Share

174. Part 10

last update publish date: 2026-04-29 01:01:53

Di pedataran selatan yang hanya dipisahkan oleh gundukan bukit kecil Momok Laknat tiba-tiba menyela. "Paduka.. Sebagai pewaris tahta mungkin kelak paduka perlu kiranya mengangkat diriku menjadi seorang maha patih di Istana Es"

"Nenek yang berada di seberang. Soal tahta dan Istana saya belum memikirkannya. Tapi bila kau berhasrat menjadi patih. Rasanya kau pantas memangku jabatan sebagai patih. Dan mengingat aku hanya seorang Pendekar Sinting kemungkinan kau layak menjadi patihnya orang

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   296. Part 19

    Ketika Pendekar Sinting mengerahkan ilmu Badai Es di tangan kirinya, seketika itu pula dari tangan tersebut memancarkan cahaya putih redup menebar hawa dingin luar biasa. Sedangkan dari tangan kanan terlihat pancaran cahaya hitam kemerahan berbentuk sebuah cakar berukuran sepuluh lebih besar dari tangan Pendekar Sinting. Dari tangan yang memancarkan cahaya berbentuk cakar itu pula menyebar hawa panas menghanguskan."Majulah! Aku yakin kalian yang telah membuat Penujum Aneh celaka. Tangan dan gigi kalian itu membuat seorang juru obat seperti Penujum Aneh tak dapat menyelamatkan nyawa sendiri. Tunggu apa lagi! Jika kalian ingin tubuhku yang pahit dan penuh racun itu lekas serang. Kalau tidak, aku akan membuat kalian jadi patung beku dan puntung neraka!" Dengus Pendekar Sinting dengan sikap garang.Tak jauh di depannya tiga puluh bocah iblis sama keluarkan suara menggeram. Walau mereka tak bisa bicara sebagaimana seharusnya anak manusia. Namun mereka mengerti segala apa y

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   295. Part 18

    "Kalau mengenal nama kedua puteri itu? Siapa kau?" bertanya sang Penujum dengan suara lirih"Saya bernama Pendekar Sinting, kek. Saya sebelumnya pernah bertemu dengan kedua gadis itu.” Menerangkan Pendekar Sinting. Tak lupa dia juga menceritakan apa yang dialami oleh kedua gadis tersebut sampai akhirnya mereka berpisah, Nila Agung dan Arum Senggini kembali ke istana. Sedangkan Pendekar Sinting sesuai dengan pesan Ki Lara Saru Saru sebelum menghembuskan nafas terakhir segera pergi menemui Dewa Mabok. Setelah mendengar semua penjelasan Pendekar Sinting. Walau terlihat begitu menderita akibat didera rasa sakit disekujur tubuhnya, Penujum Aneh terlihat lega."Aku... aku bersyukur bisa bertemu denganmu, Aku rasa kau adalah orang yang tepat untuk membantu kerajaan keluar dari segala kesulitan yang terjadi.” Kata Penujum Aneh dengan suara makin tersendat."Jangan pikirkan soal itu. Katakan saja apa yang kau alami. Siapa yang telah menyerangmu?" Desak Pendek

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   294. Part 17

    Mata si kakek yang kerap berkedip namun kini kehilangan cahaya kehidupan itu menerawang."Apakah mungkin dalam waktu hanya dalam hitungan hari setelah jejakan kaki di tanah Pasundan Pangeran Durjana telah membangun sebuah istana?" Batin Penujum dalam hati.Orang tua ini terdiam, otaknya yang semakin lemah mencoba berpikir, tapi belum lagi dia dapat mengambil kesimpulan dari semua yang dipikirkannya tiba-tiba dia kaget mendengar suara pekik datang dari sebelah atas pucuk pepohonan tinggi."Oalah... begini repotnya kalau tidak punya sayap. Bisa melayang diudara sayang tangan tidak dapat dikepakkan. Waduuh... celaka, rasanya aku mau jatuh...”Belum lagi suara pekik di atas pohon lenyap. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh berkerosakan seperti ada benda berat jatuh dari langit.Krosak! Bluk!Dua tombak dari tempat dimana sang Penujum tergeletak mendekam, satu sosok tubuh terjatuh. Begitu terhempas di tanah sosok yang ternyata Pendekar Sintin

