로그인MALAM itu, Baraka bermalam di sebuah gubuk tengah sawah milik petani, pada saat ia tertidur bayang-bayang wajah Raja Kala Coro, calon mertuanya itu, muncul di dalam mimpinya. Sang Raja Kala Coro seolah-olah berpakaian serba ungu dan bercahaya. Dalam mimpi itu, Kala Coro seakan bicara kepada Baraka.
“Hai, Baraka…….apa kabar? Aku sekarang sudah nggak bisa ketemu kamu dalam wujud nyata. Soalnya aku sudah tak berjasad lagi.”
“Kenapa bisa begitu, Paduk
Hal itulah yang dikhawatirkan oleh Putri Malu. Karenanya, Baraka mempunyai cara sendiri untuk mengatasi kekuatan aji pemikat sang Ratu. Pendekar Kera Sakti juga punya cara sendiri untuk membebaskan Tabib Getar Hati, ibu dari Putri Malu yang menjadi kambing hitam sang Ratu itu."Bagaimana hasilnya, Putri Malu!" sapa sang Ratu dalam pertemuan yang diadakan secara mendadak karena Putri Malu pulang dari tugasnya."Mana pemuda tampan yang bergelar Pendekar Kera Sakti itu! Mengapa kau datang tidak membawa Baraka? Apakah kau tak ingin Ibumu selamat? Ingat tujuh hari lagi purnama tiba. Jika kau belum bisa membawa Pendekar Kera Sakti kemari, maka Ibumu akan kugantung di depan umum!""Gusti Ratu," kata Putri Malu sambil menahan kegeraman dalam hatinya. "Saya sudah bertemu dengan Pendekar Kera Sakti.""Bagus!" sahut sang Ratu dengan wajah mulai berseri-seri. "Lalu bagaimana?""Baraka ada di luar, Gusti!""Hah...! Mengapa tidak kau bawa masuk? Lek
"Hmmm... ya, ya... aku tahu, Suling ini awalnya adalah Suling Krishna dan setelah Mustika Naga Bumi menyatu padanya dan menjadi Suling Naga Krishna, suling ini memiliki nyawa sendiri dan berjalan sendiri menemuiku walau disembunyikan orang di tempat serapi apa pun!"Baraka manggut-manggut dan membayangkan peristiwa hilangnya Suling Naga Krishna saat dibuang ke jurang oleh Putri Kunang, murid Dewa Sengat yang kini menjadi penguasa di Pulau Dadap.Putri Malu terbangun dengan sendirinya tanpa dibangunkan oleh Pendekar Kera Sakti, ia terpekik kaget melihat kaki Baraka sudah pulih seperti sediakala. Bahkan wajah cantik itu sempat menjadi pucat karena kekagetannya. Semakin kaget lagi melihat suling mustika sudah ada di samping Pendekar Kera Sakti, ia nyaris tak bisa berkata apa-apa. Lalu, Pendekar Kera Sakti menjelaskan tentang kesaktian Suling Naga Krishnanya yang sejak kemarin dilupakan itu."Kalau begitu kita tak perlu melanjutkan perjalanan ke Bukit Wangi!" kata P
“Emang mau kering?" canda Baraka sekenanya.Gemas, Putri Malu mencubiti pinggang Baraka, yang hanya bisa mengaduh. Baraka hanya pasrah diserang demikian rupa. Maklum, sakit-sakit nikmat!“Maaf atas yang terjadi tadi Putri Malu” ucap Baraka akhirnya.“Tidak apa-apa, bukan kau yang salah”Sesaat keduanya terdiam dan saling pandang satu sama lain, entah apa yang ada dibenak keduanya, tapi tatapan keduanya terlihat penuh arti.“Apakah kau belum pernah merasakan yang seperti tadi, Putri Malu?” tanya Baraka hingga membuat raut paras jelita Putri Malu berubah, hingga akhirnya menggeleng.“Apa kau mau merasakan ke tingkat yang lebih tinggi.. jauh lebih nikmat dari yang tadi?”Putri Malu bisa merasakan desiran darah di wajahnya. Tentu Putri Malu tau apa maksud ucapan Baraka itu. Walau ingin menjawab tidak, tapi dalam benaknya mendorong untuk menerima tawaran itu. Putri Malu terdiam be
Benar seperti apa yang diduga oleh Baraka, jika malam itu akan terjadi badai, angin terasa dingin menusuk tulang. Yang jelas, angin berhembus keras sekali malam itu. Dinginnya terasa sekali menusuk tulang dan sumsum. Belum lagi dengan bunga-bunga es beterbangan seperti pasir putih di sekitar gua tempat mereka berdua bermalam. Baraka yang masih dalam penderitaan juga dapat merasakan betapa dingin menusuk tulangnya keadaan malam itu, tapi Baraka masih mampu bertahan.Putri Malu sendiri yang masih pura-pura tidur di pelukan Baraka, sebenarnya agak ngeri melihat cuaca malam itu, cuaca seperti ini memang menambah suasana semakin mencekam. Suara angin seperti raungan raksasa yang sedang marah.Gelap-gulita, tak terdengar suara apa-apa selain badai angin yang mengamuk! Baraka mendengar gigi Putri Malu bergemeletuk menahan dingin. Tidak tega, Baraka memeluk Putri Malu lebih erat lagi. Putri Malu sendiri pada mulanya merasa bagai dimasukkan ke dalam air beku, namun begitu meras
"Baiklah, aku menurut dengan saranmu. Kupikir memang ada baiknya aku menjaga diri agar aku bisa merawatmu."Pendekar Kera Sakti sunggingkan senyum tipis. Sorot matanya tertuju ke mata indah Putri Malu. Sorot mata itu merayap ke hidung bangir, lalu ke bibir menggemaskan, lalu ke dada. Sampai di dada sorot mata itu cepat-cepat naik lagi, tak berani terlalu lama memandangi dada berkulit mulus, takut terjadi pemberontakan dalam jiwanya."Masih terasa sakit?" tanya Putri Malu dengan suara lembut.Baraka menggeleng pelan."Tapi kau berkeringat, apakah menahan sakit?" sambil keringat di kening Baraka segera dihapusnya memakai kain ikat pinggang berwarna kuning. Kain itu dilepas dari pinggang Putri Malu dan digunakan mengeringkan keringat di sekitar kening dan pelipis. Dengan terlepasnya kain ikat pinggang yang selama ini membuat rompi merah tak berlengan itu menjadi rapat bagian depannya, maka keadaan rompi merah pun menjadi berubah. Rompi itu membuka dan kulit
Ketika hal itu ditanyakan kepada Baraka, Pendekar Kera Sakti itu hanya menjawab, "Aku tak tahu. Aku baru saja siuman dari pingsanku.""Oh, kau sempat pingsan!""Ya, karena menahan rasa sakit yang datang lagi secara bertubi-tubi ini!" sambil ia menunjuk kakinya yang kian membusuk.Karena senja semakin temaram, Putri Malu berkata kepada Baraka, "Aku tadi melihat sebuah gua di lereng sebelah selatan sana. Bagaimana kalau kau kubawa ke gua itu, lalu kutinggalkan di sana untuk mencari daun penangkal racun?""Apakah gua itu aman untuk kita?""Aku sempat memeriksa sebentar. Gua itu aman, hanya sedikit agak kotor. Dan lagi... sebentar lagi petang akan tiba. Kita harus segera dapatkan tempat untuk bermalam. Langit menghitam begitu, pasti akan turun hujan."Pendekar Kera Sakti tidak mempunyai pilihan lain, ia terpaksa menerima uluran tangan Putri Malu untuk bangkit dan menuju ke sebuah gua yang dimaksud si gadis tadi."Bagaimana kalau kau kupan
“Batul.. Aku yang bergelar Pendekar Kera Sakti," kata Baraka dengan kalem."Kalau begitu kaulah orangnya yang tadi pagi kudengar dari orang-orang kedai akan menikah dengan Muria Wardani. Kaulah yang selayaknya kupenggal dengan samurai ini!"“Hei, tunggu. tunggu... jangan
Wuusss...!Tetapi pada saat itu Bulan Sekuntum sudah mendaratkan kakinya ke tanah, sehingga dengan merendahkan badan, satu kaki berlutut ke tanah, ia melepaskan pukulan jurus 'Racun Baja' yang berupa seberkas sinar biru itu.Claappp...! Blaarrr...!Terjadi ledakan cukup besar
Setelah mereka melintasi desa ketiga, perjalanan terhenti kembali karena munculnya seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun yang menghadang langkah mereka. Lelaki itu bertubuh sedikit gemuk, mempunyai kumis lebat. Tampak gagah namun berwajah culas, ia mengenakan pakaian merah berlengan tan
LANGKAH kaki pemuda tampan itu terhenti karena seorang lelaki tua berjenggot abu-abu memanggil beberapa kali dari belakang. "Kisanak... Kisanak...! Berhentilah sebentar. Kisanak...!" Suara itulah yang menahan langkah kaki pemuda tampan yang memiliki mata kebiru-biruan itu. Lelaki be







