Share

Bab 3

last update Huling Na-update: 2025-04-29 13:45:35

Duarr!

Bagaikan tersambar petir di siang bolong telinga Nada, ketika mendengar apa yang baru saja ditangkap oleh telinganya itu.

"Apa?" Nada membelalak kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Tuan Hendra.

"Ya. Saya sudah tahu dari para anak buah saya, kalau kamu sudah bisa menghasilkan ASI, meski kamu masih gadis. Karena itu saya membawa kamu ke sini untuk menolong Daffa," kata Tuan Hendra dengan suara dingin. “Jangan khawatir. Saya pasti akan memberikan banyak uang untukmu dan nenekmu itu, asalkan anak saya bisa sembuh.”

"Ta ... Tapi, Tuan, saya nggak bisa. Saya masih harus–"

"Saya tidak menerima penolakan, dan saya bisa saja menghancurkan hidup kamu, kalau kamu berani membantah perintah saya!" Tuan Hendra menatap tajam pada Nada.

Lalu, tanpa menunggu jawaban dari gadis muda itu, Tuan Hendra segera keluar dari kamar dengan diikuti oleh kedua anak buahnya. Sedangkan Nada masih terdiam, bersama dengan Ira yang masih berdiri di sampingnya. Ia terpaku menatap hampa pada Daffa yang terbaring lemah bagaikan mayat hidup.

"Tuan Hendra tidak akan senang dengan penolakanmu. Jadi lebih baik kamu sekarang di sini saja dan temani tuan muda. Kalau dia bangun, maka kamu harus siap," kata Ira dengan suaranya yang selalu saja ketus dan dingin.

"Tapi aku nggak bisa, Bu. Aku–"

Brak!

Ira pergi begitu saja dan menutup pintu kamar. Nada terkejut dan cepat-cepat berlari menyusulnya untuk membuka pintu. Namun, saat ia mencoba membukanya, pintu itu tetap tak kunjung mau terbuka. Sebab rupanya Ira sudah mengunci pintu itu dari luar.

"Bu, buka pintunya! Izinkan saya keluar. Saya nggak mau di sini, tolong!" pekik Nada sambil menggedor-gedor pintu dengan cukup keras.

Rasanya ia sangat ketakutan berada di dalam kamar itu, berdua saja dengan mayat hidup seperti Daffa. Nada sudah menangis sesenggukan, karena Ira sama sekali tak mau membukakan pintu kamar tersebut untuknya.

"Huhuhu, nenek, tolong aku!" isak Nada yang terus menangis sambil memanggil neneknya. Rasanya ia begitu merindukan nek Ijah.

"Uhuk! Uhuk!"

Nada sontak terdiam. Wajahnya mendadak terlihat pucat, saat ia mendengar suara terbatuk-batuk yang tak jauh di belakangnya. Dengan tubuh yang terasa kaku, perlahan gadis itu memutar tubuhnya dan menatap pada sosok pria tampan yang kini mulai membuka kelopak matanya.

"Pa," lirih Daffa dengan suara berat dan seakan tersangkut di tenggorokan.

Nada semakin terbelalak saat melihat Daffa yang sudah mulai siuman. Panik, gadis itu cepat-cepat berusaha sekali lagi untuk membuka pintu, tapi usahanya sia-sia. Pintu itu tak akan pernah bisa dibuka dari dalam.

"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Nada panik. Keringat dingin mulai mengalir membasahi wajah dan tubuhnya.

Ia menatap ke sekeliling kamar untuk mencari jendela, tapi tetap tak bisa menemukannya. Nada semakin cemas karena tak menemukan jalan keluar.

"Siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini?"

Nada kaget mendengar pertanyaan itu. Refleks ia berbalik badan dan memandang pada Daffa. Namun, sungguh mengherankan karena pria itu tiba-tiba saja bangkit dari tempat tidur. Ia perlahan turun dari ranjang, sambil membawa tiang infus di tangannya.

Langkahnya tertatih-tatih, menghampiri Nada yang masih mematung tanpa berani berucap sedikit pun. Nada masih gemetar, apalagi saat kini akhirnya Daffa tiba di hadapannya.

Tatapan matanya menyapu seluruh tubuh Nada dari ujung kepala hingga ujung kaki, tanpa ada satu inci pun bagian tubuh Nada yang terlewat. Nada gemetar saat ditatap seperti itu, apalagi karena pakaiannya yang seperti kekurangan bahan.

Dengan cepat, ia langsung menutupi bagian depan tubuhnyanya dengan kedua lengan. Ia semakin takut saat mata Daffa menatap aset besar Nada dengan liar.

"Apa kamu nggak punya telinga?" tanya Daffa sarkas.

Pertanyaan itu sontak membuat Nada mengangkat wajahnya cepat. Ia cukup terkejut dan tak menyangka, jika pria sakit seperti Daffa bisa mengatakan hal kasar seperti itu.

"Kamu ...?"

"Kenapa? Apa papa sudah mengatakan banyak hal sama kamu?" Daffa memandang Nada dengan sinis.

"Nggak begitu, tapi ...."

"Katakan apa yang sudah papa katakan!" desak Daffa dengan suara menggeram berat.

Nada tercekat. Ia memandang pada Daffa yang tampak kaku. Gadis itu cukup heran, karena sebelumnya Tuan Hendra mengatakan kalau separuh tubuh Daffa mengalami kelumpuhan. Namun, kenapa kini ia bisa berjalan dan mendekat ke arahnya?

"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu nggak bisa menjawab pertanyaanku? Wah, rupanya selain tuli, kamu juga bisu ya," kata Daffa dengan tajam.

"Ma ... Maafkan saya, Tuan Muda. Saya ada di sini karena disuruh oleh Tuan Hendra. Tapi saya nggak tahu kalau ternyata tuan muda bisa ...."

"Bisa berjalan? Apa Papa mengatakan kalau separuh tubuhku lumpuh?"

"I ... Iya." Nada mengangguk, mengiyakan pertanyaan Daffa.

"Hah!" Daffa mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Nada.

"Papa terlalu berlebihan. Separuh tubuhku memang lumpuh, tapi itu dulu. Aku sudah sembuh sekarang dan aku sudah nggak butuh bantuan dari siapapun lagi. Sekarang lebih baik kamu pergi saja dari sini!" usir Daffa sambil menunjuk ke arah pintu.

Rasanya Nada ingin berteriak kegirangan saat itu juga. Sebab ia tak jadi harus memberikan asi pada pria tampan itu. Nada segera menganggukkan kepalanya cepat dengan senang.

"Saya akan segera keluar dari sini, Tuan. Tapi pintu ini dikunci dari luar. Saya nggak bisa membukanya." Nada menunduk.

Tanpa menjawab perkataan Nada, Daffa memutar tubuh dan berjalan terseok-seok menuju ke sebuah lemari yang tak jauh dari tempat tidurnya. Ia membuka laci meja itu, dan segera mengeluarkan sebuah kunci dari sana. Daffa dengan cepat melemparkan kunci itu ke arah Nada.

"Nah, sekarang buka pintunya dan cepat keluar!"

Nada menangkap kunci itu dengan senang hati. Wajahnya sangat bahagia, membuatnya mengangguk dengan cepat.

"Baik, Tuan. Terima kasih banyak."

Gadis itu buru-buru membuka pintu. Namun saat ia sedang fokus, tiba-tiba saja terdengar suara seperti sesuatu yang terjatuh.

Bruk!

Nada refleks berbalik, dan seketika ia terkejut saat melihat Daffa yang jatuh di dekat ranjang.

"Astaga! Tuan muda!" pekik Nada sambil berlari menghampiri Daffa, membiarkan kunci tergantung di pintu begitu saja.

Dengan cepat ia mengangkat kepala Daffa. Tubuh pria itu tampak kaku, dan nafasnya juga terengah-engah seolah ia kesusahan untuk bernafas.

"Tuan, apa yang terjadi?" panik Nada sambil meletakkan kepala Daffa di atas pangkuannya.

Daffa hanya menatap sayu pada Nada. Kepalanya menengadah ke atas, tepat menghadap Nada yang kini berada di hadapannya. Ia bisa menatap jelas gundukan milik Nada yang sangat besar dan padat tampak berguncang, seolah nyaris keluar dari tempatnya berada.

Daffa menelan salivanya dengan susah payah. Tubuhnya gemetar, sedangkan tangan Daffa juga nampak bergetar. Jari telunjuknya terangkat dengan lemah, menuju ke bagian depan tubuh Nada yang setengah terbuka dan membusung sempurna.

"A ... Aku butuh air susu kamu," ucap Daffa tersendat.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ristiana Cakrawangsa
ya Allah,, apaa iniii ......
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pemuas Nafsu Tuan Muda   Bab 235

    Beberapa bulan kemudian …. Cahaya senja membias indah di langit kota. Lembut dan keemasan, seolah langit pun ikut merayakan hari bahagia itu. Di sebuah gedung pernikahan yang elegan namun sederhana, Nada berdiri anggun dalam balutan kebaya putih gading berhias payet, rambutnya ditata sanggul renda

  • Pemuas Nafsu Tuan Muda   Bab 234

    “Astaga! Itu … itu kan Pak Gio? Guru kita, Ayu!” Nada menutup mulutnya dengan telapak tangan, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan. Mata Ayu membelalak tak percaya. “Enggak mungkin. Dia kan di penjara! Kita lihat sendiri dia dibawa polisi waktu itu.” “Tenang. Jangan terburu-buru. Kita tunggu

  • Pemuas Nafsu Tuan Muda   Bab 233

    Tepat lima hari sejak Daffa terbaring koma di rumah sakit, kabut tebal mulai turun pelan menutupi jalan-jalan kota. Malam menjelma menjadi sosok yang menakutkan, seolah ikut menyembunyikan sesuatu. Langit mendung, tanpa bintang, dan udara terasa lembab karena hujan yang baru saja reda. Jalanan tam

  • Pemuas Nafsu Tuan Muda   Bab 232

    “Daffa!” Jerit Nada mengoyak keheningan malam. Ia mematung, matanya menatap shock dan tak percaya. Tubuh Daffa terhempas karena tabrakan keras oleh mobil itu. Kini tubuh malang tersebut tergeletak di aspal. Darah menggenang dari pelipis dan dada kirinya. Orang-orang mulai berkumpul. Lampu mobil-mo

  • Pemuas Nafsu Tuan Muda   Bab 231

    Langit mendung menggantung rendah sore itu. Petir samar menggeram dari kejauhan, seolah bumi pun tahu bahwa badai baru saja dimulai, bukan hanya di langit, tapi juga di hati manusia. Di dalam rumahnya yang kini terasa sempit meski luas, Hadi berjalan mondar-mandir dengan napas tersengal. Kertas anc

  • Pemuas Nafsu Tuan Muda   Bab 230

    “Sialan!” geram pria paruh baya itu. Tangan Hadi masih menggenggam kertas lusuh yang tadi terlipat di bawah batu. Angin malam menerpa wajahnya yang penuh peluh, meski suhu udara di luar tidak panas sama sekali. Lampu jalan berkedip pelan di kejauhan, menciptakan bayangan panjang di atas aspal yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status