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   293. Part 16

    "Maumu apa?" Tanya Aki Kolot dengan wajah cemberut.Si nenek terdiam, berpikir sejenak namun sepasang matanya jelalatan menatap kesegenap penjuru sudut.”Aku sependapat denganmu, Ki. Baiknya kita pergi secara diam-diam. Tapi lihatlah di pepohonan itu.” Ujar Nini Burangrang berbisik dengan pelan.Tanpa bicara Aki kolot ikut menatap ke arah dia melirik ke arah pepohonan yang dimaksud. Diam-diam orang tua ini dibuat terkejut begitu mengetahui diatas cabang pepohonan dan daun-daun menghijau mendekam mahluk-mahluk bersayap berwarna hitam berkepala merah gelap,"Lebah Kepala Hati Berbunga? Astaga! Jadi Pangeran Durjana diam-diam mengirimkan Lebah Kepala Hati Berbunga untuk mengawasi kita.” Desis Aki Kolot Raga seakan tidak percaya."Dasar tua bangka pikun. Yang kau lihat saat itu bukan Lebah Kepala Hati Berbunga. Lebah-lebah yang diutus Pangeran Durjana untuk mengikuti kita adalah lebah pembunuh. Lebah itu sepuluh kali lebih mematikan dibanding

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   292. Part 15

    "Andai ada cara untuk menyampaikan kabar ini pada gusti prabu... ?"Belum lagi sempat si kakek menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki bergedebukan seperti suara dua orang yang yang berlari namun tiba-tiba berhenti. Penujum Aneh terkejut. Belum hilang rasa kaget dihatinya terdengar suara orang mendamprat yang disusul dengan omelan."Nasib kita memang selalu apes. Bagusnya Pangeran keparat itu tidak mengajak bicara sampai pagi. Kalau tidak mataku mungkin sudah lamur karena tidak boleh berkedip,"Lalu ada suara lain menyahuti."Berani berkedip berarti mampus, tubuh hancur lebur.”"Apa kau lupa istriku,ruangan pertemuan itu bernama Ruang Pertemuan Kedipan Nyawa. Ada mata setan yang selalu mengawasi. Aku sendiri merasa lebih beruntung, walau mata ini perih karena dipantang berkedip. Namun aku tidak takut celaka.”"Kau tidak takut celaka, suamiku? Aneh, ada yang tidak wajar.” sahut satu suara.Dan

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   291. Part 14

    Seiring dengan itu...Wuus!Seketika itu pula Pendekar Sinting merasakan ada satu kekuatan dahsyat berupa hembusan angin luar biasa kencang menyambar tubuhnya. Pendekar Sinting merasakan seperti ada yang membawanya terbang.Takut, kaget juga penasaran.Pemuda itu menggerakan kedua kakinya yang terlindung kasut tipis berwarna hitam kelabu. Dia tercekat begitu sadar kedua kakinya tidak lagi menyentuh tanah dihalaman pondok."Oei, orang tua itu membuatku seperti terbang sungguhan. Tapi, aduh biyung udaranya terasa dingin sekali. Membuat aku ingin pipis.”Pendekar Sinting lalu meraba wajah, dada dan perutnya. Semuanya terasa dingin. Penasaran dia ulurkan tangan meraba di bagian bawah perut. Lalu dengan perasaan lega sambil senyum-senyum dia berucap.”Ternyata tidak. Tidak semua anggota tubuhku jadi dingin seperti es. Satu yang dibawah tak disangka-sangka masih hangat. He he he... !Sepeninggalnya Pendekar Sinting, Dewa Mabok ya

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   8. Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu

    Ketika hari berganti, kalangan persilatan tanah Jawa malah lebih mengenalnya dengan julukan Tabib Tangan Dewa. Ketika Majapahit dilanda perang saudara sepeninggalan Prabu Rajasanegara, Ki Kusumo mengasingkan diri di sebuah pulau karang yang terpencil di sekitar Laut Selatan.Dia benci pada setiap p

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   7. Siapa sebenarnya Ki Kusumo?

    Bunyi gemeritik bara api yang dimainkan Tresnasari terdengar, ditingkahi derik ramai jangkrik di kejauhan. Nyai Cemarasari merebahkan tubuhnya yang demikian penat dan lunglai di atas rumput. Dengan caping, diganjalnya kepalanya. Tampaknya dia mulai mengantuk. Keadaan tubuhnya memang tak memungkinka

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   6. Bertemu Kembali

    Hari makin tua.Sinar merah tembaganya meredup dan terengah-engah. Matahari terkapar disudut barat bumi. Di batas Kadipaten Ketawang, dua perempuan berjalan perlahan menuju arah matahari tenggelam. Mereka adalah Nyai Cemarawangi dan anaknya, Tresnasari."Kita membutuhkan kuda untuk sampai di Jogobo

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   5. Ki Kusumo

    TEMPAT keributan kembali tenang. Beberapa orang yang menjadi penonton kejadian memulai kembali kegiatan masing-masing. Sementara si perempuan berpakaian silat warna ungu mendekati anak gadisnya."Kapan kau mempelajari gerakan secepat itu, Anakku?" Tanyanya, ingin tahu bagaimana anaknya bisa bergera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status