LOGIN"Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!"
Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedangkan sudut bibirnya tersungging. Ia merasa jika reaksi pemuda yang ada di hadapannya sangat berlebihan. "Sa-saya gak bisa, Nyonya. Hotel permata itu kan khusus buat orang-orang kaya. Saya gak mau ke sana," kata Satria. Suaranya tercekat di tenggorokan. Hotel permata adalah hotel bintang lima, biasa dihuni oleh kalangan orang-orang kaya. Tak jarang, hotel itu ditempati oleh artis-artis ibu kota yang terkenal. Jadi, mana mungkin Satria layak menginjakan kakinya di tempat seperti itu. "Kita janjian dan ketemu di hotel yang biasa aja. Harganya lebih murah dan lebih enak," lanjut Satria. Kembali berbicara pada Rain yang menatapnya dengan ekspresi tak biasa. Melihat tingkah Satria yang norak dan juga begitu banyak mulut, Rain menghela napas dengan kasar. Wanita itu mendadak jengkel pada Satria. "Di penginapan X aja, gimana Nyonya?" Swos! "Kamu pikir saya layak main di penginapan murahan? Atau, kamu mengira kalau saya gak mampu sewa kamar di hotel permata? Kamu jangan ngeremehin saya, ya!" Rain berbicara dengan suaranya yang datar dan tertahan. Sedangkan tangannya mengeluarkan amplop coklat yang agak tebal, lalu melemparkannya pada Satria. Gluk! Ekspresi wanita itu terlihat marah, hingga Satria kembali meneguk ludah dengan bersusah payah dibuatnya. "Bu—" "Uang itu untuk uang muka, beli pakaian yang layak, parfum yang wangi dan juga dandan yang rapi. Jangan lupa beli obat kuat, saya gak mau hamil kalau mainnya gak bikin saya puas!" Rain memotong perkataan yang hendak diucapkan oleh Satria dengan cepat Rain tak ingin Satria terlalu banyak bicara. Karena yang ia butuhkan adalah benih dari pemuda itu, bukan perkataan omong kosong yang dapat membuatnya tersedak. Tangan Satria menahan amplop berisi uang yang menempel di dadanya. Sikap Rain benar-benar kasar dan arogan untuk seorang wanita, tak ada lembut-lembutnya, apalagi manis seperti air lemineral. Namun, Satria yang saat ini benar-benar membutuhkan uang, tak dapat melakukan apa-apa. Ia hanya bisa patuh dan membiarkan Rain menginjak-injak harga dirinya. Bagi Satria, toh harga dirinya memang sudah jatuh sejak pertama kali ia memutuskan menjadi pria penghibur di club tersebut. "Kamu ngerti 'kan maksud saya?" tegur Rain pada Satria yang terdiam di hadapannya. Kepala Satria mengangguk, sedangkan ekspresinya menunjukkan rasa tak enak. Tetapi ia tetap tersenyum kaku pada wanita itu. "Iya, Nyonya. Saya ngerti," balas Satria. "Bagus! Kalau gitu kamu atur semuanya, besok malam jangan lupa datang ke hotel yang saya sebutkan tadi!" Satria kembali mengangguk. "Maaf sebelumnya, nomor telepon Nyonya mana? Biar saya enak ngehubunginnya!" Pemuda itu memberanikan diri untuk meminta nomor telepon Rain. Ia tak ingin di buat bingung karena tak memiliki kontak clientnya. Tanpa kata, Rain menyodorkan telapak tangannya pada Satria, meminta ponsel pemuda itu dan ingin memasukan nomor teleponnya. Dengan cepat, Satria merogoh saku celananya dan memberikan ponselnya pada Rain. Namun, Rain justru dibuat menghela napas dengan kasar. Bagaimana tidak? Ponsel yang disodorkan Satria padanya begitu butut, bahkan layarnya terdapat beberapa garis retak. Pikir Rain, apakah benda pipih itu masih layak disebut sebagai ponsel? "Aduh, kamu aja deh yang masukin nomornya. Pusing saya lihat hp kamu," kata Rain dengan ketus. Mendengar perkataan bernada ketus Rain, Satria meringis. Lalu mengetikkan nomor yang disebutkan. "Udah, Nyonya," kata Satria. "Hmm, jangan lupa besok malam! Saya tunggu kamu di hotel nomor 7!" Setelah Satria selesai mencatat nomornya, Rain melangkah pergi dari club tersebut. Tak lupa membawa map berisi perjanjian kontrak antara dirinya dan Satria. *** Keesokan harinya, tepatnya pada pukul setengah tujuh malam, Rain yang sudah berada di dalam kamar hotel permata nomor tujuh, meraih ponselnya yang berdering di atas nakas. Dilihatnya panggilan itu berasal dari nomor baru, dan sepertinya nomor itu adalah milik Satria, pemuda bayaran yang dipanggilnya. "Ada apa?" "[Nyonya, saya udah di lobi hotel. Bisa gak kalau Nyonya susulin saya ke sini? Atau kirim orang buat nyamperin.]" Mendengar perkataan bernada soft yang berada di ujung telepon, Rain menghela napas panjang. "Kenapa gak langsung ke kamar nomor tujuh, saya udah nungguin kamu dari tadi!" Rain yang jengkel berbicara dengan suara tertahan dan terdengar kesal pada Satria. "[Saya malu dan takut, Nyonya. Hotelnya rame dan besar banget, saya belum pernah masuk ke tempat kayak gini sebelumnya.]" Kembali menghela napas panjang Rain dibuatnya. Satria benar-benar payah, bekerja tidak totalitas dan juga tidak profesional. "Ya udah, kamu tunggu dibawah, sebentar lagi saya jemput!" Tut, tut! Rain memutuskan sambungan telepon tersebut. Lalu meraih cardigannya yang tergantung dan memakainya. Meskipun kesal pada Satria yang tidak dapat diandalkan, tetapi ia tetap keluar dari kamar itu, menjemput Satria yang berada di lantai dasar gedung hotel tersebut. Beberapa saat kemudian, Rain yang tiba di lantai dasar, mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Satria yang menunggunya. "Di mana bocah sialan itu?" gumam Rain. Tak mendapati keberadaan Satria, Rain pun menghubungi nomor pemuda itu dan menanyakan keberadaannya. "Satria, kamu di mana?" "[Saya di luar, Nyonya. Di deket pintu!]" sahut Satria yang katanya berada di luar area hotel. Tanpa memutuskan sambungan telepon itu, Rain melangkah menuju pintu, menghampiri seorang pria yang berdiri memunggungi pintu masuk. "Satria!" Rain menyebut nama Satria sambil menepuk pundak pria yang memunggungi pintu. Di tepuk pundaknya, pria itu pun menoleh, hingga mata Rain melotot lebar dibuatnya. Bahkan, ekspresi kagetnya tergambar dengan sangat jelas. "Astaga, kamu...." Bersambung...."Argh... Papa, Om Anjas, Tante Tasya dan Om Ares mesum di teras rumah!"Sruk!Bleduk!Terkejut mendengar teriakan keras Satria yang berasal dari arah pintu utama, Tasya yang duduk di atas pangkuan Ares spontan melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher pria kaku tersebut.Tak ayal lagi, Tasya yang hilang keseimbangan berakhir jatuh terhempas di lantai yang dingin."Aw... sakitnya bokongku!" Tasya yang terduduk di lantai merintih sambil menyentuh bokongnya yang terasa sakit.Ares yang tak kalah gugup dan panik beranjak dari duduknya dengan gerakan yang cepat. Lalu merapikan celananya yang agak kusut karena perbuatan Tasya sebelumnya.Wajah pria kaku itu berubah pucat. Bingung harus melakukan apa saat ini. Terlebih lagi saat dirinya mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke teras rumah itu."Astaga, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Semuanya jadi kacau gara-gara perempuan aneh ini," batin Ares menggerutu sebal, sedangkan matanya menatap Tasya yang masih terduduk
"Astaga, apa yang kamu lakukan? Jangan pegang-pegang pisang saya!"Sepasang mata Ares seketika melotot lebar saat tangan Tasya yang berada dalam saku celananya meremas batangannya yang agak tegang.Pria itu terkejut bukan main. Bahkan tubuhnya spontan menegang dan wajahnya berubah merah seperti tomat matang yang hampir busuk.Seumur hidupnya, belum pernah ada wanita yang bertindak seberani itu kepadanya. Ares yang dikenal dingin dan kaku benar-benar kehilangan cara untuk bereaksi. Otaknya seolah mendadak kosong."Balikin HP-ku!" kata Tasya, masih dengan tangan yang meraba-raba dan menyentuh aset pribadi milik Ares.Semakin melotot mata Ares dibuatnya. Bahkan kini tubuhnya tegang maksimal.Bagaimana tidak? Tasya yang notabene bukan gadis polos sama sekali tidak terlihat gugup. Ia menekan dan meremas batang kemaluan Ares yang agak tegang dan keras.Tindakan yang saat ini dilakukan Tasya membuat Ares semakin salah tingkah dan gugup."Astaga, jauhkan tangan kamu, Tasya! Jangan remas batan
Di teras rumah kediaman keluarga Mandala, di sanalah kini Ares dan Tasya berada. Keduanya duduk berjarak di kursi panjang.Sudah hampir setengah jam keduanya duduk di kursi tersebut, tetapi mereka saling diam-diaman. Bahkan, tak ada obrolan apa pun di antara keduanya.Ares duduk seperti patung. Sedangkan Tasya sibuk berbalas pesan dengan para berondong yang dikenalnya melalui sebuah forum cari jodoh.Sesekali gadis bertubuh mungil yang usianya hampir kepala tiga itu tersenyum, sedangkan jarinya tak henti berselancar di layar ponsel mahalnya. Dan semua itu tak lepas dari perhatian Ares yang duduk bersandar dengan kedua tangan bersedekap di dada.Melihat Tasya senyum-senyum tak jelas di layar ponselnya, Ares menghela napas berat. Ada rasa tak senang di hatinya karena diabaikan seperti itu."Sialan, perempuan aneh ini. Katanya mau ngajak ngobrol, tapi malah asyik sendirian."Kenapa tidak senang? Karena selama ini Ares selalu dihormati di lingkungan kantor. Bahkan, banyak wanita yang berl
