Share

25. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-04-10 19:54:01

"Di mana Rain?"

Andrean yang mendatangi butik, menanyakan keberadaan Rain pada Mira yang sedang melayani pelanggan.

Ditanya oleh Andrean, Mira menghentikan kegiatannya sejenak. Ia mengalihkan pandangannya dan menatap pada suami dari bosnya.

"Mbak Rain ada di atas, lagi istirahat," kata Mira. Menjawab pertanyaan Andrean dengan nada bicaranya yang terdengar ketus, malas meladeni pria redflag seperti itu.

Setelah tahu di mana keberadaan Rain, Andrean segera menuju undakan tangga dan pergi ke l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   176. PPPN

    Tuan Arya yang duduk di sofa tunggal ruangan VVIP tempat istrinya rawat, tampak sedang sibuk memeriksa berkas laporan keuangan perusahaan. Berulang kali pria separuh baya itu menghela napas. Gurat lelah terlihat jelas di keningnya yang berkerut-kerut. "Haih... seandainya Narendra ada di sini, mungkin sekarang aku bisa agak santai," kata Tuan Arya dengan pelan. Pria itu membayangkan, seandainya putranya tidak hilang, mungkin saat ini hidupnya tidak akan sesepi dan sesulit saat ini. Putranya yang sudah beranjak dewasa, mungkin akan membantu dan mengurangi beban perusahaan yang dipikulnya sendirian selama ini. Merasa lelah dan mengantuk, Tuan Arya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Lalu mendongak dan mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan dengan kasar. "Tuhan... anakku hilang, istriku gila. Apa belum cukup ujian yang Kau berikan selama ini?" keluh Tuan Arya yang merasa lelah menghadapi semua masalah yang menimpa keluarga kecilnya. Di saat pria separuh baya itu s

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   175. PPPN

    "Ada sesuatu yang mau aku tunjukkin ke Om!" Rain berbicara sembari meraih dan membuka tas jinjingnya. Lalu, mengeluarkan kalung milik Satria yang sebelumnya ia simpan. Wanita hamil itu menunjukkan kalung sang kekasih pada Pak Anjas dan meminta pria separuh baya itu untuk memeriksanya. Melihat kalung yang ditunjukkan Rain, Pak Anjas langsung beringsut dari duduknya. Keningnya spontan berkerut, membuat kedua matanya agak sedikit menyipit. Lalu, tangannya pun bergerak mengambil alih kalung tersebut dari putri angkatnya. "Kalung ini punya siapa, Rain?" tanya Pak Anjas sembari memperhatikan pola kalung tersebut dengan jeli. "Punya Satria, Om." Pak Anjas mengalihkan pandangannya pada Rain yang mengatakan jika kalung tersebut adalah milik Satria, pemuda gigolo miskin yang dibayar Rain menanam benih di rahimnya. "Serius ini punya calon suami kamu yang kerjanya jadi gigolo itu?" tanya Pak Anjas lagi memastikan. Kepala Rain mengangguk, sedangkan sepasang matanya membalas tatapan Pak Anj

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   174. PPPN

    Di sepanjang perjalanan pulang ke kediaman utama Wijaya, Tasya tak henti-hentinya mengumpat dan memaki Andrean yang menurutnya benar-benat tak tahu diri. Sudah diangkat derajatnya dari kemiskinan, tetapi tetap saja besar kepala dan menyalahkan Rain karena telah menutupi identitasnya. Bahkan, menganggap jika semua yang didapatkannya murni hasil kemampuannya sendiri. "Cuih! Beneran gak tahu diri mantan suami kamu itu. Dia kira bisa sukses tanpa kamu dan perusahaan Wijaya Grup! Lihat aja, besok aku bakal nyuruh ayah buat mutusin kerja sama perusahaan, biar tahu rasa dan tahu diri dia!" Mendengar umpatan dan makian Tasya di sepanjang jalan, Rain yang mengemudi itu pun dibuat pusing. Ingin sekali rasanya ia menyumpal mulut sahabatnya itu agar tidak berisik. "Awas aja, kalau ketemu lagi, bakal kuludahin mukanya yang jelek itu!" kata Tasya menggebu-gebu."Udah deh, Sya. Bisa diem gak sih? Kepalaku pusing denger makian kamu yang gak ada habisnya." Dipinta diam oleh Rain, mengerucut bibir

