LOGINTiga hari sebelum peluncuran Bintang Farma.
Gedung kecil yang disewa Joko di kawasan bisnis Ibu Kota kini sudah berubah menjadi kantor yang sibuk. Papan nama “BINTANG FARMA” terpasang di atas pintu masuk. Para karyawan baru berlalu-lalang membawa berkas, dan telepon tak berhenti berdering. Di ruang rapat lantai dua, Rara berdiri di depan papan tulis, menjelaskan rencana distribusi dengan penuh percaya diri. Sumi dan Mona mencatat di sampingnya. Tante Lestari dan Sinta sibuMalam itu, Hotel Grand Imperial, ballroom lantai teratas. Pesta amal tahunan keluarga-keluarga kelas satu Ibu Kota digelar dengan megah. Lampu kristal raksasa menggantung dari langit-langit, alunan musik klasik mengalun lembut, dan para tamu berbalut gaun serta jas mahal berlalu-lalang dengan gelas sampanye di tangan. Joko berdiri canggung di dekat pintu masuk, mengenakan jas hitam yang disiapkan Nadya. Dia tidak terbiasa dengan acara seperti ini. “Santai saja,” bisik Bella yang menggandeng lengannya. “Kamu tamuku malam ini.” Bella tampil memukau. Gaun malam berwarna emas membalut tubuhnya dengan sempurna, belahan dadanya yang dalam terlihat jelas di balik potongan leher yang rendah. Kulitnya bercahaya di bawah lampu kristal, jauh lebih mulus dari sebelumnya. Begitu mereka melangkah masuk, kepala-kepala langsung menoleh. Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah. “Itu
Malam setelah berita palsu itu tersebar, ruang tengah Vila Bintang berubah menjadi ruang komando darurat. Laptop-laptop berjajar di atas meja. Sonya duduk di depan tiga layar sekaligus, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Bila memantau media sosial, mencatat setiap akun yang menyebarkan berita itu. Nadya sibuk menelepon orang-orangnya, sementara Rara dan Sumi mencoba menghubungi distributor-distributor lain. Joko berdiri di belakang Sonya, menatap layar dengan alis berkerut. “Gimana?” “Foto wanita berwajah ruam itu,” jawab Sonya tanpa menoleh. “Aku sudah telusuri jejak digitalnya. Foto aslinya diunggah pertama kali dari akun anonim, dua hari sebelum berita keluar. Tapi akunnya pernah login dari satu alamat yang sama dengan akun milik sebuah agensi model kecil di Ibu Kota.” “Agensi model?” Rinda yang sedang membantu Bila langsung menoleh. “Namanya apa?” Sonya mengetik sesuatu, lalu memutar layar ke arahnya. “Star Muse
Tiga hari sebelum peluncuran Bintang Farma. Gedung kecil yang disewa Joko di kawasan bisnis Ibu Kota kini sudah berubah menjadi kantor yang sibuk. Papan nama “BINTANG FARMA” terpasang di atas pintu masuk. Para karyawan baru berlalu-lalang membawa berkas, dan telepon tak berhenti berdering. Di ruang rapat lantai dua, Rara berdiri di depan papan tulis, menjelaskan rencana distribusi dengan penuh percaya diri. Sumi dan Mona mencatat di sampingnya. Tante Lestari dan Sinta sibuk memeriksa laporan keuangan, sementara Bila dan Rinda menyusun jadwal promosi. Joko duduk di ujung meja, memperhatikan mereka dengan senyum bangga. “Gudang di lima kota sudah siap,” jelas Rara sambil menunjuk peta. “Dua distributor besar, Mitra Sehat dan Cahaya Niaga, sudah tanda tangan kontrak. Begitu peluncuran, produk langsung masuk ke tiga ratus apotek di Ibu Kota.” “Promosi juga sudah siap,” tambah Bila. “Iklan Rinda tayang serentak di televisi dan media sosia
Dua minggu berlalu. Laboratorium di kompleks Lintang Medika kini tak pernah sepi. Siang dan malam, para peneliti terbaik Verona bekerja tanpa henti, membedah kandungan pil kecantikan buatan Joko. Joko sendiri hampir setiap hari datang ke sana. Dia tidak paham mesin-mesin canggih itu, tapi dia paham herbal. Dia yang menjelaskan khasiat setiap tanaman, urutan meracik, dan takaran yang tepat. Para peneliti yang awalnya meragukan pemuda tanpa gelar ini, perlahan mulai menatapnya dengan hormat. Masalah terbesar ada pada empat herbal langka. “Kami tidak bisa mendapatkan Bunga Salju Lembah dan tiga herbal lainnya dalam jumlah besar,” jelas kepala peneliti, pria paruh baya berkacamata bernama Pak Hendra. “Bahkan satu batang pun sangat sulit dicari di pasaran.” Joko sudah menduganya. Dia tak mungkin mengeluarkan persediaan dari cincinnya untuk produksi massal. Selain jumlahnya terbatas, itu juga akan memancing te
Keesokan paginya, Joko mengajak Nadya dan Nyonya Desi duduk bertiga di gazebo halaman belakang. Di meja kayu di antara mereka, tiga cangkir teh mengepul pelan. Para wanita lain sedang berlatih di halaman, dipimpin Bila dan Rinda yang kini sudah cukup mahir mengulang gerakan dasar ajaran Nyonya Desi. “Aku mau tahu semua soal keluarga Rico,” ucap Joko langsung. “Terutama kakeknya.” Nadya dan Nyonya Desi saling pandang. “Kamu mau menyerang lebih dulu?” tanya Nadya. “Mereka sudah tahu lokasi vila ini. Mereka sudah mencatat berapa jumlah kalian, kapan aku keluar, kapan vila ini kosong,” jawab Joko tenang. “Aku gak mau menunggu sampai mereka datang ke sini.” Nadya menghela napas, lalu meletakkan cangkirnya. “Kemarin malam aku sudah tanya ke Kakek.” Joko menatapnya. “Kakek Rico itu dikenal sebagai Tuan Besar di keluarganya,” lanjut Nadya. “Dia satu-satunya Grand Master di keluarga itu. Di bawahnya, ada tiga Mas
Ferrari SF90 melaju meninggalkan Toko Antik Cahaya Lestari. Joko melirik kaca spion. Sedan abu-abu itu mulai bergerak, menjaga jarak beberapa mobil di belakangnya. Joko tersenyum tipis. Alih-alih mengambil jalan pulang ke Vila Bintang, dia memutar setir ke arah lain. Jalan raya yang ramai perlahan berganti jalan yang lebih sepi, lalu jalan kecil di pinggiran kota yang diapit lahan kosong dan gudang-gudang tua. Sedan abu-abu itu terus mengikutinya. Di depan sebuah gudang terbengkalai, Joko menghentikan mobilnya. Dia turun dengan santai, bersandar di pintu mobil, lalu menyalakan sebatang rokok. Sedan itu ikut berhenti sekitar lima puluh meter di belakang. Mesinnya masih menyala, tapi tak ada yang keluar. Joko mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan. “Mau sampai kapan kalian di dalam?” serunya. “Aku capek nungguin.” Beberapa detik hening. Lalu pintu sedan itu terbuka. Dua
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal







