Share

2. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-03-25 21:53:27

"Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!"

Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain.

"Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap.

Rain mengangguk, sedangkan sudut bibirnya tersungging. Ia merasa jika reaksi pemuda yang ada di hadapannya sangat berlebihan.

"Sa-saya gak bisa, Nyonya. Hotel permata itu kan khusus buat orang-orang kaya. Saya gak mau ke sana," kata Satria. Suaranya tercekat di tenggorokan.

Hotel permata adalah hotel bintang lima, biasa dihuni oleh kalangan orang-orang kaya. Tak jarang, hotel itu ditempati oleh artis-artis ibu kota yang terkenal.

Jadi, mana mungkin Satria layak menginjakan kakinya di tempat seperti itu.

"Kita janjian dan ketemu di hotel yang biasa aja. Harganya lebih murah dan lebih enak," lanjut Satria. Kembali berbicara pada Rain yang menatapnya dengan ekspresi tak biasa.

Melihat tingkah Satria yang norak dan juga begitu banyak mulut, Rain menghela napas dengan kasar.

Wanita itu mendadak jengkel pada Satria.

"Di penginapan X aja, gimana Nyonya?"

Swos!

"Kamu pikir saya layak main di penginapan murahan? Atau, kamu mengira kalau saya gak mampu sewa kamar di hotel permata? Kamu jangan ngeremehin saya, ya!"

Rain berbicara dengan suaranya yang datar dan tertahan. Sedangkan tangannya mengeluarkan amplop coklat yang agak tebal, lalu melemparkannya pada Satria.

Gluk!

Ekspresi wanita itu terlihat marah, hingga Satria kembali meneguk ludah dengan bersusah payah dibuatnya.

"Bu—"

"Uang itu untuk uang muka, beli pakaian yang layak, parfum yang wangi dan juga dandan yang rapi. Jangan lupa beli obat kuat, saya gak mau hamil kalau mainnya gak bikin saya puas!" Rain memotong perkataan yang hendak diucapkan oleh Satria dengan cepat

Rain tak ingin Satria terlalu banyak bicara. Karena yang ia butuhkan adalah benih dari pemuda itu, bukan perkataan omong kosong yang dapat membuatnya tersedak.

Tangan Satria menahan amplop berisi uang yang menempel di dadanya. Sikap Rain benar-benar kasar dan arogan untuk seorang wanita, tak ada lembut-lembutnya, apalagi manis seperti air lemineral.

Namun, Satria yang saat ini benar-benar membutuhkan uang, tak dapat melakukan apa-apa. Ia hanya bisa patuh dan membiarkan Rain menginjak-injak harga dirinya.

Bagi Satria, toh harga dirinya memang sudah jatuh sejak pertama kali ia memutuskan menjadi pria penghibur di club tersebut.

"Kamu ngerti 'kan maksud saya?" tegur Rain pada Satria yang terdiam di hadapannya.

Kepala Satria mengangguk, sedangkan ekspresinya menunjukkan rasa tak enak. Tetapi ia tetap tersenyum kaku pada wanita itu.

"Iya, Nyonya. Saya ngerti," balas Satria.

"Bagus! Kalau gitu kamu atur semuanya, besok malam jangan lupa datang ke hotel yang saya sebutkan tadi!"

Satria kembali mengangguk. "Maaf sebelumnya, nomor telepon Nyonya mana? Biar saya enak ngehubunginnya!"

Pemuda itu memberanikan diri untuk meminta nomor telepon Rain. Ia tak ingin di buat bingung karena tak memiliki kontak clientnya.

Tanpa kata, Rain menyodorkan telapak tangannya pada Satria, meminta ponsel pemuda itu dan ingin memasukan nomor teleponnya.

Dengan cepat, Satria merogoh saku celananya dan memberikan ponselnya pada Rain.

Namun, Rain justru dibuat menghela napas dengan kasar. Bagaimana tidak? Ponsel yang disodorkan Satria padanya begitu butut, bahkan layarnya terdapat beberapa garis retak.

Pikir Rain, apakah benda pipih itu masih layak disebut sebagai ponsel?

"Aduh, kamu aja deh yang masukin nomornya. Pusing saya lihat hp kamu," kata Rain dengan ketus.

Mendengar perkataan bernada ketus Rain, Satria meringis. Lalu mengetikkan nomor yang disebutkan.

"Udah, Nyonya," kata Satria.

"Hmm, jangan lupa besok malam! Saya tunggu kamu di hotel nomor 7!"

Setelah Satria selesai mencatat nomornya, Rain melangkah pergi dari club tersebut. Tak lupa membawa map berisi perjanjian kontrak antara dirinya dan Satria.

***

Keesokan harinya, tepatnya pada pukul setengah tujuh malam, Rain yang sudah berada di dalam kamar hotel permata nomor tujuh, meraih ponselnya yang berdering di atas nakas.

