เข้าสู่ระบบ"Nyai Songket...!" gumam Baraka bagaikan tak sadar mulutnya mengucap nama itu begitu ingatannya menemukan sepotong nama tersebut. Tapi sang nenek bagaikan tak peduli dengan gumaman Baraka. Matanya yang cekung tertuju pada Kinanti. Agaknya gadis cantik itu juga sudah mengenal Nyai Songket, sehingga ia segera menyapa dengan sikap tak ramah."Rupanya kaulah yang membunuh orang kurus itu, Nyai Songket!""Tutup mulut bodohmu, Kinanti. Aku tidak mengenal mayat orang kurus itu! Aku datang untuk bikin perhitungan sendiri denganmu! Kau telah membunuh muridku; Widowidi. Sekarang aku menuntut balas atas kematian murid kesayanganku itu, Kinanti!"Baraka sempat membatin, "Bahaya! Nyai Songket ini terkenal dengan ilmu teluhnya. Kinanti tak akan mampu mengimbangi kekuatan Nyai Songket. Agaknya aku harus segera bergerak untuk mematahkan tiap serangan Nyai Songket.""Hutang nyawa balas nyawa, Kinanti!" ujar Nyai Songket sambil bergeser ke samping dan diikuti oleh pandanga
Plaaaak...!Kinanti menampar keras-keras wajah orang kurus itu hingga orang tersebut terpelanting berputar empat kali dengan cepat. Kejap berikutnya ia roboh akibat tendangan kaki Kinanti yang cukup kuat. Tubuhnya terkapar di bawah pohon dalam keadaan tidak berkutik lagi. Sebuah pekikan kecil sempat didengar oleh mereka sebelum orang itu roboh.Pendekar Kera Sakti segera mendekati orang tersebut dengan perasaan heran dan curiga, ia memeriksanya dengan pandangan mata dan dahi berkerut. Kinanti menyusul mendekati Baraka. Wajah orang kurus itu telah memucat, mulutnya ternganga dan matanya terbeliak tak berkedip. Tak satu pun bagian tubuhnya yang bergerak. Bahkan dadanya tidak kelihatan sedang bernapas."Dia tewas!" ujar Baraka sambil pegangi urat leher orang itu dan matanya memandang Kinanti. Gadis berjubah kuning gading itu setengah tidak percaya, kemudian memeriksa pergelangan tangan orang tersebut. Ternyata memang tak ada denyut nadi lagi. Itu tandanya orang ter
"Apakah Ratu Jiwandani tak tahu juga bahwa orang itu adalah si Tulang Naga?""Ratu tidak mengenal nama itu, karena ia tidak sebut-sebut nama Tulang Naga.""Jika Ratu tidak kenal dengan Tulang Naga, berarti orang yang membumihanguskan Lembah Birawa bukan dia."Kinanti segera berpaling menatap Pendekar Kera Sakti. Dahinya berkerut, pandangan matanya tajam penuh tanda tanya."Jika bukan Tulang Naga, lalu siapa orangnya yang memegang pusaka Sabuk Gempur Jagat? Setahuku sabuk pusaka itu dipegang olehnya.""Baru sekarang kudengar ada pusaka Sabuk Gempur Jagat," ujar Kinanti. "Tapi aku belum pernah melihat bentuknya.""Apakah malam itu kau tidak melihat sabuk pusaka itu digunakan oleh orang tersebut?"Kinanti gelengkan kepala. "Aku hanya mendengar pengaduan dari anak buahku. Api telah berkobar dan aku segera larikan sang Ratu tanpa sempat berhadapan dengan orang tersebut.""Jadi kau tidak tahu ciri-ciri si pemegang Sabuk Gempur Jagat?
