FAZER LOGINTuan Seno yang berada di atas ranjang dengan tubuh nyaris polos, menyunggingkan sudut bibirnya saat melihat sang istri keluar dari kamar mandi. Tubuh polosnya yang sedikit bulat, dibalut dengan handuk singkat terlihat begitu menggoda dan menggairahkan."Udah bener-bener selesai datang bulannya?" tanya Tuan Seno, sepasang matanya menatap lekukan tubuh istrinya tanpa berkedip.Sudah seminggu tidak melakukan hubungan intim dan menikmati kemontokan istrinya. Kini pria paruh baya itu sudah tidak tahan ingin memuaskan hasratnya dan juga menyenangkan sang istri yang memang selalu tergila-gila dengan keperkasaannya.Diana, istri dari Tuan Seno yang posesif dan pencemburu, mengangguk sembari melangkah pelan mendekati sang suami yang duduk bersandar di kepala ranjang.Di pinggiran ranjang, wanita paruh baya yang masih cukup cantik dengan tubuh montok itu melepaskan handuk yang melilit tubuh polosnya. Lalu melemparkan handuk tersebut secara asal ke lantai.Selanjutnya, dengan tubuh telanjang bul
"Pasien kehilangan banyak darah, saat ini sedang melakukan transfusi. Tapi, ada kendala yang ingin kami sampaikan, golongan darah pasien O negatif. Dan stok darah dengan golongan O negatif hanya ada dua kantong di rumah sakit ini. Kami sudah menghubungi rumah sakit lain dan juga pusat, tapi belum juga mendapatkan darah dengan golongan tersebut." Degh! Melotot lebar sepasang mata Bu Yohana. Tubuhnya melemas dan kembali terduduk di kursi tunggu IGD tersebut. Golongan darah O negatif, bukankah golongan tersebut golongan darah langka? Batin wanita paruh baya itu. "Golongan darah saya O negatif, Suster. Ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan!" kata Tuan Arya, menyodorkan pergelangan tangannya ke hadapan perawat yang berdiri di depan pintu IGD. Perawat tersebut memandang wajah tegang dan cemas Tuan Arya dengan kening berkerut. Lalu ia pun menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum. "Baiklah, kita lakukan pemeriksaan sekarang. Jika tidak ada masalah, bisa langsung dilakukan trans
Tap, tap, tap!Derap langkah kaki terdengar beriringan menyusuri lorong rumah sakit dengan begitu terburu-buru.Tuan Arya dan yang lainnya mendatangi rumah sakit Citra Medika, tempat di mana Satria yang katanya mengalami kecelakaan dirawat.Tujuan keluarga besar tersebut adalah ruangan IGD, tempat Satria ditangani oleh dokter dan perawat saat ini.Tiba di depan ruangan IGD, Tuan Arya, Rain dan Bu Yohana menghampiri perawat yang kebetulan keluar dari ruangan tersebut."Suster, apa pasien dengan nama Satria Rendra berada di dalam?" tanya Rain wajah pucat dan air mata berderai.Wanita hamil itu bertanya sambil mencekal pergelangan tangan perawat tersebut.Perawat tersebut menghentikan langkahnya dan mengangguk, "Benar, Mbak. Yang berada di dalam adalah Satria Rendra, korban kecelakaan di jalan simpang.""Lalu, gimana keadaannya sekarang, Sus?" Tuan Arya ikut bertanya. Keringat jagung membasahi keningnya, menunjukkan jika pria paruh baya itu sedang panik tingkat maksimal."Keadaan pasien
"Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan bahwa Satria Rendra saat ini dirawat di rumah sakit kami. Saat ini kondisinya dalam keadaan kritis dan sedang menjalani perawatan intensif!"Degh!Mendengar kalimat formal yang berasal dari ujung telepon, semua orang terkejut. Bahkan tubuh Rain seketika melemas. Ponsel yang ada di tangannya nyaris terlepas dan jatuh ke lantai."Apa? Satria kritis di rumah sakit?" tanya Rain dengan suara pelan dan bergetar."[Benar, Bu. Pasien mengalami kecelakaan di area jalan simpang, dan beruntung dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Jika tidak, mungkin nyawanya tidak tertolong.]"Penjelasan tersebut membuat tubuh Rain yang melemas nyaris ambruk. Beruntung, Tasya segera menyambar tubuh saudaranya itu dan menahannya agar tidak jatuh. "Gak mungkin, Satria gak mungkin kecelakaan dan kritis! Semua ini bohong, gak mungkin... telepon itu pasti hoaks dan penipuan."Rain yang tubuhnya ditahan oleh Tasya menggelengkan kepalanya pelan, menolak percaya pada kaba
Brak!Tubuh Satria yang terlempar ke bahu jalan mengalami kejang-kejang. Kepala, wajah, tangan, serta bagian kakinya terluka. Dalam waktu yang singkat, pinggiran jalan tersebut dibanjiri oleh darah.Para warga dan pengendara yang lalu lalang seketika berhenti dan berkerumun di tempat kejadian peristiwa kecelakaan tersebut.Sedangkan sopir truk yang sengaja menargetkan Satria sudah kabur lebih dulu sesaat setelah tubuh pemuda itu jatuh terhempas."Panggil, panggil ambulans!""Cepat dibantu!""Ya ampun, kasian banget!""Masih hidup, dia masih hidup. Cepat angkat, kita bawa ke rumah sakit!""....""...."Para warga dan pengendara yang berkerumun, segera membantu Satria dan mengangkat tubuhnya yang bersimbah darah. Tanpa menunggu ambulans datang, orang-orang tersebut segera membawa pemuda itu menuju rumah sakit terdekat agar tidak terlambat mendapatkan penanganan.Pak Hendra yang berada di antara kerumunan dan melihat seperti apa keadaan Satria tampak menyunggingkan sudut bibirnya dan ter
"Satria udah jalan pulang, gak lama lagi mungkin nyampe." Rain yang baru saja menghubungi Satria, melangkah memasuki rumah sambil berbicara pada Tuan Arya dan yang lainnya. Ia memberitahu jika sebentar lagi Satria akan segera tiba. Mendengar perkataan wanita hamil itu, Tuan Arya dan yang lainnya bernapas lega. Mereka tak sabar ingin bertemu langsung dengan Satria secara langsung. "Syukurlah kalau dia mau pulang, Rain. Om bener-bener berharap dia mau menerima kedatangan kami," kata Tuan Arya seraya mengulas senyum. "Satria orang yang bijak kok, Om. Dia pasti gak bakalan keberatan," balas Rain sembari melangkah menghampiri Nyonya Laras yang sejak tadi tidak bisa diam. Wanita paruh baya yang mengalami gangguan jiwa itu berkeliling di dalam rumah Bu Yohana, memperhatikan setiap foto yang tertempel di tembok rumah dan juga atas meja. Bahkan, ia menyentuh barang apapun yang di temuinya. "Hihi, Naren lucu!" kata Nyonya Laras, terkikik geli sambil menyentuh foto masa kecil Sa
"Huwa, Abang...." Ketukan pintu kamar yang disertai tangisan Ayu di malam hari itu, membuat Satria dan Rain terkejut. Bahkan, Rain yang kaget mendorong perut Satria dan beringsut mundur, menjauh dari depan batangan sang kekasih yang berdiri tegak dan siap bertempur. Mata kedua anak manusia berbe
"Beneran mau tidur di sini? Gak pulang ke apartemen atau minta jemput sama Tasya?"Satria yang saat ini duduk di pinggiran kasur kamar tidurnya, bertanya pada Rain yang berada di sampingnya. Pemuda itu ragu pada sang kekasih yang ingin tinggal di rumahnya yang sempit, tidak ber-AC dan lumayan jauh
"Apa? Kamu udah pernah menikah?" Perkataan bernada sedikit tinggi itu lolos begitu saja dari mulut Bu Yohana. Mata wanita separuh baya itu melotot, menunjukkan ekspresi kaget alami setelah mendengar pengakuan Rain yang katanya sudah pernah menikah. Rain yang duduk di sofa bersama Satria itu pun m
"Sat, dia hamil?" Degh! Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Bu Yohana, tubuh Satria membeku. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, sedangkan wajahnya yang babak belur terlihat tegang. Cemas pada keadaan Rain yang mengalami mual, pemuda gigolo privat itu sampai tidak sadar jika seja







