LOGINNamun, tata bahasa si kakek yang berantakan membuat Iblis Pemburu Dosa yang tak dapat menahan hawa amarah mengeluarkan suara menggerendeng keras. Lalu....
Wuusss...!
Ujung tanduk lelaki berbulu lebat itu menyemburkan gumpalan api merah menyalanyala. Namun, Pujangga Kramat malah tertawa terkekeh-kekeh. Hebatnya, udara yang keluar dari mulut si kakek mampu memadamkan gumpalan api yang hendak membakar tubuhnya!
"Jahanam...!" umpat Wanara Karang, seperti hendak menghalau rasa
Hal itu dilakukan berulang-ulang sampai kulit wajah pucat si gadis menjadi mulai tampak segar kembali. Tubuhnya terasa mulai menghangat. Degup jantung gadis itu diperiksa dengan cara menempelkan telinga ke dada sang gadis. Ternyata sudah mulai bekerja seperti biasanya. Hanya jantung Baraka yang masih berdetak-detak cepat, terutama setelah telinganya menempel di dada sang gadis dan dada itu terasa memberikan kehangatan tersendiri bagi Baraka. Dada sekal dan montok itu akhirnya ditinggalkan oleh telinga Baraka, karena ia takut ketagihan ingin menempelkan telinga di dada itu terus."Dia mulai bernapas dengan lancar," pikirnya sambil pandangi si gadis. "Matanya mulai bergerak-gerak ingin membuka. Oh, syukurlah. Dia tertolong. Tapi... tapi agaknya perlu kuminumkan wedang rendaman suling mustikaku biar mempercepat penyembuhannya."Baraka mengambil mencoba menuangkan wedang ke mulut Salju Kelana. Tetapi mulut itu tak bisa terbuka lebar. Wedang itu akan mengguyur wajah Salju K
"Sudah kukatakan, ancaman apa pun yang akan kalian pakai, aku tetap tidak akan serahkan Rencong Iblis itu. Sebab memang aku tidak memilikinya!" kata Salju Kelana dengan suara bernada dingin. Tongkat kecilnya diketuk-ketukkan di tanah, menunjukkan sikap penuh waspada. Ia siap menyambut serangan lawan kapan saja datangnya.Si kurus berteriak, "Danuyuda, gunakan jurus 'Jala Geni', heeeaaat...!"Orang berbadan kurus itu menyentakkan tangannya ke depan, demikian pula temannya yang bernama Danuyuda itu. Lalu dari tengah telapak tangan mereka keluar lima larik sinar yang masing-masing tertuju ke arah Salju Kelana.Zraaab...!Salju Kelana diam sejenak, bagaikan tak menyadari datangnya lima larik sinar dari kanan dan kiri. Namun tiba-tiba tubuh gadis itu memutar cepat dalam satu sentakan putar. Mungkin lebih dari tujuh putaran dalam sekali sentak. Dan putaran itu memancarkan sinar hijau, menyebar ke sekelilingnya.Blegaarrr...!Sepuluh larik sinar me
Setelah mencium lembut, sebagai cium curian, gadis itu pun merebah kembali. Kemudian tertidur dengan nyenyak. Matanya tetap terbuka tak berkedip, menatap lurus dengan hampa. Pendekar Kera Sakti sengaja diam dulu, belum berani bergerak. Maksudnya membiarkan si gadis lelap dulu baru ingin usil lagi. Tapi rupanya terlalu lama diam membuat kelopak mata sulit dibuka kembali. Akhirnya Pemuda dari lembah kera itu pun benar-benar tertidur dengan nyenyak.Esoknya, ketika Baraka terbangun, ia menjadi sangat terkejut melihat Salju Kelana sudah tidak ada disampingnya. Bahkan di sekitar dalam gua itu pun tidak ada. Baraka cemaskan diri gadis cantik itu. Ia bergegas keluar dari gua."Kemana dia...! Sekadar buang air di tempat tersembunyi atau memang sengaja meninggalkan diriku!" pikir Baraka sambil-matanya memandang ke sana-sini.Wuuut, wuuuut...!Baraka melompat dari batu ke batu mencapai tempat yang lebih tinggi. Mata pun menyapu seluruh alam sekelilingnya."I
"Bagaimana kalau ternyata di perjalanan aku bertemu dengan utusan itu?""Jangan ganggu dia, nanti kau mati di tangannya!""Sebaiknya aku tak perlu mengganggu dia saja, ya? Biar aku tak mati di tangannya. Soalnya kalau mati di tangan orang seperti itu tidak terhormat.""Memang yang kukatakan tadi begitu! Kau jangan ganggu dia biar kau tak mati!" tegas Baraka agak menyentak-nyentak karena jengkel dengan ketulian Hantu Laut."Kita berpisah dulu, Hantu Laut.""Baraka, kusarankan kita berpisah saja sekarang.""Baru saja aku bilang begitu, Budeg!" bentak Baraka makin jengkel. Hantu Laut hanya mengguman dan manggut-manggut tanpa raut muka orang bersalah.Perjalanan menuju Lembah Sunyi memakan waktu hampir sehari semalam. Pendekar Kera Sakti sengaja tidak gunakan jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan' yang mampu mempercepat perjalanan, karena takut kalau Salju Kelana tertinggal dan tak mengerti arah. Sebab itu mereka terpaksa bermalam di
"Hei, hei... orangnya sudah pergi dari tadi kok masih tuding-tuding terus!" tegur Baraka sambil mencolek pundak gadis buta itu."Aku tahu kalau dia sudah pergi. Aku memaki bekas tempatnya jatuh tadi!" Salju Kelana tak mau disalahkan agar tak terlihat kebutaannya."Siapa nenek itu tadi?""Nyai Bantat Maki, bibinya Calo Mayat.""Ia juga tokoh sesat, tukang teluh upahan!" kata Hantu Laut yang sudah mulai segar kembali itu. "Dulu aku dan Tapak Baja pernah menghajarnya sampai hampir mati. Sekarang dia mau balas dendam padaku. Padahal yang banyak menghajarnya adalah mendiang si Tapak Baja!""Sekarang dia sudah pergi, takut dengan sahabat cantikku ini, Hantu Laut," Baraka membanggakan kecantikan Salju Kelana dengan suara agak keras. Hantu Laut hanya menyeringai dengan mata menatap gadis itu tanpa mau berkedip lagi."Kudengar kau sahabat Pendekar Kera Sakti, Hantu Laut. Berarti kau sahabatku juga."Hantu Laut menjawab, "Tidak. Aku tidak seheb
Percakapan tersebut sebenarnya ingin dilanjutkan, namun Baraka melihat Hantu Laut terkena pukulan tenaga dalam sang nenek melalui tongkatnya. Tubuh besar itu tumbang terjungkal dan tak mampu bangkit lagi. Hantu Laut mengerang kesakitan sambil pegangi dadanya yang membiru legam itu. Sang nenek semakin buas, ia segera menghantamkan kepala tongkatnya untuk memecahkan kepala gundul si Hantu Laut."Sekaranglah saatnya kubalas dendamku padamu, murid orang sesat! Heeeaaaah...!"Pendekar Kera Sakti cepat sentakkan tangan, dan nyala sinar biru berkelok-kelok bagai lidah petir melesat dari telapak tangan itu, Pukulan 'Cahaya Kilat Biru' menghantam tongkat sang nenek dari kejauhan.Wuuus...!Duaaarrr...! Sang nenek berjubah merah terpental berjungkir balik di udara. Tongkatnya terlepas dari genggamannya. Ia jatuh setelah membentur pohon.Pendekar Kera Sakti segera melesat ke pertengahan jarak antara sang nenek dan Hantu Laut.Zlaaap...! Jleeg...!
Pendekar Kera Sakti hanya menggenggam kain putih menyerupai sapu tangan itu. Sebelum sampai di kamar yang dimaksud, Baraka menggaruk kepalanya kembali. Lalu, ia ikuti langkah Badai Kelabu yang masuk di sebuah ruangan lebar. Di situ bau busuk sudah tercium tajam. Tapi Baraka tetap tenang.Ba
Sinar merah yang terkena kibasan tangan Baraka itu membalik, yang semula besarnya seperti sebatang lidi, kini menjadi lebih besar lagi, tiga kali lipat dari besar semula. Kecepatan geraknya pun melebihi kecepatan semula. Hampir saja Mata Elang tak sempat menghindari serangan yang membalik ke arah
"Aku harus menghadapi. Terpaksa menghadapinya!" ucap Ratu Pekat seperti bicara pada dirinya sendiri."Jangan, Ibu! Jangan hadapi dia!" Cempaka Ungu menahan. "Biar Mata Elang yang hadapi dia, Ibu! Kita lari saja, bersembunyi lewat pintu rahasia! Lekaslah...!"“Tidak bisa! Mata El
Pendekar Kera Sakti menggumam dalam hati, "Oooo... jadi Gusti Ratu Hyun Ayu Kartika Wangi ini adalah ibu dari Hyun Jelita dan Betari Ayu. Jadi ternyata ada dua Puri Gerbang Kayangan, yang nyata dan yang tidak nyata!"Tiba-tiba Ratu Hyun Ayu Kartika Wangi berkata kepada Baraka, "Benar apa ka







