Masuk"Astaga, kamu...."
"Saya di sini, Nyonya!" Suara sahutan Satria yang berasal dari arah samping, membuat Rain melangkah mundur dari posisinya. Ia kaget melihat pria yang ia kira adalah Satria, gigi ompong dan juga tahi lalat besar di pipi pria itu benar-benar membuatnya terkejut. "Maaf, saya salah orang. Kirain tadi pacar saya," kata Rain pada orang yang ditepuk pundaknya. Dengan cepat, wanita itu berbalik sembari mengusap dadanya yang tiba-tiba berdetak tidak normal. Tidak normal bukan karena adanya getaran cinta, tetapi karena kaget setengah mati. "Nyonya kenapa?" tanya Satria yang langkahnya semakin dekat dengan Rain. Ditanya, Rain yang kaget mengangkat kepalanya dan menatap pada Satria yang saat ini berdiri tepat di sampingnya. Begitu melihat penampilan baru Satria, mata Rain dibuat melotot tak berkedip. Bagaimana tidak? Pria bayaran yang disewanya terlihat begitu tampan dan mempesona. Kacamata bening yang bertengger di hidungnya, dipadu dengan rambut poni yang sedikit menutupi kening, membuatnya terlihat seperti aktor China yang berperan sebagai CEO. Bahkan, lesung pipinya yang dalam semakin menambah pesonanya, hingga Rain menjadi pangling dibuatnya. "Satria, kamu—" "Kalau Nyonya gak suka sama penampilan saya, saya pergi dan ganti baju sekarang juga!" tukas Satria yang merasa gugup bercampur takut. Pemuda itu hendak berbalik dan melangkah pergi, namun dengan cepat Rain mencekal pergelangan tangannya. "Siapa bilang saya gak suka? Penampilan kamu sekarang jauh lebih baik dari kemarin!" kata Rain, meminta Satria untuk tidak pergi. Mendengar perkataan Rain, Satria mengurungkan langkahnya. Ia pun kembali berbalik, menyengir pada Rain sembari membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot. Maklum, hidung Satria tidak mancung-mancung amat walaupun tidak terlalu pesek. "Tinggal ganti pakai kemeja dan jas, orang-orang pasti ngira dia anak miliader," ucap Rain dalam hati. Tak dapat dipungkiri, jika Rain terpesona melihat penampilan Satria saat ini. Munafik jika ia mengatakan pemuda itu jelek dan tidak memiliki daya tarik. "Nyonya, gimana? Beneran gak apa-apa saya kayak gini?" tanya Satria. Suaranya pelan dan terdengar ragu. Takut penampilannya membuat wanita itu ilfeel dan malu. "Jangan buang-buang waktu buat hal yang gak penting. Sekarang kita masuk dan langsung mulai kerja!" Rain menimpali perkataan Satria dengan santai. Setelah itu, Rain berbalik dan hendak melangkah memasuki gedung hotel. Namun tidak dengan Satria yang tetap diam di posisinya sambil memegangi perut. "Satria, kenapa diem aja? Buruan sini!" tegur Rain. Meminta Satria untuk segera mengikutinya. Satria menyengir, lalu melangkah mendekati Rain, masih dengan tangan yang memegangi perutnya. "Kenapa perut kamu?" Rain bertanya, matanya menatap pada wajah Satria yang menyengir dan beralih ke perutnya. "Hee, laper. Saya tadi gak sempet makan," kata Satria. Menjawab pertanyaan Rain dengan kikuk. Rain memejamkan mata sesaat. Lalu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. Pikirnya, sebenarnya Satria ini spesies apa? Bukannya kemarin ia sudah memerintahkan pemuda itu untuk mempersiapkan diri. Tetapi masih saja membuatnya kesal. "Kamu ini gimana sih? Niat kerja enggak? Kalau gak niat, harusnya ngomong dari awal, jangan bikin saya kesal!" Mendengar omelan