LOGINYang pasti, Dirgasura merasakan sakit sampai ke ubun-ubun. Dapat dinilai dari suara raungannya. Rasa sakit yang juga memaksa si Tangan Seribu Dewa melepaskan pagutan jarinya pada sepasang pedang lawan. Belum cukup sampai di situ, satu sambaran deras merangsak kembali. Dada Dirgasura menjadi sasaran empuk.
Dash!
Sang pemimpin gerombolan begal yang ditakuti terjajar kuat ke belakang. Tak sempat berteriak, karena jalan pernapasannya menyempit seketika. Hanya parasnya saja yang beru
Setelah sempat berpikir, Pendekar Sinting merasa saran Pedang Jiwa ada benarnya juga. Bukankah waktunya sudah semakin sempit apalagi Malae Daeng Pasir Tujuh sudah mengatakan dia harus pergi ke Malingping. Pendekar Sinting yakin kekacauan besar bakal terjadi di istana itu. Dengan langkah lebar Pendekar Sinting berjalan menghampiri kuda hitam itu. Setelah disamping kuda dan lepaskan tali kekangnya yang tertambat pada pohon kecil, Pendekar Sinting segera menyadari kuda itu ternyata kuda betina.Disamping itu di atas pelana kuda dia juga melihat ada sebuah pesan tulis diatas selembar daun lontar. Pendekar Sinting segera meraih dan membaca tulisan yang ditulis dalam bahasa purwa tersebut."Jangan berdebat dengan hati. Jangan mempermasalahkan siapa dan mengapa harus berbuat, baik. Genderang perang sudah ditabuh oleh Pangeran Durjana. Iring-iringan pasukannya sedang menuju ke istana Malingping malam ini. Gunakan kuda ini. Namanya Angin Ribut. Kuharap kau sampai di istana sebe
Pendekar Sinting melangkah mundur, bersikap waspada dari setiap kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Namun segala sesuatu yang dikhawatirkannya ternyata tidak terjadi. Api yang muncul dari dalam peti bersama hembusan angin akhirnya padam dengan sendirinya.Setelah api padam, muncul pula perasaan cemas dihati Pendekar Sinting. Dia takut pakaian yang tersimpan di dalam peti ikut hangus terbakar."Paduka. Api dan angin aneh lenyap. Mengapa paduka tidak segera hampiri peti itu?" Kata jiwa pedang."Mungkin petinya masih panas. Aku jadi ragu apakah pakaian yang kubutuhkan masih utuh?" Gumam pemuda itu.Walau merasa ragu. Dia tetap menghampiri peti tersebut. Tak lama Pendekar Sinting telah duduk bersimpuh disamping peti. Setelah menatap peti beberapa kejab lamanya Pendekar Sinting segera ulurkan tangan ke mulut peti. Diam-diam dia merasa heran sekaligus takjub begitu sadar ternyata bagian dalam peti yang sempat dikobari api dalam keadaan sejuk dan dingin
"Menginginkan apalagi berhasrat ingin memiliki pakaian dalam peti hitam bukan perkara mudah. Pakaian itu adalah milik Tetua Ageng Datu Katu Lampa.""Bukankah orang yang kau maksudkan jenazahnya hanya tinggal seonggok belulang dalam keadaan duduk bersila tak jauh dari peti itu?" Tanya Pendekar Sinting sambil diam-diam melirik ke arah kerangka tengkorak menyender di dinding sebelah kanan gua."Benar. Pakaian sakti dalam peti hitam itu bernama Kabut Api Angin. Siapa saja yang memakai bisa menjadi kebal dari serangan, tahan bacokan dan pukulan sakti juga menjadi kebal terhadap racun terjahat sekalipun."Penjelasan Malae Daeng Pasir Tujuh Angin ini membuat wajah Pendekar Sinting jadi sumringah. Dia bahkan kegirangan."Itu yang kucari. Rasanya aku ingin memakainya!" Kata Pendekar Sinting berterus terang."Seperti yang kukatakan untuk memiliki pakaian itu ada satu syarat yang harus kau penuhi disuatu saat kelak. Syarat itu sangat berat.""Apapun sy
