LOGIN"Apakah benar seperti itu kejadiannya?" Potong Mangir Ayu kaget.
"Aku tidak berdusta." Jawab Penyair Sinting.
"Mengapa adipati menghabisi penghuni Lembah Bangkai? Memangnya penghuni Lembah itu siapa?" Tanya Pendekar Sinting tertarik juga penuh rasa ingin tahu.
"Para penghuni Lembah Bangkai." Berkata Penyair Sinting dengan mata menerawang kosong.
"Mereka adalah sebuah kaum yang keadaan tubuh dan wajahnya menyerupai manusia dan binatang. Mereka kaum yang dikucilkan o
"Apakah benar seperti itu kejadiannya?" Potong Mangir Ayu kaget."Aku tidak berdusta." Jawab Penyair Sinting."Mengapa adipati menghabisi penghuni Lembah Bangkai? Memangnya penghuni Lembah itu siapa?" Tanya Pendekar Sinting tertarik juga penuh rasa ingin tahu."Para penghuni Lembah Bangkai." Berkata Penyair Sinting dengan mata menerawang kosong."Mereka adalah sebuah kaum yang keadaan tubuh dan wajahnya menyerupai manusia dan binatang. Mereka kaum yang dikucilkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya sempurna. Penyerbuan itu dilakukan karena mereka menganggap kaum aneh yang sering mereka sebut sebagai Manusia Kutukan itu sebagai sumber penyakit dan kemalangan bagi orang yang tinggal di luar lembah." Terang Penyair Sinting."Apakah kejadiannya memang seperti itu?""Tidak. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki manusia kuanggap sebagai sebuah kuasa sang pencipta. Tapi adipati menganggap mereka adalah manusia kutukan para dewa. Padahal sebenarn
"Apakah tukang jual bunga di pasar-pasar?" Tanya Mangir Ayu.Mendengar ucapan si gadis gerakan Penyair Sinting tiba-tiba terhenti. Kemudian secara perlahan tubuhnya meluncur turun, lalu menjejak tumpukan bara yang masih menyala."Hei, jangan dinjak. Kau bisa terbakar!' teriak Pendekar Sinting sambil tergopoh-gopoh datang menghampiri. Niatnya yang semula hendak menolong terpaksa diurungkan ketika dia melihat kaki si gadis yang dilapisi kasut kuning berbulu itu ternyata tidak terbakar. Malah gadis itu pejamkan mata sambil tersenyum seakan kaki berpijak pada bara itu seperti menginjak tumpukan es tebal."Wah ini hebat. Luar biasa. Gadis aneh suka bermain api.""Aku lebih suka bermain api asmara." Sahut Penyair Sinting.Kemudian dengan tenang dia melangkah meninggalkan tumpukan bara api. Ketika dia berdiri di depan Pendekar Sinting dan Mangir Ayu lalu beberapa saat lamanya dia menatap gadis di depannya."Kau.. orang tuamu baru saja menjadi korba
"Pemuda kurang ajer. Lebih baik kau cium bokong kuda. Ada-ada saja. Mengapa kita tidak istirahat saja. Malam semakin larut, suasana di tempat ini aku rasakan begitu sunyi." Ujar Mangir Ayu dengan mata menerawang memperhatikan kegelapan di sekitarnya.Pendekar Sinting tidak menjawab. Sebaliknya menyandarkan punggungnya pemuda ini berkata. "Aku tidak risau dengan keadaan di tempat ini. Yang aku risaukan mengapa orang tuamu dibunuh. Apa sebenarnya yang terjadi?"Mangir Ayu yang duduk di tangga gubuk menatap ke arah Pendekar Sinting. Tapi belum sempat bicara apapun tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa memecah kesunyian. Seiring dengan terdengarnya suara tawa terdengar pula ada orang berkata."Hi hi. Bukannya aku mau usil tapi terus terang bila aku yang diajak oleh seseorang apalagi pemuda tampan untuk berciuman. Mana mungkin aku bisa menolaknya."Tak menyangka ucapannya didengar orang baik Pendekar Sinting maupun Mangir Ayu tentu saja terkejut. Si gadis
"Jenazah itu sudah hampir membusuk. Rasanya gila sekali. Aku tidak percaya telah tidak sadarkan diri dalam waktu selama itu. Tapi.... dimana gusti Mangir Ayu putri gusti tumenggung? Apakah mungkin Mata Bara membawanya pergi. Celaka nasib gadis itu bila sampai terjatuh di tangan manusia haus darah. Aku harus mencarinya," Pikir Mbah Krupuk.Ketika si kakek hendak pergi.Orang tua ini tiba-tiba menjadi bimbang karena dia tidak tega meninggalkan mayat-mayat orang yang dikenalnya begitu saja. Sedangkan menguburkan sendiri tidak mungkin.Mbah Krupuk pun akhirnya mengumpulkan para penduduk desa untuk menguburkan mayat mereka. Menjelang gelap barulah pemakaman selesai dilakukan. Sebelum pergi mencari Mangir Ayu, Mbah Krupuk masih sempat membagi-bagikan sisa perbekalan dalam kereta kudanya pada penduduk itu.Malamnya dengan menunggang seekor kuda dan membawa sekantong krupuk kesukaannya si kakek memulai perjalanannya. Mengingat Mbah Krupuk tak tahu secara pasti ke
Sebelum sosoknya benar-benar lenyap dari pandangan laki-laki Itu. Sempat sayup-sayup terdengar Penyair Sinting melantunkan bait-bait syairnya."Kulihat kepiting berjalan miring. Anak monyet duduk menungging. Berjalan jauh tanpa pengiring. Tersesat jalan jadi pusing. Aku datang membawa sejuta kedamaian. Kebencian melenyapkan kasih sayang. Masa lalu lama telah dilupakan. Kini saatnya menuai malapetaka. Senopati ! Aku cuma bisa memberi jalan. Tinggalkan kemewahan. Mencari selamat. Pergilah bertobat. Sebelum nyawa menjadi busuk....""Bangsat sialan! Dasar penyair gila. Aku tak perlu nasehat, aku tak butuh syair. Kurang ajar! Cuma membuang-buang waktuku saja!" Geram senopati sambil membanting kakinya.Dengan membawa rasa kesal dihati laki-laki ini kemudian bergegas turun lalu menghampiri kudanya yang menunggu di tepi pantai. Tapi sesampainya di tepi pantai dia lebih marah lagi ketika melihat bagian pelana kudanya ternyata dipenuhi kotoran manusia."Keparat! Bagaimana bisa begini? Siapa yan
"Apa maksudmu. Mengapa gusti adipati dikaitkan dengan kematiannya?""Sebabnya tak lain semua persoalan berasal dari adipati sendiri. Sebagai senopati kau telah lama mengabdi padanya. Aku yakin kau tahu sejarah riwayat kehidupan adipati belasan tahun yang lalu. Yang terjadi sekarang adalah apa yang disebutkan sebagai sebab dan akibat. Makanya kau tak usah heran ketika melihat para tumenggung yang menjadi bawahan adipati semuanya menemui ajal. Para tumenggung itu dulu pernah terlibat persekutuan dengan adipati dalam melakukan pembantaian di Lembah Bangkal." Terang Penyair Sinting, membuat senopati terperangah seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri."Lembah Bangkai. Telah lama dilupakan orang, aku sendiri tidak tahu menahu peristiwa pembantaian di Lembah itu. Yang kudengar semua penghuni lembah itu tewas terbunuh. Malah senjata pusaka yang menjadi kebanggaan kaum Kutukan kuketahui ada di tangan gusti adipati. Bila semua penghuni lembah terbantai, lalu mengapa
Sementara kepala pengawal ini terlempar sejauh tiga tombak dengan tubuh dikobari api. Sambil menahan rasa sakit luar biasa akibat Jilatan api yang membakar pakaiannya. Pati Jaladara berguling-guling selamatkan diri. Dia selamat begitu api padam. Namun keadaannya sangat menyedihkan. Selain sekujur
"Hasyih-hasyih.... Sial. Aku mencium bau aneh. Bau ini jelas bukan bau kentut. Bau kentut aku sudah hapal karena aku sering buang angin. Bau yang tercium olehku ini busuk sekali! Seperti bau bangkai!" Rutuk Angon Luwak."Hmm, ke tempat itulah gusti akan pergi. Ada kematian di seberang laut
Street!Lagi-lagi satu sengatan luar biasa menghunjam dipunggung Angon Luwak membuat Pemuda ini menggeliat, meraung dan memelintir kesakitan."Pedang sialan! Pedang Laut Selatan kurang ajar! Kalau tak suka bersamaku ya sudah. Aku tidak memaksa," Kata Angon Luwak geram.Dengan tubuh terhuyung namun
Senopati menggeleng seolah berusaha mengingkari semua kenyataan yang dilihatnya. Tapi ketika semua ciri korban yang tewas dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Sebagaimana pengakuan si Mata Bara.Senopati merasa tidak ada gunanya menutupi kenyataan."Lima tumenggung, penguasa lima w







