Mag-log inSaat ini, terlihat Joko bersandar dinding, sambil menikmati rokok yang terselip di jarinya. Sementara itu, Bu Dewi sedang mengenakan pakaiannya kembali.
"Kalau kapan-kapan kamu mau lagi... hubungi saja aku! Atau langsung datang ke sini," ucap Joko dengan nada nakal. Bu Dewi tersenyum tipis, lalu menjawab. "Kayaknya... aku bakal sering datang!" "Ya bagus kalau gitu... apalagi kalau kamu datang minta jatah... plus ngasih sedikit uang," goda Joko.Joko terdiam. Dia menatap wajah Sonya lekat-lekat. Wanita yang biasanya paling berani menggoda, yang tadi menyeretnya ke hotel dengan penuh nafsu, kini terbaring di bawahnya dengan wajah tegang. Jemarinya mencengkeram lengan Joko, dan bibirnya sedikit gemetar. “Sonya, kamu kenapa?” tanya Joko heran. “Kok tiba-tiba gugup gitu?” Sonya memalingkan wajahnya. Pipinya memerah, kali ini bukan karena gairah. “Aku...” Dia menggigit bibirnya. “Aku masih segel.” Joko membeku. Matanya membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka. Dia menatap Sonya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Selama ini, dia mengira Sonya adalah wanita yang sudah berpengalaman. Setiap kali bertemu, Sonya selalu menempel padanya tanpa malu. Barusan di kantor pun, wanita itu menggodanya habis-habisan dengan begitu lihai. Tak pernah sekali pun terlintas di benak Joko bahwa wanita segenit itu ternyata b
Untuk beberapa saat, Sonya hanya bersandar di dada Joko dengan mata terpejam, membiarkan remasan tangan Joko membuatnya terbuai. Laporan di layar komputer masih terbuka, kursornya berkedip-kedip di tengah kalimat yang belum selesai. Joko mendekatkan bibirnya ke telinga Sonya. “Masih lama gak?” bisiknya. “Aku gak tahan nih.” Sonya membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke belakang. Bibirnya menyentuh bibir Joko dalam kecupan singkat. “Tunggu sebentar, ya,” ucapnya manja. “Tinggal sedikit lagi. Kalau gak selesai, Nadya bisa ngomel.” Dia memaksa dirinya kembali menatap layar komputer, berusaha mengetik dengan jemari yang sedikit gemetar. Namun Joko tidak berhenti. Tangannya bergerak ke depan, melepaskan kancing kemeja Sonya satu per satu. Sonya meliriknya sekilas, tapi tidak melarang. Dia justru menegakkan punggungnya, membusungkan dada, sengaja memberi Joko akses lebih leluasa. Kemeja itu terbuka. Joko menurunkan penutup terakhir di baliknya, membebaskan dua semangka besar Sonya.
Restoran Bintang Samudra, salah satu restoran paling mewah di Ibu Kota... Seorang pelayan berseragam rapi langsung menyambut mereka begitu turun dari mobil. Begitu Nadya menyebut namanya, pelayan itu membungkuk hormat dan mengantar mereka ke lantai atas, menuju ruang VIP dengan dinding kaca yang menghadap pemandangan kota. Ruangan itu luas dan tenang. Meja bundar dari kayu jati mengilap, kursi-kursi berlapis beludru, dan lampu kristal yang menggantung anggun di langit-langit. Sonya langsung mengambil kursi di samping Joko. Nadya duduk di seberang mereka sambil membuka buku menu. “Pesan apa saja yang kalian mau,” ucap Joko santai. “Hari ini aku yang traktir.” Nadya mengangkat alis. “Bukannya aku yang janji traktir kamu?” “Sudahlah. Hari ini aku lagi dapat rezeki besar,” balas Joko sambil tersenyum lebar. Sonya langsung menoleh dengan mata berbinar penuh rasa penasaran. “Rezeki besar? Rezeki apa, Tampan?” Joko melirik Nadya. Nadya menghela napas, lalu meletakkan buku menunya. “
Joko menatap wajah Nadya dari dekat. Pipi wanita itu masih merona, bibir merahnya sedikit terbuka. "Nadya," bisiknya. "Aku mau ciuman." Nadya tersentak. Wajahnya seketika memerah padam. "A-apa sih! Tiba-tiba minta yang aneh-aneh!" "Tadi kan sudah hampir," balas Joko sambil menyeringai. "Gara-gara si brengsek itu, jadi batal." Nadya menunduk, menggigit bibirnya. Dia tidak menjawab, tapi juga tidak memalingkan wajah. Joko menyentuh dagunya, mengangkat wajah Nadya perlahan. Mata mereka bertemu. "Kalau kamu gak mau, bilang saja," ucapnya pelan. Nadya terdiam beberapa detik. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, dia berbisik, "Siapa bilang aku gak mau..." Joko tak menunggu lagi. Dia langsung melumat bibir Nadya dengan penuh gairah. Nadya sempat terkejut oleh keberanian ciuman itu. Tangannya refleks mendorong dada Joko, tapi hanya sesaat.
Nadya masih bersandar di bahu Joko. Untuk beberapa saat, keduanya diam, menikmati keheningan ruangan setelah keributan tadi. "Nadya," ucap Joko memecah keheningan. "Aku mau bikin perusahaan." Nadya mengangkat kepalanya, menatap Joko dengan alis terangkat. "Perusahaan? Serius?" "Serius," jawab Joko. "Masa aku cuma main saham terus. Aku mau punya usaha sendiri." Nadya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Tatapannya berubah serius, seperti seorang direktur yang sedang menilai proposal bisnis. "Itu ide bagus," ucapnya. "Tapi saranku, kamu kumpulkan modal yang banyak dulu. Biar begitu berdiri, kamu bisa langsung bikin perusahaan besar, bukan mulai dari kecil. Lagian, kamu jago banget nyari uang. Main saham untung, beli batu giok untung, beli barang antik juga untung." Joko terkekeh. "Uangku sekarang sudah lebih dari enam triliun. Apa itu belum cukup?" Nadya nyaris tersedak ludahnya sendiri. Dia menatap Joko dengan mata membelalak. "E-enam triliun?" "Kurang lebih," jawa
Tuan Muda Rico menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam api cemburu yang membakar dadanya. Dalam sekejap, wajahnya kembali memasang senyum ramah, seolah tak terjadi apa-apa. "Maaf, Nona Nadya. Saya terlalu bersemangat ingin bertemu Anda," ucapnya sambil merapikan jasnya. "Saya dengar kalung Mutiara Kaisar milik Permata Biru sedang jadi pembicaraan di mana-mana. Selamat, ya." "Terima kasih," balas Nadya datar. "Kebetulan sudah jam makan siang," lanjut Tuan Muda Rico, senyumnya semakin lebar. "Saya sudah memesan tempat di restoran terbaik di Ibu Kota. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sekalian merayakan keberhasilan Anda." Nadya belum sempat menjawab, Joko sudah lebih dulu bersuara. "Ternyata kau Tuan Muda Rico." Tuan Muda Rico menoleh. Senyumnya menghilang seketika. Dia menatap Joko dari atas sampai bawah dengan tatapan tajam, penuh penghinaan. "Siapa kau?" ucapn
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me







