تسجيل الدخولKeesokan paginya.
Cahaya keemasan baru saja menyelinap masuk ke ruang tamu kediaman Guna melewati celah-celah kecil jendela.Di sana, dua orang sedang duduk berhadapan.Guna berada di sisi ruangan. Sementara Jaka Wisesa duduk dengan tenang, secangkir teh berada di hadapannya.Pagi-pagi sekali Jaka sudah bertamu ke kediaman Guna, memenuhi janjinya yang ingin mempertemukannya dengan Catra.Tidak ada percakapan selama beberapa saat di antara keduanya.WUSSH!Catra dan sosok bermata merah kembali bergerak.Dua bayangan hitam melesat di dalam ruang kesadaran yang tidak memiliki batas.CLANG!Pedang mereka bertabrakan.SREET!Catra memutar tubuh, menebas dari samping.Sosok bermata merah menunduk, tebasan melewati kepalanya.Namun sebelum Catra sempat menarik pedangnya, sebuah pukulan menghantam perutnya.BUUM!Catra terlempar, tubuhnya melayang beberapa meter sebelum akhirnya mendarat dengan satu lutut, ia terengah-engah.“Ugh…”Sosok bermata merah berdiri beberapa meter di depannya.“Masih ingin melanjutkan?”“Tentu.” Catra perlahan bangkit.“Kau tidak mengerti.” Sosok itu mengangkat pedangnya.“Semakin lama kau bertarung denganku, semakin banyak racun yang akan kau keluarkan.”Catra menatap garis
“Panji.” Dharmasena mengangkat tangannya.“Ya, Guru.”“Bawa Nona ini ke ruang timur.”“Aku?” Sekar langsung menoleh.“Kau tidak bisa ikut.”“Kenapa?”Dharmasena menatapnya. “Ujian berikutnya hanya untuk pewaris.”“Raka…” Sekar langsung melihat Catra.Catra tersenyum kecil.“Pergilah.”“Tapi—”“Aku akan baik-baik saja.”Sekar mengerutkan kening. “Kau selalu mengatakan itu.”Catra tertawa pelan. “Kalau begitu kali ini aku akan berusaha membuktikannya.”Sekar masih terlihat ragu.Namun Panji sudah berjalan mendekatinya.“Nona Sekar.”Sekar menatapnya.“Guru tidak akan membiarkan pewaris mati.”Dharmasena menambahkan dengan tenang.“Belum.”“Belum?” Sekar langsung menatapnya tajam.Dh
Di sisi lain lembah, Catra berlari mengikuti kawanan Serigala Salju bersama Sekar.Salju semakin deras, angin menusuk kulit. Namun anehnya, kawanan tersebut tidak terlihat kesulitan. Mereka bergerak cepat menembus badai.Sekar berada di samping Catra.“Raka.”“Hm?”“Tubuhmu bagaimana?”Catra menggerakkan tangannya, garis hitam masih terlihat di kulitnya.“Masih terkendali.”“Benarkah?”“Untuk sekarang.”Sekar menghela napas. “Kau selalu mengatakan ‘untuk sekarang’.”Catra tersenyum tipis. “Karena memang begitu.”Serigala Salju raksasa yang memimpin kawanan tiba-tiba berhenti.Seluruh kawanan ikut berhenti.“Ada apa?” Catra mengerutkan kening.Makhluk itu menoleh, kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Cahaya putih menyelimuti tubuhnya.WUUUNG!Tubuh ra
Semua orang menoleh.Puspaningrum berjalan turun dari lereng bersama Sekar dan dua pengawal.Sekar langsung melihat Catra.“Raka!”Catra menoleh. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, ekspresi tegang di wajahnya sedikit melunak.“Sekar…”Sekar hampir berlari menghampirinya. Namun Puspaningrum menahan lengannya.“Jangan.”“Kenapa?”“Lihat tubuhnya.”Sekar memperhatikan Catra, garis hitam masih terlihat di leher dan lengannya. Darah hitam mengalir perlahan dari sudut bibir. Namun anehnya, Catra masih berdiri.“Dia…”“Sedang mengendalikan racun.”Sekar menatap Catra dengan cemas.“Raka, hentikan.”“Belum.” Catra menggeleng.“Kau bisa mati!”“Aku tahu.”“Kalau tahu, kenapa masih melakukannya?”Catra menatap Sekar. “Karena kalau aku tidak mengendalikannya sekarang, suatu hari racun ini akan mengendalikanku.”
Di lereng Pegunungan Salju Utara, Sekar tiba-tiba berhenti, tangannya menekan dada.“Kenapa…” Jantungnya berdetak sangat cepat. Ia merasakan sesuatu, sebuah tekanan jauh di dalam tubuhnya.Puspaningrum memperhatikan.“Kau merasakannya?”Sekar mengangguk.“Pedang itu…”“Bukan.” Puspaningrum menatap kantong penyimpanan Sekar.“Pecahan segel.”WUUUNG!Kantong tersebut bergetar, Sekar segera memegangnya.“Apa yang terjadi?”“Segelnya sedang bereaksi.” Puspaningrum mengerutkan kening.“Karena Pedang Tengkorak?”“Ya.”“Kalau begitu Raka, dia…” Sekar menatap ke arah lembah.Puspaningrum memotong, “Dia sedang berada di ambang sesuatu.”“Apa?”“Antara menjadi pewaris…” Puspaningrum berhenti.“…atau menjadi korban Pedang Tengkorak.”Sekar membeku. “Aku harus kembali.”“Belum.” Puspaningrum menggeleng.“Kena
Pedang Tengkorak bergetar semakin hebat.WUUUUUNG!Aura hitam pekat menyelimuti seluruh bilahnya. Kabut di sekitar Catra berputar, sementara salju yang jatuh dari langit seolah tertahan di udara.Catra menatap pedang di tangannya, ia tidak merasa bahwa senjata itu sedang memberinya kekuatan. Sebaliknya, ia merasa seperti sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada dirinya, sesuatu yang sedang terbangun.“Teknik Keenam…” Catra mengulang nama yang muncul di dalam pikirannya.“Mahkota Racun Tengkorak.”Dadanya terasa semakin sesak.“Cempaka.”“Hm?”“Apa kau juga melihatnya?”“Tidak.” Suara Cempaka berbeda, terdengar ragu.“Aku hanya bisa merasakan tekanan dari teknik tersebut.”“Seberapa buruk?”Cempaka terdiam.“Jawab aku.”“Kalau kau menggunakannya…” Suaranya perlahan menjadi serius.“Tubuhmu mungkin tidak akan bertahan.”







