Share

3. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-03-25 21:54:42

"Astaga, kamu...."

"Saya di sini, Nyonya!"

Suara sahutan Satria yang berasal dari arah samping, membuat Rain melangkah mundur dari posisinya. Ia kaget melihat pria yang ia kira adalah Satria, gigi ompong dan juga tahi lalat besar di pipi pria itu benar-benar membuatnya terkejut.

"Maaf, saya salah orang. Kirain tadi pacar saya," kata Rain pada orang yang ditepuk pundaknya.

Dengan cepat, wanita itu berbalik sembari mengusap dadanya yang tiba-tiba berdetak tidak normal.

Tidak normal bukan karena adanya getaran cinta, tetapi karena kaget setengah mati.

"Nyonya kenapa?" tanya Satria yang langkahnya semakin dekat dengan Rain.

Ditanya, Rain yang kaget mengangkat kepalanya dan menatap pada Satria yang saat ini berdiri tepat di sampingnya.

Begitu melihat penampilan baru Satria, mata Rain dibuat melotot tak berkedip.

Bagaimana tidak?

Pria bayaran yang disewanya terlihat begitu tampan dan mempesona. Kacamata bening yang bertengger di hidungnya, dipadu dengan rambut poni yang sedikit menutupi kening, membuatnya terlihat seperti aktor China yang berperan sebagai CEO. Bahkan, lesung pipinya yang dalam semakin menambah pesonanya, hingga Rain menjadi pangling dibuatnya.

"Satria, kamu—"

"Kalau Nyonya gak suka sama penampilan saya, saya pergi dan ganti baju sekarang juga!" tukas Satria yang merasa gugup bercampur takut.

Pemuda itu hendak berbalik dan melangkah pergi, namun dengan cepat Rain mencekal pergelangan tangannya.

"Siapa bilang saya gak suka? Penampilan kamu sekarang jauh lebih baik dari kemarin!" kata Rain, meminta Satria untuk tidak pergi.

Mendengar perkataan Rain, Satria mengurungkan langkahnya. Ia pun kembali berbalik, menyengir pada Rain sembari membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot.

Maklum, hidung Satria tidak mancung-mancung amat walaupun tidak terlalu pesek.

"Tinggal ganti pakai kemeja dan jas, orang-orang pasti ngira dia anak miliader," ucap Rain dalam hati.

Tak dapat dipungkiri, jika Rain terpesona melihat penampilan Satria saat ini. Munafik jika ia mengatakan pemuda itu jelek dan tidak memiliki daya tarik.

"Nyonya, gimana? Beneran gak apa-apa saya kayak gini?" tanya Satria. Suaranya pelan dan terdengar ragu. Takut penampilannya membuat wanita itu ilfeel dan malu.

"Jangan buang-buang waktu buat hal yang gak penting. Sekarang kita masuk dan langsung mulai kerja!" Rain menimpali perkataan Satria dengan santai.

Setelah itu, Rain berbalik dan hendak melangkah memasuki gedung hotel. Namun tidak dengan Satria yang tetap diam di posisinya sambil memegangi perut.

"Satria, kenapa diem aja? Buruan sini!" tegur Rain. Meminta Satria untuk segera mengikutinya.

Satria menyengir, lalu melangkah mendekati Rain, masih dengan tangan yang memegangi perutnya.

"Kenapa perut kamu?" Rain bertanya, matanya menatap pada wajah Satria yang menyengir dan beralih ke perutnya.

"Hee, laper. Saya tadi gak sempet makan," kata Satria. Menjawab pertanyaan Rain dengan kikuk.

Rain memejamkan mata sesaat. Lalu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.

Pikirnya, sebenarnya Satria ini spesies apa? Bukannya kemarin ia sudah memerintahkan pemuda itu untuk mempersiapkan diri. Tetapi masih saja membuatnya kesal.

