Share

104. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-05-13 12:54:06

Pagi-pagi sekali, Tasya sudah mendatangi apartemen Rain. Gadis tua itu penasaran ingin melihat seperti apa hubungan sahabatnya dan Satria yang dikerjainya kemarin.

"Selamat pagi... buka pintu dong! Tasya yang imut, kiyut dan menggemaskan datang berkunjung!"

Di depan pintu apartemen, Tasya memanggil-manggil penghuninya dan meminta dibukakan pintu.

Rain yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah dengan wajahnya yang sudah terlihat segar sehabis mandi, beranjak malas dan melangkah menuju pin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   128. PPPN

    Sudah seminggu sejak bertemu dan menghabiskan dengan Satria di taman, selama itu pula Nyonya Laras tidak mengamuk seperti biasanya. Wanita separuh baya yang mengalami gangguan mental itu terlihat tenang dan anteng. Bahkan, wajahnya terlihat segar dan pakaiannya juga rapi. "Hihi... cantik kan?" Nyonya Laras mendongak, menatap sang suami yang sedang menyisir dan mengikat rambutnya. Melihat keceriaan Nyonya Laras, Tuan Arya mengangguk dan tersenyum. Ia begitu bersyukur, kini kondisi istrinya menunjukkan perubahan. "Pakein!" kata Nyonya Laras, menyodorkan lipstik pemberian Satria pada suaminya. Tuan Arya kembali tersenyum, "Mama makin cantik sekarang!" katanya dengan suaranya yang teduh dan menenangkan. Jika dilihat-lihat, sikap sabar, manis dan lembut Satria manuruni sifat sang ayah. Buktinya saja, pria separuh baya itu begitu sabar dalam merawat dan mengurus istrinya dalam waktu yang tidak sebentar. Begitu pula dengan Satria yang merawat Bu Yohana selama ini. Bahkan saking sayang

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   127. PPPN

    "Gue penasaran, kalau lu ngewong desahnya gimana? Gagap juga gak? Kayak 'A-a-ahhh... e-e-enak ba-ba-banget, Sayang!' Bwahaha...." Mendengar perkataan yang keluar dari mulut bau Satria, Tono mendengus keras seperti kerbau. Sepasang matanya yang semula menatap horor, kini menatap sengit pada sahabatnya itu. Harga dirinya sebagai perjaka ting-ting diinjak-injak oleh Satria yang meledeknya. Dengan kesal, ia mendekati sahabatnya itu dan meremas bibirnya. "Si-si-sialan lu ya, nge-nge-ngeledekin gue!" kata Tono dengan mata melotot dan tangan bergerak maju. Satria yang tertawa seketika dibuat bungkam oleh remasan tangan Tono. Bahkan, tubuhnya di dorong kasar sahabatnya hingga terlentang di atas kasur. "Ma-ma-mati ya lu! Gu-gu-gue bunuh sekarang!" kata Tono sembari menindih tubuh Satria dan mencekik lehernya. Di tindih dan dicekik oleh Tono, tawa Satria justru semakin pecah. Bahkan ia sampai mengeluarkan air mata. "Haha... coba lu desah, gue mau denger!" Satria tertawa sambil menahan k

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   126. PPPN

    Rain yang berada di seberang panggilan video itu, dibuat geleng-geleng kepala mendengar gelak tawa dan perkataan absurd yang keluar dari mulut Satria. Wanita hamil itu tak menyangka jika mulut Satria lebih bocor dari yang ia bayangkan selama ini. Tak ingin menganggu waktu Satria bersama Tono, Rain yang sempat sange itu memutuskan untuk mengakhiri panggilan video itu dan mengirimkan pesan pada sang kekasih. "Sayang, aku matiin teleponnya. Besok kalau gak sibuk, pulang ke apartemen ya, bayinya beneran pengen dijengukin." Pesan dengan emoticon kiss itu dikirimkan Rain pada Satria, lalu ia beringsut dan memakai pakaiannya. Setelah itu, Rain keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar, menghampiri Tasya dan kedua orang tuannya yang berkumpul di ruang tengah. Di ruang tengah itu, tampak Tasya dan kedua orang tuanya sedang asik mengobrol. Rain yang menghampiri langsung di sambut oleh senyuman mereka. "Rain, kenapa? Katanya mau istirahat? Pengen sesuatu?" tanya Tasya pada sahabat sekal

