Masuk"Kak Rita, ini hadiah dariku," ucap Deni sambil memberikan sebuah kantung belanja. Ekspresi Deni tampak bangga. "Makasih Den," balas Kak Rani dengan santai. Saat isinya di keluarkan, terlihat sebuah tas berlogo LV. Tas dari merek itu, di bandrol dengan harga puluhan juta. Di banding perhiasan yang diberikan Joko pun, harga tas itu mungkin lebih mahal. Semua tamu jelas terkejut saat melihat hadiah dari Deni itu. Suasana pun kembali ramai. "Wih, tas LV tuh, Rani beruntung banget sih, punya teman-teman orang kaya." "Iya. Tadi perhiasan, sekarang tas!" Mendengar keramaian itu, Deni merasa semakin bangga. Bahkan dagunya pun sedikit dia naikkan ke atas. Semua orang yang mengenal Deni tentu saja di buat bingung sampai kening mereka berkerut erat. "Dia punya uang dari mana bisa beli tas mahal kayak gitu," ucap Rian. "Iya. Gajinya juga paling lima juta sebulan, mana mampu dia beli," ucap pria gemuk. Kak Rani dan Bang Ari pun sama di buat bingung. Mereka menatap Deni dengan tatapan r
Pria gemuk melirik Joko. "Bang, si Deni juga datang lho. Dia bawa mobil ke sini! Mobil yang di depan itu, mobil dia!" ucapnya. "Aku tahu, aku juga lihat tadi," balas Joko dengan santai. Rian mendengus. "Hmph, dia cuma mau pamer! Padahal itu mobil atasan!" ucapnya dengan ekspresi jijik. "Iya. Dia pasti mau nyari perhatian sama teman-teman wanita Kak Rani. Sebelumnya dia terus nanya, bakal banyak wanita gak yang datang ke sini," ucap wanita yang duduk di sebelah Rian. Joko tersenyum sinis. "Deni... Deni, kalau pamer barang sendiri sih gak masalah, kalau pamer barang orang lain ~ apa kamu gak malu?" gumamnya di dalam hati. === Tak lama kemudian, acara pun dimulai. Setelah pembawa acara memberikan sambutan pembuka, dia mempersilakan Kak Rani untuk memasuki area perayaan. Kak Rani melangkah keluar dari dalam rumah dengan senyum anggun. Di sisi kanan dan kirinya, Bang Ari serta kedua orang tuanya berjalan mendampinginya. Kehadiran mereka langsung disambut tepuk tangan meriah dari par
Keesokan harinya. Setelah matahari tenggelam, Joko pergi menjemput Rian di kampung. Karena sebelumnya Joko meminta Rian berangkat bersamanya, karena dia tidak tahu di mana rumah tunangan Bang Ari itu.Saat Joko sampai di rumah Rian, ternyata bukan hanya Rian yang menunggunya. Ada beberapa teman kampung juga di sana."Jo, mereka ikut ke mobilmu gak apa-apa kan?" tanya Rian dengan canggung."Gak apa-apa, ayo!" balas Joko sambil memberi isyarat menyuruh masuk.Rian dan beberapa orang itu masuk ke dalam mobil Joko dengan antusias."Jo, mobilmu bagus banget! Di kampung ini cuma kamu yang punya mobil sebagus ini," ucap wanita yang memiliki paras cukup cantik."Hehe, kalian juga pasti bisa beli! Asalkan kalian serius bermain saham," balas Joko sambil cengengesan.Setelah semua orang masuk, Joko menginjak gas dan mobil pun melaju."Rumahnya di kampung sebelah kan?" tanya Joko."Iya. Nanti aku tujukan jalannya," balas Rian."Yang di undang banyak?" tanya Joko."Banyak! Bukan cuma teman Bang Ar
Setelah Bi Tia menyajikan kopi, dia duduk di samping Paman Bagus. Joko mengeluarkan satu kotak perhiasan dari tas belanjaan, lalu meletakkannya di depan Bi Tia. "Bi, aku belikan hadiah buat kamu. Tolong di terima, ini niat baik dariku," ucap Joko. Bi Tia dan Paman Bagus menatap kotak itu. "Ini apa nak? Kok kamu repot-repot sih, belikan bibi hadiah segala," ucapnya dengan ekspresi tidak sungkan. "Nggak repot sama sekali kok," balas Joko. Bi Tia menghela nafas. "Huh, kalau gitu makasih yah. Bibi terima hadiah dari kamu!" "Bu, buka dong! Lihat, apa ibu suka isinya," ucap Rian dengan antusias. Bi Tia ragu-ragu sejenak, akhirnya memutuskan untuk membukanya. Saat kotak terbuka, satu kalung dan satu gelang yang sangat indah ~ berkilau oleh manik-manik, tergeletak di dalamnya. Mata Bi Tia dan Paman Bagus terbuka lebar. Tubuh keduanya membeku sesaat. Hanya sekali pandang, mereka bisa mestikan kalau perhiasan itu bukan barang yang murah. Bi Tia menatap Joko. "Jo, i-ini... terlalu berh
Joko mengelus hidungnya. "Dia pacar temanku. Mungkin umurnya sekitar 25 tahun," balas Joko."Kalau seperti itu, menurut saya beri hadiah kalung saja. Kalau masih muda ~ biasanya wanita lebih suka perhiasan kalung kalau nggak anting-anting," ucap pelayan itu.Joko berpikir sejenak. "Mmm... baiklah, kalung saja! Tolong pilihkan yang bagus!" ucap Joko."Silakan ke sini Tuan!" Pelayan itu menuntun Joko dan Rian ke etalase yang memajang kalung."Ini produk terbaru toko kami. Setiap produk memiliki harga yang berbeda-beda, tergantung berat kalung dan jenis manik-maniknya," ucap Pelayan itu.Melihat deretan kalung itu, Rian sangat terpana. "Jo, pasti kalung-kalung ini gak murah kan?""Paling puluhan juta," balas Joko dengan santai.Pelayan itu mengangkat alisnya. "Dia sudah pasti orang kaya. Dari cara bicaranya juga sangat ringan."Mata Rian membelalak saat mendengar nominal yang di sebut Joko. "Jo, ini terlalu mahal! Cari hadiah yang biasa saja, gak perlu semahal ini!""Gak apa-apa. Bang Ar
Joko menepuk bahu Rian. "Aku tahu, kamu pasti akan sulit untuk mencari modal. Nah, sekarang aku kasih kamu modal! Kamu harus serius! Jangan sampai aku kecewa." "Jo, ta-tapi... i-ini... terlalu banyak! Aku-aku gak bisa menerimanya," ucap Rian dengan ekspresi yang seperti hendak menangis. "Sudah, terima saja! Kalau gak enak, anggap aku investasi kepadamu. Kamu bisa kasih aku dividen 10% pertahun. Kalau nggak, kamu bisa balikan uang itu, kalau di masa depan kamu sudah punya hasil dari investasi!" ucap Joko. Rian menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Tekad kuat perlahan terlukis di wajahnya. "Jo, bantuanmu ini pasti aku ingat selamanya. Kalau aku sudah hasil, aku pasti kembalikan uangmu ini!" tegas Rian. Joko mengangguk sambil tersenyum lembut. "Tapi kamu jangan kasih tahu siapa-siapa! Kamu juga paham lah maksudku," ucap Joko. "Tenang saja, aku pasti tutup mulut!" balas Rian dengan bersungguh-sungguh. Rian teringat sesuatu. "Oh iya, tunangan Bang Ari mau ulang tahun, k
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







