تسجيل الدخولPagi-pagi sekali, Tasya sudah mendatangi apartemen Rain. Gadis tua itu penasaran ingin melihat seperti apa hubungan sahabatnya dan Satria yang dikerjainya kemarin. "Selamat pagi... buka pintu dong! Tasya yang imut, kiyut dan menggemaskan datang berkunjung!" Di depan pintu apartemen, Tasya memanggil-manggil penghuninya dan meminta dibukakan pintu. Rain yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah dengan wajahnya yang sudah terlihat segar sehabis mandi, beranjak malas dan melangkah menuju pintu. Cekrek! "Ngapain kamu ke sini pagi-pagi?" Begitu pintu apartemen mewah itu dibuka, Rain menyambut Tasya dengan kalimat tak menyenangkannya. Sedangkan Tasya yang ditanya, memasang ekspresi sok imutnya. Bahkan gadis tua itu senyum-senyum tidak jelas di hadapan Rain. "Mana? Mana bocah itu? Udah bangun belum?" kata Tasya tanpa menjawab teguran sahabatnya. Gadis tua yang bertubuh agak pendek itu menerobos masuk, mencari keberadaan Satria yang ditipunya kemarin sore. Melihat tingkah Tasya y
Di ruangan khusus tempat Nyonya Laras di rawat selama ini, tampak wanita separuh baya yang mengalami gangguan jiwa itu tak hentinya menjerit-jerit, menolak meminum obat penenang yang diberikan suaminya dan dokter. "Ayo diminum dulu obatnya, nanti setelah minum obat baru main lagi!" Tuan Arya berbicara pelan, berusaha membujuk istrinya yang sejak tadi tak hentinya tantrum dan mengamuk. Namun, Nyonya Laras yang berlari-lari di dalam ruangan khusus itu tak merespon perkataan suaminya. Yang ada, ia malah semakin tantrum tak terkendali. "Ayo, minum dulu obatnya!" kata Tuan Arya lagi, kembali berbicara pelan dan lembut pada istrinya. "Gak mau, gak mau minum obat! Aku mau nungguin Mandala, kalau dia udah datang baru minum obat sama-sama!" kata Nyonya Laras, menjerit pada Tuan Arya yang memaksanya minum obat. Mendengar perkataan istrinya yang tak henti menyebutkan nama putra mereka yang hilang 20 tahun silam, Tuan Arya menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Melihat keadaan
"Kamu mau gak tinggal di sini lagi kayak dulu?" Satria yang merapikan kasur di lantai, mengangkat wajahnya dan menoleh pada Rain yang berbicara. "Kamu ngomong apa?" tanya Satria dengan kening berkerut, tak jelas mendengar perkataan yang diucapkan Rain. Di tengah-tengah ranjang, Rain yang tubuhnya telanjang bulat itu menggigit bibir, sedangkan sepasang matanya menatap Satria yang juga menatapnya. Merasa perkataanya tidak di dengarkan, Rain pun menggelengkan kepalanya pelan. Ia yang saat ini sedang mengandung, berubah menjadi sosok yang sensitif dan mudah sekali merajuk. "Ngomong apa tadi, aku gak terlalu denger. Tinggal apa? Hmm!" Satria kembali bertanya sembari melangkah mendekat dan duduk di pinggiran ranjang. Bibir pemuda itu bertanya sedangkan tangannya bergerak, menyentuh dagu Rain dengan lembut. Ditanya, Rain kembali menggelengkan kepalanya. "Gak ada, lupain aja," katanya. Melihat respon dan sikap Rain yang begitu berbeda dengan Rain yang dikenalnya sebel
Di depan ruangan IGD di sanalah kini Andrean berada. Ia mondar mandir seperti setrikaan di depan ruangan tersebut, menunggu kabar dari dokter dan perawat yang menangani ibunya. Wajah pria itu terlihat tegang dan cemas, takut terjadi hal buruk pada Bu Sela yang mendadak hilang kesadaran beberapa waktu lalu. "Semoga keadaan mama baik-baik aja," gumam Andrean sembari memejamkan matanya sesaat. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha menetralkan perasaannya yang sedang kacau. Di saat sedang kacau dan mengalami kesulitan seperti saat ini, biasanya Rain yang selalu menemani dan memberikan semangat pada pria itu. Namun kini ia sendiri dan tak ada yang perduli. "Seandainya ada kamu, semuanya pasti gak akan kayak gini, Rain. Aku bener-bener nyesel udah nyakitin kamu," ucap Andrean dengan pelan. Saking pelannya, suaranya lebih layak disebut sebagai gumaman. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan IGD terbuka dan tampaklah dokter yang keluar dari ruangan tersebut
"Ouch... aku udah gak tahan, aku ke-ke-keluar, Sayang...." Tubuh Rain menegang hebat di atas ranjang. Napasnya memburu, sedangkan jemarinya mencengkeram seprai kuat-kuat. Pemanasan gila yang dilakukan Satria benar-benar membuatnya kehilangan kendali.Cairan hangat yang cukup banyak keluar dan muncrat begitu saja, membuat Rain menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Dada wanita yang tengah hamil muda itu naik turun dengan cepat, sedangkan tubuhnya yang semula menegang, kini melemas perlahan.Melihat banyaknya cairan hangat yang keluar dari milik Rain, Satria terdiam sesaat. Ia meneguk ludah dengan kasar sedangkan sepasang matanya tak lepas dari milik Rain yang berkedut-kedut. Beberapa saat kemudian, Satria tiba-tiba tertawa sambil menepuk pelan paha putih mulus Rain. "Segitu enaknya ya? Sampe squirting kayak gini?" kata Satria menggoda.Rain yang merasakan lemas setelah melakukan pelepasan penuh kenikmatan itu, hanya merespon perkataan Satria dengan gelengan kepala. Sebenarnya, wa
Di kediaman Damara, Andrean dibuat panik oleh Bu Sela yang tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan berakhir hilang kesadaran. Dengan wajah memerah karena panik dan mata melotot, Andrean mendekati ibunya yang hilang kesadaran dengan punggung bersandar pada punggung sofa. "Ma, bangun... Mama kenapa?" kata Andrean sembari merengkuh tubuh Bu Sela dan menepuk-nepuk pipinya, berusaha membangunkan ibunya yang hilang kesadaran.Bu Sela yang benar-benar hilang kesadaran, tentu tak merespon teriakan panik Andrean. Bahkan tak bergerak sama sekali."Pelayan!" seru Andrean pada pelayan yang ada di rumahnya. "Supir, siapkan mobil!" lanjutnya. Tak butuh waktu lama, para pelayan dan supir keluarga Damara berlarian mendekat, menghampiri majikan mereka yang memanggil. Melihat Nyonya majikan mereka hilang kesadaran, para pelayan dan supir pun terkejut, mereka semua kaget dan bertanya-tanya saat melihatnya. "Astaga, Nyonya kenapa, Tuan?" "Apa yang terjadi sama Nyonya besar?""...." "Cepat siapkan mo







