تسجيل الدخول"Bawa mayat-mayat ini! Dan kau, gadis desa," ucap Pangeran Arkan menunjuk Elena dengan ujung pedangnya.
"Besok pagi Ibu Ratu akan memanggilmu, jelaskan detail pria berjubah itu padanya, jika kamu berbohong, nasibmu akan lebih buruk dari mayat-mayat ini," lanjut Pangeran Arkan, angkuh. Setelah para pengawal membawa pergi mayat-mayat itu dan meninggalkan paviliun, suasana kembali sunyi. Pintu yang rusak dibiarkan begitu saja, meninggalkan angin malam yang dingin menusuk tulang. Elena tetap diam di posisinya sampai dia yakin langkah kaki para pengawal sudah benar-benar menjauh. "Mereka sudah pergi," bisik Elena datar. Detik itu juga, Pangeran Arlon membuka matanya, tidak ada lagi raut kesakitan, pria itu tampak sangat menikmati sentuhan tangan Elena. Dengan perlahan, Pangeran Arlon mendudukkan tubuhnya dengan santai di atas lantai yang masih menyisakan noda darah, menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aktingmu lumayan juga, Istriku. Air mata buatan itu hampir membuatku tertawa kalau saja aku tidak sedang berpura-pura pingsan," ucap Pangeran Arlon sambil menyeringai tipis. Elena langsung melepaskan genggaman tangannya dengan kasar, lalu dia berdiri, menepuk-nepuk gaun pengantinnya yang sudah hancur berantakan karena robek dan terkena debu. "Jangan panggil aku seperti itu dengan nada menjijikkan begitu, aku hanya melakukan pekerjaanku agar klan ku tidak diratakan dengan tanah oleh pria berjubah gila yang mengirim ku ke sini," jawab Elena ketus. Begitu kontak fisik mereka terputus, Elena bisa melihat wajah Arlon kembali memucat, pria itu sedikit meringis, sambil memegang dada nya, namun dia berusaha tetap terlihat tegap. "Kamu lihat sendiri, kan? Begitu tanganmu lepas, rasanya jantungku seperti diremas-remas," gumam Pangeran Arlon, suaranya mulai terdengar berat lagi. Elena melirik suaminya dengan tatapan yang sulit terbaca, dia melihat Pangeran Arlon yang mencoba menyembunyikan rasa sakitnya, namun keringat dingin yang mulai membanjiri dahi pria itu tidak bisa berbohong. "Berhentilah mengeluh, kamu adalah seorang Pangeran, bukan bocah yang baru saja kehilangan mainannya," ucap Elena ketus, meskipun tangannya secara perlahan bergerak kembali menyentuh bahu Pangeran Arlon. Begitu jemari Elena menyentuh tangan Pangeran Arlon, bahkan hanya lewat perantara kain, napas Pangeran Arlon yang tadinya berat mulai berangsur tenang. Pangeran Arlon mendongak, menatap Elena dengan senyuman tipis yang terlihat sangat menyebalkan di mata Elena. "Terima kasih istriku, setidaknya malam ini aku bisa tidur tanpa merasa paru-paruku terbakar," gumam Arlon sambil menyandarkan kepalanya di kaki ranjang yang sudah miring. Elena menarik napas panjang, mencoba meredam kekesalannya. "Jangan senang dulu, besok pagi aku harus berhadapan dengan wanita ular itu, jika aku salah bicara sedikit saja, kita berdua akan habis di bakar hidup-hidup," ucap Elena, kesal. Arlon terkekeh pelan, dia merasa beruntung karena takdir mengirimkan wanita seperti Elena ke sisinya. "Jangan khawatir, Selena mungkin pintar bermain racun, tapi dia terlalu sombong untuk menyadari bahwa racun paling mematikan justru sedang duduk tepat di hadapanku saat ini," ucap Pangeran Arlon, tersenyum kecil. Elena tidak membalas, dia hanya menatap pintu paviliun yang terbuka lebar dengan tatapan kosong, di kepalanya, dia mulai menyusun rencana cadangan jika sewaktu-waktu sandiwara mereka terbongkar. Sementara itu, di sisi lain istana, di kamar yang sangat megah, suasana sama sekali tidak setenang di Paviliun Bintang. PRANG PYARRR Sebuah vas bunga yang sangat mahal hancur berkeping-keping setelah dihantamkan ke dinding marmer. Ratu Selena berdiri dengan napas memburu, wajah cantiknya kini tampak menyeramkan karena amarah yang meluap-luap. "Gagal?! Apa kau bilang? Gagal?!" teriak Ratu Selena, membuat para pelayan di ruangan itu bersujud gemetar di lantai. Sementara Pangeran Arkan berdiri tidak jauh dari ibunya, wajahnya tampak kaku dan sedikit pucat, melihat kemarahan ibunya, dia baru saja selesai memberikan laporan tentang kejadian di paviliun bintang. "Ibu, waktu Saya ke sana tadi, Saya menemukan puluhan mayat pembunuh yang kita sewa, semuanya tewas, ada yang lehernya patah, tulangnya hancur, seolah mereka dihantam oleh monster," lapor Arkan dengan nada yang masih tidak percaya. Arkan saja rasanya masih tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat tadi, mungkin kalau dirinya tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, dirinya tidak akan percaya, kalau para pembunuh bayaran yang dia sewa itu gagal. "Tidak mungkin! Arlon itu sampah yang sudah sekarat! Jangankan membunuh orang, berdiri saja dia tidak bisa!" bentak Ratu Selena mencengkeram pinggiran meja, dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih "Gadis itu, gadis desa yang Ibu pilihkan untuknya, dia bilang ada seorang pria berjubah hitam yang datang menyelamatkan mereka," tambah Arkan, mencoba memberikan penjelasan yang dia dapatkan dari Elena. Ratu Selena terdiam sejenak, matanya yang tajam menyipit penuh kecurigaan, dia mulai berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas, membuat suara sepatu hak tingginya menggema di seluruh ruangan. "Pria berjubah hitam? Di dalam istanaku sendiri? Berani sekali, penyusup rendahan berkeliaran di wilayah ku sendiri!" geram Ratu Selena sambil menendang pecahan keramik di depannya. PYARRR Ratu Serena kemudian berbalik menatap Arkan dengan tatapan dingin nya. "Arkan, aku tidak peduli siapa pria berjubah itu, tapi gadis itu, Elena... ada sesuatu yang tidak beres dengannya, tidak mungkin pembunuh profesional gagal menghabisi target yang begitu lemah kecuali ada pengkhianat di dalamnya," ucap Ratu Selena, dingin. Arkan mengerutkan keningnya, mencoba mencerna maksud ibunya. "Maksud Ibu, Elena itu yang membawa pria berjubah itu masuk? Itu tidak mungkinlah," tanya Arkan, tidak setuju dengan pemikiran ibunya kali ini. "Kenapa tidak? Gadis itu terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru saja melihat pembantaian. Besok pagi, saat dia datang kemari, aku sendiri yang akan mengulitinya sampai dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam ini," Ucap Ratu Selena, dingin. Pangeran Arkan mengangguk, dia sendiri juga merasa ada yang aneh dengan tatapan Elena tadi, tapi mungkin hanya perasaan nya saj, pikir Pangeran Arlon. "Dan bagaimana dengan Arlon, Ibu? Dia masih bernapas," tanya Pangeran Arkan. Ratu Selena menyeringai dingin, sebuah senyum yang penuh dengan kebencian. "Biarkan dia bernapas untuk malam ini, jika racun tidak bisa membunuhnya, dan pembunuh bayaran juga gagal, maka aku akan pastikan dia mati perlahan di depan matanya sendiri setelah aku menghancurkan satu-satunya hal yang melindunginya," ucap Ratu Selena, tersenyum licik. "Bawa gadis desa itu besok pagi. Aku ingin melihat seberapa kuat nyalinya di depanku," lanjut Ratu Selena dengan suara rendah yang penuh ancaman. Glek Pangeran Arkan hanya bisa menelan ludah nya kasar, dia tahu jika ibunya sudah menunjukkan sisi seperti ini, maka esok hari akan menjadi hari yang sangat berdarah bagi siapa pun yang berani menghalangi jalan mereka. Mereka terlalu fokus pada ambisi nya, tanpa mereka tahu, bahwa musuh mereka kali lebih berbahaya dari apa yang mereka lihat."El, coba kamu lihat ini," panggil Arlon dengan suara setengah berbisik, memanggil Elena tanpa menoleh ke belakang.Elena membuka matanya perlahan, mengusap pelipisnya yang masih berdenyut, lalu berjalan mendekati Arlon dengan langkah yang agak limbung."Ada apa? Kamu menemukan jejak anak buah Arkan?" tanya Elena masih sedikit lemas."Bukan. Lihat ukiran kuno ini," jawab Arlon menunjuk ke arah permukaan batu yang sudah dia bersihkan.Di sana, terukir sebuah simbol kuno berbentuk bunga matahari besar yang mekar sempurna, dengan detail kelopak yang sangat rapi.Ukiran itu tampak sangat tua, namun polanya benar-benar persis dengan gambar bunga matahari yang selalu disukai Elena, bahkan mirip dengan simbol pada kotak misterius dari pria bertudung hitam itu.DegElena terpaku di tempatnya berdiri, matanya menatap lekat-lekat ke arah ukiran batu tersebut.Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan ada rasa hangat yang aneh kembali menjalar dari ujung jarinya hingga ke seluruh tubuh, perl
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kamar, tepat mengenai wajah Arlon. Pangeran itu mengerjap-erjap, lalu meregangkan otot lehernya yang terasa kaku karena semalaman tidur dengan posisi bersandar di tepi ranjang.Begitu matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dia lihat adalah kasur jerami di sampingnya yang sudah kosong dan rapi."El?" panggil Arlon setengah berbisik, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.Tidak ada jawaban, seketika Arlon langsung menegakkan tubuhnya dengan panik, mengira terjadi sesuatu pada istrinya. Namun, pintu kamar mendadak terbuka pelan dan sosok Elena masuk sambil membawa sebuah bungkusan kain kecil."Jangan teriak-teriak, ini masih terlalu pagi untuk ukuran pedagang bangkrut yang pemalas," ucap Elena ketus, sambil menutup pintu kembali dengan sikutnya."Astaga, kamu membuatku jantungan, aku kira kamu diculik oleh anak buah Arkan saat aku ketiduran," ucap Arlon mengembuskan napas lega, lalu kembali duduk lemas di lantai.
Mendengar frasa Klan Penyembuh Matahari, Elena mendadak merasa dadanya sangat sesak, kepalanya mendadak berdenyut menyengat, membuat gadis itu refleks memegangi pelipisnya dengan tangan yang sedikit gemetar."Elena? Kamu kenapa?" tanya Arlon panik, wajah jahilnya langsung hilang total berganti kekhawatiran, bahkan dia lupa dengan nama samaran mereka."Kepalaku... mendadak pusing sekali," bisik Elena jujur, suaranya agak melemah, sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang pembunuh bayaran berdarah dingin."Ada rasa hangat yang aneh di dadaku, rasanya seperti tempat itu memanggilku..." ucap Elena lirih.Arlon meremas pelan jemari Elena, menyalurkan kehangatan tubuhnya untuk menenangkan istrinya."Tenang, El, atur napas mu perlahan, kita tidak bisa menarik perhatian mereka sekarang," ucap Arlon, khawatir.Elena memejamkan matanya selama beberapa detik, menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya perlahan sampai denyut di kepalanya agak mereda.Begitu dia membuka mata, dia l
"Aktingku lumayan bagus kan tadi, Elna? Pria itu langsung percaya kalau aku ini pedagang miskin," tanya Arlon, melirik Elena.Elena mengikat tali kudanya dengan kencang, lalu menoleh ke arah Arlon dengan senyuman miring yang tipis."Lumayan untuk ukuran pangeran yang selama ingin tidak pernah tahu dunia luar, tapi jangan senang dulu, kamar di atas pasti sangat kotor, dan tugas kita yang sebenarnya adalah menguping pembicaraan orang-orang di dalam kedai nanti saat makan malam," ucap Elena, menatap Arlon.Arlon mengusap tengkuknya sambil menatap bangunan kedai kayu yang tampak reyot itu."Iya, aku tahu. Tapi jujur, Elna, bau kotoran kuda di samping sini benar-benar menguji penciumanku. Ayo cepat masuk sebelum aku pingsan duluan," ajak Arlon, sudah mulai rewel.Pangeran buangan yang belum terbiasa dengan dunia luar itu, terlihat kurang nyaman dengan keadaan di luar, yang ternyata lebih kotor dari pada Paviliun Bintang tempat dia tinggal selama ini."Manja sekali, pdahal tadi di hutan gay
