ログイン"Lakukan apa saja yang kamu inginkan, Satria. Buat saya senang malam ini dan juga hamil secepatnya!"
Gluk! Satria meneguk ludah. Permintaan Rain membuatnya semakin gugup. Batinnya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu? Kenapa minta dihamili oleh pria bayaran sepertinya? Kenapa tidak menikah saja agar lebih enak dan bebas. "Sa-sa-saya beneran boleh ngunyel-ngunyel dada Nyonya?" tanya Satria dengan suara tergagap. Tubuh pemuda tampan itu menegang, bahkan lebih tegang dari asetnya yang berada di bawah sana. Tak hanya itu, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori tubuh Satria. Sebab, ini adalah kali pertama posisinya begitu intim dengan seorang wanita. Setengah bulan bekerja di club malam, ia hanya duduk berdekatan dengan pelanggan, menuangkan minuman dan meladeni obrolan mereka. Bersentuhan pun tak lebih dari berpegangan tangan. "Hmm, sentuh dan nikmati tubuh saya, Satria," bisik lembut Rain di telinga Satria. Satria kembali meneguk ludah. Tangannya yang bertumpu pada kasur, kini dibuat gemeteran. Ia grogi setengah mati, bahkan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Terlebih lagi, hembusan napas Rain yang wangi menusuk indra penciumannya, membuat hasrat kelakiannya semakin bergejolak dan meronta-ronta. "Nyonya, saya takut," ucap Satria dengan pelan. "Sentuh saya seperti kamu menyentuh pelanggan lain, Satria. Anggap saya adalah milik kamu malam ini," balas Rain. Hidungnya mengendus telinga dan turun ke leher Satria, menikmati aroma maskulin parfum yang dipakai pemuda itu. "Huh... Nyonya." Satria melenguh, Rain benar-benar membuatnya bergairah. Meskipun sudah bergairah sejak Rain menekankan kedua bukitnya yang bulat dan padat, tetapi Satria tetap berusaha menahan diri. Melihat bagaimana tingginya keinginan Rain yang ingin dihamili, timbul rasa cemas dan takut di hati Satria. Batin Satria, apakah setelah ini ia akan terkena masalah besar? "Nyonya, kenapa minta dihamili sama laki-laki bayaran kayak saya?" tanya Satria dengan nada bicaranya yang terdengar ragu dan takut-takut. Rain yang mengungkung tubuh Satria, tiba-tiba beranjak setelah ditanya. Ia menghela napas panjang, sedangkan keningnya berkerut dalam. "Tugas kamu melayani dan menuruti semua perintah saya. Jadi selesaikan pekerjaan kamu tanpa banyak bicara!" lontar Rain dengan ketus dan tegas. Gluk! Satria kembali meneguk ludah. Ekspresi Rain cepat sekali berubah, seperti wanita yang memiliki kepribadian ganda, benar-benar mengerikan. "Kamu paham?" Kepala Satria mengangguk. "Paham, Nyonya. Saya gak akan menanyakan hal itu lagi," jawabnya cepat. Sudut bibir Rain tersungging. Sedangkan matanya menatap Satria dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sekarang mulai pekerjaan kamu. Layani dan puaskan saya," kata Rain. Memerintah Satria untuk memulai pekerjaannya. "Baik, Nyonya!" timpal Satria dengan patuh. Pemuda itu memang menimpali perkataan Rain, tetapi tidak bergerak dari posisinya. Ia justru memandangi wajah dan penampilan seksi Rain yang menggoda. Sedangkan kedua tangannya, meremas pinggiran celana jeans yang dipakainya. "Ayo, Satria. Apalagi yang kamu tunggu?" "Kalau saya nyentuh dan mainin dada dan punya Nyonya, beneran gak masalah kan? Nyonya gak bakalan ngegampar muka saya?" Oh Tuhan! Satria benar-benar membuat tensi Rain naik. Tidak memiliki keahlian dan keberanian, bisa-bisanya bekerja sebagai pria bayaran. "Kamu jadi gigolo buat apa, Satria? Emang buat nyentuh dan nyenengin perempuan