"Kamu ini gimana sih? Niat kerja enggak? Kalau gak niat, harusnya ngomong dari awal, jangan bikin saya kesal!"

Mendengar omelan Rain, Satria menundukkan kepalanya. Sebenarnya tak sempat bukan hanya alasan klasik, tetapi benar-benar tidak sempat.

Pagi hari sibuk mengurus masalah ketiga adiknya di rumah. Siang hari, ke rumah sakit, merawat ibunya yang lumpuh. Lalu di sore hari, terburu-buru pergi ke salon untuk merubah penampilannya agar Rain tidak jijik saat bersamanya.

"Kamu denger saya gak?" tegur Rain dengan mata melotot dan wajah memerah menahan amarah.

Kepala Satria mengangguk. "Denger, Nya. Maaf kalau saya gak becus dan bikin Nyonya kesal," jawabnya pelan.

Rain kembali menghela napas. "Okelah! Kita pesen makan dulu, setelah makan baru fokus ke tujuan awal."

"Baik, Nya."

Meskipun kesal, Rain tetap mengajak Satria memesan makanan dan mengisi perut lebih dulu sebelum kegiatan panas mereka berlangsung.

"Makannya di mana?" tanya Satria sembari memperhatikan ekspresi Rain yang agak sedikit seram.

"Di kamar, nanti saya suruh pihak hotel nganter makanan buat kamu," timpal Rain dengan ketus.

Setelah itu, ia melangkah memasuki gedung hotel dan menuju kamar yang telah dipesannya, diikuti oleh Satria di belakangnya.

Satria yang mengekor, benar-benar terlihat gugup. Malam ini, keperjakaannya akan benar-benar tamat di tangan wanita yang memeliharanya.

"Tenang, tenang, Sat. Pikirin kesembuhan ibu dan juga masa depan adik-adikmu," kata Satria dalam hati. Berusaha menenangkan diri dan meyakinkan hatinya jika pilihannya hari ini adalah yang terbaik.

Tak terasa, langkah Rain dan Satria kini sudah tiba di depan pintu kamar hotel. Perlahan, Rain membuka pintu kamar itu dan memerintahkan Satria untuk masuk.

"Masuk!" titah Rain.

Kepala Satria mengangguk. Cepat-cepat ia melangkah masuk dan melihat seperti apa kamar hotel yang kerap dijadikan tempat bermalam oleh para artis dan pejabat kota tersebut.

"Kamarnya luas dan ranjangnya besar. Gak salah jadi tempat para artis dan pejabat nganu," ucap Satria dengan pelan. Saking pelannya, suaranya lebih layak disebut sebagai gumaman.

"Sampe kapan kamu mau merhatiin kamar ini?" tegur Rain sembari melepaskan cardigan yang dipakainya.

Mendapatkan teguran, Satria menoleh dan menatap pada Rain yang saat ini hanya memakai rok selutut dan juga crop top ketat sebagai atasan.

Pemuda itu meneguk ludah. Kedua dada Rain yang besar, padat dan berisi membuat otak kotornya langsung bereaksi.

"Kamu lupa sama tujuan kamu datang ke sini?" tanya Rain. Kedua tangannya kini dilipat di dada, membuat bongkahan kedua bukitnya yang tertekan semakin menyembul.

Satria menggelengkan kepalanya, sedangkan kedua netranya yang kecoklatan memperhatikan kedua bongkahan kenyal milik Rain tanpa berkedip.

"Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya? Hmm!"

