Masuk"Dari mana lagi kamu?"Satria yang baru saja pulang dan memasuki kamar seketika menghentikan langkahnya lantaran ditegur oleh Rain yang duduk bersandar pada kepala ranjang.Pemuda itu menatap istrinya dan menyengir kuda. Akhir-akhir ini, ia memang sibuk menemani Andrean yang sedang dalam masa berkabung, sekaligus memata-matai Tuan Seno. Bahkan, hampir setiap hari ada saja urusan yang membuatnya keluar dari rumah dan pulang lebih lambat dari biasanya."Sayang, aku minta ma—""Udah nemenin Andrean? Dia udah tenang?"Degh!Jantung Satria berdetak dua kali lebih cepat. Ia lupa jika istrinya memiliki banyak mata-mata dan sangat mudah bagi wanita itu untuk mengetahui apa saja kegiatannya di luar rumah."Hee... dia sempat mau bunuh diri, makanya kali ini aku pulang telat," kata Satria dengan wajah meringis."Peduli banget, ya, sama dia sekarang. Kalau orang luar lihat, pasti ngiranya kalian adik kakak!" kata Rain dengan ketus.Jelas jika wanita hamil itu tidak suka Satria terlalu dekat denga
"Nabila, tolong buka pintunya!"Degh!Nabila yang sedang duduk dengan tubuh telanjang bulat dan kedua pahanya terbuka itu pun mendelik lebar. Ia terkejut mendengar suara Diana yang meminta dibukakan pintu."Astaga... gimana ini, Om? Kenapa Mama Diana datang? Jangan-jangan dia udah tahu soal hubungan kita?" kata Nabila dengan nada suara yang terdengar panik.Suara Diana dan ketukan pintu yang semakin keras membuat jantung Nabila berdetak dua kali lebih cepat. Di bawah temaram lampu kamar, wajah cantik gadis itu seketika memucat. Napasnya bahkan terasa tertahan, seolah-olah ketukan di balik pintu tersebut adalah pertanda akan berakhirnya hubungan rahasianya dengan Tuan Seno.Begitu pula dengan Tuan Seno yang tak kalah panik. Dadanya bergemuruh, takut ketahuan oleh istrinya. Saking takutnya, batangan tegangnya yang keras dan berdiri kokoh seperti keadilan itu seketika menciut seperti terong layu kehujanan."Buruan pakai baju kamu dan bukain pintu. Pura-pura baru bangun tidur," kata Tuan
Criet!Derit pintu terdengar pelan, memecah kesunyian di dalam ruangan tersebut. Masuklah Tuan Seno ke dalam kamar Nabila yang gelap. Ruangan tersebut hanya diterangi cahaya remang-remang dari lampu tidur yang berada di atas nakas.Di atas ranjang, Nabila yang hanya mengenakan tanktop tipis dan hotpants ketat tidur meringkuk membelakangi pintu. Selimut yang semula menutupi tubuhnya telah bergeser hingga hanya menutupi sebagian kakinya. Napasnya terdengar teratur, menandakan ia masih berada dalam lelap yang cukup dalam.Ceklek!Tuan Seno mengunci pintu kamar tersebut dengan gerakan perlahan. Tak ingin aktivitas malamnya terganggu. Ia rindu dengan aroma tubuh Nabila yang manis.Sudah berapa hari ia tidak melakukan hubungan intim dengan gadis itu lantaran Diana yang posesif selalu menempel padanya setiap malam.Setelah mengunci pintu kamar itu, Tuan Seno melangkah menuju ranjang. Sesaat ia diam, matanya menatap Nabila yang terlelap. Selanjutnya, ia naik ke atas kasur dengan gerakan yang
