Home / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 270 Keluarga Rian

Share

Bab 270 Keluarga Rian

Author: Tristar
last update publish date: 2026-08-04 23:20:39

Setelah Bi Tia menyajikan kopi, dia duduk di samping Paman Bagus.

Joko mengeluarkan satu kotak perhiasan dari tas belanjaan, lalu meletakkannya di depan Bi Tia.

"Bi, aku belikan hadiah buat kamu. Tolong di terima, ini niat baik dariku," ucap Joko.

Bi Tia dan Paman Bagus menatap kotak itu.

"Ini apa nak? Kok kamu repot-repot sih, belikan bibi hadiah segala," ucapnya dengan ekspresi tidak sungkan.

"Nggak repot sama sekali kok," balas Joko.

Bi Tia menghela nafas. "Huh, kalau gitu makasih yah.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 435 Giliran Maya

    Joko membuka pintu dapur dengan celana pendek yang dipakai terburu-buru. Maya berdiri di sana dengan daster ungu tipis dan kardigan yang disampirkan asal-asalan di bahunya. Rambut hitam bergelombangnya digerai, wangi sabun melati menguar dari tubuhnya. Dia jelas baru mandi, padahal sudah hampir pukul dua dini hari. "Lama banget bukanya," gerutunya pelan, lalu menerobos masuk tanpa menunggu dipersilakan. "Suamimu?" tanya Joko, menutup pintu di belakangnya. "Aku belikan dua botol tuak tadi sore. Dia minum sama teman kantornya di teras." Maya mengibaskan tangan dengan wajah puas. "Sekarang tidurnya kayak batang pisang. Ditendang juga gak bakal bangun." Joko menahan tawa. "Kamu benar-benar menepati janji, ya." "Aku bilang aku pastikan, kan?" balas Maya, mengangkat dagu bangga. Maya melangkah ke arah kamar tamu. Lalu langkahnya terhenti di ambang pintu. Bu Tika duduk bersandar di kepala ranjang, tubuhnya dibalut seprai putih sampai dada. Rambutnya berantakan, pipinya masih memerah.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 434 Bu Tika Datang Pengen Jatah

    Joko membuka pintu kamar. Bu Tika berdiri di sana dengan daster batik cokelat dan selendang tipis yang menutupi kepalanya. Ujung dasternya basah oleh embun, sandal jepitnya penuh tanah. Jelas dia baru saja menyusuri jalan setapak di hutan samping rumahnya. Dia menurunkan selendang itu perlahan. Rambut hitamnya yang biasa disanggul kini tergerai sampai punggung. "Lana ada di atas, kan?" bisiknya, melirik ke arah tangga dengan gugup. "Kalau dia dengar..." "Lana sudah tahu," jawab Joko santai, bersandar di kusen pintu. "Dia cuma pesan satu hal." "Apa?" tanya Bu Tika curiga. "Jangan berisik," jawab Joko dengan wajah polos. Bu Tika melotot. Lalu dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan tawa yang hampir meledak. Bahunya berguncang. "Kamu ini," desisnya, memukul dada Joko pelan. "Bikin malu aja." Joko menangkap tangan itu, lalu menariknya masuk dan menutup pintu. Untuk beberapa saat, Bu Tika hanya berdiri di tengah kamar, menatap sekeliling. Ranjang besar dengan seprai put

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 433 Cerita Masa Lalu

    Mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga. Papan catur itu diletakkan di atas meja kecil, bidak-bidaknya disusun Pak Tarman dengan tangan yang sedikit gemetar. Joko menuangkan kopi dari termos ke dua gelas, lalu menyerahkan satu ke pria tua itu. "Bidak kuda hitamnya hilang satu," ucap Pak Tarman, mengganti bidak itu dengan sebutir kelereng. "Kakekmu yang menghilangkannya. Dilempar ke kolam waktu kalah tiga kali berturut-turut." Joko tertawa pelan. "Kakek bilang Bapak yang curang." "Dia selalu bilang begitu kalau kalah." Pak Tarman ikut tertawa, lalu menyesap kopinya. Matanya menatap rumah dua lantai di belakang Joko lama sekali. "Nak," ucapnya kemudian, suaranya lebih pelan. "Bapak gak pernah menyangka kamu bisa jadi seperti sekarang." Joko memutar gelas kopinya. "Bapak dulu yang paling sering kasih aku kerjaan. Mijat, angkat barang, antar ke kota." "Kamu dulu mijat Bapak demi uang," sahut Pak Tarman, tersenyum getir. "Keluargamu pasti senang sekali kalau tahu, Nak." J

