เข้าสู่ระบบSelena yang kebingungan, terpaksa mengikuti Don. Kemeja yang dia kenakan membuatnya terlihat seperti gadis kecil nakal yang dipaksa menurut agar tidak mendapat hukuman."Kamu mau ngapain?""Duduk di pinggir ranjang," ucap Don tegas, mengabaikan pertanyaan Selena. Matanya tertuju pada pergelangan tangan halus Selena yang memar kebiruan, bekas cengkeraman kasar pengawal Vargas saat kejadian di ruang makan tadi."Aku bisa obati sendiri! Lepaskan!" sentak Selena saat Don menarik pergelangan tangannya dan mendudukkannya paksa di tepi ranjang berseprai sutra."Diamlah jika kau tidak ingin kutiduri malam ini," bisik Don rendah. Ancaman dalam suaranya membuat Selena bungkam seketika, meski matanya tetap menyala menatap Don penuh amarah.Don berlutut di satu kaki di hadapan Selena. Jemari besarnya yang kasar bergerak teramat lembut saat mengoleskan salep dingin ke kulit Selena yang memar. Kontras antara kekejaman Don saat mematahkan leher orang dan kelembutan jemarinya saat ini membuat dada Se
Don tertawa pelan, membiarkan dorongan Selena menggeser tubuhnya satu langkah ke belakang. Tatapan matanya yang gelap mengunci wanita mungil milikmya"Sampai sejauh mana kamu akan mendorongku, Piccola?" ejek Don. Dia dengan sengaja menangkap tangan Selena dan mengecupnya dengan bibir yang basah.Selana menahan napas, ciuman itu mungkin biasa saja bagi orang lain, tapi bagi Selena, ciuman itu begitu menggoda dan membangunkan saraf-saraf dalam tubuhnya."Pelayan di kamar atas sudah menyiapkan semua kebutuhanmu," ujar Don santai. sambil merapikan lengan kemejanya. Dia tak sadar kalau sudah membuat Selena hampir gila."Apa aku harus melakukan semua perintahmu?" protes Selena menutupi gejolak aneh dari bagian bawah perutnya. "Tentu saja! Dan aku tidak suka dibantah. Pergilah! Aku ada urusan di bawah."Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Selena berbalik dan setengah berlari menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Dia harus segera kabur dari hadapan pria itu sebelum ikutan sinting sepertiny
Mobil sedan lapis baja itu melaju menembus kegelapan perbukitan. Selena memeluk dirinya sendiri di sudut kursi, napasnya masih tersengal-sengal. Noda darah kering di gaun sutra merah marunnya terasa gatal dan panas, tetapi yang lebih membakar adalah bekas hembusan napas Don di lehernya.Mengapa dadaku berdebar segila ini?! Hanya karena bisikan pria sinting ini?! Tidak, tidak boleh! Dia seorang monster! batin Selena panik, berusaha menekan desiran aneh yang terus merayapi dadanya.Mobil akhirnya berhenti di pelataran safehouse beton yang terisolasi di tengah hutan. Don melepas sabuk pengamannya, melangkah keluar, lalu membukakan pintu untuk Selena."Turunlah," perintah Don singkat, mengulurkan tangannya.Selena menepis tangan itu dengan kasar hingga menimbulkan suara tepukan nyaring. "Jangan sentuh aku! Aku punya kaki sendiri!"Don tersenyum miring, menarik tangannya santai. "Galak sekali. Padahal tadi di meja makan kau memeluk leherku erat sekali, Selena.""Itu karena aku hampir jatuh
Hanya butuh waktu kurang dari lima detik. Don menerobos sebelum pengawal Vargas sempat menembak, Don sudah mencengkeram rahang pria itu, memutarnya dengan sudut mematikan hingga bunyi remukan tulang bergema mengerikan, lalu menyarangkan dua timah panas tepat di dadanya dari jarak dekat.DOR! DOR!Darah segar terpercik ke atas gaun sutra merah marun Selena. Sedangkan tubuh pengawal itu roboh tak bernyawa ke atas marmer.Selena terperanjat dengan napas tertahan saat melihat kematian di depan matanya secara langsung."Apa yang sudah kamu lakukan?" ucapnya bingung.Lututnya lemas seketika. Namun, sebelum tubuhnya menghantam lantai, sepasang lengan kokoh berotot merengkuh pinggangnya dengan cepat.Don menarik Selena rapat ke dada bidangnya. Detak jantung pria itu bergemuruh kencang, bukan karena panik, melainkan karena kemurkaan yang memuncak."Tuan, apa kau perlu memanggil dokter?" tanya Marco panik.Bukannya menjawan, Don malah menikmati aroma vanila-lavender yang menguar dari leher Sele
"Ingat! Apa pun yang terjadi, jangan pernah meninggalkannya sendirian.""Baik, Tuan Muda," jawab Marco patuh.Don berbalik, melangkah lebar meninggalkan ruang makan menuju aula utama. Setiap pijakan langkah sepatu kulitnya bergema, menyongsong bahaya yang menunggunya di luar.Di atas meja makan, Selena merosotkan bahunya, napasnya memburu cepat. Reaksi kimia dalam tubuhnya, perpaduan antara lonjakan adrenalin akibat bentakan Vargas dan kedekatan fisiknya dengan Don, membuat aroma minyak parfum racikannya kian tercium di sekitar ruang makan.Selena menatap Marco yang berdiri tegap menjaga ambang pintu, bersiap menghajar siapa saja yang berani menyentuh wanita milik Tuannya."Siapa yang berteriak di luar itu? Apa dia benar-benar kakek dari Don?"Marco menatap Selena dari sudut matanya, suaranya tetap formal dan tanpa emosi."Itu Tuan Vargas Mackenzie. Pria yang mendirikan kekaisaran ini dari darah dan tulang. Beliau yang mengatur perjodohan Tuan Muda Don dengan putri tunggal keluarga De
Seringai tipis yang sarat akan ketertarikan terukir di bibir Don. Dia menarik kembali tangannya tanpa rasa tersinggung, lalu menyusul Selena dan menarikkan kursi berukir klasik untuk gadis itu. "Makanlah," ucap Don dengan suara bariton yang teratur, duduk di ujung meja yang tak jauh dari Selena. "Kau belum menyentuh makanan sejak kemarin." Selena hanya menatap piring porselen berisi potongan daging premium dan saus kismis di hadapannya dengan ekspresi mual. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Lepaskan aku, maka aku bisa makan dengan tenang di tempatku." Don menghentikan gerakan jemarinya yang hendak meraih gelas anggur. Tatapan matanya mendadak meredup. Kemudahan yang coba dia berikan baru saja dihantam keras oleh benteng pertahanan Selena. "Aku memberimu makanan terbaik di kota ini, Selena," suara Don merendah, menekan setiap kata. "Jangan menguji kesabaranku." "Aku tidak pernah memintamu untuk memberiku makanan." Selena bersedekap, menatap lurus ke dalam manik mata Don yang taja







