengangguk meski tak paham.Setelah makan malam selesai, Devan tidak langsung membiarkan Nia dan Dika kembali melamun di ruang tamu. Dia mengajak keduanya pindah ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Film anak-anak diputar, warna-warninya memenuhi layar, tapi perhatian dua bocah itu sebenarnya tidak sepenuhnya ada di sana. Mata mereka memang menatap televisi, namun pikiran mereka jelas masih tertinggal pada satu nama yang sejak sore tidak muncul menemani mereka.Nia duduk bersandar di sisi Devan, tubuhnya menempel rapat seperti biasanya. Sesekali gadis kecil itu melirik ke arah tangga, berharap El turun dan ikut bergabung. Dika duduk di sisi lain, posisinya rapi, tangannya diletakkan di atas paha. Wajahnya terlihat penuh rasa ingin tahu. Ana
“Sayang, maafin aku. Tadi…” ucapan Devan terpotong begitu saja.“Berisik!”Satu kata itu sudah cukup bikin Devan berhenti bicara. Dia menghela napas berat, menatap punggung Luna yang duduk membelakangi ranjang. Bahu istrinya terlihat kaku, jelas masih menahan emosi. Devan sudah sangat hafal tanda-tanda seperti ini. Kalau Luna sudah begini, artinya bukan marah biasa.Sejak menikah, Luna tercatat sudah empat kali ngambek parah. Bukan tipe yang teriak atau membanting barang, tapi diamnya itu justru lebih bikin Devan kalang kabut. Kalau kesalahannya masih ringan, Luna biasanya bisa diluluhkan dengan pelukan atau obrolan panjang. Tapi kalau sudah menyangkut anak, apalagi sampai El masuk rumah sakit, Devan tahu posisinya benar-benar salah.“Aku mandi dulu ya,” ucap Devan pelan, masih berharap ada respons.Luna tetap diam. Tidak menoleh, tidak menjawab, bahkan tidak memberi tanda kalau dia mendengar.Devan memilih mundur. Dia melangkah ke ruang ganti, membuka kancing kemejanya satu per satu.






