LOGIN
"Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung."
Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang meja, tepat di hadapannya. Wanita cantik itu adalah Rain Cassandra, sengaja datang ke tempat hiburan malam untuk menemui Satria, seorang pria bayaran yang direkomendasikan oleh sahabatnya. Kata sahabatnya, Satria Rendra adalah pendatang baru di club malam tersebut. Jelas, jika kondisi fisik dan kesehatannya jauh lebih baik dari para pria bayaran yang sudah lama bekerja di sana. Selain itu, beberapa hari yang lalu Rain juga sempat melihat Satria di rumah sakit. Pada saat itu, keadaan Satria sangat kacau, ia menangis dan mengiba di hadapan dokter yang hendak menghentikan pengobatan ibunya. "Saya mohon, ibu saya harus tetap dirawat. Saya akan mencari uang itu asal terapi ibu saya tidak dihentikan, Dokter. Saya akan berusaha untuk melunasinya minggu ini. Tolong saya... Saya siap melakukan apapun dan saya janji akan melunasi semuanya!" Plak! Tamparan keras itu mendarat di wajah Satria yang dibanjiri air mata. "Pekerja rendahan sepertimu mau melunasi biaya pengobatan? Hey, gembel, ini nominalnya 100 juta lebih. Mana mungkin kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu seminggu!" Satria masih berlutut di kaki pria tua berjas putih itu. "Hanya dokter dan pihak rumah sakit harapan saya satu-satunya. Jika pengobatannya dihentikan, Ibu saya bisa meninggal. Saya mohon tolong saya, Dokter. Saya berjanji akan segera melunasi seluruh biayanya." "Ah, persetan dengan ibumu! Cepat pergi dari sini, dasar gembel peminta-minta!" Tanpa perduli pada Satria, Dokter itu pun merapikan jas putih yang dipakainya. Lalu, pergi dari tempat itu. “Dokter….” . . . Mengingat kembali kejadian di rumah sakit beberapa hari yang lalu, Rain menyunggingkan sudut bibirnya. "Kalau setuju, kamu bisa tandatangani kontrak kerja sama kita," ucap Rain. Kedua tangannya dilipat di dada, sedangkan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Melalui kacamata hitam itu, Rain memandangi wajah tampan Satria yang terlihat polos dan kalem. Ia yakin sekali, jika pemuda 21 tahun itu belum berpengalaman bekerja di tempat hiburan malam. Semua itu terlihat jelas dari ekspresi dan gelagat gugup bercampur takut yang ditunjukkan oleh Satria pada para tamu yang datang. Mendengar tawaran yang diberikan wanita kaya di hadapannya, Satria mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sesaat ia memejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Bayangan ibunya yang saat ini sedang stroke dan lumpuh, juga ketiga adiknya yang membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan juga makan, membuat Satria mau tak mau harus mengambil keputusan dengan cepat. "Ahh, persetan siapa dia. Kesempatan gak bakalan datang dua kali, yang penting aku bisa bayar pengobatan ibu. Dan, biaya sekolah adik-adik juga bisa tercukupi," kata Satria dalam hati. Pemuda itu kembali menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah, saya setuju, Nyonya!" sahutnya dengan yakin. Wajah tegangnya terlihat semakin tegang, bahkan kedua tangannya yang terkepal erat di pahanya, kini dibanjiri oleh keringat. Mendengar jawaban yang diberikan oleh Satria, sudut bibir Rain tersungging. Merasa puas dengan jawaban yang ia terima. Tak sia-sia sahabatnya merekomendasikan Satria. Dengan iming-iming uang, pemuda yang berstatus sebagai tulang punggung keluarga yang sedang terhimpit ekonomi itu akhirnya setuju dengan tawarannya. "Baiklah, sekarang silahkan baca poin-poin penting yang tertera di dalam surat kerja sama kita. Kalau sudah benar-benar oke, kamu bisa langsung tandatangani!" Satria mengangguk. Tangannya bergerak pada berkas yang ada di atas meja, lalu membacanya dengan teliti. Lima menit kemudian, Satria mengangkat kepalanya dan menatap pada Rain. Keningnya berkerut, membuat kedua alisnya yang tebal bertautan. Kontrak kerja sama itu berisi tiga poin penting, pertama ia tidak boleh membocorkan hubungan kontrak mereka pada siapapun. Kedua, ia harus siap kapanpun saat dibutuhkan, dan yang ketiga kontrak kerja sama mereka akan berakhir setelah Rain mengandung. Jika Satria melanggar poin pertama dan kedua, maka ia harus membayar denda sebesar 250 juta. Cukup mengerikan bukan? 