Rain, Satria menundukkan kepalanya. Sebenarnya tak sempat bukan hanya alasan klasik, tetapi benar-benar tidak sempat. Pagi hari sibuk mengurus masalah ketiga adiknya di rumah. Siang hari, ke rumah sakit, merawat ibunya yang lumpuh. Lalu di sore hari, terburu-buru pergi ke salon untuk merubah penampilannya agar Rain tidak jijik saat bersamanya. "Kamu denger saya gak?" tegur Rain dengan mata melotot dan wajah memerah menahan amarah. Kepala Satria mengangguk. "Denger, Nya. Maaf kalau saya gak becus dan bikin Nyonya kesal," jawabnya pelan. Rain kembali menghela napas. "Okelah! Kita pesen makan dulu, setelah makan baru fokus ke tujuan awal." "Baik, Nya." Meskipun kesal, Rain tetap mengajak Satria memesan makanan dan mengisi perut lebih dulu sebelum kegiatan panas mereka berlangsung. "Makannya di mana?" tanya Satria sembari memperhatikan ekspresi Rain yang agak sedikit seram. "Di kamar, nanti saya suruh pihak hotel nganter makanan buat kamu," timpal Rain dengan ketus. Setelah itu, ia melangkah memasuki gedung hotel dan menuju kamar yang telah dipesannya, diikuti oleh Satria di belakangnya. Satria yang mengekor, benar-benar terlihat gugup. Malam ini, keperjakaannya akan benar-benar tamat di tangan wanita yang memeliharanya. "Tenang, tenang, Sat. Pikirin kesembuhan ibu dan juga masa depan adik-adikmu," kata Satria dalam hati. Berusaha menenangkan diri dan meyakinkan hatinya jika pilihannya hari ini adalah yang terbaik. Tak terasa, langkah Rain dan Satria kini sudah tiba di depan pintu kamar hotel. Perlahan, Rain membuka pintu kamar itu dan memerintahkan Satria untuk masuk. "Masuk!" titah Rain. Kepala Satria mengangguk. Cepat-cepat ia melangkah masuk dan melihat seperti apa kamar hotel yang kerap dijadikan tempat bermalam oleh para artis dan pejabat kota tersebut. "Kamarnya luas dan ranjangnya besar. Gak salah jadi tempat para artis dan pejabat nganu," ucap Satria dengan pelan. Saking pelannya, suaranya lebih layak disebut sebagai gumaman. "Sampe kapan kamu mau merhatiin kamar ini?" tegur Rain sembari melepaskan cardigan yang dipakainya. Mendapatkan teguran, Satria menoleh dan menatap pada Rain yang saat ini hanya memakai rok selutut dan juga crop top ketat sebagai atasan. Pemuda itu meneguk ludah. Kedua dada Rain yang besar, padat dan berisi membuat otak kotornya langsung bereaksi. "Kamu lupa sama tujuan kamu datang ke sini?" tanya Rain. Kedua tangannya kini dilipat di dada, membuat bongkahan kedua bukitnya yang tertekan semakin menyembul. Satria menggelengkan kepalanya, sedangkan kedua netranya yang kecoklatan memperhatikan kedua bongkahan kenyal milik Rain tanpa berkedip. "Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya? Hmm!" Bersambung....Ting! Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Rain. Ia yang duduk di kursi samping kemudi mobil yang dikendarai oleh Satria, merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya. Dilihatnya sebuah pesan video dikirimkan oleh Mira, asistennya dalam mengurus butik kecilnya. "Siapa yang ngirim pesan, Sayang? Egh, maksudnya Nyonya!" ralat Satria yang sejak semalam memanggil Rain dengan sebutan 'sayang'. Mendengar perkataan Satria, Rain yang sedang membuka pesan di ponsel canggihnya itu pun menoleh dan tersenyum pada brondong itu. "Gak usah panggil Nyonya lagi, Sat. Aku lebih nyaman dipanggil nama atau sebutan yang lain," kata Rain. Suaranya pelan sedangkan bibirnya masih saja tersenyum. Wanita cantik itu merasa nyaman dipanggil dengan sebutan 'sayang' oleh Satria. Panggilan yang membuat hubungannya dan Satria jadi benar-benar terasa nyata. "Sebutan lain, SA-SA-SAYANG, boleh?" tanya Satria tergagap. "So-so-soalnya lidahku gampang banget nyebut kata itu!" lanjutnya. Rain mengangguk, "Boleh, pangg