Sadar dirinya telah melakukan kesalahan memasuki gua tanpa seizin penjaganya. Pendekar Sinting cepat rangkapkan dua tangan di depan dada. Dia lalu jatuhkan diri berlutut menghadap ke arah mulut gua.Dengan kepala menunduk sebagai tanda penghormatan Pendekar Sinting membuka mulut dan berucap."Orang tua siapa pun dirimu. Mohon maafkan aku karena telah memasuki tempat peristirahatan Tetua Ageng Datu Katu Lampa tanpa seizinmu.""Ha ha ha. Ternyata walau dirimu seorang penerus tahta kerajaan kau pemuda berhati polos dan cukup tahu diri. Dibalik sikapmu yang ugal ugalan dan kerap berlaku sekehendak hati ada kejujuran dan kemuliaan dalam tujuan hidupmu. Aku telah memberimu maaf. Bukankah kau telah mendengarnya.""Ya, aku sudah mendengarnya orang tua." Jawab Pendekar Sinting tanpa berani mengangkat wajahnya.Lagi-lagi terdengar suara tawa mengiang di telinga pemuda itu. "Saat ini kau tidak melihatku, aku bahkan berada sangat jauh dari tempat dirimu berada
Cahaya yang menerangi ruang gua berasal dari bebatuan putih seperti intan yang banyak bermunculan di bagian dinding dan langit-langit gua itu."Jiwa... kau lihat sendiri. Ruangan ini nampak bersih seperti ada orang yang merawatnya setiap hari. Aku menaruh curiga tidak tertutup kemungkinan tempat ini ada penghuninya.""Mungkin yang menghuni gua ini adalah anjing yang ada diluar tadi paduka. Tak usaha banyak pertimbangan. Lihatlah begitu banyak pakaian digantung di sudut sebelah kiri gua itu. Lekas pilih dan ambil yang ukurannya pas buat paduka."Tanpa bicara Pendekar Sinting menatap ke arah yang dimaksudkan sang jiwa. Dia melihat ada beberapa pasang pakaian bergelantungan di dinding gua. Pakaian itu terdiri dari beberapa macam warna. Tapi setelah didekati ukurannya ada yang kecil, besar dan besar sekali."Pakaian ini bukan cuma ukurannya saja yang tidak sesuai dengan tubuhku, warnanya juga terlalu menyolok. Siapa yang meletakkan pakaian itu di sini?" Kata
Mendengar ucapan sang jiwa, Pendekar Sinting jadi berpikir apakah mungkin segala yang dikatakan mahluk penghuni hulu pedang itu benar adanya? Apakah benar sang anjing bisa bicara atau setidaknya mengerti setiap kata yang diucapkannya.Terdorong oleh rasa ingin tahu sambil menekan bagian bawah perut tangan kiri. Pendekar Sinting palingkan kepala dan menatap ke arah anjing besar. Dengan hati diliputi keraguan akhirnya dia berucap."Wahai mahluk hitam. Aku tidak tahu apakah kau mahluk sungguhan ataukah cuma anjing jejadian. Apa pun yang membuatmu hadir di tempat ini. Kuharap kau tidak membawa maksud tertentu yang membuatku jadi repot. Aku membutuhkan seperangkat pakaian yang pantas saat ini. Dan menurut sahabatku yang tidak pernah menunjukkan diri di dalam gua ada pakaian yang kubutuhkan. Aku ingin mengambilnya. Tapi jika kau ternyata penjaga sekaligus pelindung pakaian itu aku berharap kemurahan hatimu untuk memberikan pakaian itu padaku!"Setelah berkata begitu,
Sepekan berlalu.Siang di pusat Kadipaten Ketawang. Saat itu matahari terhalang mendung. Sinarnya tak terlalu menyiksa. Angin sejuk sepoi-sepoi berdenyut, mempermainkan dedaunan pepohonan.Seorang anak lelaki dekil berjalan gontai dijalan pusat pemerintahan Kadipaten Ketawang. Wajahnya demikian lus
HARI itu alam murka. Badai besar mendatangi wilayah tersebut. Ombak raksasa bergulung-gulung di kejauhan bagai tembok hidup menggapai angkasa. Sulit memastikan berapa ketinggian ombak saat itu. Lima enam meter bisa jadi lebih. Dan untuk ombak setinggi itu, tak diragukan lagi akan sanggup memporak-p
Setelah membereskan ketiga prajurit penjaga, pasukan Dirgasura bergerak kembali mendekati tepi rawa. Gerakan mereka kali ini tak lagi lambat. Seperti sekawanan anjing lapar yang melihat tumpukan tulang di depan mata, mereka memburu ke tepi. Meski begitu, tak ada keributan berarti mereka ciptakan.D
Banyak buaya liar berkeliaran. Selain itu, pasukan yang mencoba menerobos ke sana harus menempuh perjalanan tanpa kendaraan menembus rawa setinggi pusar selama satu malam. Lebatnya hutan bakau tak memungkinkan untuk menggunakan perahu. Besar kemungkinan selama merambah bentangan rawa, mereka akan d







