MasukSetelah semua kebenaran terungkap dan Tuan Seno serta antek-anteknya diamankan, kini keadaan keluarga Mandala semakin membaik.Nyonya Laras yang sebenarnya sudah sembuh sejak dibawa pulang ke kediaman Mandala beberapa bulan lalu, kini dapat beraktivitas layaknya kehidupan orang-orang normal.Wanita paruh baya itu kini tak perlu lagi menyembunyikan diri dan berpura-pura sakit jiwa seperti kemarin-kemarin.Ia bisa tertawa, bercanda, bahkan kembali menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Tuan Arya tanpa harus memikirkan berbagai ancaman yang dulu selalu membayangi.Di dalam kamarnya, Tuan Arya yang keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh telanjang dibalut handuk singkat, menghampiri sang istri yang duduk di depan meja rias."Sayang...." panggil Tuan Arya sembari memeluk dan mencium lembut tengkuk istrinya yang terekspos.Nyonya Laras yang tengah bercermin pun langsung menghela napas panjang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah tingkah suaminya kali ini."Jangan lagi, Mas
Di balik jeruji besi, di sanalah kini Tuan Seno berada. Pria paruh baya itu mengamuk minta dibebaskan, bahkan mengancam para polisi yang bertugas."Lepaskan saya, keluarkan saya dari sini!"Mendengar suara keras Tuan Seno, para tahanan lain menutup telinga mereka. Jelas, para tahanan itu terganggu dengan keributan yang diciptakan pria paruh baya itu."Hei, kalian semua tuli, ya? Cepat bebaskan saya, kalau enggak, besok saya akan menghancurkan tempat ini!" seru Tuan Seno sambil memukul-mukul jeruji besi tersebut dengan keras.Pria paruh baya itu mengamuk seperti orang yang tidak waras. Wajah dan matanya memerah, bahkan tak henti-hentinya berteriak."Goblok kalian semua! Cepat keluarkan saya!"Di saat Tuan Seno sedang mengamuk, derap langkah kaki terdengar mengetuk-ngetuk lantai. Dan tak lama kemudian, datanglah Tuan Arya, Ares, dan Satria.Ketiganya menghampiri Tuan Seno yang mengamuk.Mendengar derap langkah kaki mendekat, Tuan Seno menoleh ke arah sumber suara. Saat melihat Tuan Arya
"Ssttt... Om, perutku sakit banget."Nabila yang didorong hingga jatuh terhempas, dengan punggung membentur kaki ranjang, itu pun langsung merintih kesakitan. Wajah gadis binal itu seketika meringis. Kedua tangannya memegangi bagian bawah perutnya yang terasa sakit luar biasa.Deru napas Nabila memburu. Tubuhnya bahkan terlihat gemetar menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi di bagian bawah perutnya tersebut.Darah segar mengalir dari paha bagian dalam gadis binal itu hingga membuat Tuan Seno yang menoleh seketika melotot lebar."Astaga..."Pria paruh baya itu semakin panik. Wajahnya berubah pucat melihat darah yang mengalir. Namun, saat melihat tatapan tajam istrinya, nyali Tuan Seno seketika menciut.Ia tak berani melakukan apa pun, bahkan untuk sekadar mendekati Nabila yang sedang kesakitan sekalipun."Om, sa-sakit...."Gluk!Tuan Seno meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia melirik Nabila yang masih meringis kesakitan, lalu
"Oh... ternyata kayak gini kelakuan kalian kalau gak ada aku di rumah! Dasar binatang, gak punya otak!"Brak!Bantingan keras pintu yang diiringi suara teriakan Diana membuat Tuan Seno dan Nabila terkesiap. Keduanya sama-sama membeku selama beberapa detik, seolah baru saja tersadar dari apa yang telah mereka lakukan.Panik, Tuan Seno mencabut batangan tegangnya yang bersemayam di dalam lubang apem Nabila, lalu bergerak turun dari atas ranjang.Pria paruh baya itu meraih celananya dan memakainya dengan terburu-buru. Tangannya gemetar karena ketakutan melihat Diana yang kini berdiri di ambang pintu.Begitu pula dengan Nabila yang panik setengah mati. Dengan tubuh telanjangnya, gadis binal itu meraih hotpants-nya yang berada di ujung kasur."Binatang kalian berdua, anjing!" maki Diana dengan suara melengking keras.Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. Tatapannya berpindah dari Tuan Seno pada Nabila yang terlihat panik dan ketakutan.Melihat kemarahan istrinya, Tuan Seno y
Siang itu, Tuan Seno yang berada di perusahaan kembali ke rumah dalam keadaan yang kacau.Wajahnya kusut. Ia pusing memikirkan Togar yang diringkus oleh polisi. Takut anak buahnya itu buka mulut.Tiba di rumah, keadaan begitu sepi. Hanya ada Nabila yang sedang tiduran santai di sofa sambil bermain ponsel."Om, udah pulang?" kata Nabila, menyapa Tuan Seno yang baru saja pulang dari kantor."Hmm... Diana mana?" tanya Tuan Seno sembari mengendurkan dasi yang melilit di lehernya.Ditanya, Nabila yang memakai crop top dan hotpants itu beringsut, lalu duduk dan menaikkan kedua kakinya ke atas sofa."Mama Diana pergi belanja sama teman-temannya. Katanya tadi sore baru pulang," kata Nabila, menjawab pertanyaan Tuan Seno dengan mata menatap wajah kusutnya. "Om kenapa? Kok kayaknya pusing banget?" tanyanya kemudian.Tuan Seno menghela napas panjang. Lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Nabila dan memeluk pinggang ramping gadis itu."Capek, pusing mikirin kerjaan di kantor," jawab Tuan Seno.Cup
"Tolong, tolong lepasin saya, Pak. Kalau saya di penjara, saya jamin gak akan lama saya bakal mati juga kayak Hendra!"Togar yang digiring ke ruangan interogasi tak henti-hentinya berteriak minta tolong. Bahkan, pria itu terlihat histeris dan ketakutan. Wajahnya pucat pasi, sedangkan tubuhnya terus berusaha melawan meskipun kedua tangannya sudah diamankan oleh petugas.Pria itu takut mati tragis seperti Hendra jika mendekam di balik jeruji besi. Kematian Hendra yang terjadi di dalam sel tahanan membuat nyali Togar benar-benar ciut. Ia tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti Hendra. Baginya, penjara bukan tempat untuk mempertanggungjawabkan kesalahan, melainkan tempat yang akan menjadi akhir dari hidupnya."Mati seperti Hendra? Kalau bukan karena kamu, Hendra gak akan mati, bodoh!" bentak petugas polisi.Kepala Togar langsung menggeleng. Deru napasnya memburu, "Enggak, Pak. Bukan saya yang bunuh Hendra, saya cuma disuruh dan dipaksa. Kalau saya gak mau, saya yang bakal dibunuh d
"Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedan
"Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung." Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang
"Kalau enak, buruan gantian. Aku juga mau dipuasin!" Mata Satria yang sayu berkabut gairah, spontan melotot saat mendengar kalimat ketus yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, cepat sekali ekspresi dan sikap Rain berubah. Ia pikir, kekasihnya serius ingin memberikan service dan memuaskann
"Lakukan apa saja yang kamu inginkan, Satria. Buat saya senang malam ini dan juga hamil secepatnya!" Gluk! Satria meneguk ludah. Permintaan Rain membuatnya semakin gugup. Batinnya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu? Kenapa minta dihamili oleh pria bayaran sepertinya? Kenapa tidak