"Mas Andre, berhenti!" Seruan seseorang yang berdiri di depan mobilnya dengan kedua tangan terentang, membuat Andrean seketika menginjak pedal rem dan menghentikan mobilnya yang baru saja akan melaju. Melihat wajah orang yang menghadangnya, Andrean mendengus keras. Ekspresinya menunjukkan jika ia tak menyukai orang itu.Dengan langkahnya yang malas dan terlihat kesal, Andrean pun turun dari mobilnya dan menghampiri orang yang menghadangnya. Siska yang berada di depan mobil, tersenyum tipis saat melihat Andrean turun dan menghampirinya. "Mau apa kamu?" tanya Andrean dengan nada suara santai dan tatapan meremehkannya. "Mas Andre dateng ke sini karena mau ketemu Mbak Rain 'kan?" Siska balik bertanya sembari menunjukkan senyum terbaiknya pada Andrean yang berdiri di depannya. Andrean menyunggingkan sudut bibirnya. Sepasang matanya memindai Siska dari ujung rambut hingga ujung kaki. Batin Andrean, "Gak cantik kayak Melati apalagi Rain, tapi dadanya gede banget." Pikirin liar itu ti
Plak! Tamparan keras yang dilayangkan Rain, mendarat sempurna di pipi putih mulus Dewi yang tanpa cacat sedikitpun. Saking kerasnya tamparan itu, membuat kepala Dewi condong ke sisi kiri, bahkan sampai meninggalkan bekas lima jari. "Ini peringatan terakhir! Kalau sampai kamu usik kehidupanku dan ganggu orang-orang disekitarku lagi, aku bakal bertindak lebih tegas!" kata Rain penuh penekanan. Wajahnya merah padam, menunjukkan jika saat ini ia benar-benar sedang emosi. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mengenal Dewi, Rain meluapkan amarahnya dan kekesalannya. Selama ini diam dengan tingkah dan sikap temannya yang keterlaluan. Tetapi kali ini, kesabarannya terkikis habis lantaran wanita jalang itu mengusik prianya. "Selama ini aku diam sama sikap dan tingkah laku kamu bukan karena takut, tapi karena aku menghargai pertemanan kita!" lanjut Rain. Masih dengan wajahnya yang memerah, sedangkan matanya menatap tajam. Di hadapan Rain, Dewi yang kepalanya sedikit condong itu m
Jam menunjukkan pada pukul setengah enam pagi, Satria yang terlelap setelah melakukan pergumulan panas dengan Rain semalam, mengerjapkan matanya perlahan. "Ssttt...." Tangannya bergerak, menyentuh kepalanya yang terasa berat. Selanjutnya, ia menoleh, menatap Rain yang terlelap dengan posisi miring menghadap ke arahnya.Bibirnya tersenyum kala melihat wajah lelah Rain yang terlihat damai saat sedang terlelap seperti itu. Perlahan, tangannya bergerak, menyentuh dan mengusap pipi Rain yang agak sedikit chubby. "Nyonya kelihatan makin cantik kalau lagi merem kayak gini," gumam Satria masih dengan bibirnya yang tersenyum. Beberapa saat kemudian senyuman di bibir Satria memudar, mengingat kejadian semalam, di mana ia mabuk dan nyaris kehilangan kendali. Bayangan Dewi yang seksi dan cantik sedang telanjang bulat dan meliuk-liuk di depan matanya, membuat Satria menggigit bibir dan meneguk ludah. Batinnya, tubuh wanita itu begitu indah dan menggoda.Rasanya pasti sangat nikmat jika batan
