Beranda / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 98 Bawa Pulang Motor Baru

Share

Bab 98 Bawa Pulang Motor Baru

Penulis: Tristar
last update Tanggal publikasi: 2026-05-15 12:09:00

Sebelum Kak Rita mendapatkan solusi, Bu Maya terlebih dahulu dapet solusi. "Jo, gini saja! Kalau ada yang nanya kamu dapat uang dari mana buat beli motor itu. Kamu bilang aja, dapet uang hal main saham! Kamu lagi hoki... dapet saham yang tiba-tiba naik puluhan kali lipat dari modal awal," ucap Bu Maya menjelaskan idenya.

"Iya, aku setuju sama ide maya!" ucap Kak Rita.

"Emangnya alasan kayak gitu masuk akal?" tanya Joko, dia tampak masih ragu.

"Masuk akal banget, Jo!
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 395 Sadar Sebentar

    Pukul tujuh pagi. Dokter Clara sudah berdiri di depan monitor saat Joko masuk. Matanya sedikit sembap, jelas dia tidak tidur semalaman. Tabletnya penuh coretan dan grafik. "Sepuluh benang," ucapnya tanpa basa-basi. "Lima di tubuh Tuan Haris, lima di tubuh istrinya. Aku sudah mengurutkannya dari yang paling stabil." "Kamu gak tidur?" "Kamu juga gak tidur," balas Dokter Clara datar. "Waktu aku pulang tengah malam, kamu masih berdiri di depan jendela." Joko tidak membantah. Nadya masuk tak lama kemudian, diikuti Tante Ratih. Dua ahli Keluarga Lintang berjaga di depan pintu. Pria-pria paruh baya berpakaian abu-abu dengan aura Master tahap awal. "Kalau sampai kamu pingsan," ucap Nadya, berdiri di depan Joko dengan tangan terlipat, "aku sendiri yang akan menyeretmu ke ranjang dan mengikatmu di sana." "Kedengarannya menyenangkan," balas Joko. Wajah Nadya me

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 394 Aliran Sesat

    Sore harinya, ruang kerja Tuan Tua Wangsa dipenuhi wajah-wajah tegang. Tuan Tua Suryo datang secepat mungkin setelah ditelepon. Dia duduk di kursi seberang meja dengan janggut putihnya yang panjang, mendengarkan cerita Joko tanpa menyela sekali pun. Nadya duduk di sofa, matanya masih merah. Tante Ratih di sampingnya, menggenggam tangan keponakannya. Dokter Clara berdiri di dekat rak buku dengan tablet di tangan. "Jadi dia bisa mengendalikan benang itu tanpa menyentuh," ucap Tuan Tua Suryo setelah Joko selesai bercerita. Suaranya berat. "Iya, Kek," jawab Joko. "Tapi aku rasa ada batasnya." Semua mata tertuju padanya. "Selama ini, simpul di tengkorak mereka cuma berdenyut pelan. Teratur. Seperti tali yang dipegang dari jauh tapi gak ditarik." Joko menatap tangannya sendiri. "Tadi pagi, begitu Tabib Mahesa berdiri dua langkah dari ranjang, denyutnya langsung liar. Tarikannya kuat sekali."

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 393 Ternyata Dia!

    Sayap timur kediaman Keluarga Permata. Dokter Clara sedang memeriksa monitor saat rombongan itu masuk. Dia menoleh, menatap Ruan Feng dan pria tua berjubah cokelat di belakangnya dengan alis terangkat. "Ini siapa?" "Tamu," jawab Joko singkat. Dia berdiri di antara pintu dan ranjang ayah Nadya. "Dokter, tolong perhatikan monitornya. Jangan lengah sedetik pun." Dokter Clara menangkap nada suara Joko. Tanpa bertanya lagi, dia memutar tubuhnya menghadap layar. Tabib Mahesa melangkah pelan ke tengah ruangan. Matanya menyapu kedua ranjang, mesin-mesin medis, lalu berhenti di wajah ayah Nadya. Lama dia menatap pria yang terbaring itu. Lalu dia menghela napas pendek, seperti seorang pengrajin yang melihat hasil karyanya dirusak orang lain. "Rapi," gumamnya. "Potongannya rapi sekali." Joko tidak menjawab. Dia berdiri tegak, energi putih keemasan mengalir samar di bawah kuli

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 392 Dalangnya?

    Pukul sembilan pagi, tiga mobil hitam memasuki halaman kediaman Keluarga Permata. Joko memperhatikan dari jendela lantai dua. Pintu mobil di tengah terbuka, lalu seorang pria muda turun. Usianya sekitar tiga puluh, berjas abu-abu mengilap, rambutnya disisir licin ke belakang. Langkahnya santai, seolah halaman ini miliknya sendiri. "Ruan Feng," ucap Nadya di sampingnya. "Tuan Muda Keluarga Ruan. Calon kepala keluarga berikutnya." Dari mobil yang sama, turun seorang pria tua bertubuh kurus. Jubah cokelat gelap membalut tubuhnya, janggut tipisnya berwarna kelabu. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Dia membawa kotak kayu kecil di tangannya. Joko menyipitkan mata. Dia mengalirkan sedikit energi ke matanya, mencoba merasakan aura pria tua itu dari kejauhan. Tidak ada apa-apa. Kosong. Seperti orang biasa. "Itu tabibnya?" tanya Nadya. "Kayaknya," jawab

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 391 Jatah Malam Dengan Nadya

    Malam itu, Nadya pulang dengan wajah lelah. Dia langsung ke sayap timur, duduk lama di samping ranjang ibunya, menggenggam jemari yang tadi pagi sempat bergerak. Baru menjelang pukul sembilan dia naik ke kamarnya di lantai dua. Joko menyusul tak lama kemudian. Pintu kamar Nadya tidak terkunci. Gadis itu berdiri di balkon, masih mengenakan blazer putih dari kantor, menatap taman yang gelap. "Kamu belum makan," ucap Joko sambil bersandar di kusen pintu balkon. "Gak lapar." Joko melangkah mendekat, berdiri di sampingnya. Angin malam meniup helai rambut Nadya yang terlepas dari ikatannya. "Keluarga Ruan," ucap Nadya pelan. "Kakek bilang mereka sudah lama mengincar konsesi Lembah Sunyi. Sejak sebelum Ayah sakit. Ayah selalu menolak." "Dan sekarang, tiba-tiba mereka punya tabib yang bisa membangunkan Ayah dan Ibu." Nadya menoleh. "Kamu juga merasa aneh?"

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 390 Kenikmatan Saat Ada Kesempatan

    Joko berdiri di depan cermin kamar mandi, memiringkan kepalanya. Benar saja. Di bawah telinga kirinya ada tiga garis merah tipis. Pendek, rapi, dan jelas bukan goresan biasa. "Dokter itu matanya kayak elang," gumamnya. Dia mengalirkan sedikit energi ke lehernya. Garis-garis merah itu perlahan memudar, lalu hilang sama sekali. Tapi pikirannya tidak ikut tenang. Kalau Dokter Clara bisa menebak, siapa lagi yang bisa? Pelayan? Tuan Tua Wangsa? Atau Nadya? "Mulai sekarang harus lebih hati-hati," batinnya. "Jangan sampai aku sendiri yang membongkarnya." === Tak lama kemudian, kediaman Keluarga Permata terasa lengang. Tuan Tua Wangsa pergi menemui Tuan Tua Suryo di kediaman Keluarga Lintang. Nadya dipanggil ke Permata Biru karena ada rapat dengan investor yang tak bisa ditunda. Para pelayan sibuk di sayap timur dan dapur belakang. Joko memanfaatkan waktu it

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 6 Bantu Puaskan Aku, Bang!

    Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 5 Godaan Dan Tawaran

    Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 4 Bu Tika Lebih Berani

    Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status