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   173. PPPN

    "Tunggu!"Satria yang baru berjalan beberapa langkah, seketika menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Dokter Bagas yang berjalan mendekat ke arahnya. Melihat Dokter Bagas mendekat, kening Satria spontan berkerut. Pikirnya, mau apalagi Dokter separuh baya itu?"Ada apa, Dok?" tanya Satria. Sedangkan sepasang matanya masih saja menatap Dokter Bagas yang berhenti satu langkah dari posisinya berada. Dokter Bagas yang ditanya, tak memberikan jawaban. Yang ada, tangannya justru memanjang ke arah kepala Satria.Disentuh kepalanya, tubuh Satria seakan mengecil. Bahkan keningnya semakin berkerut, dan wajahnya tertunduk. Tubuh pemuda gigolo privat itu seketika menegang, bahkan lebih tegang dari miliknya yang berada di balik celana jin yang dipakainya. "Haih, pasti kerjaan Nyonyah Laras." Dokter Bagas berbicara sembari mengambil sesuatu dari kepala Satria, lalu menyodorkan telapak tangannya pada pemuda tersebut. Di telapak tangan pria separuh baya itu terdapat sebuah jepit rambut

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   172. PPPN

    "Kalau aku jujur dari awal, apa yang bakal kamu lakuin? Hmm! Bakal bersikap baik sama aku? Atau—" Rain menjeda kalimatnya, sedangkan sepasang matanya menatap Andrean dengan tatapan yang sulit diartikan. Gluk! Melihat tatapan mata dan juga ekspresi Rain yang menurutnya menyeramkan, Andrean meneguk ludah dengan bersusah payah. Niatnya menghampiri wanita itu sebelumnya karena ingin meminta penjelasan dan juga membuat mantan istrinya merasa bersalah. Tetapi sekarang, dirinya malah dibuat ketakutan. "Kenapa aku baru sadar sekarang kalau aura Rain bener-bener menakutkan? Aku pikir selama ini dia lemah lembut dan gak bisa apa-apa," batin Andrean menjerit panik. Jantungnya tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Saking cepatnya, seperti mau melompat keluar dari tempatnya berada. Perlahan, Andrean menganggukkan kepalanya. "Kalau aku tahu dari awal, aku gak bakal berani nyakitin kamu dan bersikap lancang. Mama juga gak akan kasar dan pasti bakal sayang banget sama kamu." Rain

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   171. PPPN

    Siang itu, Rain yang di temani Tasya, pergi ke salah satu mall dan berbelanja. Wanita hamil itu memilihkan kemeja untuk Satria yang akan kembali masuk kuliah mulai minggu depan. "Yang ini bagus gak sih, Sya?" Rain bertanya pada Tasya sembari menunjukkan sebuah kemeja berwarna hijau. Tasya yang ikut memilih dan memilah pakaian itu menggeleng. Tak suka dengan warna kemeja yang ditunjukkan oleh sahabatnya. "Gak bagus?" Kepala Tasya kembali menggeleng, "Perasaan bocah itu gak pernah pakai warna kayak gitu deh, Rain. Mendingan beliin kemeja warna kesukaannya, atau warna hitam biar kelihatan macho!" Mendengar perkataan Tasya, bibir Rain mengerucut. Entah kenapa, ia tiba-tiba menginginkan kemeja tersebut. Namun, karena sahabatnya mengatakan tidak bagus, ia pun meletakkan kemeja tersebut kembali ke tempatnya semula. Lalu pilihannya jatuh pada kemeja warna hitam polos yang ditunjuk Tasya sebelumnya. "Ini kan yang bagus?" kata Rain masih dengan bibirnya yang cemberut. Tasya mengangguk,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status