LOGINMereka saling menatap dengan sorot mata panas. Wajah mereka saling mendekat perlahan, sampai akhirnya bibir mereka pun saling menempel erat.
Detik berikutnya, ciuman ganas yang tampak sangat panas pun berlangsung. lidah mereka saling melumat dan bibir mereka saling mengisap ganas satu sama lain. Tangan Joko menyelusup masuk ke dalam kerah dress Kak Rita, lalu masuk kembali ke dalam Bra yang memerangkap semangka besar itu. Sampai pada akhirnya, tangan Joko bersenUntuk beberapa saat, Sonya hanya bersandar di dada Joko dengan mata terpejam, membiarkan remasan tangan Joko membuatnya terbuai. Laporan di layar komputer masih terbuka, kursornya berkedip-kedip di tengah kalimat yang belum selesai. Joko mendekatkan bibirnya ke telinga Sonya. “Masih lama gak?” bisiknya. “Aku gak tahan nih.” Sonya membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke belakang. Bibirnya menyentuh bibir Joko dalam kecupan singkat. “Tunggu sebentar, ya,” ucapnya manja. “Tinggal sedikit lagi. Kalau gak selesai, Nadya bisa ngomel.” Dia memaksa dirinya kembali menatap layar komputer, berusaha mengetik dengan jemari yang sedikit gemetar. Namun Joko tidak berhenti. Tangannya bergerak ke depan, melepaskan kancing kemeja Sonya satu per satu. Sonya meliriknya sekilas, tapi tidak melarang. Dia justru menegakkan punggungnya, membusungkan dada, sengaja memberi Joko akses lebih leluasa. Kemeja itu terbuka. Joko menurunkan penutup terakhir di baliknya, membebaskan dua semangka besar Sonya.
Restoran Bintang Samudra, salah satu restoran paling mewah di Ibu Kota... Seorang pelayan berseragam rapi langsung menyambut mereka begitu turun dari mobil. Begitu Nadya menyebut namanya, pelayan itu membungkuk hormat dan mengantar mereka ke lantai atas, menuju ruang VIP dengan dinding kaca yang menghadap pemandangan kota. Ruangan itu luas dan tenang. Meja bundar dari kayu jati mengilap, kursi-kursi berlapis beludru, dan lampu kristal yang menggantung anggun di langit-langit. Sonya langsung mengambil kursi di samping Joko. Nadya duduk di seberang mereka sambil membuka buku menu. “Pesan apa saja yang kalian mau,” ucap Joko santai. “Hari ini aku yang traktir.” Nadya mengangkat alis. “Bukannya aku yang janji traktir kamu?” “Sudahlah. Hari ini aku lagi dapat rezeki besar,” balas Joko sambil tersenyum lebar. Sonya langsung menoleh dengan mata berbinar penuh rasa penasaran. “Rezeki besar? Rezeki apa, Tampan?” Joko melirik Nadya. Nadya menghela napas, lalu meletakkan buku menunya. “
Joko menatap wajah Nadya dari dekat. Pipi wanita itu masih merona, bibir merahnya sedikit terbuka. "Nadya," bisiknya. "Aku mau ciuman." Nadya tersentak. Wajahnya seketika memerah padam. "A-apa sih! Tiba-tiba minta yang aneh-aneh!" "Tadi kan sudah hampir," balas Joko sambil menyeringai. "Gara-gara si brengsek itu, jadi batal." Nadya menunduk, menggigit bibirnya. Dia tidak menjawab, tapi juga tidak memalingkan wajah. Joko menyentuh dagunya, mengangkat wajah Nadya perlahan. Mata mereka bertemu. "Kalau kamu gak mau, bilang saja," ucapnya pelan. Nadya terdiam beberapa detik. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, dia berbisik, "Siapa bilang aku gak mau..." Joko tak menunggu lagi. Dia langsung melumat bibir Nadya dengan penuh gairah. Nadya sempat terkejut oleh keberanian ciuman itu. Tangannya refleks mendorong dada Joko, tapi hanya sesaat.
Nadya masih bersandar di bahu Joko. Untuk beberapa saat, keduanya diam, menikmati keheningan ruangan setelah keributan tadi. "Nadya," ucap Joko memecah keheningan. "Aku mau bikin perusahaan." Nadya mengangkat kepalanya, menatap Joko dengan alis terangkat. "Perusahaan? Serius?" "Serius," jawab Joko. "Masa aku cuma main saham terus. Aku mau punya usaha sendiri." Nadya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Tatapannya berubah serius, seperti seorang direktur yang sedang menilai proposal bisnis. "Itu ide bagus," ucapnya. "Tapi saranku, kamu kumpulkan modal yang banyak dulu. Biar begitu berdiri, kamu bisa langsung bikin perusahaan besar, bukan mulai dari kecil. Lagian, kamu jago banget nyari uang. Main saham untung, beli batu giok untung, beli barang antik juga untung." Joko terkekeh. "Uangku sekarang sudah lebih dari enam triliun. Apa itu belum cukup?" Nadya nyaris tersedak ludahnya sendiri. Dia menatap Joko dengan mata membelalak. "E-enam triliun?" "Kurang lebih," jawa
Tuan Muda Rico menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam api cemburu yang membakar dadanya. Dalam sekejap, wajahnya kembali memasang senyum ramah, seolah tak terjadi apa-apa. "Maaf, Nona Nadya. Saya terlalu bersemangat ingin bertemu Anda," ucapnya sambil merapikan jasnya. "Saya dengar kalung Mutiara Kaisar milik Permata Biru sedang jadi pembicaraan di mana-mana. Selamat, ya." "Terima kasih," balas Nadya datar. "Kebetulan sudah jam makan siang," lanjut Tuan Muda Rico, senyumnya semakin lebar. "Saya sudah memesan tempat di restoran terbaik di Ibu Kota. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sekalian merayakan keberhasilan Anda." Nadya belum sempat menjawab, Joko sudah lebih dulu bersuara. "Ternyata kau Tuan Muda Rico." Tuan Muda Rico menoleh. Senyumnya menghilang seketika. Dia menatap Joko dari atas sampai bawah dengan tatapan tajam, penuh penghinaan. "Siapa kau?" ucapn
Joko melangkah masuk ke lobi gedung Permata Biru. Lantainya marmer putih mengilap, langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal yang menggantung megah. Di sudut ruangan, sebuah layar besar menampilkan foto kalung Mutiara Kaisar yang berkilauan. Seorang resepsionis wanita berseragam rapi langsung berdiri begitu melihatnya. "Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" sapanya sopan. "Siang. Aku mau ketemu Nadya. Katanya dia sudah menunggu," jawab Joko. Resepsionis itu sedikit terkejut mendengar Joko menyebut nama atasannya tanpa embel-embel apa pun. Namun dia tetap tersenyum ramah. "Boleh saya tahu nama Tuan?" "Joko." "Mohon tunggu sebentar, Tuan." Resepsionis itu mengangkat gagang telepon, berbicara singkat, lalu mengangguk beberapa kali. Begitu menutup telepon, sikapnya berubah jauh lebih hormat. "Maaf sudah membuat Tuan menunggu. Bu Direktur sudah menunggu Tuan di ruangannya. Mari, saya an
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh







