Se connecter"Kalau begitu, aku akan bayar kamu lebih mahal. Pakai seluruh isi kas kerajaan kalau perlu, asal kamu tidak pergi," jawab Arlon cepat, seolah tidak mau kalah.Elena mendengus geli, kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan senyum miringnya."Isi kas kerajaan? Jangan sombong dulu, makan saja kita masih harus cari ubi di hutan. Sana, siapkan makanan yang kamu bilang tadi, aku lapar. Berlatih denganmu itu lebih menguras tenaga daripada membunuh sepuluh prajurit bayaran," perintah Elena, memberikan isyarat dengan kepalanya ke arah dapur kecil mereka.Arlon tertawa, lalu berdiri dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku."Iya, Nyonya Pelindung. Untung aku pangeran yang serba bisa, jadi tukang cuci lantai sudah, sekarang jadi koki paviliun juga bisa," gerutu Arlon sambil melangkah menuju pojok ruangan tempat mereka menyimpan sisa makanan."Jangan banyak protes, atau aku tambahkan jadwal latihan pedang malam ini," ancam Elena tanpa melihat ke arahnya."Ampun! Iya, ini aku kerjakan seka
"Dengar, Arlon, balas dendam itu boleh, tapi jangan sampai itu bikin kamu buta, kita main cantik, kita bikin mereka malu di depan seluruh rakyat, tanpa kita harus mengotori tangan dengan darah mereka secara langsung, setidak nya untuk saat ini," ucap Elena dengan seringai kecil yang terlihat licik."Wah, kamu benar-benar istri yang berbahaya ya, kadang aku ngeri sendiri kalau bayangin kamu jadi musuhku," canda Arlon sambil mencolek hidung Elena."Makanya, bayarannya jangan lupa, Aku tudak kerja gratisan," jawab Elena sambil menepis tangan Arlon dengan wajah yang kembali datar, meski sebenarnya ada rasa hangat yang menjalar di dadanya.Arlon kembali tertawa, lalu dia mencoba bangkit berdiri, tubuhnya sedikit oleng, tapi dia menolak bantuan Elena kali ini."Aku mau mandi, bau darah palsu ini beneran bikin mual, benar kata Arkan tadi," ucap Arlon sambil berjalan menuju area belakang paviliun.Setelah Arlon sudah masuk kedalam kamar mandi sederhana mereka, kemudian Elena berjalan menuju m
"Itu bukan cuma akting, kalau dia buka kain ini, rencana kita tamat sebelum dimulai. Kamu lihat kan? Mereka tidak bakal berhenti sampai kamu bener-bener mati," jawab Elena, menarik napas lega, sambil memeriksa Anggrek Api di dalam kendi."Ya, dan mereka akan sangat terkejut di hari festival nanti," ucap Arlon sambil turun dari ranjang, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan."El, ajari aku gerakan yang lebih mematikan lagi, aku tidak mau cuma bertahan, aku mau mereka merasakan ketakutan yang sama," ucap Arlon, menatap Elena."Itu baru semangat yang aku suka. Tapi sebelum itu, bersihkan dulu muntah darah palsu mu itu, baunya beneran tidak enak," ucap Elena menyeringai miring, mengeluarkan belatinya dari balik baju."Iya, Nyonya Pelindung!" jawab Arlon sambil terkekeh, meski dalam hatinya dia bersumpah akan membalas setiap penghinaan yang diterima Elena dan dirinya.Elena segera mengambil kain pel untuk membersihkan lantai, sementara Arlon masih mengatur napasnya yang tadi sempat s
Elena terdiam cukup lama, lalu dia menarik tangannya pelan dari genggaman Arlon."Aku ini pembunuh bayaran Arlon, tempatku di bayangan, bukan di bawah lampu aula pesta yang terang benderang. Aku tidak cocok pakai gaun mewah dan senyum palsu di depan para bangsawan munafik itu," jawab Elena, mengalihkan pandangan nya."Tapi kalau aku yang minta?" pancing Arlon."Maka aku akan minta bayaran dua kali lipat karena itu pekerjaan yang paling menyiksa," jawab Elena sambil berdiri, mencoba mengakhiri pembicaraan yang mulai berbahaya bagi hatinya itu."Dasar mata duwitan. Ya sudah, sini tidur. Aku nggak mau istriku punya kantung mata pas festival nanti, nanti dikira aku yang nyiksa kamu," ucap Arlon tertawa kecil, suara tawanya terdengar tulus."Emang kamu yang nyiksa aku dari tadi, nggak berhenti ngomong," gerutu Elena sambil berjalan menuju tempat tidurnya di sudut ruangan.Elena membaringkan tubuhnya di samping. Namun pikirannya masih melayang pada pertanyaan Arlon tadi.Menjadi putri yang
Mereka akhirnya sampai di belakang tembok Paviliun Bintang.Elena mengintip dari balik semak berduri, memastikan tidak ada penjaga yang lewat. Dengan gerakan tangkas, dia membantu Arlon memanjat celah tembok yang selama ini jadi jalur rahasia mereka."Aduh, El... hati-hati dong! Pinggangku serasa mau patah," keluh Arlon pelan saat mendarat di sisi dalam paviliun dengan posisi yang kurang keren.HapElena melompat turun dengan sangat ringan, nyaris tanpa suara."Tadi di hutan sok jagoan lawan kawanan serigala, sekarang panjat tembok saja pakai mengeluh," ucap Elena, mendengus."Ya beda, Nyonya! Tadi itu urusan harga diri, sekarang ini urusan tulang yang sudah keropos kena racun," jawab Arlon sambil membersihkan debu di celananya, matanya melirik ke arah pintu belakang paviliun."Cepat masuk, aku harus segera menaruh bunga ini di tempat yang lembap," bisik Elena sambil mendorong punggung Arlon agar segera masuk ke dalam kamar mereka.Begitu pintu paviliun terkunci rapat dari dalam, Elen
"Kamu tahu tidak? Tadi itu pemandangan paling aneh yang pernah kulihat, penjaga hutan itu, dia seperti melihat dewa, bukan melihat pangeran yang sekarat," ucap Arlon tertawa kecil, suara seraknya terdengar sangat dekat di telinga Elena."Darah naga itu langka, Arlon, wajar kalau pria seperti dia merasa perlu memberi hormat," jawab Elena, melirik Arlon."Mungkin saja," gumam Arlon, matanya menatap Elena dengan tatapan selidik."Sudah ayo, fokus jalan, atau aku akan meninggalkanmu di sini agar dimakan ular air," ucap Elena, galak."Galak sekali," ucap Arlon terkekeh, namun sedetik kemudian wajahnya meringis menahan panas yang kembali bergejolak di dadanya."Tapi El, terima kasih, soal ide Anggrek Api ini," lanjut Arlon, tulus."Jangan berterima kasih padaku sebelum kita benar-benar menyerahkan bunga itu di Festival Musim Semi," jawab Elena, suaranya sedikit melunak."Ingat, Selena dan Arkan pasti sudah menyiapkan sesuatu yang mewah, kita tidak boleh kalah cuma karena kamu tidak punya cu