Dilihatnya panggilan itu berasal dari nomor baru, dan sepertinya nomor itu adalah milik Satria, pemuda bayaran yang dipanggilnya.

"Ada apa?"

"[Nyonya, saya udah di lobi hotel. Bisa gak kalau Nyonya susulin saya ke sini? Atau kirim orang buat nyamperin.]"

Mendengar perkataan bernada soft yang berada di ujung telepon, Rain menghela napas panjang.

"Kenapa gak langsung ke kamar nomor tujuh, saya udah nungguin kamu dari tadi!"

Rain yang jengkel berbicara dengan suara tertahan dan terdengar kesal pada Satria.

"[Saya malu dan takut, Nyonya. Hotelnya rame dan besar banget, saya belum pernah masuk ke tempat kayak gini sebelumnya.]"

Kembali menghela napas panjang Rain dibuatnya. Satria benar-benar payah, bekerja tidak totalitas dan juga tidak profesional.

"Ya udah, kamu tunggu dibawah, sebentar lagi saya jemput!"

Tut, tut!

Rain memutuskan sambungan telepon tersebut. Lalu meraih cardigannya yang tergantung dan memakainya.

Meskipun kesal pada Satria yang tidak dapat diandalkan, tetapi ia tetap keluar dari kamar itu, menjemput Satria yang berada di lantai dasar gedung hotel tersebut.

Beberapa saat kemudian, Rain yang tiba di lantai dasar, mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Satria yang menunggunya.

"Di mana bocah sialan itu?" gumam Rain.

Tak mendapati keberadaan Satria, Rain pun menghubungi nomor pemuda itu dan menanyakan keberadaannya.

"Satria, kamu di mana?"

"[Saya di luar, Nyonya. Di deket pintu!]" sahut Satria yang katanya berada di luar area hotel.

Tanpa memutuskan sambungan telepon itu, Rain melangkah menuju pintu, menghampiri seorang pria yang berdiri memunggungi pintu masuk.

"Satria!" Rain menyebut nama Satria sambil menepuk pundak pria yang memunggungi pintu.

Di tepuk pundaknya, pria itu pun menoleh, hingga mata Rain melotot lebar dibuatnya. Bahkan, ekspresi kagetnya tergambar dengan sangat jelas.

"Astaga, kamu...."

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   16. PPPN

    "Kalau saya udah menikah dan punya suami, emangnya kenapa? Kamu mau mengatakan kalau saya perempuan gak bermoral dan gak setia, gitu?" Perkataan yang keluar dari bibir Rain pelan memang, tetapi terdengar bergetar. Jelas, jika ia sedang menahan gejolak yang ada di dalam hatinya.Melihat reaksi dan ekspresi yang ditunjukkan oleh Rain, Satria termangu. Sedangkan sepasang matanya menatap dalam pada netra wanita itu. "Kalau kamu mau mengatakan saya gak bermoral, katakan aja, Satria. Karena saya memang gak bermoral!" Suaranya yang semula pelan, kini tiba-tiba meninggi. Respon yang mengejutkan bagi Satria. Pemuda itu tak menyangka, jika pertanyaannya membuat emosi Rain meledak secara tiba-tiba. "Saya gak bermoral dan bukan perempuan yang baik...." Kepala Satria menggeleng. Dengan cepat ia merengkuh dan mendekap tubuh Rain erat-erat. Berusaha meredam gejolak emosi yang ada di dalam diri Rain agar tidak semakin meluap."Nyonya, jangan salah paham. Saya tadi cuman nanya, kalau pertanyaan

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   15. PPPN

    "Ouch, enaknya, Satria. Rasanya penuh dan sesak, punya kamu emang luar biasa! Beda sama punya suamiku...." Mendengar racauan Rain, Satria yang berada di atas dengan miliknya yang menancap dalam itu pun menghentikan gerakannya. Keningnya berkerut, membuat kedua alisnya bertautan. Pikirnya, apakah ia salah dengar? Rain mengatakan milik 'suaminya' itu artinya ia adalah wanita bersuami. Istri orang? "Ugh, Satria, ayo! Kenapa berhenti?" Rain yang berada di bawah, mencengkeram dan meremas punggung Satria. Bahkan memukulnya, meminta pemuda itu untuk tidak berhenti bergerak di atasnya. Tak ingin merusak mood bermainnya, Satria pun memejamkan matanya sesaat seraya menggeleng pelan. Lalu, mengangkat sedikit bokongnya hingga membuat miliknya yang berada di dalam milik Rain keluar. Setelah itu, ia kembali menghentakkan pinggulnya dengan keras, menusuk dalam milik Rain yang basah dan tak hentinya berkedut sejak tadi. "Ouch, Satria, ah...." Dengan gerakan cepat, Satria memompa tubuh Rain, hi

