LOGIN"Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya?" tegur Rain. Matanya memicing, menatap Satria yang memperhatikan tubuhnya tanpa berkedip.
Selanjutnya, Rain melangkah menuju ranjang dan mendaratkan bagian belakangnya di sana, dengan gerakan perlahan. "Percuma kalau cuman dilihat tapi gak kamu sentuh, saya gak bakalan bisa hamil!" lanjutnya. Gluk! Satria dibuat meneguk ludah, cepat-cepat ia membuang pandangannya. Perkataan yang keluar dari mulut Rain, membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. "Sampe kapan kamu mau berdiri di sana? Sampe besok?" tegur Rain. Suaranya yang datar, membuat Satria kembali meneguk ludah. Mendapatkan teguran, cepat-cepat Satria melangkah mendekati ranjang dan ikut mendudukkan bokongnya di sana. "Saya duduk di sini, Nya. Jangan marah-marah," kata Satria. Di samping Rain, Satria meremas pinggiran kemeja yang dipakainya. Berulang kali ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengurangi rasa gugup yang kini merayap di hatinya. "Kamu kenapa sih? Kok kayaknya takut banget sama saya. Emangnya seperti ini cara kamu melayani pelanggan di club malam?" tanya Rain sembari memperhatikan Satria yang gugup dan salah tingkah. Kepala Satria menggeleng. "Saya gak takut tapi gugup, soalnya Nyonya cantik banget dan beda sama tante-tante yang sering saya temenin di club," jawabnya dengan wajah meringis. Mendengar perkataan Satria, sudut bibir Rain tersenyum tipis. Ucapan pemuda itu terdengar seperti pujian yang membuat hatinya sedikit menghangat. "Sebelum kerja di club, kamu kerja apa?" Rain yang sebelumnya dipuji cantik, tiba-tiba menanyakan pekerjaan Satria sebelumnya. Ditanya, Satria yang gugup mengusap tengkuk lehernya, lalu garuk-garuk kepala. Selanjutnya, "Banyak, Nya. Dulu waktu lulus SMA, saya sempet kerja di cafe sambil kuliah. Te—" "Kamu kuliah?" tanya Rain. Memotong perkataan Satria dengan cepat. Kepala Satria mengangguk. "Sempet— satu setengah tahun. Habis itu berhenti karena ibu jatuh sakit. Setelah itu saya kerja serabutan, pindah-pindah, nyari kerjaan yang gaji dan pendapatannya lebih besar. Sampe akhirnya dapat tawaran dari temen, katanya kerja di club uangnya lumayan." Jemari Satria saling meremas satu sama lain. Wajahnya menunjukkan rasa tidak enak, tetapi bibirnya tetap tersenyum. Mendengar penjelasan Satria, Rain termangu. Penjelasan pemuda itu membuat rasa iba timbul di hatinya. Ia kasihan dan prihatin pada Satria, namun dengan cepat ia menepis pikirannya. Wanita itu tidak ingin terlalu peduli pada orang lain. Ia hanya ingin fokus pada dirinya sendiri untuk saat ini. Beberapa saat kemudian, makanan yang dipesan Rain sebelumnya datang. Ia pun segera memerintahkan Satria untuk mengisi perut. "Makanan kamu udah datang, buruan dimakan dan habiskan. Setelah itu mulai kerjaan kamu," kata Rain. Satria mengangguk, lalu segera membawa nampan berisi makanan itu menuju sofa tunggal yang ada di sana. Di sofa tunggal kamar itu, Satria yang sedang melahap makanannya tak lepas dari pandangan dan perhatian Rain. Melihatnya makan, timbul rasa kasihan di hati Rain. Pikirnya, apakah hanya perasaannya saja jika Satria terlihat menyedihkan, atau memang begitu cara makannya. Bagaimana tidak kasihan? Satria yang menikmati makanannya, tampak tertunduk dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar pelan. Lima belas menit kemudian, Satria yang sudah menghabiskan makanannya, beranjak dan pergi ke kamar mandi. Ia menggosok giginya, tak ingin Rain merasa jijik dan ilfil. "Nyonya, saya ke kamar mandi sebentar," kata Satria sembari melepaskan kacamata bening yang dipakainya. Rain yang memasang wajah datar dan cuek, menganggukkan kepalanya. Membiarkan Satria bersih-bersih sebelum menjamahnya. Tak lama kemudian, Satria keluar dari kamar mandi. Ia berdiri di samping ranjang, menatap Rain dengan tatapan bingung bercampur gugup. "Nyonya, sekarang saya harus ngapain?" Satria yang gugup memberanikan diri untuk bertanya. Suaranya pelan dan terdengar takut-takut, bahkan dadanya yang semula sudah berdetak normal, kini kembali berdetak dengan cepat. Ia meringis, sedangkan matanya menatap takut pada Rain. Rain yang duduk bersandar di kepala ranjang, dibuat menghela napas dengan kasar. Setelah makan kenyang, bisa-bisanya pemuda bayaran itu bertanya padanya harus melakukan apa. Pikirnya, apakah sebelumnya Satria belum pernah melayani pelanggan di atas ranjang? "Inisiatif dong, Sat! Masa saya yang harus ngajarin kamu ini dan itu!" lontar Rain dengan nada bicaranya yang terdengar kesal. Semakin meringis Satria dibuatnya. Meskipun sudah sering melihat materi sebagai bekal bekerja di dunia hiburan malam, tetapi ia sama sekali belum pernah mempraktekkan apa yang telah dipelajari selama ini. "Buka baju kamu dan naik ke atas ranjang!" titah Rain. Tangannya menunjuk baju kaos putih Satria yang dilapisi kemeja biru. Satria menggangguk cepat. Lalu segera melepaskan kemeja dan kaosnya. Setelah itu, ia merangkak naik ke atas tempat tidur yang luas. Melihat Satria duduk di atas tempat tidur, Rain tersenyum tipis. Ia beringsut dengan gerakan perlahan dan mendekati pemuda itu. Di atas tempat tidur, Rain yang mendekati Satria, memajukan wajahnya dan membusungkan kedua bukitnya hingga menempel pada tubuh Satria yang bertelanjang dada. "Lakukan apa yang mau kamu lakukan, Satria. Buat saya merasakan puas dan juga hamil secepatnya!" Bersambung....Penyidikan kasus kematian Pak Hendra yang menjadi korban penganiayaan di penjara masih terus berlanjut.Seminggu lebih berlangsung, akhirnya polisi berhasil mengamankan beberapa orang pelaku yang menjadi pelaku penganiayaan dan juga penyebab kematian pria paruh baya tersebut.Dan setelah diinterogasi, salah satu tahanan itu mengaku jika ia dan teman-temannya diperintah oleh seseorang.Brak!"Jangan bohong. Katakan semuanya dengan jujur jika tidak ingin hukuman kalian diperberat!"Gebrakan meja yang diiringi bentakan petugas polisi itu seketika membuat tahanan yang sedang diinterogasi tersebut terperanjat kaget."Sumpah, Pak. Saya gak bohong! Laki-laki yang membayar kami adalah orang yang waktu itu datang membesuk Hendra. Dia menjanjikan banyak uang dan akan menjamin kehidupan keluarga kami di luaran sana kalau kami bersedia menghabisi Hendra!""Betul, Pak. Kalau Bapak gak percaya, kami punya buktinya!"---"Emphhh... pelan-pelan, Om. Ouch...."Nabila yang saat ini berada di bawah kung
"Om mau ngapain? Kenapa tangannya dimasuki ke punyaku?!" Merasa geli dibagian paha dan apem tembemnya, Nabila yang sedang tidur siang itu pun membuka matanya. Alangkah terkejutnya gadis itu saat melihat Tuan Seno berada di bawah selangkangannya. Pria paruh baya yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban itu sedang mengendus-endus area sensitifnya. Bahkan, jarinya sudah masuk ke dalam hotpants nya dan menyentuh bibir apem tembemnya. Spontan, gadis itu menjerit lantaran kaget setengah mati. Namun, dengan cepat Tuan Seno menindih tubuhnya dan membekap mulutnya. "Hust... jangan teriak Nabila, nanti ada yang denger," kata Tuan Seno dengan suara tertahan dan deru napas memburu. Nabila yang semula terkejut, menganggukkan kepalanya. Sedangkan sepasang matanya menatap wajah Tuan Seno tanpa berkedip. "Jangan teriak, oke?" lanjut Tuan Seno dan kembali diangguki kepala oleh Nabila. Setelah memastikan Nabila tidak berteriak dan memberontak, barulah Tuan Seno melepaskan bekapan tangannya dari
Seminggu kemudian....Satria yang saat ini duduk di kursi seberang meja kerja Tuan Arya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, sedangkan ekspresi wajahnya terlihat begitu jelek.Bagaimana tidak?Bibir pemuda itu cemberut dan wajahnya ditekuk.Sedangkan di kursi kebesarannya, Tuan Arya duduk dengan tegap. Matanya menatap serius pada putranya yang berada tepat di hadapannya.Wajah pria paruh baya itu memerah dan terlihat marah. Di atas meja kerjanya terdapat beberapa lembar foto yang didapatnya dari Ares, sang asisten terbaik sekaligus adik angkatnya."Sejak kapan, Satria Narendra?!"Pertanyaan bernada agak tinggi itu dilontarkan Tuan Arya pada Satria yang memasang ekspresi cemberut di hadapannya.Melihat kemarahan Tuan Arya, Ares yang sejak tadi berdiri di sisi kanan meja itu hanya bisa diam menyimak.Pria kaku itu memasang wajah datar yang terlihat amat serius. Padahal sebenarnya, Ares cukup kaget melihat bosnya itu marah-marah seperti itu. Karena selama ini, ia tidak pernah m
