LOGINTetapi tiba-tiba sekelebat Sinar putih perak dari telapak tangan sang pengintai melesat lebih dulu sebelum Rajang Lebong lepaskan jurus 'Pasir Neraka' andalannya.
Zlaaap...!
Sinar putih perak yang dinamakan jurus 'Tapak Dewa Kayangan' itu tepat kedai dada Rajang Lebong.
Deeub...! Blaaarrr...!
Apa yang terjadi sungguh tak diduga-duga oleh Pangkas Caling. Tubuh Rajang Lebong hancur. Pecah menjadi serpihan-serpihan daging dan tulang yang menyebar ke mana-mana. Bahkan
Dalam lamunannya Baraka berkata membatin, "Jika gelang itu ada di tangan Anak Petir, berarti dia cukup berbahaya. Tingkahnya akan semakin ganas dan sudah tentu dia akan bikin ulah yang bukan-bukan. Mungkin saja ia sekarang sedang menyusun rencana untuk menyerang Tanjung Samudera, sebab ia tampaknya sangat bernafsu untuk menguasai negeri itu."Renungan itu terputus, karena ekor mata Pendekar Kera Sakti tiba-tiba menangkap seberkas sinar merah yang melesat dari balik kerimbunan pohon bambu wulung. Dengan gerakan cepat Baraka mengangkat suling mustikanya dan melintangkannya di depan dada Dinada. Gadis itu terkejut dan hampir berang karena menyangka Baraka mau berkurang ajar lagi."Kau memang..."Baru berkata demikian, Dinada kaget melihat sinar datang menghantamnya. Untung ada suling mustikanya Baraka. Sinar itu membentur suling mustika dan membalik ke arah semula dengan lebih cepat dan lebih besar lagi.Wesss...! Duarrr...!Entah berapa pohon bambu y
Baraka diam, menyimak cerita tersebut sambil duduk di atas sebuah batu, di depan Dinada yang dari tadi menyendiri di samping gubuk tersebut."Aku memergoki pamanku bertarung dengan Nini Kutang Katung. Paman tahu kalau aku ada di sekitar tempat pertarungan tersebut. Ketika Paman terdesak, ia melemparkan sesuatu padaku. Aku segera menangkapnya, dan ternyata Gelang Naga Dewa. Paman menyuruhku agar lari meninggalkan tempat. Aku menurut karena waktu itu dalam keadaan bingung.""Lalu, bagaimana bisa jatuh ke tangan Anak Petir?""Itulah kebodohanku," kata Dinada dengan rasa sesal yang dalam. "Anak Petir sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Ketika mendiang Guru masih hidup dan ia masih tinggal di Bukit Kasmaran, Anak Petir sangat sayang kepadaku, dan mengangkatku sebagai saudara kandung. Sebab ia dilahirkan oleh Ibunya sebagai anak tunggal....""Ibunya itu yang menjadi gurumu?""Benar. Nyai Guntur Ayu adalah nama guruku, ibu dari si Anak Petir itu. Ta
Hembusan angin yang dikeluarkan dari kelebatan tangan Nini Kutang Katung membuat tubuh Dinada yang baru turun dari lompatannya itu terpental ke belakang dan jatuh berguling-guling di pasir pantai.Clapp...!Baru saja Dinada hendak bangkit, seberkas sinar hijau seperti tadi melesat dari jari telunjuk sang nenek. Sinar itu hendak menghantam tubuh Dinada yang belum menyadari kedatangan sinar itu.Pendekar Kera Sakti tidak mau biarkan gadis itu hancur seperti karang, ia segera melepaskan jurus 'Tenaga Matahari Merah' dari dua jari yang dikeraskan. Sentakan dua jari ke depan mengeluarkan sinar merah yang menghantam perjalanan sinar hijaunya Nini Kutang Katung itu.Zlapp...! Blegarrr...!Ledakan yang menggelegar membahana membuat Nini Kutang Katung terjengkang ke belakang dan terguling-guling bersama tongkatnya yang baru saja dicabut."Dinada, cari tempat berlindung!" seru Baraka yang mulai menghadang jarak di depan Nini Kutang Katung. Su
"Iya. Aku yang menaburkan 'Debu Neraka', biar kalian berdua mampus. Hih, hih, hih, hih...!""Mengapa kau menghendaki kematian kami, Nini?""Sebenarnya tidak. Aku hanya sekadar pamer kesaktian, biar kau dan kekasihmu itu tahu bahwa ilmuku cukup tinggi, sehingga kalian tidak perlu menentang kehendakku, dan jangan coba-coba melawanku. Hih, hih, hih, hih...!"Pendekar Kera Sakti berbisik kepada Dinada. "Siapa orang ini?""Nini Kutang Katung.""Aku baru mendengar namanya. Kalau kata 'kutang' aku sering mendengar, tapi kalau 'Kutang Katung' baru mendengarnya sekarang.""Dia penguasa Pulau Sarang Iblis, musuh pamanku; Raja Hantu."Pendekar Kera Sakti pun angguk-anggukkan kepala sambil menggumam lirih."Apa maksudmu menemui kami, Nini!" tanya Dinada."Kulihat pusaka itu dititipkan padamu oleh Raja Hantu! Lalu ia lari dari pertarungan setelah kau menghilang. Hih, hih, hih... licik sekali kalian. Sekarang saatnya aku meminta pusak
Dinada mau marah karena mulutnya dicekal seenaknya oleh Baraka. Tetapi ketika melihat wajah Baraka menjadi tegang, Dinada tak jadi marah bahkan ikut tegang juga."Aku mendengar suara detak jantung orang lain di sekitar kita," bisik Baraka.. Napasnya terasa menghangat di pipi dan telinga Dinada. Mulut itu pun segera dilepaskan karena Dinada menggigit kecil kulit telapak tangan Baraka."Sial!" gerutu Baraka sambil mengibaskan tangannya yang digigit.Wuttt...!Tiba-tiba Dinada lompat ke depan, tubuhnya melayang di udara dan bersalto satu kali. Baraka terperanjat sekejap, namun bertepatan dengan itu sebuah benda menancap di tempat duduk Dinada.Jrabb...!Baraka makin kaget. Benda itu adalah senjata rahasia berbentuk bunga cempaka dari logam putih mengkilat. Ujung-ujung kelopaknya meruncing sedikit kebiruan, menandakan senjata itu mengandung racun yang berbahaya. Baraka ingin mencabut benda itu, tapi Dinada berseru," Jangan sentuh!"
Dengan satu sentakan napas perut, tubuh Pendekar Kera Sakti melesat lompat dari atas punggung kuda. Tangannya menyambar gadis di depannya.Wuuttt...!Mereka berdua melayang di udara. Dinada dalam pelukan Baraka. Gadis itu dipeluk erat-erat karena khawatir jatuh terjungkal. Sedangkan sang kuda akhirnya melompat ke jurang tanpa penumpang."Iieeehhh...!" jerit sang kuda sebelum masa hidupnya berakhir di dasar jurang.Jlegg...! Baraka berhasil mendaratkan kakinya di tanah dengan masih memeluk Dinada. Gadis itu selamat dari bahaya, namun tak bisa selamat dari pelukan Pendekar Kera Sakti.Begitu pelukan dilepas oleh Baraka, Dinada segera berbalik menghadap Baraka. Tersenyum kaku, lalu...Plok!Baraka ditampar dengan tangan kiri."Kurang ajar! Menggunakan kesempatan dalam kesempitan kau, ya!" gertak Dinada.Tamparan itu tak seberapa keras, namun cukup membuat Baraka malu. Ia hanya nyengir sambil mengusap-usap pipinya yang kena