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   14. PPPN

    "Nyo-nyo-nyonya, maaf, saya gak tahu kalau Nyonya baru selesai mandi." Satria yang membuka pintu, seketika berbalik badan saat melihat Rain keluar dari kamar mandi sembari membuka handuk yang menutup tubuh polosnya. Melihat kegugupan Satria, Rain menyunggingkan sudut bibirnya. Setelah apa yang mereka lakukan semalam, bisa-bisanya pemuda itu merasa gugup, takut bercampur malu melihat tubuhnya."Gak perlu sungkan. Masuk, jangan lupa kunci pintunya," kata Rain. Meminta Satria untuk memasuki kamar itu dan mengunci pintunya. Tanpa kata, Satria mengangguk patuh. Ia menutup dan mengunci pintu, lalu berbalik dan menatap pada Rain yang mendaratkan bokongnya di pinggiran tempat tidur. Gluk! Satria meneguk ludah dengan kasar sembari menggigit bibir bawahnya. Rain yang kini duduk di pinggiran tempat tidur benar gila-gila, bisa-bisanya duduk santai dengan tubuh bulatnya polos tanpa sehelai benang pun. Kedua gundukan kenyal yang menggantung bebas, terpampang jelas dengan ujungnya yang pink ke

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   13. PPPN

    Di toilet rumah sakit, di sanalah kini Satria berada. Ia menyandarkan punggungnya di tembok, sedangkan kepalanya mendongak, menatap langit-langit toilet tersebut."Ssttt, huh...." Pemuda itu menghisap ujung rokoknya, lalu menghembusnya dengan kasar, hingga membuat asapnya mengepul di udara. Wajahnya saat terlihat kusut, sedangkan sepasang matanya memerah, menunjukkan jika ia habis menangis. Beberapa jam lalu, Satria yang dipanggil oleh pihak rumah sakit, diminta untuk menyiapkan biaya perawatan lanjutan ibunya. Akibat kerap telat dan menunggak membayar biaya pengobatan ibunya, kini pihak rumah sakit benar-benar tak mau lagi memberi toleransi. "Tuhan, gimana ini? Argh...." Satria mendesah berat, bingung menghadapi situasi saat ini. Akhir-akhir ini hidupnya semakin sulit. Setiap harinya ia merasa terhimpit dan sulit membebaskan diri. Meskipun sudah bekerja untuk Rain, tetap saja rasanya berat. Pikirnya, apakah wanita kaya itu mau memberikan banyak uang padanya yang baru bekerja s

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   12. PPPN

    Setelah rentenir dan anak buahnya pergi, Satria mengajak ketiga adiknya memasuki rumah dan merapikan kembali barang-barang yang sebelumnya diacak-acak. Bukan hanya Satria dan ketiga adiknya yang memasuki rumah dan beberes, tetapi juga Tono selaku salah satu teman terdekat Satria. "He-he-hebat ba-ba-banget lu, Sat! Me-me-mereka akhirnya ke-ke-ketemu lawan!" Tono yang duduk di salah satu kursi plastik itu berbicara pada Satria, memuji temannya yang terlihat begitu tangguh dan keren. "Se-se-setelah ini, me-me-mereka pasti gak berani lagi ga-ga-ganggu keluarga lu," kata Tono lagi. Mendengar perkataan Tono yang terputus-putus, Satria mengulas senyum seraya geleng-geleng kepala. "Kalau mereka gak ganggu Tika, Danu dan Ayu, mana mungkin gue mukulin mereka, Ton," kata Satria. Menimpali perkataan Tono dengan santai. "Egh, ta-ta-tapi ngomong-ngomong, lu ga-ga-ganteng banget! Be-be-beli di mana ba-ba-baju sama kacamatanya? Te-te-terus ra-ra-rambut lu juga kelihatan beda dari bi-bi-biasany

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   11. PPPN

    "Siapa bilang kalian boleh pergi dari sini sekarang?" Suara lantang dan keras yang keluar dari mulut Satria, sukses menghentikan langkah lintah darat dan kedua anak buahnya. Bahkan, ketiga pria itu langsung berbalik dan menatap pada Satria yang juga menatap pada mereka dengan tatapan yang sulit diartikan."Mau apalagi? Jangan bilang baru lunasin hutang udah mau minjem lagi!" celetuk lintah darat itu. Berbicara sambil menatap remeh pada Satria yang kini berada di hadapannya. "Siapa diantara kalian yang udah berani menyentuh dan memukul adikku?" lontar Satria. Sorot matanya yang biasa bertatapan teduh, kini terlihat seperti ingin membunuh. Pemuda itu tak mau lagi dianggap lemah dan di tindas seenaknya oleh orang-orang di sekelilingnya. Kali ini ia akan melindungi keluarganya meskipun harus mempertaruhkan nyawanya sendiri. "Gue, mau apa lu?" sahut salah satu pria berbadan kekar, berkulit gelap dan becek itu pada Satria. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh pria berwajah becek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status