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   125. PPPN

    Tuk, tuk, tuk! "Astaga... siapa sih yang dateng?" Buru-buru Satria menarik dan memakai kembali celananya yang sudah melorot sampai ke paha. "[Sayang, kenapa?]" tanya Rain yang menampilkan tubuh telanjangnya di seberang panggilan video tersebut. "Ada yang ngetuk pintu, Sayang. Mute bentar, terus tutupin badan kamu!" kata Satria, meminta Rain untuk menonaktifkan suara panggilkan itu dan juga menyelimuti tubuhnya. Mendengar perkataan Satria, mengerucut bibir Rain. Menyebalkan, padahal lubang miliknya sudah mulai basah dan becek. Namun, wanita hamil itu tetap menurut pada Satria. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Sedangkan Satria, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Berusaha menahan gejolak hasrat yang membuat napasnya memburu serta batangan di balik celana boxer itu mengeras dan menonjol. Tuk, tuk! Dengan langkahnya yang malas, Satria melangkah menuju pintu dan membukanya, melihat siapa yang mengganggunya. Begitu pintu terbuka,

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   124. PPPN

    Jam menunjukkan pada pukul tujuh malam, Rain yang saat ini berada di kediaman utama, tepatnya rumah peninggalan mendiang orang tuanya itu tampak berbaring di atas ranjang king size kamarnya. Wanita yang saat ini sedang hamil muda itu memegangi ponsel yang layarnya menyala di tangannya. Layar terang benda pipih itu menunjukkan nomer Satria. "Kemana sih? Kok di telepon jam segini gak diangkat. Apa iya dia udah tidur?" gerutu Rain dengan bibirnya yang maju-maju. Beberapa hari tak melihat wajah Satria, rasanya begitu rindu pada sosok pemuda pemuas hasratnya itu. "Jangan-jangan dia lagi sama cewek lain sekarang makanya teleponku gak di angkat?" Pikiran-pikiran buruk itu mulai menyerang otak Rain. Ia berpikiran negatif pada Satria yang baru beberapa jam tak merespon chatnya. Beberapa saat kemudian, ponsel di yang ada di dalam genggaman tangannya berdering nyaring, menampilkan panggilan dari Satria.Bibir Rain seketika tersenyum. Dengan cepat ia menggeser tombol hijau yang ada di layar

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   123. PPPN

    "Sa-sa-satria, ka-ka-kamu...." Satria yang mencengkram lengan adiknya, menatap ke arah wanita berpakaian kurang bahan yang menyebutkan namanya dengan kalimat tergagap. Wanita itu adalah Nabila, gadis yang beberapa waktu lalu bertemu dengan Satria di toko buku. Dan, gadis itu juga yang membuat Satria tak jadi mencari buku yang dibutuhkannya untuk bekal kembali kuliah. "Sa-sa-satria, di-di-dia si—" "Dia adik saya," jawab Satria. Memotong cepat kalimat Nabila sebelum sempat di selesaikan. Mendengar jawaban Satria, gadis bermulut bau itu meneguk ludah dengan kasar. Jika tahu remaja dekil itu adalah adik dari Satria, mana mungkin ia akan bersikap kasar dan memakinya."Be-be-beneran dia adik kamu?" tanya Nabila, menunjuk Atika yang nyaris menangis di samping Satria. Satria mengangguk, lalu menatap wajah adiknya yang memerah. "Kamu dipukul, kenapa?" Atika yang ditanya, menggigit bibir dan menggeleng pelan. Ia menunduk, takut dimarahi oleh abangnya itu. "Tika, Abang tanya sama kamu!

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status