LOGINHalo, Guys! Othor mau promosiin buku keren dari temen Othor nih! Judulnya : Cerai! Kakak Ipar Memanjakanku Jangan lupa mampir, terima kasih!
Di depan rumah sakit, di sanalah kini Tuan Arya berada. Sepasang matanya menatap ke arah area parkiran, menunggu seseorang datang.Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah memasuki area parkiran rumah sakit tersebut, membuat pria paruh baya itu menyunggingkan senyum tipis.Dari dalam mobil mewah tersebut, turunlah Ares, asisten pribadi Tuan Arya yang selama ini membantunya mengurus seluruh pekerjaannya."Maaf sudah membuat Tuan menunggu lama, saya tadi kejebak macet," kata Ares yang menghampiri bos besarnya itu.Pria berusia sekitar tiga puluh tahunan itu meminta maaf kepada Tuan Arya yang sudah cukup lama menunggunya di depan gedung rumah sakit tersebut."Gak apa-apa, saya juga lagi gak terburu-buru," kata Tuan Arya, menimpali perkataan Ares dengan santai seraya tersenyum.Mendengar perkataan bosnya, Ares menganggukkan kepala dan membalas senyuman pria paruh baya itu."Begini, Res. Saya memanggil kamu datang kemari karena ingin meminta kamu melakukan hal yang sangat penting."Tuan Arya
"Secara fisik, kondisi pasien saat ini sudah mulai stabil dan membaik. Tapi ada hal yang perlu saya sampaikan—"Dokter yang saat ini berdiri di hadapan Tuan Arya dan yang lainnya, menjeda kalimatnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan sebelum menjelaskan kondisi Satria saat ini pada keluarganya.Sepasang mata Dokter pria paruh baya itu menatap Tuan Arya dan yang lainnya bergantian, "Berdasarkan respons dan hasil pemeriksaan sementara, besar kemungkinan pasien mengalami generalized amnesia atau yang biasa disebut amnesia global. Kondisi seperti ini menyebabkan hampir seluruh ingatan masa lalunya hilang."Degh!Tubuh Rain menegang, dadanya terasa begitu sesak. Air matanya yang hampir surut, kini kembali menetes tanpa diminta, membasahi pipinya yang mulus."Maksud Dokter, Satria bener-bener gak ingat apa pun?" tanya wanita hamil itu dengan suaranya yang lirih dan bergetar.Dokter menghela napas pelan dan mengangguk, "Benar, untuk saat ini, pasien bisa saja t
Satria yang baru saja bangun dari komanya terlihat diam tanpa ekspresi. Hanya sepasang matanya saja yang berkedip dan terbuka sayu.Kini, pemuda itu duduk bersandar pada kepala ranjang. Wajahnya yang penuh luka begitu pucat seperti mayat hidup."Sayang, akhirnya kamu sadar. Aku senang banget!" Rain yang merasa senang tersenyum sambil memeluk tubuh sang kekasih.Namun, Satria yang dipeluk dan diajak berbicara tetap tak memberikan reaksi. Pemuda itu tetap diam, tak merespons perkataan orang-orang yang ada di sekitarnya."Kamu tahu gak? Aku, Ibu, Papa, dan yang lainnya cemas banget sama keadaan kamu," lanjut Rain dengan suara bergetar menahan tangis.Satria yang dipeluk memejamkan matanya sesaat dan mengembuskan napas pelan. Ia mengepalkan kedua tangannya yang terasa lemah, lalu mendorong tubuh Rain yang memeluknya."Lepaskan saya!"Mendengar perkataan Satria dan juga penolakannya, Rain terkejut bukan main. Spontan wanita hamil itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang kekasih."S
"Walaupun ketemu aku secara langsung, jawabannya tetep sama, Mas. Aku gak akan mengizinkan siapa pun buat ketemu anakku untuk saat ini, termasuk kakakku sendiri!"Degh!Kalimat bernada santai tetapi terdengar serius milik Tuan Arya yang baru saja kembali, membuat Tuan Seno langsung menoleh ke arah sumber suara.Melihat wajah adiknya yang terlihat datar, Tuan Seno menghela napas pelan. Di hadapan adiknya itu, ia pun memaksakan senyumannya dan melangkah mendekat."Ar, gimana keadaan anakmu? Mas dan Diana ke sini, mau lihat keadaannya," kata Tuan Seno. Perkataannya yang semula bernada tinggi terhadap Pak Anjas, kini bernada rendah dan santai.Di hadapan adiknya, pria paruh baya itu tersenyum ramah. Berbeda sekali dengan sikap sombong dan kasar yang semula ia tunjukkan."Iya, Ar. Katanya anak kamu yang hilang udah ketemu, jadi kami bela-belain ke sini buat jenguk!" sambung Diana dengan sudut bibir tersungging.Melihat wajah kakak dan iparnya, Tuan Arya menghela napas pelan. Jelas sekali j