kan? Sentuh dan puasin saya kayak kamu muasin pelanggan kamu di club malam selama ini!" jerit frustasi Rain pada Satria. Wajahnya memerah, kesal sekali pada pemuda dungu dan polos yang disewanya. Batinnya, Satria benar-benar dungu dan polos atau hanya pura-pura? "Kayak saya melayani pelanggan lain?" tanya Satria dan diangguki kepala oleh Rain. "Tapi, tapi selama ini saya cuman nemenin pelanggan minum-minum dan ngobrol, Nyonya. Belum pernah kontak fisik kayak gini!" jelasnya jujur. Krik, krik! Melotot lebar mata Rain. Kaget mendengar pengakuan Satria yang katanya belum pernah melakukan hubungan seksual. Padahal jelas-jelas kerjanya sebagai pria bayaran. "Kamu serius, Satria?" tanya Rain, masih dengan sepasang matanya yang melotot. Satria mengangguk. Mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan oleh Rain. "Nemenin minum dan ngobrol dikasih tips 200-500 ribu semalam, hee!" Satria menyengir kuda. "Oh, astaga... ternyata kamu lebih polos dari yang saya kira," kata Rain mendesah berat. "Tapi bagus juga sih, anak yang saya kandung nanti bukan anak laki-laki bekas perempuan lain!" imbuhnya. Batin Rain, meskipun Satria polos dan menyebalkan, setidaknya ia adalah wanita pertama untuk pemuda itu. Artinya, ia aman dari penyakit menular seksual yang mematikan. "Jadi gimana, Nya? Saya beneran gak akan digampar kan kalau ngunyel-nguyel badan Nyonya yang mulus dan montok?" tanya Satria memastikan. Ekspresi wajah pemuda itu saat ini, sangat-sangat menyebalkan di mata Rain. "Iya, iya, Satria. Kamu bebas ngapain aja, mau kamu isep-isep juga boleh. Sesuka kamu aja pokoknya, yang penting saya bisa hamil!" timpal Rain menahan kesal, bahkan giginya sampai menimbulkan bunyi gemeretak saking jengkelnya. Satria yang semula terlihat ragu dan takut, kini kembali menyengir kuda, hingga Rain geleng-geleng kepala dibuatnya. "Buruan mulai, keburu saya ngantuk," kata Rain. Wanita itu berbicara sembari merebahkan tubuhnya, menunggu Satria memulai permainan. "Sabar, Nya. Semua butuh proses, gak ada yang instan di dunia ini," kata Satria. Membalas perkataan Rain yang terkesan tak sabaran. "Buruan, Satria! Atau, saya yang bakalan ngunyel-ngunyel punya kamu sampe lemes!" Rain yang dibuat darah tinggi, kembali beranjak dari posisi berbaringnya sambil menjerit kesal pada Satria. Diteriaki oleh Rain, wajah Satria semakin meringis. Tak ingin membuat Rain semakin kesal dan marah-marah, dengan gerakan yang cepat Satria mendorong tubuh Rain hingga bersandar pada kepala ranjang. Belum cukup sampai disitu, Satria juga menaiki tubuh Rain dan memajukan wajahnya pada wajah wanita itu. "Sabar, jangan emosi, Nyonya. Saya mulai sekarang permainannya," ucap Satria dengan deru napas yang mulai memburu. Selain berhasrat, napas memburu Satria juga dipicu oleh rasa gugup yang saat ini menguasai otak dan tubuhnya. Setelah meminta Rain untuk tidak emosi, Satria memagut bibir wanita itu dengan lembut dan melumatnya. Dicium dan dibungkam bibirnya oleh Satria, Rain spontan memejamkan matanya. Bahkan tangannya bergerak, menahan tengkuk leher Satria agar tak buru-buru melepaskan pagutan mereka. "Eum, egh, uh, Sa-Satria, aku nggak nyangka kalau kamu sepengalaman ini. Cepat, cepat lakukan itu...." Bersambung....Andrean yang tak sengaja melihat Rain mendatangi rumah sakit di pagi hari tersebut, memutuskan untuk membuntuti lantaran merasa penasaran.Pria itu ingin tahu, siapa orang yang dikunjungi oleh mantan istrinya di pagi buta tersebut."Rain, ngapain lagi dia