"Lalu kamu mau aku bilang apa, Arlon?! Bahwa aku ini monster? Atau aku ini penyihir?!" suara Elena sedikit meninggi, memperlihatkan emosi yang selama ini selalu dia tekan rapat-rapat di balik wajah datarnya.Arlon tertegun melihat reaksi Elena yang cukup emosional, dia sadar bahwa pertanyaannya mungkin telah menyentuh sisi sensitif dari masa lalu istrinya yang misterius.Dengan gerakan lembut, Arlon memajukan kudanya sedikit lebih dekat dan mengulurkan tangannya, menepuk pundak Elena dengan pelan."Hei, tenanglah, aku tidak bermaksud menuduh mu yang macam-macam, mau kamu monster, mau kamu penyihir, atau mau kamu cuma perempuan galak yang hobi menyiksa suaminya, kamu tetap Elena ku. Kamu tetap istriku yang sudah menyelamatkan nyawaku berkali-kali," ucap Arlon dengan senyuman tulus yang sangat hangat, matanya menatap Elena dengan binar penuh penerimaan.Elena terpaku mendengarkan kalimat Arlon. Rasa hangat yang familiar kembali menjalar di dadanya, perlahan mencairkan amarah dan ketakut
Arlon hanya bisa menghela napas panjang melihat keras kepalanya sang istri, meskipun dalam hati dia merasa lega karena Elena mau sedikit menurunkan kecepatan berkudanya.Mereka terus memacu kuda dalam keheningan selama beberapa menit, hanya suara derap kaki kuda dan patahan ranting kering yang memecah kesunyian hutan mati itu."Arlon," panggil Elena tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka."Ya? Ada apa? Kamu mulai merasa kasihan pada suamimu ini?" tanya Arlon dengan senyum miring andalannya, mencoba mencairkan suasana yang kaku.Elena mengabaikan godaan itu dan melemparkan tatapan serius ke arah jalanan di depan yang mulai melandai."Di depan ada pertigaan sungai keringat, itu adalah titik terdekat dengan jalur utama yang dilewati Arkan. Kita akan berhenti di sana sebentar untuk membaca jejak kaki kuda mereka," ucap Elena menjelaskan rencananya tanpa bantahan."Setuju, pasukan pribadi Arkan tidak sedikit, mereka pasti meninggalkan jejak yang cukup jelas, bahkan di malam hari se
Elena terdiam cukup lama, lalu dia menarik tangannya pelan dari genggaman Arlon."Aku ini pembunuh bayaran Arlon, tempatku di bayangan, bukan di bawah lampu aula pesta yang terang benderang. Aku tidak cocok pakai gaun mewah dan senyum palsu di depan para bangsawan munafik itu," jawab Elena, mengali
"Kamu tahu tidak? Tadi itu pemandangan paling aneh yang pernah kulihat, penjaga hutan itu, dia seperti melihat dewa, bukan melihat pangeran yang sekarat," ucap Arlon tertawa kecil, suara seraknya terdengar sangat dekat di telinga Elena."Darah naga itu langka, Arlon, wajar kalau pria seperti dia me
"Istirahatlah sepuluh menit," ucap Elena akhirnya, berusaha kembali ke mode profesionalnya."Sepuluh menit saja? Pelit sekali istriku ini," keluh Arlon manja, tapi dia tetap memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya ke bahu Elena yang terasa kokoh sekaligus nyaman.Elena tidak mendorongnya kali in
Elena mendengus, namun dia tidak menepis tangan Arlon, dia memilih kembali fokus pada Anggrek Api yang bergoyang tertiup angin di tengah sungai.Air sungai yang berwarna perak itu terlihat tenang, tapi Elena tahu ada sesuatu yang mengintai di baliknya."Duduk di sini, jangan bergerak sedikit pun,"