"Argh... anakku, tolong anakku. Jangan biarkan dia kenapa-kenapa! Tolong selamatkan Narendra-ku!"Nyonya Laras yang terduduk di lantai, menjerit histeris sambil memegangi kepalanya. Wanita paruh baya itu menangis, meminta tolong agar putranya diselamatkan.Terkejut, Tuan Arya segera merengkuh dan memeluk tubuh istrinya. Ia berusaha menenangkan sang istri yang panik ketakutan."Laras, tenang... jangan panik kayak gini. Anak kita baik-baik aja dan sekarang lagi dalam masa pemulihan," kata Tuan Arya sembari mengusap punggung istrinya yang bergetar."Aku gak mau kehilangan Naren. Anakku gak boleh mati kayak Mas Beni... jangan sampai mereka nyakitin anak kita lagi!" kata Nyonya Laras.Degh!Mendengar perkataan Nyonya Laras yang menyebut nama 'BENI', Tuan Arya semakin terkejut. Dalam hati ia berpikir, apakah kesadaran istrinya sudah membaik dan kembali?"Mas, ada apa? Mbak Laras kenapa?"Pak Anjas dan Bu Karina yang ikut terkejut, memasuki ruangan rawat tersebut. Pasangan suami istri itu me
Di dalam ruangan VVIP tempat Satria dirawat, Rain duduk di kursi samping ranjang pasien. Dengan setia, wanita hamil itu menemani calon suaminya yang mengalami koma, bahkan tak henti mengajak pemuda itu berbicara, berharap Satria bangun dan merespons perkataannya."Kalau kamu gak kecelakaan, harusnya besok hari pernikahan kita. Tapi sekarang, kamu malah tiduran di sini," ucap Rain. Suaranya pelan dan bergetar, menunjukkan jika ia begitu sedih melihat keadaan calon suaminya.Bibir wanita hamil itu berbicara, sedangkan tangannya bergerak mengusap lembut lengan Satria yang terasa begitu dingin.Wajah pucat Satria yang penuh luka, dibalut perban di bagian kening dan kepala, membuat perasaan Rain terasa begitu sakit. Dalam waktu beberapa bulan terakhir, sudah berapa kali Satria masuk rumah sakit tersebut. Dan kali ini adalah yang terparah."Kamu tahu gak, Sayang? Semalam aku tidurnya gak nyenyak, selalu kepikiran kamu," kata Rain, mengadu jika ia tak dapat beristirahat dengan tenang lantara
"Apa? Kamu udah pernah menikah?" Perkataan bernada sedikit tinggi itu lolos begitu saja dari mulut Bu Yohana. Mata wanita separuh baya itu melotot, menunjukkan ekspresi kaget alami setelah mendengar pengakuan Rain yang katanya sudah pernah menikah. Rain yang duduk di sofa bersama Satria itu pun m
"Sat, dia hamil?" Degh! Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Bu Yohana, tubuh Satria membeku. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, sedangkan wajahnya yang babak belur terlihat tegang. Cemas pada keadaan Rain yang mengalami mual, pemuda gigolo privat itu sampai tidak sadar jika seja
Di sisi lain, Andrean yang dicurigai sebagai dalang penganiayaan terhadap Satria, masih berada di apartemen Dewi. Sejak tadi, pria itu bergumul di atas ranjang bersama Dewi yang memiliki tubuh seksi dan payudara brutal. Di atas tubuh Andrean yang telanjang bulat, Dewi bergerak maju mundur memompa
"Berhenti!" Suara lantang yang terdengar, membuat para preman bayaran tersebut menghentikan aksi brutal mereka.Spontan, mereka menatap ke arah sumber suara. Di mana beberapa orang berbadan kekar turun dari sebuah mobil dan menghampiri mereka. Pak Hendra yang berada di samping mobil, mengepalkan







