LOGINSayap timur kediaman Keluarga Permata.
Dokter Clara sedang memeriksa monitor saat rombongan itu masuk. Dia menoleh, menatap Ruan Feng dan pria tua berjubah cokelat di belakangnya dengan alis terangkat. "Ini siapa?" "Tamu," jawab Joko singkat. Dia berdiri di antara pintu dan ranjang ayah Nadya. "Dokter, tolong perhatikan monitornya. Jangan lengah sedetik pun." Dokter Clara menangkap nada suara Joko. Tanpa bertanya lagi, dia memutar tuPukul tujuh pagi. Dokter Clara sudah berdiri di depan monitor saat Joko masuk. Matanya sedikit sembap, jelas dia tidak tidur semalaman. Tabletnya penuh coretan dan grafik. "Sepuluh benang," ucapnya tanpa basa-basi. "Lima di tubuh Tuan Haris, lima di tubuh istrinya. Aku sudah mengurutkannya dari yang paling stabil." "Kamu gak tidur?" "Kamu juga gak tidur," balas Dokter Clara datar. "Waktu aku pulang tengah malam, kamu masih berdiri di depan jendela." Joko tidak membantah. Nadya masuk tak lama kemudian, diikuti Tante Ratih. Dua ahli Keluarga Lintang berjaga di depan pintu. Pria-pria paruh baya berpakaian abu-abu dengan aura Master tahap awal. "Kalau sampai kamu pingsan," ucap Nadya, berdiri di depan Joko dengan tangan terlipat, "aku sendiri yang akan menyeretmu ke ranjang dan mengikatmu di sana." "Kedengarannya menyenangkan," balas Joko. Wajah Nadya me
Sore harinya, ruang kerja Tuan Tua Wangsa dipenuhi wajah-wajah tegang. Tuan Tua Suryo datang secepat mungkin setelah ditelepon. Dia duduk di kursi seberang meja dengan janggut putihnya yang panjang, mendengarkan cerita Joko tanpa menyela sekali pun. Nadya duduk di sofa, matanya masih merah. Tante Ratih di sampingnya, menggenggam tangan keponakannya. Dokter Clara berdiri di dekat rak buku dengan tablet di tangan. "Jadi dia bisa mengendalikan benang itu tanpa menyentuh," ucap Tuan Tua Suryo setelah Joko selesai bercerita. Suaranya berat. "Iya, Kek," jawab Joko. "Tapi aku rasa ada batasnya." Semua mata tertuju padanya. "Selama ini, simpul di tengkorak mereka cuma berdenyut pelan. Teratur. Seperti tali yang dipegang dari jauh tapi gak ditarik." Joko menatap tangannya sendiri. "Tadi pagi, begitu Tabib Mahesa berdiri dua langkah dari ranjang, denyutnya langsung liar. Tarikannya kuat sekali."
Sayap timur kediaman Keluarga Permata. Dokter Clara sedang memeriksa monitor saat rombongan itu masuk. Dia menoleh, menatap Ruan Feng dan pria tua berjubah cokelat di belakangnya dengan alis terangkat. "Ini siapa?" "Tamu," jawab Joko singkat. Dia berdiri di antara pintu dan ranjang ayah Nadya. "Dokter, tolong perhatikan monitornya. Jangan lengah sedetik pun." Dokter Clara menangkap nada suara Joko. Tanpa bertanya lagi, dia memutar tubuhnya menghadap layar. Tabib Mahesa melangkah pelan ke tengah ruangan. Matanya menyapu kedua ranjang, mesin-mesin medis, lalu berhenti di wajah ayah Nadya. Lama dia menatap pria yang terbaring itu. Lalu dia menghela napas pendek, seperti seorang pengrajin yang melihat hasil karyanya dirusak orang lain. "Rapi," gumamnya. "Potongannya rapi sekali." Joko tidak menjawab. Dia berdiri tegak, energi putih keemasan mengalir samar di bawah kuli
Pukul sembilan pagi, tiga mobil hitam memasuki halaman kediaman Keluarga Permata. Joko memperhatikan dari jendela lantai dua. Pintu mobil di tengah terbuka, lalu seorang pria muda turun. Usianya sekitar tiga puluh, berjas abu-abu mengilap, rambutnya disisir licin ke belakang. Langkahnya santai, seolah halaman ini miliknya sendiri. "Ruan Feng," ucap Nadya di sampingnya. "Tuan Muda Keluarga Ruan. Calon kepala keluarga berikutnya." Dari mobil yang sama, turun seorang pria tua bertubuh kurus. Jubah cokelat gelap membalut tubuhnya, janggut tipisnya berwarna kelabu. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Dia membawa kotak kayu kecil di tangannya. Joko menyipitkan mata. Dia mengalirkan sedikit energi ke matanya, mencoba merasakan aura pria tua itu dari kejauhan. Tidak ada apa-apa. Kosong. Seperti orang biasa. "Itu tabibnya?" tanya Nadya. "Kayaknya," jawab
Malam itu, Nadya pulang dengan wajah lelah. Dia langsung ke sayap timur, duduk lama di samping ranjang ibunya, menggenggam jemari yang tadi pagi sempat bergerak. Baru menjelang pukul sembilan dia naik ke kamarnya di lantai dua. Joko menyusul tak lama kemudian. Pintu kamar Nadya tidak terkunci. Gadis itu berdiri di balkon, masih mengenakan blazer putih dari kantor, menatap taman yang gelap. "Kamu belum makan," ucap Joko sambil bersandar di kusen pintu balkon. "Gak lapar." Joko melangkah mendekat, berdiri di sampingnya. Angin malam meniup helai rambut Nadya yang terlepas dari ikatannya. "Keluarga Ruan," ucap Nadya pelan. "Kakek bilang mereka sudah lama mengincar konsesi Lembah Sunyi. Sejak sebelum Ayah sakit. Ayah selalu menolak." "Dan sekarang, tiba-tiba mereka punya tabib yang bisa membangunkan Ayah dan Ibu." Nadya menoleh. "Kamu juga merasa aneh?"
Joko berdiri di depan cermin kamar mandi, memiringkan kepalanya. Benar saja. Di bawah telinga kirinya ada tiga garis merah tipis. Pendek, rapi, dan jelas bukan goresan biasa. "Dokter itu matanya kayak elang," gumamnya. Dia mengalirkan sedikit energi ke lehernya. Garis-garis merah itu perlahan memudar, lalu hilang sama sekali. Tapi pikirannya tidak ikut tenang. Kalau Dokter Clara bisa menebak, siapa lagi yang bisa? Pelayan? Tuan Tua Wangsa? Atau Nadya? "Mulai sekarang harus lebih hati-hati," batinnya. "Jangan sampai aku sendiri yang membongkarnya." === Tak lama kemudian, kediaman Keluarga Permata terasa lengang. Tuan Tua Wangsa pergi menemui Tuan Tua Suryo di kediaman Keluarga Lintang. Nadya dipanggil ke Permata Biru karena ada rapat dengan investor yang tak bisa ditunda. Para pelayan sibuk di sayap timur dan dapur belakang. Joko memanfaatkan waktu it
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in