Plaaak...!Tiba-tiba Kinanti layangkan tamparan tangannya ke wajah Wirya Tabah tanpa tanggung-tanggung lagi. Lelaki yang usianya lebih banyak dari Kinanti itu terpelanting jatuh bersimpuh akibat tamparan tersebut. Wajah yang ditampar menjadi merah, menandakan tamparan itu disertai hempasan tenaga dalam walau berukuran sedangsedang saja. Wirya Tabah tak berani melawan atau membalas, ia hanya bangkit dan tetap tundukkan kepala bersikap sebagai orang bersalah."Di mana rasa baktimu kepada negeri dan ratumu, Wirya Tabah! Dalam keadaan diserang bahaya sekeji ini kau pergi tanpa mau menanggung akibatnya. Pengabdian macam apa yang kau miliki itu, Wirya Tabah!"Kinanti angkat tangan kanannya dan ingin tampar Wirya Tabah lagi, tapi seruan Baraka menghentikan gerak tangan tersebut."Cukup!" Baraka kian mendekati Kinanti. "Jangan limpahkan dendam dan kemarahanmu kepada Paman Wirya Tabah, Kinanti. Bukankah ia pergi sudah seizin sang Ratu?"Mata gadis cantik it
Puing-puing itu menyebar ke segala arah, menimbuni kepala si pemilik panah tersebut. Orang bermata agak besar itu hanya terperangah bengong pandangi Pendekar Kera Sakti. Namun hatinya sempat menggumam sendiri, "Hebat sekali dia? Panahku bisa dikembalikan dalam keadaan lebih cepat dan berkekuatan tenaga dalam cukup dahsyat! Gila! Agaknya aku tak boleh anggap remeh anak mudah itu. Hmmm... siapa dia sebenarnya? Aku sepertinya pernah melihatnya secara sepintas, tapi tak sempat mengenalnya lebih dekat lagi. Dilihat dari raut mukanya, agaknya dia bukan orang jahat. Sebaiknya kukurangi kecurigaan jelekku terhadap anak muda itu."Pendekar Kera Sakti semakin dekati orang tersebut. Dalam jarak tujuh langkah kurang ia berhenti dan menyapa dengan suaranya yang bernada kalem, mata memandang tanpa kesan permusuhan. "Apa maksudmu menyerangku, Paman? Siapa kau sebenarnya?""Justru seharusnya aku yang berkata begitu!" jawab orang itu masih menampakkan sikap permusuhannya.Baraka
SISA-SISA kebakaran membentuk bayangan kerangka hitam menyeramkan. Pilar-pilar istana bagaikan sosok hantu hitam tanpa gerak dan sara. Diwarnai oleh kepulan asap tipis sisa kebakaran dan bau daging hangus di sana-sini, siapa pun yang lewat di hamparan puing-puing hitam itu akan merinding bulu kuduknya. Begitu pula yang dirasakan oleh pemuda tampan berambut poni tanpa ikat kepala. Pemuda yang kenakan rompi tanpa lengan itu pandangi tiang-tiang hitam yang menjadi saksi bisu atas kekejian yang telah melanda tempat tersebut.Pemuda berbadan tegap, kekar, dan gagah itu mempunyai sepasang mata tajam berwarna biru yang kala itu tak mampu berkedip karena terperangah menyaksikan keadaan sekitarnya. Pemuda yang dikenal dengan nama Baraka alias si Pendekar Kera Sakti."Mengapa bisa jadi begini?" Pendekar Kera Sakti membatin dengan heran. "Siapa orangnya yang telah membumihanguskan istana ini? Apakah tak satu pun ada yang selamat? Oh... menjijikkan sekali. Di sana-sini bergelimpan
"Aku hanya ingin melihat, siapa orang yang menyerang Tapak Baja dari tempat persembunyiannya! Karena saat aku hendak membawamu pergi, Tapak Baja sedang terdesak oleh serangan berilmu tinggi," ucap Pendekar Kera Sakti.“Tak perlu. Tak perlu, Baraka! Sebaiknya kita tinggalkan saja merek
Sementara Baraka melakukan penyembuhan terhadap diri Peramal Pikun, di luar pondok itu Dewa Racun mencoba memancing ikan untuk santapan nanti. Ia memancing ikan bukan dengan kail maupun pancingan bila, melainkan menggunakan sehelai daun ilalang.Daun ilalang itu dibelah menjadi dua pada tia
Di kaki langit sebelah timur, matahari tersembul memantulkan sinar rona jingga. Ayam jantan liar mengumandangkan kokoknya yang gagah, menyapa hari di ambang pagi. Gumpalan awan berarak di cakrawala. Sementara, tiupan angin sejuk melengkapi lahirnya hari ini.Dalam terpaan lembut hawa pagi,
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai







