LOGIN"Lepaskan, Don, ini sudah pagi!" protes Selena parau. Tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun menggeliat manja di bawah dekapan dada Don yang kekar dan berotot."Lepaskan? Hmm, tidak sebelum Istriku menciumku dengan benar." Tubuh Don kembali mengeras di bagian tengah. Kehangatan Selena membuat gairahnya bangkit tanpa aba-aba.Selena tertawa renyah saat sapuan bibir hangat Don menyusuri garis rahangnya. Pagi itu, kamar utama rumah persembunyian rahasia di balik hutan pinus diselimuti sinar matahari yang menerobos masuk dari celah tirai, menyoroti seprai abu-abu yang kusut akibat gairah malam panjang mereka.Selena meringkuk manja di dalam dekapan Don, menatap wajah tegas suaminya yang terlihat begitu santai tanpa topeng dingin sang ketua mafia. Selena sadar, dia merasa nyaman setiap Don memeluknya."Kau ini tidak ada kapoknya, ya?" goda Selena seraya menepuk dada tegap Don yang tak terlapisi kain. "Punggungmu baru saja diobati semalam, tapi tenagamu seperti banteng.""Banteng ini baru s
"Kumpulkan seluruh komandan divisi malam ini juga!" bentak Steven pada para pengawal yang berjaga di pintu."Siap, Tuan!""Mobilisasi divisi satu dan dua! Siapkan armada lapis baja dan kendaraan tempur! Kita gempur wilayah klan MacKenzie sampai rata dengan tanah!"Steven menoleh pada Valerie, menepuk pelan puncak kepala keponakan tersayangnya dengan kelembutan yang tulus."Obati lukamu, Nak. Paman akan membawa kepala wanita itu di atas nampan perak untukmu. Dan Don akan bersujud meminta ampun di bawah kakimu."Valerie menatap lurus ke arah pintu keluar dengan binar mata menyala bagai iblis. "Tapi jangan bunuh Don, Paman. Biarkan dia melihat wanitanya hancur dulu, baru dia bisa berlutut padaku."Paman Steven mengangguk lalu berpaling pada Kakaknya, Tuan Delaros."Kak, jangan basahi tangan Kakak dengan darah kotor mereka dalam peperangan kali ini. Izinkan aku yang memimpin pertempuran ini sampai titik darah penghabisan."Tuan Delaros mendekati adik laki-laki satu-satunya, lalu menatapn
Valerie memalingkan wajahnya. Jemarinya mencengkeram erat pinggiran mantelnya. Satu tetes air mata menetes halus melintasi pipinya yang masih kotor bekas abu dan sisa kebakaran.Dia memang sengaja tidak membersihkan wajahnya karena harus terlihat begitu menderita. Sebuah gestur terluka yang diperagakan dengan amat sempurna."Don berkhianat, Paman," bisik Valerie, suaranya bergetar dibuat-buat."Apa katamu?!" Terdengar sebuah teriakan menggelegar, mengagetkan seisi ruangan. Tuan Delaros, Papa dari Valerie, beserta Nyonya Delaros, berjalan cepat ke arah puteri tercinta mereka."Papa, Mama ..." isak Valerie begitu melihat sosok-sosok orang yang sangat mencintainya."Maafkan kami, puteriku. Maaf sudah datang terlambat untuk menyelamatkanmu," isak Nyonya Delaros. Dipeluknya tubuh Valerie yang penuh luka. Hatinya hancur melihat kondisi puterinya seperti itu.Puteri tunggalnya, adalah hartanya yang paling ia jaga selama ini. Nyonya Delaros sangat memanjakan Valerie. Apa pun keinginan gadis i
"Kurang ajar! Aku tak akan pernah biarkan wanita mana pun merebut milikku."Darah Valerie mendidih seketika. Rasa sakit di tubuhnya mendadak terkalahkan oleh gelombang dendam dan kebencian yang teramat sangat. Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini berubah menjadi raut penuh dendam yang mengerikan."Gadis kasir sialan itu ..." desis Valerie dengan mata menyala seperti iblis. "Dia pikir dia sudah menang hanya karena memegang surat nikah?"Valerie perlahan bangkit dibantu oleh pengawalnya. Dari kejauhan, dia melirik ke arah istana Vargas yang masih dilalap sisa-sisa api, lalu menoleh ke arah utara, wilayah kekuasaan klan Delaros, keluarga besarnya yang memiliki armada militer terbesar di distrik luar."Klan Delaros tidak akan pernah membiarkan hinaan ini berlalu," ujar Valerie dingin, menyapu darah tipis di bibirnya dengan punggung tangan."Saya paham, Nona.""Tunggu saja pembalasanku. Aku akan pastikan, pernikahan Don dan 'Ratu' barunya itu berakhir dengan pertumpahan darah yang
Selena meremas punya Don sehingga pria itu mengerang nikmat. Perlahan, dia menuntun milik Don, menerobos ke tempat terdalamnya. Don mengisinya dengan perlahan, sampai milik Selena menelan kejantanannya utuh."Akkkhhh, Don ..." rintih Selena ketika milik Don berkedut liar di dalamnya."Masih sakit," tanya Don sambil memompa dengan ritme yang berbeda-beda."Sedikit, tapi aku akan terbiasa.""Bertahanlah, aku akan menghujammu lebih dalam dan keras lagi, menyentuh dinding-dindingmu yang paling nikmat dan sensitif."Selena ingin menjawab, tapi dorongan Don yang begitu dalam membuatnya mengerang hebat. Ada sensasi panas, perih dan nikmat secara bersamaan.Rasa sakit itu perlahan berganti menjadi gelombang kenikmatan yang memabukkan, Selena mulai menggerakkan pinggulnya pelan, menyambut Don. Gerakan mereka mulai seimbang."Ah, Selena. Kau menyiksaku," erang Don serak saat rasa hangat dan rapatnya tubuh Selena mencengkeram kelakiannya begitu erat."Bukankah kau yang menginginkan ini, Tuan Maf
"Aaahh ..." Selena melempar kepalanya ke belakang saat jemari Don yang lihai menyusup lebih jauh, menyentuh titik paling sensitif di antara pahanya yang terlindung kain tipis. Gelombang panas merayapi seluruh saraf Selena, membuatnya meremas bahu Don sekuat tenaga.Don yang masih ingin bermain-main, menarik sisa pakaian Selena, sehingga memperlihatkan keindahan tubuh wanitanya yang polos tanpa selembar benang."Tuan Mafia," desah Selena sambil mengelus lengan Don yang berotot dan kokoh.Don tersenyum lembut, tatapannya terpaku pada bagian dada Selena yang terekspos sempurna. Pria itu menahan napasnya sejenak, matanya berkilat penuh kagum dan damba."Sempurna ..." gumam Don serak, suaranya bergetar karena gairah. "Semuanya tentangmu benar-benar sempurna.""Jangan cuma dilihat, Tuan Vargas," bisik Selena menggoda, keberaniannya kian meletup di bawah dominasi dan kejantanan Don.Don menyunggingkan senyum liar yang menggoda. "Dengan senang hati, Wanitaku."Dia menundukkan kepalanya, menya