250 juta bukanlah nominal yang kecil bagi Satria, jadi Rain sudah memperkirakan jika pemuda itu tidak akan berani ingkar janji. "Gi-gi-gimana kalau Nyonya gak hamil setelah berhubungan sama saya?" tanya Satria. Suaranya tergagap dan terdengar gugup. Rain tersenyum tipis. "Kita gak akan tahu hasilnya kalau gak dicoba," balasnya dengan santai sembari membuka kacamata hitamnya. Begitu kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung Rain dilepaskan, Satria meneguk ludah. Kegugupannya semakin bertambah, ternyata wanita itu jauh lebih cantik jika tidak memakai kacamata. "Terus gimana? Kalau Nyonya gak hamil dalam waktu dek—" "Kalau dalam waktu setengah tahun saya gak hamil, maka saya akan membebaskan kamu. Tapi ingat— sebagai syarat tambahan, selama setengah tahun ini kamu gak boleh meniduri wanita lain selain saya!" lontar Rain dengan suaranya yang datar, dingin, tetapi terdengar santai. Wanita itu menatap Satria yang menyimak dan mencerna perkataannya. "Bagaimana? Kamu sanggup?" lanjut Rain. Satria mengangguk cepat. Setuju dengan syarat tambahan yang diberikan oleh Rain. "Saya setuju dan sanggup, Nyonya. Saya janji bakal berhenti kerja dari tempat ini dan gak akan berhubungan dengan perempuan manapun selain Nyonya." Satria menimpali perkataan Rain dengan begitu bersungguh-sungguh. Inginnya Satria memang seperti itu, lebih baik melayani seorang wanita dari pada harus berganti-ganti pelanggan setiap malam. Sebenarnya ia jijik pada wanita-wanita kurang belaian yang ada di tempat laknat itu. Bahkan, setengah bulan berada di sana, Satria hanya menerima pelanggan yang minta di temani minum dan mengobrol, tidak pernah menerima tawaran tidur karena takut tertular penyakit mematikan. Namun, kali ini ia setuju lantaran melihat penampilan Rain yang anggun dan elegan. Ia yakin sekali jika wanita itu bukanlah wanita nakal seperti kebanyakan wanita yang datang ke tempat hiburan itu. Terlebih lagi, bayaran yang dijanjikan memang begitu menggiurkan. Biaya keuangannya dan segala kebutuhannya akan ditanggung oleh wanita itu selama ia bekerja, yang artinya semua biaya pengobatan ibunya dan juga kebutuhan ketiga adiknya akan tercukupi tanpa harus bekerja sana sini lagi. "Kalau gitu, saya tandatangan sekarang, Nyonya," kata Satria. Ia meraih pulpen dan segera membubuhkan tandatangannya di atas hitam putih surat kerja sama tersebut. Melihat Satria benar-benar membubuhkan tandatangannya, Rain kembali tersenyum tipis, senyuman yang nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan jeli. Setelah membubuhkan tandatangannya, Satria memberikan kontrak perjanjian itu pada Rain. "Sudah, Nyonya," kata Satria dengan suaranya yang memang soft terdengar begitu sopan. Sikapnya yang sopan, membuat Rain semakin yakin jika pemuda itu adalah pria baik-baik, dan terpaksa bekerja di tempat seperti itu. "Oke, kalau gitu kita resmi kerja sama. Jangan lupa, besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Bersambung....Di ruangan khusus tempat Nyonya Laras di rawat selama ini, tampak wanita separuh baya yang mengalami gangguan jiwa itu tak hentinya menjerit-jerit, menolak meminum obat penenang yang diberikan suaminya dan dokter. "Ayo diminum dulu obatnya, nanti setelah minum obat baru main lagi!" Tuan Arya berbicara pelan, berusaha membujuk istrinya yang sejak tadi tak hentinya tantrum dan mengamuk. Namun, Nyonya Laras yang berlari-lari di dalam ruangan khusus itu tak merespon perkataan suaminya. Yang ada, ia malah semakin tantrum tak terkendali. "Ayo, minum dulu obatnya!" kata Tuan Arya lagi, kembali berbicara pelan dan lembut pada istrinya. "Gak mau, gak mau minum obat! Aku mau nungguin Mandala, kalau dia udah datang baru minum obat sama-sama!" kata Nyonya Laras, menjerit pada Tuan Arya yang memaksanya minum obat. Mendengar perkataan istrinya yang tak henti menyebutkan nama putra mereka yang hilang 20 tahun silam, Tuan Arya menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Melihat keadaan
"Kamu mau gak tinggal di sini lagi kayak dulu?" Satria yang merapikan kasur di lantai, mengangkat wajahnya dan menoleh pada Rain yang berbicara. "Kamu ngomong apa?" tanya Satria dengan kening berkerut, tak jelas mendengar perkataan yang diucapkan Rain. Di tengah-tengah ranjang, Rain yang tubuhnya telanjang bulat itu menggigit bibir, sedangkan sepasang matanya menatap Satria yang juga menatapnya. Merasa perkataanya tidak di dengarkan, Rain pun menggelengkan kepalanya pelan. Ia yang saat ini sedang mengandung, berubah menjadi sosok yang sensitif dan mudah sekali merajuk. "Ngomong apa tadi, aku gak terlalu denger. Tinggal apa? Hmm!" Satria kembali bertanya sembari melangkah mendekat dan duduk di pinggiran ranjang. Bibir pemuda itu bertanya sedangkan tangannya bergerak, menyentuh dagu Rain dengan lembut. Ditanya, Rain kembali menggelengkan kepalanya. "Gak ada, lupain aja," katanya. Melihat respon dan sikap Rain yang begitu berbeda dengan Rain yang dikenalnya sebel
