LOGIN"Apa maksudmu bertepuk tangan, Bwana Sekarat?" tegur Pendeta Mata Lima.
Dengan suara parau karena dalam keadaan tidur, KI Bwana Sekarat menjawab, "Aku memuji kehebatan Gusti Manggala-ku ini!" seraya tangannya menuding Baraka dengan lemas. "Masih muda, tapi justru akan menjadi pelindung kalian yang sudah tua dan berilmu tinggi!"
"Jaga bicaramu agar jangan menyinggung perasaanku, Bwana Sekarat!" hardik Pendeta Mata Lima.
Ki Bwana Sekarat tertawa pendek, seperti orang mengig
Hembusan angin yang dikeluarkan dari kelebatan tangan Nini Kutang Katung membuat tubuh Dinada yang baru turun dari lompatannya itu terpental ke belakang dan jatuh berguling-guling di pasir pantai.Clapp...!Baru saja Dinada hendak bangkit, seberkas sinar hijau seperti tadi melesat dari jari telunjuk sang nenek. Sinar itu hendak menghantam tubuh Dinada yang belum menyadari kedatangan sinar itu.Pendekar Kera Sakti tidak mau biarkan gadis itu hancur seperti karang, ia segera melepaskan jurus 'Tenaga Matahari Merah' dari dua jari yang dikeraskan. Sentakan dua jari ke depan mengeluarkan sinar merah yang menghantam perjalanan sinar hijaunya Nini Kutang Katung itu.Zlapp...! Blegarrr...!Ledakan yang menggelegar membahana membuat Nini Kutang Katung terjengkang ke belakang dan terguling-guling bersama tongkatnya yang baru saja dicabut."Dinada, cari tempat berlindung!" seru Baraka yang mulai menghadang jarak di depan Nini Kutang Katung. Su
"Iya. Aku yang menaburkan 'Debu Neraka', biar kalian berdua mampus. Hih, hih, hih, hih...!""Mengapa kau menghendaki kematian kami, Nini?""Sebenarnya tidak. Aku hanya sekadar pamer kesaktian, biar kau dan kekasihmu itu tahu bahwa ilmuku cukup tinggi, sehingga kalian tidak perlu menentang kehendakku, dan jangan coba-coba melawanku. Hih, hih, hih, hih...!"Pendekar Kera Sakti berbisik kepada Dinada. "Siapa orang ini?""Nini Kutang Katung.""Aku baru mendengar namanya. Kalau kata 'kutang' aku sering mendengar, tapi kalau 'Kutang Katung' baru mendengarnya sekarang.""Dia penguasa Pulau Sarang Iblis, musuh pamanku; Raja Hantu."Pendekar Kera Sakti pun angguk-anggukkan kepala sambil menggumam lirih."Apa maksudmu menemui kami, Nini!" tanya Dinada."Kulihat pusaka itu dititipkan padamu oleh Raja Hantu! Lalu ia lari dari pertarungan setelah kau menghilang. Hih, hih, hih... licik sekali kalian. Sekarang saatnya aku meminta pusak
Dinada mau marah karena mulutnya dicekal seenaknya oleh Baraka. Tetapi ketika melihat wajah Baraka menjadi tegang, Dinada tak jadi marah bahkan ikut tegang juga."Aku mendengar suara detak jantung orang lain di sekitar kita," bisik Baraka.. Napasnya terasa menghangat di pipi dan telinga Dinada. Mulut itu pun segera dilepaskan karena Dinada menggigit kecil kulit telapak tangan Baraka."Sial!" gerutu Baraka sambil mengibaskan tangannya yang digigit.Wuttt...!Tiba-tiba Dinada lompat ke depan, tubuhnya melayang di udara dan bersalto satu kali. Baraka terperanjat sekejap, namun bertepatan dengan itu sebuah benda menancap di tempat duduk Dinada.Jrabb...!Baraka makin kaget. Benda itu adalah senjata rahasia berbentuk bunga cempaka dari logam putih mengkilat. Ujung-ujung kelopaknya meruncing sedikit kebiruan, menandakan senjata itu mengandung racun yang berbahaya. Baraka ingin mencabut benda itu, tapi Dinada berseru," Jangan sentuh!"
Dengan satu sentakan napas perut, tubuh Pendekar Kera Sakti melesat lompat dari atas punggung kuda. Tangannya menyambar gadis di depannya.Wuuttt...!Mereka berdua melayang di udara. Dinada dalam pelukan Baraka. Gadis itu dipeluk erat-erat karena khawatir jatuh terjungkal. Sedangkan sang kuda akhirnya melompat ke jurang tanpa penumpang."Iieeehhh...!" jerit sang kuda sebelum masa hidupnya berakhir di dasar jurang.Jlegg...! Baraka berhasil mendaratkan kakinya di tanah dengan masih memeluk Dinada. Gadis itu selamat dari bahaya, namun tak bisa selamat dari pelukan Pendekar Kera Sakti.Begitu pelukan dilepas oleh Baraka, Dinada segera berbalik menghadap Baraka. Tersenyum kaku, lalu...Plok!Baraka ditampar dengan tangan kiri."Kurang ajar! Menggunakan kesempatan dalam kesempitan kau, ya!" gertak Dinada.Tamparan itu tak seberapa keras, namun cukup membuat Baraka malu. Ia hanya nyengir sambil mengusap-usap pipinya yang kena
"Minggir kau!" hardiknya."Apakah kau pamannya Dinada yang bernama Raja Hantu!" Baraka bahkan bertanya kalem."Iya! Sudah tahu pakai bertanya segala! Mau apa kau, hah!""Melindungi Dinada!" jawab Pendekar Kera Sakti dengan tegas sekali, membuat Raja Hantu terkesiap."Anak haram kau! Berani-beraninya bersikap begitu di depanku, Hah! Apakah kepalamu belum pernah pecah!""Pecah memang belum. Tapi retak sering, Paman," jawab Baraka tampak sabar dan tenang sekali. Tentu saja sikap itu membuat Raja Hantu semakin berang.Dua jari tangannya mengeras lurus, lalu ditusukkan ke depan, seperti menusuk udara.Suttt...!"Heegh...!" Baraka terpekik tertahan. Ulu hatinya seperti disodok memakai bambu sebesar betis. Mual dan sakit sekali. Tubuh pemuda berbaju coklat tanpa lengan itu sempat terbungkuk karena menahan rasa sakit itu.Rupanya Raja Hantu mengirimkan pukulan tenaga dalamnya berupa sodokan kuat di ulu hati Baraka. Bahkan kali i
"Baiklah, aku akan menolongmu," kata Baraka akhirnya menyerah daripada berdebat melantur-lantur menghabiskan waktu."Jadi, kau bersedia menolongku?""Ya, aku bersedia. Sekarang sebutkan namamu.""Namaku... Dinada."Baraka berkerut heran, tapi menyunggingkan senyum geli. "Namamu aneh sekali. Apakah kau orang dari seberang?"Dinada gelengkan kepala. "Aku orang dari Bukit Kasmaran. Letaknya di sebelah timur sana."Pendekar Kera Sakti manggut-manggut sambil beradu pandang dengan Dinada. Ada getaran halus di hati Pendekar Kera Sakti saat pandangan mata beradu agak lama. Senyum nakal Dinada sengaja dipamerkan, dan senyuman itulah yang membuat Baraka memendam keresahan, lalu segera buang muka. Dinada melangkah agak menjauh. Kini ia berdiri dengan pundak kiri bersandar pada dinding, kakinya menyilang santai. Sehelai ilalang dicabutnya sebagai mainan tangan berjari lentik indah itu."Lalu, apa yang harus kulakukan untuk menolongmu?" tanya Bara







