Mag-log in"Om mau ngapain? Kenapa tangannya dimasuki ke punyaku?!" Merasa geli dibagian paha dan apem tembemnya, Nabila yang sedang tidur siang itu pun membuka matanya. Alangkah terkejutnya gadis itu saat melihat Tuan Seno berada di bawah selangkangannya. Pria paruh baya yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban itu sedang mengendus-endus area sensitifnya. Bahkan, jarinya sudah masuk ke dalam hotpants nya dan menyentuh bibir apem tembemnya. Spontan, gadis itu menjerit lantaran kaget setengah mati. Namun, dengan cepat Tuan Seno menindih tubuhnya dan membekap mulutnya. "Hust... jangan teriak Nabila, nanti ada yang denger," kata Tuan Seno dengan suara tertahan dan deru napas memburu. Nabila yang semula terkejut, menganggukkan kepalanya. Sedangkan sepasang matanya menatap wajah Tuan Seno tanpa berkedip. "Jangan teriak, oke?" lanjut Tuan Seno dan kembali diangguki kepala oleh Nabila. Setelah memastikan Nabila tidak berteriak dan memberontak, barulah Tuan Seno melepaskan bekapan tangannya dari
Seminggu kemudian....Satria yang saat ini duduk di kursi seberang meja kerja Tuan Arya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, sedangkan ekspresi wajahnya terlihat begitu jelek.Bagaimana tidak?Bibir pemuda itu cemberut dan wajahnya ditekuk.Sedangkan di kursi kebesarannya, Tuan Arya duduk dengan tegap. Matanya menatap serius pada putranya yang berada tepat di hadapannya.Wajah pria paruh baya itu memerah dan terlihat marah. Di atas meja kerjanya terdapat beberapa lembar foto yang didapatnya dari Ares, sang asisten terbaik sekaligus adik angkatnya."Sejak kapan, Satria Narendra?!"Pertanyaan bernada agak tinggi itu dilontarkan Tuan Arya pada Satria yang memasang ekspresi cemberut di hadapannya.Melihat kemarahan Tuan Arya, Ares yang sejak tadi berdiri di sisi kanan meja itu hanya bisa diam menyimak.Pria kaku itu memasang wajah datar yang terlihat amat serius. Padahal sebenarnya, Ares cukup kaget melihat bosnya itu marah-marah seperti itu. Karena selama ini, ia tidak pernah m
"Tunggu, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu!"Nabila yang baru berjalan beberapa langkah itu pun seketika menghentikan langkahnya. Sudut bibirnya tersungging lantaran merasa menang karena Diana benar-benar menahannya.Gadis itu pun berbalik badan. Lalu menatap ke arah Diana dan Tuan Seno dengan tatapan matanya yang sendu berair."Iya, Tante. Ada apa?" tanya Nabila. Suaranya pelan dan terdengar menyedihkan. Tampangnya saat ini benar-benar memelas. Membuat Diana menghela napas panjang melihatnya.Diana yang duduk di kursi makan, menatap sang suami sesaat. Lalu pandangannya kembali beralih pada Nabila yang berdiri di ujung meja.Wanita bertubuh agak subur itu memindai Nabila dari ujung kaki hingga kepala berulang kali. Lalu, tatapannya berhenti pada wajah gadis itu.Diperhatikan oleh Diana, Wulan meremas pinggiran dress yang dipakainya dengan erat. Sebisanya ia memasang ekspresi semenyedihkan mungkin agar wanita paruh baya itu luluh dan mau menampungnya."Ta-ta-tante, ada apa? A-a-a
"Argh... Papa, Om Anjas, Tante Tasya dan Om Ares mesum di teras rumah!"Sruk!Bleduk!Terkejut mendengar teriakan keras Satria yang berasal dari arah pintu utama, Tasya yang duduk di atas pangkuan Ares spontan melepaskan kedua tangannya yang melingkar di leher pria kaku tersebut.Tak ayal lagi, Tasya yang hilang keseimbangan berakhir jatuh terhempas di lantai yang dingin."Aw... sakitnya bokongku!" Tasya yang terduduk di lantai merintih sambil menyentuh bokongnya yang terasa sakit.Ares yang tak kalah gugup dan panik beranjak dari duduknya dengan gerakan yang cepat. Lalu merapikan celananya yang agak kusut karena perbuatan Tasya sebelumnya.Wajah pria kaku itu berubah pucat. Bingung harus melakukan apa saat ini. Terlebih lagi saat dirinya mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke teras rumah itu."Astaga, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Semuanya jadi kacau gara-gara perempuan aneh ini," batin Ares menggerutu sebal, sedangkan matanya menatap Tasya yang masih terduduk
"Astaga, apa yang kamu lakukan? Jangan pegang-pegang pisang saya!"Sepasang mata Ares seketika melotot lebar saat tangan Tasya yang berada dalam saku celananya meremas batangannya yang agak tegang.Pria itu terkejut bukan main. Bahkan tubuhnya spontan menegang dan wajahnya berubah merah seperti tomat matang yang hampir busuk.Seumur hidupnya, belum pernah ada wanita yang bertindak seberani itu kepadanya. Ares yang dikenal dingin dan kaku benar-benar kehilangan cara untuk bereaksi. Otaknya seolah mendadak kosong."Balikin HP-ku!" kata Tasya, masih dengan tangan yang meraba-raba dan menyentuh aset pribadi milik Ares.Semakin melotot mata Ares dibuatnya. Bahkan kini tubuhnya tegang maksimal.Bagaimana tidak? Tasya yang notabene bukan gadis polos sama sekali tidak terlihat gugup. Ia menekan dan meremas batang kemaluan Ares yang agak tegang dan keras.Tindakan yang saat ini dilakukan Tasya membuat Ares semakin salah tingkah dan gugup."Astaga, jauhkan tangan kamu, Tasya! Jangan remas batan
Di teras rumah kediaman keluarga Mandala, di sanalah kini Ares dan Tasya berada. Keduanya duduk berjarak di kursi panjang.Sudah hampir setengah jam keduanya duduk di kursi tersebut, tetapi mereka saling diam-diaman. Bahkan, tak ada obrolan apa pun di antara keduanya.Ares duduk seperti patung. Sedangkan Tasya sibuk berbalas pesan dengan para berondong yang dikenalnya melalui sebuah forum cari jodoh.Sesekali gadis bertubuh mungil yang usianya hampir kepala tiga itu tersenyum, sedangkan jarinya tak henti berselancar di layar ponsel mahalnya. Dan semua itu tak lepas dari perhatian Ares yang duduk bersandar dengan kedua tangan bersedekap di dada.Melihat Tasya senyum-senyum tak jelas di layar ponselnya, Ares menghela napas berat. Ada rasa tak senang di hatinya karena diabaikan seperti itu."Sialan, perempuan aneh ini. Katanya mau ngajak ngobrol, tapi malah asyik sendirian."Kenapa tidak senang? Karena selama ini Ares selalu dihormati di lingkungan kantor. Bahkan, banyak wanita yang berl
Lama Rain dan Satria bergumul di sore menjelang malam hari tersebut. Akhirnya keduanya pun menyudahi pergumulan mereka setelah merasa puas. Kini, Rain yang merasakan pegal pada punggung dan pinggulnya, tampak berbaring lemas di tengah-tengah kasur empuk yang luas. Sedangkan di pinggiran ranjang,
"Kalau enak, buruan gantian. Aku juga mau dipuasin!" Mata Satria yang sayu berkabut gairah, spontan melotot saat mendengar kalimat ketus yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, cepat sekali ekspresi dan sikap Rain berubah. Ia pikir, kekasihnya serius ingin memberikan service dan memuaskann
"Maaf, saya lupa ada urusan yang belum diselesain, permisi!"Tak ingin berdekatan lama-lama dengan wanita asing yang dapat membuatnya kehilangan akal sehat sebagai mantan pria pemuas, buru-buru Satria keluar dari toko buku tanpa mendapatkan apapun. Pemuda perkasa itu berlari menuju parkiran dan me
Setelah makan siang bersama di restoran, Rain dan Satria pun kembali ke apartemen. Di sepanjang perjalanan, keduanya tak hentinya mengobrol. Bahkan obrolan mereka kali ini terlihat begitu serius. "Tolong jangan lagi, udah terlalu banyak uang yang udah kamu habisin buat!" "Aku aja gak pernah per