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Om Sumijan
sexi raiin
goodnovel comment avatar
Ronald Tatipikalawan Pelaupessy
Untuk jadi gigolo sejati, tidak pas kalo pakai viagra. Harus strong dari dalam, olahraga, makan bergizi dan vitamin2.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   260. PPPN

    Penyidikan kasus kematian Pak Hendra yang menjadi korban penganiayaan di penjara masih terus berlanjut.Seminggu lebih berlangsung, akhirnya polisi berhasil mengamankan beberapa orang pelaku yang menjadi pelaku penganiayaan dan juga penyebab kematian pria paruh baya tersebut.Dan setelah diinterogasi, salah satu tahanan itu mengaku jika ia dan teman-temannya diperintah oleh seseorang.Brak!"Jangan bohong. Katakan semuanya dengan jujur jika tidak ingin hukuman kalian diperberat!"Gebrakan meja yang diiringi bentakan petugas polisi itu seketika membuat tahanan yang sedang diinterogasi tersebut terperanjat kaget."Sumpah, Pak. Saya gak bohong! Laki-laki yang membayar kami adalah orang yang waktu itu datang membesuk Hendra. Dia menjanjikan banyak uang dan akan menjamin kehidupan keluarga kami di luaran sana kalau kami bersedia menghabisi Hendra!""Betul, Pak. Kalau Bapak gak percaya, kami punya buktinya!"---"Emphhh... pelan-pelan, Om. Ouch...."Nabila yang saat ini berada di bawah kung

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   259. PPPN

    "Om mau ngapain? Kenapa tangannya dimasuki ke punyaku?!" Merasa geli dibagian paha dan apem tembemnya, Nabila yang sedang tidur siang itu pun membuka matanya. Alangkah terkejutnya gadis itu saat melihat Tuan Seno berada di bawah selangkangannya. Pria paruh baya yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban itu sedang mengendus-endus area sensitifnya. Bahkan, jarinya sudah masuk ke dalam hotpants nya dan menyentuh bibir apem tembemnya. Spontan, gadis itu menjerit lantaran kaget setengah mati. Namun, dengan cepat Tuan Seno menindih tubuhnya dan membekap mulutnya. "Hust... jangan teriak Nabila, nanti ada yang denger," kata Tuan Seno dengan suara tertahan dan deru napas memburu. Nabila yang semula terkejut, menganggukkan kepalanya. Sedangkan sepasang matanya menatap wajah Tuan Seno tanpa berkedip. "Jangan teriak, oke?" lanjut Tuan Seno dan kembali diangguki kepala oleh Nabila. Setelah memastikan Nabila tidak berteriak dan memberontak, barulah Tuan Seno melepaskan bekapan tangannya dari

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   258. PPPN

    Seminggu kemudian....Satria yang saat ini duduk di kursi seberang meja kerja Tuan Arya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, sedangkan ekspresi wajahnya terlihat begitu jelek.Bagaimana tidak?Bibir pemuda itu cemberut dan wajahnya ditekuk.Sedangkan di kursi kebesarannya, Tuan Arya duduk dengan tegap. Matanya menatap serius pada putranya yang berada tepat di hadapannya.Wajah pria paruh baya itu memerah dan terlihat marah. Di atas meja kerjanya terdapat beberapa lembar foto yang didapatnya dari Ares, sang asisten terbaik sekaligus adik angkatnya."Sejak kapan, Satria Narendra?!"Pertanyaan bernada agak tinggi itu dilontarkan Tuan Arya pada Satria yang memasang ekspresi cemberut di hadapannya.Melihat kemarahan Tuan Arya, Ares yang sejak tadi berdiri di sisi kanan meja itu hanya bisa diam menyimak.Pria kaku itu memasang wajah datar yang terlihat amat serius. Padahal sebenarnya, Ares cukup kaget melihat bosnya itu marah-marah seperti itu. Karena selama ini, ia tidak pernah m