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 432 Berkumpul

    Joko turun ke halaman dengan kaus oblong dan celana pendek, rambutnya masih berantakan. Di balik pagar, enam motor berjajar sembarangan. Rian berdiri paling depan sambil berkacak pinggang. Di belakangnya ada Bang Ari, Aden, Dori yang bertubuh gemuk, Timo, dan Tantan. Semuanya nyengir lebar. "Nah, itu dia orangnya," seru Rian, menunjuk Joko seperti menunjuk maling ayam. "Pulang naik mobil mewah, tapi turun pakai sandal jepit lama!" "Sandal ini sudah menemaniku sangat lama, jadi gak boleh di lupakan," balas Joko santai sambil membuka pagar. Rian tertawa, lalu menerjang dan memeluknya erat. Yang lain ikut merangkul, menepuk punggung Joko keras-keras sampai suaranya terdengar ke rumah sebelah. "Ayo masuk. Ada kopi, ada rokok." === Mereka duduk melingkar di teras. Joko menyuguhkan kopi hitam dan sebungkus rokok yang langsung jadi rebutan. "Jo, aku mau lapor," ucap Rian, menegakkan punggungnya seperti murid di depan guru. "Modal yang dulu kamu kasih sudah jadi hampir dua kali lipat.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 431 Pulang Kampung

    Malam sebelum keberangkatan, Sinta mengetuk pintu ruang kerja Joko. Dia masuk membawa segelas kopi, meletakkannya di meja, lalu berdiri diam di sana. Jemarinya meremas ujung kardigannya. "Ada apa, Kak Sinta?" tanya Joko, menutup map data tambang dari Nadya. Sinta menarik napas panjang. "Aku sudah pikirkan dari tadi sore, Sayang. Aku gak ikut pulang." Joko mengangkat alis. Dia bersandar di kursinya, menatap wanita itu lekat-lekat. "Bukannya Kak Sinta yang paling kangen kampung?" "Justru karena aku kenal kampung itu." Sinta tersenyum tipis, getir. "Dua janda dari kampung yang sama, pulang bareng pemuda kaya yang dulu tukang ojek. Satu dulu punya warung tempat kamu mangkal, satu lagi pemilik kebun tempat kamu kerja. Belum sehari, seluruh kampung sudah bergosip. Ibu-ibu di pasar bakal mengarang cerita sampai tujuh turunan." Joko terdiam. Dia tahu Sinta benar. "Dia selalu memikirkan orang lain duluan," batinnya. "Bahkan sekarang, saat dia sendiri yang paling ingin pulang." "Hubunga

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 430 Pemuda Dari Vila Bintang

    Seminggu setelah malam di kediaman Jery, ruang tamu Vila Bintang berubah menjadi gudang. Parsel buah, keranjang anggur impor, kotak teh mahal, guci keramik, bahkan sebuah lukisan besar berbingkai emas berjajar di sepanjang dinding. Semuanya datang dengan kartu ucapan dari keluarga-keluarga yang namanya bahkan belum pernah Joko dengar. Mona berdiri di tengah ruangan dengan tangan di pinggang, menatap tumpukan itu dengan wajah masam. "Sayang, ini mau ditaruh di mana lagi?" tanyanya, mengangkat sebuah kartu. "'Keluarga Prawiro mengucapkan selamat atas keberhasilan Tuan Muda Joko.' Selamat apa? Kamu gak ulang tahun." Joko yang duduk di sofa sambil membaca laporan Bintang Farma hanya tertawa. "Bagikan ke tetangga, ke anak buah Darto, ke panti asuhan. Sisakan anggurnya buat kita." "Anggurnya sudah diambil Bella duluan," gerutu Mona. Dari dapur, terdengar suara Bella menyahut santai, "Aku cuma mengama

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 1 Pangkalan Baru

    "Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 6 Bantu Puaskan Aku, Bang!

    Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 5 Godaan Dan Tawaran

    Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status