ANMELDENNathan mengetukkan ujung jarinya di atas meja, berusaha menenangkan gejolak yang berputar di dadanya. "Cukup basa-basinya," ucapnya dingin. "Katakan saja apa maksud dan tujuanmu datang ke sini?" Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di sela ketegangan yang menggantung. Danu tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan tubuhnya lebih santai, seolah menikmati suasana yang jelas tidak nyaman bagi Nathan. "Kamu masih sama seperti dulu," gumamnya pelan. "Selalu ingin langsung ke inti." Nathan tidak merespons. Tatapannya tetap tajam, menunggu. Danu akhirnya menghela napas pendek. "Baiklah, aku memang tidak datang hanya untuk menengokmu." Ia berhenti sejenak, memastikan perhatian Nathan sepenuhnya tertuju padanya. "Aku datang karena ada sesuatu yang perlu kita bicarakan… sesuatu yang berkaitan dengan perusahaan!" Alis Nathan sedikit berkerut, namun ekspresinya tetap dingin. Danu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Sikap sant
Pintu lift terbuka dengan bunyi pelan. Vira segera melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Perutnya yang sejak tadi keroncongan membuatnya tak lagi memikirkan hal lain selain mencari sesuatu untuk dimakan.Sejak pagi ia bahkan belum sempat menyentuh makanan dengan benar. Pekerjaan yang menumpuk ditambah kejadian bersama Nathan barusan membuat tubuhnya terasa semakin lelah.Ia berjalan cepat melewati lobi gedung kantor.Namun karena terlalu terburu-buru, Vira tidak menyadari seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.Bruk!Tubuhnya menabrak seseorang dengan cukup keras.Vira terkejut hingga hampir kehilangan keseimbangan, namun orang itu dengan sigap menahan lengannya agar tidak jatuh."Maaf! Maaf, saya tidak sengaja!" ucap Vira panik. Ia langsung menundukkan kepala dengan rasa bersalah sebelum akhirnya mengangkat wajahnya.Seorang pria berdiri di hadapannya.Usianya tampak sekitar awal tiga puluhan. Penampilannya rapi dengan setelan jas mahal yang pas di tubuhnya. Sorot matanya taja
Kemarahan masih menyala di dada Nathan. Setiap kata ayahnya terasa seperti duri yang menusuk semakin dalam. Ia menatap meja yang baru saja ia gebrak, rahangnya menegang, seluruh tubuhnya bergetar menahan ledakan emosi."Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi!" teriak Nathan, suaranya memecah keheningan ruangan yang tegang.Nathan menundukkan wajahnya. Napasnya masih tersengal, sementara matanya menyimpan kobaran emosi yang sulit dipadamkan. Setiap kata ayahnya tentang ibu kandungnya menusuk hatinya lebih dalam daripada apa pun yang pernah ia rasakan. Ada rasa rindu dan sakit yang bercampur menjadi satu, rindu akan sosok yang melahirkannya, namun benci pada kenyataan bahwa ia meninggalkannya begitu saja.Bram menatap Nathan dengan tatapan tajam, "Sekarang kau tahu, kan? Sarah jauh lebih baik daripada ibumu itu!"Ia menekan ucapannya dengan nada dingin."Minggu depan kau harus datang ke acara ulang tahun pernikahan Papa dan Sarah. Tidak ada alasan dan jangan menolak!" ucap Bram te
Pria paruh baya itu melangkah mantap ke tengah ruangan, sorot matanya tajam menyapu setiap sudut hingga membuat suasana terasa kian menegangkan. Para pegawai sontak terdiam, tak ada yang berani bersuara. Vira yang berdiri paling ujung hanya bisa menatap penuh tanya, siapa sebenarnya orang ini hingga semua orang begitu menghormatinya?Vira menelan ludah, ia tak tahan lagi untuk berbisik pada Ana, "Siapa dia, Na?"Ana meliriknya sekilas, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Vira. "Itu… Ayahnya Pak Nathan, namanya Pak Bramantyo!"Dengan suara berat namun penuh wibawa, pria paruh baya itu akhirnya membuka mulutnya, "Apa Nathan ada di ruangannya?" tanyanya. Ana yang berdiri di samping Vira buru-buru menyikut pelan lengannya, memberi isyarat agar ia segera maju. Bagaimanapun juga, Vira adalah asisten pribadi Nathan jadi sudah sepatutnya dialah yang harus berurusan langsung dengan pria penting itu.Mau tak mau, Vira melangkah mendekat, menundukkan sedikit tubuhnya sebagai bentuk hormat. "S
Makan malam akhirnya usai, menyisakan meja yang dipenuhi piring dan gelas kotor. Namun, alih-alih beranjak, Nathan masih bersandar santai di kursinya, matanya tak lepas dari sosok Vira di seberangnya. "Vira," suaranya dalam, membuat wanita itu menoleh dengan bingung. "Ada sesuatu di sudut bibirmu!" ucap Nathan sambil menunjuk dengan telunjuknya. Refleks Vira menyeka dengan punggung tangannya. "Sudah belum?" tanyanya polos.Nathan menggeleng, sudut bibirnya terangkat tipis. "Bukan di situ… di sebelah kanan!"Dengan kikuk, Vira mencoba lagi, menggunakan ujung jarinya. "Sekarang?" tanyanya, semakin salah arah.Nathan mendesah pendek, matanya menyipit antara kesal dan geli. "Bukan di situ. Kau justru membuatnya semakin berantakan!" Wajah Vira memanas, ia kembali menyeka dengan buru-buru. "Dimana sebenarnya? Ini tidak ada kok!" ucapnya sedikit jengkel.Nathan hanya menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit dari kursinya. "Sudahlah…" gumamnya pelan.Tanpa banyak kata, ia melangkah
Nathan menarik napas dalam, membiarkan jarak di antara mereka terasa lebih intim. Matanya menatap Vira, seolah ingin menembus setiap perasaan yang tersembunyi di balik tatapannya.Vira masih meringkuk di sudut sofa, jantungnya berdegup kencang, campuran rasa gugup dan hangat yang tiba-tiba membanjiri dadanya. Ia tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa menatap Nathan dengan mata yang sedikit membelalak.Vira menunduk, bibirnya bergetar sedikit. "Nathan…" ucapnya dengan suara lirih, nyaris tersedak. "A-apa… kau tidak lapar?" Lanjutnya terbata. Nathan tersenyum tipis, matanya berkilat nakal. "Tentu saja aku sangat lapar… sampai aku ingin memakanmu sekarang juga!" jawabnya sambil menyeringai, nada bercandanya berhasil membuat wajah Vira memerah hebat. Vira terdiam sejenak, menelan ludah dan menundukkan wajahnya. Jantungnya berdetak lebih kencang, antara kesal dan malu. "Bu-bukan itu maksudku… hmmpptthh…" ucapnya terbata, wajahnya memerah hebat.Namun sebelum kata-katanya tuntas, Natha