Di depan ruangan IGD di sanalah kini Andrean berada. Ia mondar mandir seperti setrikaan di depan ruangan tersebut, menunggu kabar dari dokter dan perawat yang menangani ibunya. Wajah pria itu terlihat tegang dan cemas, takut terjadi hal buruk pada Bu Sela yang mendadak hilang kesadaran beberapa waktu lalu. "Semoga keadaan mama baik-baik aja," gumam Andrean sembari memejamkan matanya sesaat. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha menetralkan perasaannya yang sedang kacau. Di saat sedang kacau dan mengalami kesulitan seperti saat ini, biasanya Rain yang selalu menemani dan memberikan semangat pada pria itu. Namun kini ia sendiri dan tak ada yang perduli. "Seandainya ada kamu, semuanya pasti gak akan kayak gini, Rain. Aku bener-bener nyesel udah nyakitin kamu," ucap Andrean dengan pelan. Saking pelannya, suaranya lebih layak disebut sebagai gumaman. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan IGD terbuka dan tampaklah dokter yang keluar dari ruangan tersebut
"Ouch... aku udah gak tahan, aku ke-ke-keluar, Sayang...." Tubuh Rain menegang hebat di atas ranjang. Napasnya memburu, sedangkan jemarinya mencengkeram seprai kuat-kuat. Pemanasan gila yang dilakukan Satria benar-benar membuatnya kehilangan kendali.Cairan hangat yang cukup banyak keluar dan muncrat begitu saja, membuat Rain menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Dada wanita yang tengah hamil muda itu naik turun dengan cepat, sedangkan tubuhnya yang semula menegang, kini melemas perlahan.Melihat banyaknya cairan hangat yang keluar dari milik Rain, Satria terdiam sesaat. Ia meneguk ludah dengan kasar sedangkan sepasang matanya tak lepas dari milik Rain yang berkedut-kedut. Beberapa saat kemudian, Satria tiba-tiba tertawa sambil menepuk pelan paha putih mulus Rain. "Segitu enaknya ya? Sampe squirting kayak gini?" kata Satria menggoda.Rain yang merasakan lemas setelah melakukan pelepasan penuh kenikmatan itu, hanya merespon perkataan Satria dengan gelengan kepala. Sebenarnya, wa
Di kediaman Damara, Andrean dibuat panik oleh Bu Sela yang tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan berakhir hilang kesadaran. Dengan wajah memerah karena panik dan mata melotot, Andrean mendekati ibunya yang hilang kesadaran dengan punggung bersandar pada punggung sofa. "Ma, bangun... Mama kenapa?" kata Andrean sembari merengkuh tubuh Bu Sela dan menepuk-nepuk pipinya, berusaha membangunkan ibunya yang hilang kesadaran.Bu Sela yang benar-benar hilang kesadaran, tentu tak merespon teriakan panik Andrean. Bahkan tak bergerak sama sekali."Pelayan!" seru Andrean pada pelayan yang ada di rumahnya. "Supir, siapkan mobil!" lanjutnya. Tak butuh waktu lama, para pelayan dan supir keluarga Damara berlarian mendekat, menghampiri majikan mereka yang memanggil. Melihat Nyonya majikan mereka hilang kesadaran, para pelayan dan supir pun terkejut, mereka semua kaget dan bertanya-tanya saat melihatnya. "Astaga, Nyonya kenapa, Tuan?" "Apa yang terjadi sama Nyonya besar?""...." "Cepat siapkan mo
Di dalam mobilnya, Tasya tak hentinya tertawa seperti orang gila. Gadis tua itu menertawakan Rain dan Satria yang dikerjainya. "Haha... sekarang mereka pasti udah ketemuan! Salah sendiri otaknya sama-sama lemot!" kata Tasya. Rain dan Satria yang terjerat hubungan rumit, tetapi Tasya yang heboh. Bahkan dengan sengaja membohongi Satria agar bisa berdekatan dengan sahabatnya. "Semoga aja setelah ketemu kali ini hubungan mereka membaik. Jengkel banget lihat mereka yang saling suka tapi diem-dieman dan bikin sakit diri sendiri!" Tasya berharap, hubungan Satria dan Rain membaik setelah ini. Sebagai sahabat sekaligus saudara satu-satunya yang dimiliki Rain, ia ingin saudaranya itu bahagia dengan pria yang dicintai juga mencintainya. "Kalau kali ini masih tetap gak berhasil, aku bakal coba cara yang lebih ekstrem lagi besok!"***"Aku temenin, mau?"Degh! Kalimat tawaran yang keluar dari bibir Satria membuat jantung Rain berdetak dua kali lebih cepat.Wanita yang sedang hamil muda itu k







