Beranda / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 75 Dion, Mantan Tania

Share

Bab 75 Dion, Mantan Tania

Penulis: Tristar
last update Tanggal publikasi: 2026-05-04 12:00:00

Pria itu turun dari motor, membuka helm, lalu menghampiri Joko dan Tania. Wajah pria itu terlihat lumayan tampan, tapi jika di bandingkan dengan Joko, pria itu masih kalah jauh.

Ekspresi pria itu tampak sangat dingin. Percikan kecemburuan terlintas di matanya.

"Tania, jadi ini alasan kamu mutusin aku? Kamu ternyata ada main sama tukang ojek ini!" teriak pria itu dengan penuh amarah.

Ia jelas melihat, kalau tadi Tania terlihat sangat mesra saat di b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 389 Lanjut Mengobati Orang Tua Nadya

    Pagi itu, ruang makan kediaman Keluarga Permata dipenuhi aroma kopi dan roti panggang. Tuan Tua Wangsa duduk di ujung meja panjang, membaca koran. Nadya di sebelah kanannya. Tante Ratih di seberang, mengenakan blus putih berkerah tinggi, rambutnya kembali disanggul rapi. Joko melangkah masuk dan langsung merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Wanita yang semalam menggigit bantal di ranjangnya kini duduk tegak dengan cangkir teh di tangan. Anggun. Tenang. Seolah tak terjadi apa-apa. "Pagi, Joko," sapa Tante Ratih datar, sekadar sopan. "Pagi, Tante." Hanya itu. Tak ada lirikan, tak ada senyum yang berlebihan. "Hebat," batin Joko sambil menarik kursi di samping Nadya. "Dua belas tahun pura-pura bahagia di depan semua orang. Ternyata itu latihan yang bagus." Nadya menatap wajahnya, lalu mengerutkan kening. "Kamu kelihatan capek. Semalam gak tidur?" Joko hampir tersedak kopinya. "Memulihkan energi," jawabnya cepat. "Pengobatan kemarin lebih berat dari yang kukira." Di seberang

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 388 Gairah Bersama Tantenya Nadya

    Pertanyaan itu menggantung di udara. "Tante tahu siapa yang ada di depan Tante?" tanya Joko pelan. "Pria yang punya banyak wanita. Termasuk keponakan Tante sendiri." "Aku tahu." Tante Ratih tidak mundur. "Aku gak minta kamu memilihku, Joko. Dua belas tahun aku tidur di sisi ranjang yang dingin. Aku cuma ingin tahu, apa aku masih bisa diinginkan." Kepala Joko bekerja cepat. Putri Tuan Tua Wangsa. Tante Nadya. Wanita bersuami dari keluarga yang baru membukakan pintu untuknya. "Kalau ketahuan, aku kehilangan banyak hal," batinnya. "Tapi kalau aku menolak sekarang, dia akan kembali jadi patung porselen seumur hidupnya." Joko meletakkan cangkirnya di meja. "Kunci pintunya, Tante." === Tante Ratih mengunci pintu dengan tangan gemetar. Saat dia berbalik, Joko sudah berdiri tepat di belakangnya. "Kamu gemetar," bisik Joko. "Sudah lama sekali. Aku lupa harus mulai dari mana." "Gak perlu ingat." Senyum nakal terlukis di bibir Joko. "Malam ini Tante cukup jadi murid yang baik." Dia m

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 387 Tante Ratih

    Ruangan di sayap timur itu hening. Hanya bunyi mesin medis yang terus berdetak pelan."Bisa dihilangkan?" tanya Nadya lirih.Joko menatap kedua tubuh itu cukup lama sebelum menjawab."Bisa. Tapi gak gampang." Dia menghela napas. "Kalau benangnya kutarik paksa, benang itu akan merobek jalur di sekitarnya. Mereka bisa langsung meninggal. Jadi harus dipotong satu per satu pakai jarum, sambil aku melindungi jantung mereka dari dalam.""Berapa lama?" tanya Tante Ratih."Benangnya puluhan. Paling cepat dua minggu."Dokter Clara yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Aku gak bisa melihat benang itu. Tapi aku bisa melihat jantung dan otak mereka di monitor. Kalau ada yang memburuk, aku orang pertama yang tahu."Joko menoleh, lalu tersenyum tipis. "Itu yang paling aku butuhkan, Dokter."Di ambang pintu, Tuan Tua Wangsa berdiri dengan tangan terkepal di balik punggung. "Orang yang melakukan ini, seberapa kuat dia?"