"Kita kan udah lama nikah, tapi gak punya anak. Rencananya aku mau adopsi Nabila jadi anak kita. Gimana menurut kamu, Sayang?"Diana yang duduk di kursinya menatap Tuan Seno dan Nabila secara bergantian dengan sorot mata yang tajam. Wajah wanita paruh baya bertubuh agak subur itu tampak memerah. Terlihat jelas jika ia sedang menahan banyak pertanyaan yang ingin disampaikan pada sang suami.Namun, Diana memilih diam. Tidak ada satu pun jawaban yang keluar dari bibirnya setelah mendengar perkataan sang suami yang ingin mengadopsi gadis dewasa seperti Nabila."Gimana, Sayang? Nabila udah gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Dia gak punya kerabat. Kasihan kalau dia harus tinggal di luaran sana sendirian dan luntang-lantung," ujar Tuan Seno dengan suaranya yang terdengar lembut, berusaha meyakinkan istrinya agar mau menampung Nabila di rumah mereka.Nabila yang sejak tadi menundukkan wajahnya, diam-diam mengepalkan kedua tangannya di bawah meja dengan erat. Ia merasa kesal melihat reak
"Siapa perempuan itu, Mas? Kenapa kamu bawa ke rumah kita?"Diana yang sedang menikmati makan malamnya, seketika bangkit duduknya saat melihat sang suami pulang bersama seorang wanita yang masih sangat muda.Wanita paruh baya bertubuh agak subur itu melontarkan pertanyaan sambil melangkah mendekati Tuan Seno dan Nabila. Tatapan matanya tak lepas dari gadis yang berdiri di belakang sang suami. Rasa heran bercampur curiga seketika memenuhi pikirannya. Selama belasan tahun menikah, baru kali ini Tuan Seno pulang membawa seorang perempuan muda ke rumah mereka."Siapa dia, Mas?" Diana kembali bertanya, tangannya menunjuk Nabila yang tertunduk di samping suaminya.Nabila yang menundukkan wajahnya itu pun bergerak mundur dan bersembunyi di balik punggung Tuan Seno. Gadis itu takut pada Diana yang menatap tak suka padanya. Baru saja menginjakkan kaki di rumah mewah tersebut, ia sudah dihadapkan pada situasi yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya.Jantungnya berdetak lebih cepat, sedang
"Saya setuju dijodohkan sama dia!"Degh!Dada Tasya seketika terasa sesak. Matanya membola penuh. Bibir gadis bertubuh mungil itu sedikit terbuka karena terlalu terkejut. Beberapa detik ia menatap Ares tanpa berkedip, seolah memastikan jika pendengarannya tidak salah.Ia benar-benar tidak menyangka pria sekaku itu justru menerima perjodohan yang baru saja dilontarkan ayahnya. Padahal, selama ini Ares selalu terlihat dingin, cuek, dan seperti tidak tertarik dengan urusan asmara.Kalimat pria berwajah kaku seperti kanebo itu datar dan dingin, tetapi terdengar sangat serius."Anjir, bisa-bisanya Om-om kaku itu setuju dijodohin sama aku. Jangan-jangan dia sengaja mau nyusahin dan nyiksa aku?" batin Tasya menjerit-jerit.Di sisi lain, Pak Anjas dan Bu Karina yang duduk bersebelahan saling melempar pandang. Senyum mereka perlahan mengembang. Tatapan keduanya dipenuhi rasa lega sekaligus bahagia. Selama ini mereka memang khawatir melihat putri mereka yang usianya sudah menginjak kepala tiga
"Yuk, Sayang. Aku udah selesai!" Melati yang kembali dari toilet, menghampiri Andrean dan menggandeng tangannya. Tak sadar, jika Andrean sedang bertengkar dengan Satria dan Rain. Di gandeng tangannya oleh Melati, Andrean yang merasa malu, segera menarik dan menepisnya.Wajahnya yang memerah, kini
"Rain!" Rain dan Satria yang berjalan bergandengan tangan, menghentikan langkah mereka dan menatap ke arah sumber suara. Keduanya menatap pada Andrean yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka berada. Pria melangkah mendekat, dan menatap pada Rain dan Satria dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kami udah sering ngewong, bahkan hampir setiap malam. Tapi kok istri saya belum hamil juga ya, Dokter?" celetuk Satria seperti manusia tanpa dosa. Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Satria, mendelik mata Rain dibuatnya. Tak menyangka jika berondong peliharaannya akan bertanya seperti itu.
"Argh, sial! Semakin hari Rain semakin keras kepala dan jadi pembangkang!" Andrean yang baru saja kembali ke kediaman Damara, tak hentinya mengumpat dan marah-marah. Pria itu kesal pada istrinya yang tak mau menurut dan patuh seperti dulu. Padahal, ia sudah bela-bela mengalah dan merendah, tetapi