Seminggu telah berlalu sejak meninggalnya Bu Sela. Selama itu, Andrean kerap menghabiskan waktunya di pemakaman.Pria itu benar-benar merasa terpukul atas kepergian sang ibu, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Kepergian Bu Sela membuat hidup Andrean seolah kehilangan arah."Ma, sekarang aku harus gimana? Aku gak punya siapa-siapa lagi sekarang. Aku mau ikut Mama aja."Andrean yang duduk di samping gundukan tanah makam ibunya yang masih basah, menangis dan mengeluh. Matanya sembap, wajahnya terlihat kusut, dan tubuhnya pun terlihat begitu lelah. Bahkan di hari ketujuh kematian Bu Sela, ia tak hentinya menghabiskan waktu di area pemakaman tersebut.Berada di sana, Andrean seolah merasa dekat dengan ibunya."Aku gak sanggup, Ma. Hidupku udah hancur sekarang. Rain udah nikah dan bahagia sama orang lain. Sekarang Mama pergi ninggalin aku. Aku bener-bener gak sanggup lagi hidup kayak gini," kata Andrean dengan suaranya yang bergetar.Merasa putus asa, pria itu mengeluarkan sebuah belati
"Mama lega sekarang. Setelah ini Mama bisa pergi dengan tenang...."Andrean yang sejak tadi tertunduk, seketika mengangkat kepalanya setelah mendengar perkataan sang mama.Pria itu segera meraih jemari Bu Sela yang masih digenggam oleh Rain. Ia menggeleng berkali-kali, tak ingin mendengar perkataan menakutkan yang keluar dari mulut ibunya."Mama jangan ngomong kayak gitu. Rain udah datang, jadi Mama harus fokus sama kesehatan. Jangan mikir yang macam-macam," kata Andrean. Suaranya pelan dan bergetar. Air matanya menetes dan mengalir di pipinya yang tirus.Di hadapan Rain dan Satria, Andrean yang biasanya congkak dan sombong kini terlihat begitu rapuh. Tidak ada lagi kesan pria angkuh yang selalu merasa dirinya paling hebat."Mama udah gak kuat, Ndre. Mama capek... Mama juga gak mau jadi beban kamu terus-menerus...." timpal Bu Sela dengan suara yang semakin berat dan terputus-putus.Tubuh Andrean seketika bergetar hebat. Ia langsung memeluk tubuh ibunya dan menangis terisak-isak. Kepal
"Gimana keadaan Mama kamu?"Degh!Andrean yang tertunduk sambil menggenggam erat jemari ibunya yang terasa dingin seperti mayat, terkejut saat mendengar suara Rain yang berasal dari arah pintu ruangan VVIP tersebut.Pria itu kaget. Spontan, ia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat kedatangan Rain, Andrean langsung beranjak dari tempatnya dan segera menghampiri wanita yang kini tengah mengandung anak orang lain tersebut."Rain, aku se—""Ngomong tinggal ngomong aja. Gak usah deket-deket, apalagi berniat dan berpikiran buat meluk istriku!"Perkataan ketus bernada tegas yang dilontarkan Satria seketika menghentikan kalimat yang hendak diucapkan oleh Andrean. Bahkan, pria itu langsung menurunkan tangannya yang refleks ingin memeluk tubuh Rain yang semakin bulat dan berisi. Lalu, ia mundur dua langkah dari posisinya, berusaha menjaga jarak dari sang mantan istri agar tak membuat masalah.Andrean hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Entah kenapa, setiap kali
"Astaga, kamu...." "Saya di sini, Nyonya!" Suara sahutan Satria yang berasal dari arah samping, membuat Rain melangkah mundur dari posisinya. Ia kaget melihat pria yang ia kira adalah Satria, gigi ompong dan juga tahi lalat besar di pipi pria itu benar-benar membuatnya terkejut. "Maaf, s
Lama Rain dan Satria bergumul di sore menjelang malam hari tersebut. Akhirnya keduanya pun menyudahi pergumulan mereka setelah merasa puas. Kini, Rain yang merasakan pegal pada punggung dan pinggulnya, tampak berbaring lemas di tengah-tengah kasur empuk yang luas. Sedangkan di pinggiran ranjang,
"Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedan
"Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung." Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang