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   257. PPPN

    "Tunggu, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu!"Nabila yang baru berjalan beberapa langkah itu pun seketika menghentikan langkahnya. Sudut bibirnya tersungging lantaran merasa menang karena Diana benar-benar menahannya.Gadis itu pun berbalik badan. Lalu menatap ke arah Diana dan Tuan Seno dengan tatapan matanya yang sendu berair."Iya, Tante. Ada apa?" tanya Nabila. Suaranya pelan dan terdengar menyedihkan. Tampangnya saat ini benar-benar memelas. Membuat Diana menghela napas panjang melihatnya.Diana yang duduk di kursi makan, menatap sang suami sesaat. Lalu pandangannya kembali beralih pada Nabila yang berdiri di ujung meja.Wanita bertubuh agak subur itu memindai Nabila dari ujung kaki hingga kepala berulang kali. Lalu, tatapannya berhenti pada wajah gadis itu.Diperhatikan oleh Diana, Wulan meremas pinggiran dress yang dipakainya dengan erat. Sebisanya ia memasang ekspresi semenyedihkan mungkin agar wanita paruh baya itu luluh dan mau menampungnya."Ta-ta-tante, ada apa? A-a-a

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   256. PPPN

    "Argh... Papa, Om Anjas, Tante Tasya dan Om Ares mesum di teras rumah!"Sruk!Bleduk!Terkejut mendengar teriakan keras Satria yang berasal dari arah pintu utama, Tasya yang duduk di atas pangkuan Ares spontan melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher pria kaku tersebut.Tak ayal lagi, Tasya yang hilang keseimbangan berakhir jatuh terhempas di lantai yang dingin."Aw... sakitnya bokongku!" Tasya yang terduduk di lantai merintih sambil menyentuh bokongnya yang terasa sakit.Ares yang tak kalah gugup dan panik beranjak dari duduknya dengan gerakan yang cepat. Lalu merapikan celananya yang agak kusut karena perbuatan Tasya sebelumnya.Wajah pria kaku itu berubah pucat. Bingung harus melakukan apa saat ini. Terlebih lagi saat dirinya mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke teras rumah itu."Astaga, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Semuanya jadi kacau gara-gara perempuan aneh ini," batin Ares menggerutu sebal, sedangkan matanya menatap Tasya yang masih terduduk

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   255. PPPN

    "Astaga, apa yang kamu lakukan? Jangan pegang-pegang pisang saya!"Sepasang mata Ares seketika melotot lebar saat tangan Tasya yang berada dalam saku celananya meremas batangannya yang agak tegang.Pria itu terkejut bukan main. Bahkan tubuhnya spontan menegang dan wajahnya berubah merah seperti tomat matang yang hampir busuk.Seumur hidupnya, belum pernah ada wanita yang bertindak seberani itu kepadanya. Ares yang dikenal dingin dan kaku benar-benar kehilangan cara untuk bereaksi. Otaknya seolah mendadak kosong."Balikin HP-ku!" kata Tasya, masih dengan tangan yang meraba-raba dan menyentuh aset pribadi milik Ares.Semakin melotot mata Ares dibuatnya. Bahkan kini tubuhnya tegang maksimal.Bagaimana tidak? Tasya yang notabene bukan gadis polos sama sekali tidak terlihat gugup. Ia menekan dan meremas batang kemaluan Ares yang agak tegang dan keras.Tindakan yang saat ini dilakukan Tasya membuat Ares semakin salah tingkah dan gugup."Astaga, jauhkan tangan kamu, Tasya! Jangan remas batan

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   5. PPPN

    "Lakukan apa saja yang kamu inginkan, Satria. Buat saya senang malam ini dan juga hamil secepatnya!" Gluk! Satria meneguk ludah. Permintaan Rain membuatnya semakin gugup. Batinnya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu? Kenapa minta dihamili oleh pria bayaran sepertinya? Kenapa tidak

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   4. PPPN

    "Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya?" tegur Rain. Matanya memicing, menatap Satria yang memperhatikan tubuhnya tanpa berkedip. Selanjutnya, Rain melangkah menuju ranjang dan mendaratkan bagian belakangnya di sana, dengan gerakan perlahan. "Percuma kalau cuman dilihat tapi gak kamu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   2. PPPN

    "Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedan

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   1. PPPN

    "Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung." Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status