Share

81. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-05-05 21:34:15

"Kalau aku tinggal seminggu lagi di sini gimana? Boleh gak?"

Satria yang berbaring dengan posisi memunggungi Rain, bertanya dengan suaranya yang pelan tetapi terdengar cukup jelas di telinga.

Mendengar perkataan Satria, Rain menggigit bibir sembari memejamkan mata. Sedangkan tangannya yang berada di balik selimut, saling meremas satu sama lain dengan erat.

"Jangan salah paham, aku minta waktu seminggu karena pengen mastiin kalau keadaan kamu bener-bener sehat. Setelah kamu sehat dan kandunga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   82. PPPN

    Di balkon kamar, Melati terlihat sedang mengobrol serius dengan seseorang melalui sambungan telepon video. Kening wanita yang tengah hamil tua itu berkerut, sedangkan tangannya bergerak mengusap-usap perut buncitnya. "Duit apa lagi, Mas? Yang kukirim kemaren masa udah habis?" "[Udah abis aku pakai buat bayar tagihan air, listrik dan bayar cicilan mobil, Mel. Sisa berapa ratus ribu, aku pakai belanja tadi pagi!]" Mendengar perkataan suaminya yang berada di seberang panggilan, Melati menghela napas panjang. Kepalanya tiba-tiba pusing dan terasa berdenyut-denyut. Pusing memikirkan Jhony yang begitu boros, bahkan seminggu bisa dua kali meminta uang. Sedangkan dirinya mendapatkan uang dari menipu Andrean dan Bu Sela dengan berbagai macam cara. "[Pokoknya kirimin duit, 500 ribu aja, buat pegangan minggu ini!]" kata Jhony memaksa. Melati kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Duh, Mas... kalau kamu minta duit terus gini, nanti Andrean dan nenek sihir i

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   81. PPPN

    "Kalau aku tinggal seminggu lagi di sini gimana? Boleh gak?" Satria yang berbaring dengan posisi memunggungi Rain, bertanya dengan suaranya yang pelan tetapi terdengar cukup jelas di telinga. Mendengar perkataan Satria, Rain menggigit bibir sembari memejamkan mata. Sedangkan tangannya yang berada di balik selimut, saling meremas satu sama lain dengan erat. "Jangan salah paham, aku minta waktu seminggu karena pengen mastiin kalau keadaan kamu bener-bener sehat. Setelah kamu sehat dan kandungannya gak kenapa-kenapa, aku bakalan keluar dari apartemen ini!" kata Satria yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Rain. Pemuda itu tak ingin Rain beranggapan jika dirinya ingin tinggal di apartemen itu dan menjadi parasit seumur hidup. Rain yang memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia kembali menggigit bibir sebelum akhirnya menanggapi perkataan berondong peliharaannya itu. "Kamu bebas mau tinggal di sini sampai kapan. Lagi pula, setelah aku pulang ke rumah

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   80. PPPN

    Di bawah satu atap yang sama dan juga satu ranjang berdua, Rain dan Satria saling diam-diaman. Keduanya masih sama-sama terjaga, namun tak ada obrolan yang keluar dari bibir mereka meskipun hanya sepatah kata, apalagi bercanda dan melakukan hubungan seks seperti sebelum-sebelumnya.Di atas ranjang yang biasa dijadikan tempat bergumul dan memuaskan hasrat birahi, kini anak manusia berbeda itu berbaring dengan posisi saling memunggungi. Keadaan hening, hanya deru napas pelan mereka yang beradu di dalam kamar itu. Rain yang berbaring di sisi kanan, memeluk erat selimut yang menutup kaki hingga ke perutnya. Wanita yang kini tengah hamil muda itu menggigit bibir, memikirkan perkataan Satria satu jam yang lalu. Satu jam yang lalu.... "Oiya, sekarang kamu udah hamil. Jadi gimana sama kontrak kerja sama kita?" Degh! Ditanya soal kontrak kerja sama, Rain sedikit tersentak. Sepasang matanya menatap Satria yang berbicara. Sesaat, wanita hamil itu diam, memandangi wajah tampan Satria yan

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   79. PPPN

    "Aaa... selamat ya, Sayangku, akhirnya kamu hamil juga!"Tasya yang datang ke apartemen Rain setelah mendengar kabar kehamilan sahabatnya itu, memberikan selamat seraya memeluknya erat. Dipeluk oleh sahabatnya, Rain tersenyum kecil. Saat ini ia benar-benar merasa bahagia, bahkan tangannya tak henti mengusap perutnya yang rata."Sekarang udah positif hamil nih, jadi kapan mau ikut aku pulang ke rumah utama? Aku juga kan pengen jagain kamu dan calon keponakanku!" kata Tasya dengan nada bicaranya yang terdengar santai, sedangkan bibirnya masih saja tersenyum kecil. Mendengar perkataan Tasya yang duduk di lantai bersama Rain, Satria yang duduk di sofa itu pun beranjak dan melangkah pergi menuju dapur. Tak mau menjadi pendengar obrolan penting antara Tasya dan Rain. "Sayang, mau kemana?" tanya Rain pada Satria yang melangkah pergi. Wanita hamil itu menatap punggung Satria yang menjauh dari pandangan matanya. "Ke dapur!" sahut Satria tanpa menoleh dan menatap pada Rain yang bertanya.

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   78. PPPN

    "Menurut hasil pemeriksaan saya, Mbaknya hamil. Dihitung dari terakhir datang bulan, usia janinnya sekarang udah masuk minggu ke empat!" Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Dokter, Rain dan Satria saling melempar pandang, lalu menatap massal pada Dokter itu. Keduanya sama-sama diam, mencerna maksud dari perkataan Dokter separuh baya yang mengulas senyum di hadapan mereka. Melihat ekspresi bengong pasangan yang ada di hadapannya, Dokter separuh baya itu mengerutkan kening. Pikirnya, apakah keduanya belum memiliki rencana untuk punya anak? "Mas, Mbak!" tegur Dokter pada Satria dan Rain yang bengong di hadapannya. Ditegur, Satria dan Rain sadar dari cengo mereka. Lalu, keduanya bertanya dengan kompak pada Dokter. "Dokter tadi ngomong apa? Hamil!" Kaget! Spontan Dokter separuh baya itu mundur dua langkah dari posisinya seraya mengangguk cepat. "Hmm, hamil dan udah masuk usia minggu ke empat!" kata Dokter. Menimpali pertanyaan kompak pasangan yang membuatnya terkejut. Lagi, Sat

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   77. PPPN

    "Kalau aku bilang jangan deket-deket, berarti kamu harus jaga jarak! Sumpah, aku eneg banget lihat muka kamu yang nyebelin!" Dikatakan menyebalkan, Satria menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Bibirnya cemberut, sedangkan tubuhnya melemas seperti tak bertulang. "Kamu denger gak?" kata Rain dengan mata melotot, seperti mau menelan Satria bulat-bulat.Satria yang duduk bersila di depan Rain, menghela napas pelan. "Astaga... rasanya pengen banget kugigit dan kukunyah bibirnya biar gak ngomel terus," batinnya merutuk sebal. Perlahan Satria beringsut dan turun dari atas ranjang, menjauhi Rain yang katanya sebal dan jengkel melihat wajahnya. Namun, baru saja berjalan dua langkah, teguran Rain membuat pergerakannya langsung terhenti. Bahkan, ia diam seperti patung di posisinya. "Mau kemana? Mau pergi lagi!"Satria memejamkan matanya sesaat, lalu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, berusaha sabar menghadapi tingkah Rain yang tiba-tiba aneh dan nyeleneh.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status