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 386 Dokter Clara Di Buat Pusing

    Dokter Clara berjalan cepat menyusuri lorong kediaman Keluarga Permata. Langkah sepatunya bergema di lantai marmer.Pikirannya kacau.Selama ini, dunianya sederhana. Tubuh manusia adalah mesin biologis yang rumit. Setiap penyakit punya penyebab. Setiap luka punya waktu sembuh yang bisa diprediksi. Semuanya bisa diukur, dihitung, dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.Dia lulus dari fakultas kedokteran terbaik di luar negeri di usia dua puluh dua tahun. Menyelesaikan spesialis di usia dua puluh enam. Puluhan jurnal medis memuat namanya. Rumah sakit-rumah sakit besar berebut merekrutnya.Dan pagi ini, semua pengetahuannya itu dipermalukan oleh seorang pemuda yang berkata dia "memperbaiki diri".Tiga tulang rusuk retak tidak mungkin menyempit separuh dalam satu malam. Itu melanggar semua hukum biologi yang dia pahami.Dia berhenti di depan ruang kerja Tuan Tua Wangsa, lalu mengetuk pintu."Masuk."Dokter Clara melangkah masuk. Tuan Tua Wangsa duduk di balik meja kayunya, ditemani Tuan Tua S

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 385 Pemulihan Mengerikan

    Kamar itu kembali hening setelah ucapan Tuan Tua Suryo. Nadya menggenggam tangan Joko erat-erat. "Kek... separuh meridiannya rusak... apa itu artinya..." "Kalau gak segera ditangani, kultivasinya bisa hancur," jawab Tuan Tua Suryo pelan. "Paling buruk, dia gak akan bisa berlatih bela diri lagi seumur hidup." Isak tangis kembali pecah. Mona menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sinta memeluk Ayu erat-erat. Bahkan Nyonya Desi memalingkan wajahnya ke arah jendela, rahangnya mengeras. Pintu kamar terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah cepat dan tegas. Usianya sekitar akhir dua puluhan. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang, kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya. Dia mengenakan jas dokter putih di atas kemeja biru muda, sebuah tas medis tergantung di bahunya. Wajahnya cantik, tapi dingin. Sorot matanya tajam, seperti orang yang terbiasa menilai segalanya dengan angka dan data. "Dokter Clara," sapa Tuan Tua Wangsa. "Tuan Tua," balas wanita itu si

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 384 Tak Sadarkan Diri

    Tuan Besar menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, menatap pedang hitam di genggaman Joko. Ukiran-ukiran emas di bilahnya bersinar semakin terang, berdenyut pelan seperti jantung yang baru terbangun. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, raut wajah pria tua itu berubah. "Pedang apa itu?" gumamnya. Joko tidak mendengar pertanyaan itu. Dia terlalu sibuk mendengar suara lain. Suara yang menggema di dalam kepalanya. "Tubuhmu terlalu lemah, bocah," ucap suara itu, dalam dan dingin. "Darahmu memang darah Aksa. Tapi kekuatanmu belum layak memegangku." "Siapa kau?" tanya Joko dalam hati. "Belum waktunya kau tahu namaku." Hening sejenak. "Tapi aku tak akan membiarkan darah Aksa mati di tangan sampah seperti dia. Satu tebasan. Hanya itu yang bisa kuberikan sekarang. Setelah itu, tubuhmu akan menanggung akibatnya." Joko menggenggam gagang pedang itu lebih erat. "Satu tebasan sudah cukup." === Begitu kalimat itu terucap di dalam benaknya, gelombang energi meledak dari p

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 1 Pangkalan Baru

    "Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 6 Bantu Puaskan Aku, Bang!

    Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 5 Godaan Dan Tawaran

    Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status