"Tunggu, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu!"Nabila yang baru berjalan beberapa langkah itu pun seketika menghentikan langkahnya. Sudut bibirnya tersungging lantaran merasa menang karena Diana benar-benar menahannya.Gadis itu pun berbalik badan. Lalu menatap ke arah Diana dan Tuan Seno dengan tatapan matanya yang sendu berair."Iya, Tante. Ada apa?" tanya Nabila. Suaranya pelan dan terdengar menyedihkan. Tampangnya saat ini benar-benar memelas. Membuat Diana menghela napas panjang melihatnya.Diana yang duduk di kursi makan, menatap sang suami sesaat. Lalu pandangannya kembali beralih pada Nabila yang berdiri di ujung meja.Wanita bertubuh agak subur itu memindai Nabila dari ujung kaki hingga kepala berulang kali. Lalu, tatapannya berhenti pada wajah gadis itu.Diperhatikan oleh Diana, Wulan meremas pinggiran dress yang dipakainya dengan erat. Sebisanya ia memasang ekspresi semenyedihkan mungkin agar wanita paruh baya itu luluh dan mau menampungnya."Ta-ta-tante, ada apa? A-a-a
"Argh... Papa, Om Anjas, Tante Tasya dan Om Ares mesum di teras rumah!"Sruk!Bleduk!Terkejut mendengar teriakan keras Satria yang berasal dari arah pintu utama, Tasya yang duduk di atas pangkuan Ares spontan melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher pria kaku tersebut.Tak ayal lagi, Tasya yang hilang keseimbangan berakhir jatuh terhempas di lantai yang dingin."Aw... sakitnya bokongku!" Tasya yang terduduk di lantai merintih sambil menyentuh bokongnya yang terasa sakit.Ares yang tak kalah gugup dan panik beranjak dari duduknya dengan gerakan yang cepat. Lalu merapikan celananya yang agak kusut karena perbuatan Tasya sebelumnya.Wajah pria kaku itu berubah pucat. Bingung harus melakukan apa saat ini. Terlebih lagi saat dirinya mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke teras rumah itu."Astaga, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Semuanya jadi kacau gara-gara perempuan aneh ini," batin Ares menggerutu sebal, sedangkan matanya menatap Tasya yang masih terduduk
"Astaga, apa yang kamu lakukan? Jangan pegang-pegang pisang saya!"Sepasang mata Ares seketika melotot lebar saat tangan Tasya yang berada dalam saku celananya meremas batangannya yang agak tegang.Pria itu terkejut bukan main. Bahkan tubuhnya spontan menegang dan wajahnya berubah merah seperti tomat matang yang hampir busuk.Seumur hidupnya, belum pernah ada wanita yang bertindak seberani itu kepadanya. Ares yang dikenal dingin dan kaku benar-benar kehilangan cara untuk bereaksi. Otaknya seolah mendadak kosong."Balikin HP-ku!" kata Tasya, masih dengan tangan yang meraba-raba dan menyentuh aset pribadi milik Ares.Semakin melotot mata Ares dibuatnya. Bahkan kini tubuhnya tegang maksimal.Bagaimana tidak? Tasya yang notabene bukan gadis polos sama sekali tidak terlihat gugup. Ia menekan dan meremas batang kemaluan Ares yang agak tegang dan keras.Tindakan yang saat ini dilakukan Tasya membuat Ares semakin salah tingkah dan gugup."Astaga, jauhkan tangan kamu, Tasya! Jangan remas batan
Lama Rain dan Satria bergumul di sore menjelang malam hari tersebut. Akhirnya keduanya pun menyudahi pergumulan mereka setelah merasa puas. Kini, Rain yang merasakan pegal pada punggung dan pinggulnya, tampak berbaring lemas di tengah-tengah kasur empuk yang luas. Sedangkan di pinggiran ranjang,
"Kalau enak, buruan gantian. Aku juga mau dipuasin!" Mata Satria yang sayu berkabut gairah, spontan melotot saat mendengar kalimat ketus yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, cepat sekali ekspresi dan sikap Rain berubah. Ia pikir, kekasihnya serius ingin memberikan service dan memuaskann
"Maaf, saya lupa ada urusan yang belum diselesain, permisi!"Tak ingin berdekatan lama-lama dengan wanita asing yang dapat membuatnya kehilangan akal sehat sebagai mantan pria pemuas, buru-buru Satria keluar dari toko buku tanpa mendapatkan apapun. Pemuda perkasa itu berlari menuju parkiran dan me
Setelah makan siang bersama di restoran, Rain dan Satria pun kembali ke apartemen. Di sepanjang perjalanan, keduanya tak hentinya mengobrol. Bahkan obrolan mereka kali ini terlihat begitu serius. "Tolong jangan lagi, udah terlalu banyak uang yang udah kamu habisin buat!" "Aku aja gak pernah per