ke sini? Kemarin pulang malam dan sekarang pagi-pagi banget udah datang lagi ke rumah sakit ini," gumam Andrean yang begitu penasaran.Saking penasarannya, Andrean mengikuti langkah Rain sampai ke depan ruangan VVIP.Melihat Rain berhenti di depan ruangan tersebut dan berbincang-bincang dengan Tuan Arya dan orang tua angkatnya, kening pria itu berkerut."Bukannya orang itu Arya Mandala, pemimpin Mandala Prima Grup. Kenapa bisa deket sama Rain?" kata Andrean yang bersembunyi.Rasa penasaran pria itu semakin meletup-letup. Ia menjadi kepo dengan segala urusan mantan istrinya.Penyesalan karena bercerai dari Rain kini semakin besar dan membuatnya bersikeras ingin memiliki wanita itu lagi."Ada hubungan apa Rain sama Tuan Arya Mandala da
Pagi-pagi sekali, Rain yang sudah membersihkan diri dan berpakaian rapi, melangkah menuju kamar Tasya. Ia membangunkan sahabat sekaligus saudaranya yang terlelap di balik selimut tebal."Sya, bangun. Anterin aku ke rumah sakit," kata Rain. Tangannya bergerak menarik selimut yang menutupi tubuh Tasya yang agak bulat seperti bola sepak yang agak kempes.Tasya yang benar-benar masih terlelap, menggeliat kecil tanpa membuka matanya sedikit pun. Bahkan, tubuh gadis tua itu semakin meringkuk di atas tempat tidur."Sya, buruan bangun! Atau aku pergi sendiri, biar kamu dimarahin Ayah dan Bunda!"Berulang kali membangunkan Tasya, tetapi wanita itu tak juga membuka mata, hingga Rain menjadi kesal dibuatnya.Di pinggiran tempat tidur tersebut, Rain menghela napas kasar. Lalu kembali menutupi tubuh Tasya yang tidur dengan posisi meringkuk.Setelah itu, ia pun memesan taksi online dan minta diantarkan ke rumah sakit. Menunggu Tasya bangun, yang ada tengah hari baru berangkat."Emang bener-bener si
"Rain, ngapain malem-malem di sini? Kamu sakit?!"Rain dan Tasya yang berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit, seketika menghentikan langkah mereka dan menatap ke arah sumber suara.Melihat wajah orang yang menyapa dan bertanya padanya, Rain menghela napas pelan dan membuang muka, tak mau melihat orang itu lebih lama.Sedangkan Tasya, seketika mencebikkan bibirnya. Menunjukkan jika ia tak suka dan sangat malas melihat wajah menyebalkan orang tersebut.Andrean yang baru keluar dari ruangan rawat ibunya, tersenyum kecil saat melihat wajah Rain yang dirindukannya beberapa minggu terakhir."Rain, kamu sakit?"Tak dipedulikan oleh Rain dan Tasya, Andrean kembali bertanya sembari melangkah mendekati mantan istrinya tersebut.Namun, baru saja mendekat, Tasya sudah lebih dulu menghalangi. Wanita bertubuh agak pendek itu menarik tubuh Rain, tak membiarkan Andrean mengganggunya."Rain lagi gak enak badan, jadi gak usah deket-deket," kata Tasya dengan mode julid on.Sepasang mata gadis tua i
"Akhirnya... aku dapet donor darah buat Satria!"Suara heboh Tasya yang katanya menemukan pendonor untuk Satria membuat Pak Anjas, Bu Karina, Rain, dan Bu Yohana langsung menatap ke arahnya.Mereka semua menatap serempak, hingga Tasya yang menyadari jika saat ini berada di rumah sakit langsung menutup mulutnya dan menyengir kuda."Hee, maaf. Aku dapet donor darah buat Satria ini," kata Tasya sambil menunjuk layar ponselnya yang menyala."Kamu serius, Sya? Gak lagi bercanda, kan?" tanya Rain memastikan. Matanya yang memerah dan sembab menatap serius wajah sahabatnya.Ditanya, Tasya yang memang sedang serius dan tidak bercanda itu pun menganggukkan kepalanya dengan cepat."Hmm, aku serius. Ini ada dua bersaudara yang punya golongan darah O negatif dan bersedia donor. Tapi ada syaratnya, mereka minta bayarin semua biaya rumah sakit ibu mereka yang menderita gagal ginjal dan dirawat di Rumah Sakit Sido Mulyo!""Setujui, cepat setujui. Bukan cuma biaya rumah sakit yang akan kulunasi, ibuny
Tuan Seno yang berada di atas ranjang dengan tubuh nyaris polos, menyunggingkan sudut bibirnya saat melihat sang istri keluar dari kamar mandi. Tubuh polosnya yang sedikit bulat, dibalut dengan handuk singkat terlihat begitu menggoda dan menggairahkan."Udah bener-bener selesai datang bulannya?" tanya Tuan Seno, sepasang matanya menatap lekukan tubuh istrinya tanpa berkedip.Sudah seminggu tidak melakukan hubungan intim dan menikmati kemontokan istrinya. Kini pria paruh baya itu sudah tidak tahan ingin memuaskan hasratnya dan juga menyenangkan sang istri yang memang selalu tergila-gila dengan keperkasaannya.Diana, istri dari Tuan Seno yang posesif dan pencemburu, mengangguk sembari melangkah pelan mendekati sang suami yang duduk bersandar di kepala ranjang.Di pinggiran ranjang, wanita paruh baya yang masih cukup cantik dengan tubuh montok itu melepaskan handuk yang melilit tubuh polosnya. Lalu melemparkan handuk tersebut secara asal ke lantai.Selanjutnya, dengan tubuh telanjang bul
"Pasien kehilangan banyak darah, saat ini sedang melakukan transfusi. Tapi, ada kendala yang ingin kami sampaikan, golongan darah pasien O negatif. Dan stok darah dengan golongan O negatif hanya ada dua kantong di rumah sakit ini. Kami sudah menghubungi rumah sakit lain dan juga pusat, tapi belum juga mendapatkan darah dengan golongan tersebut." Degh! Melotot lebar sepasang mata Bu Yohana. Tubuhnya melemas dan kembali terduduk di kursi tunggu IGD tersebut. Golongan darah O negatif, bukankah golongan tersebut golongan darah langka? Batin wanita paruh baya itu. "Golongan darah saya O negatif, Suster. Ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan!" kata Tuan Arya, menyodorkan pergelangan tangannya ke hadapan perawat yang berdiri di depan pintu IGD. Perawat tersebut memandang wajah tegang dan cemas Tuan Arya dengan kening berkerut. Lalu ia pun menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum. "Baiklah, kita lakukan pemeriksaan sekarang. Jika tidak ada masalah, bisa langsung dilakukan trans
"Rain... Mama sakit, dia stroke dan lumpuh. Dia butuh kamu sekarang, Rain!" Rain yang bergandengan tangan dengan Satria, spontan menghentikan langkahnya dan berbalik badan.Kening wanita yang tengah hamil muda itu berkerut dalam, membuat kedua alisnya bertautan. Sedangkan sepasang matanya menatap
"Oiya, Rain. Aku punya berita bagus, hampir aja lupa ngasih tahu kamu!"Tasya yang semula jengkel, kini menoleh dan berbicara serius pada Rain, membuat kening wanita hamil itu otomatis berkerut dalam. "Berita apaan?" tanya Rain sambil menatap wajah Tasya yang terlihat begitu serius. "Penasaran, p
Pagi-pagi sekali, Tasya sudah mendatangi apartemen Rain. Gadis tua itu penasaran ingin melihat seperti apa hubungan sahabatnya dan Satria yang dikerjainya kemarin. "Selamat pagi... buka pintu dong! Tasya yang imut, kiyut dan menggemaskan datang berkunjung!" Di depan pintu apartemen, Tasya memangg
"Kamu mau gak tinggal di sini lagi kayak dulu?" Satria yang merapikan kasur di lantai, mengangkat wajahnya dan menoleh pada Rain yang berbicara. "Kamu ngomong apa?" tanya Satria dengan kening berkerut, tak jelas mendengar perkataan yang diucapkan Rain. Di tengah-tengah ranjang, Rain yang tu