Brak! Pintu kamar hotel itu dibuka dengan kasar, hingga menimbulkan suara bantingan keras yang membuat Satria dan Rain terkesiap. "Rain, gimana? Udah ke— Ahkkk, astaga, kalian berdua!" Tasya yang memasuki kamar hotel itu, terkejut dan syok saat melihat sahabatnya duduk di atas meja dengan paha terbuka dan Satria yang hampir telanjang bulat di hadapannya. Wanita singel bertubuh lumayan seksi dan agak sedikit pendek dari Rain itu menjerit histeris. Syok melihat pemandangan vulgar yang ada di depan matanya. Sedangkan Rain yang duduk di atas meja dengan bagian depannya yang menganga, mengigit bibir sambil menurunkan dressnya yang disingkap Satria. Dipergoki perbuatannya, ia merasa malu pada Tasya. "Sya, aku, aku... Satria, dia, dia dikasih obat pe—" "Oh, mataku buta, mataku rabun, katarak dan aku gak lihat apa-apa!" kata Tasya dengan cepat sambil berbalik badan. Tak mau menganggu waktu kencan sahabatnya, Tasya pun berpura-pura tidak melihat adegan panas itu dan memilih keluar dar
Satria yang sempoyongan, berjalan menyusuri lorong hotel yang cukup sepi di malam hari itu sambil mengusap-usap dadanya yang terasa panas. "Ugh, astaga...." Satria mengeluh, tak tahan merasakan hawa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.Dalam keadaan pusing, pemuda itu melihat setiap nomor kamar yang dilaluinya, mencari kamar yang sudah dipesan Rain sebelumnya. Kamar yang sama dengan kamar mereka beberapa waktu lalu. Tepatnya kamar nomor 7, tempat andalan Rain jika bermalam. "Egh...." Semakin tak tahan, Satria menghentikan langkahnya. Ia menyandarkan punggungnya pada tembok dengan gerakan yang kasar. Selanjutnya, tangannya bergerak, memukul-mukul kepalanya yang terasa sakit. Lalu berganti mengusap dada dan tubuhnya. "Huh, di mana Nyonya Rain? Apa masih di private room?" gumam Satria dengan wajah memerah yang meringis. Beberapa saat kemudian, Rain yang berlari-lari sambil memeriksa setiap kamar hotel yang dilewatinya itu pun tiba di dekat posisi Satria berada. "Satria!" pang
"Apa sih maunya? Telepon malem-malem kayak gini, sok penting banget!" Rain yang merasa kegiatannya terganggu, mendorong tubuh Satria dan segera meraih ponselnya. Tanpa mengangkat panggilan tersebut, Rain mematikan perangkat ponselnya dan kembali meletakkan ponsel itu ke tempatnya semula.Setelah
"Argh, Satria... kenapa kamu semprotin di muka saya?" Plak! Rain memekik keras saat cairan milik Satria menyembur ke wajah cantiknya yang putih mulus tanpa noda. Bahkan, ia sampai memukul paha Satria dengan sedikit keras sembari bergerak mundur dari posisinya. Sedangkan Satria yang baru sa
Setelah rentenir dan anak buahnya pergi, Satria mengajak ketiga adiknya memasuki rumah dan merapikan kembali barang-barang yang sebelumnya diacak-acak. Bukan hanya Satria dan ketiga adiknya yang memasuki rumah dan beberes, tetapi juga Tono selaku salah satu teman terdekat Satria. "He-he-hebat ba-
"Cepet angkat kaki dan bokongnya, Nyonya. Jangan sampai terlambat, nanti usaha saya jadi sia-sia!" Melihat kepanikan Satria, Rain menjadi ikut panik. Dengan cepat, ia yang merasa lemas itu mengangkat kedua kaki dan juga bokongnya. Namun, baru saja kaki dan bokongnya terangkat, tubuh tegang Satria







