ログインBab 177Setelah jamuan makan malam berakhir, Gendon menghadap ki Arya Saloka di ruangan nya.“Guru.”“Duduk Ndon.”Gendon mengangguk dan duduk di hadapan Ki Arya Saloka.“Bagaimana? Kau siap dengan pernikahan ini?”“Hihihi … siap Guru. Dadakan nggak papa, Gendon tetep bahagia kok,” ucap Gendon dengan senyum lebar.Ki Arya Saloka mengangguk pelan, wajahnya tampak berat saat menatap muridnya itu. Perasaan bersalah muncul di hatinya.“Gendon, kau tidak ingin menanyakan apa-apa?”“Tanya apa Guru?” tanya Gendon dengan kening berkerut.“Tentang kedua orang tuamu, kau tidak ingin menanyakan apa-apa?”“Hmm … Gendon sebenarnya pengin tanya, tapi Gendon takut kalo ucapan Gendon nantinya bakal nyakitin Guru.”“Katakan saja, aku tidak akan marah padamu.”“Guru kok jahat banget sih nggak ngasih tau Gendon kalo yang minta habisin keluarga Gendon itu Raja? Karena Gendon nggak tau, jadi kemarin Gendon marah tau ke Den Bagus. Gendon pikir dalang utamanya itu mantunya Guru lho.”Ki Arya Saloka menarik
Bab 176Esok harinya, tak lama setelah matahari terbit, Tumenggung Adhyaksa melepas rombongan Surya Yudha dan lainnya dari kota Batu Ceper. Rombongan tersebut tidak begitu besar, hanya berisi beberapa orang yang berasal dari kediaman Ki Arya Saloka.Surya Yudha dan Ningrum menunggang kuda yang sama yaitu Bintang, sementara yang lainnya menunggang kuda masing masing. Hanya Ki Arya Saloka, Dewi Mayangsari dan Sekar yang menuaiki kereta kuda.Setelah hari hari panjang yang melelahkan, akhirnya mereka sampai di kediaman Ki Arya Saloka. Surya Yudha menatap tempat ini dengan tatapan takjub, terakhir kali dia datang ke tempat ini, rumah ini sedikit lebih kecil dibanding sekarang.“Eyang, sejak kapan rumah ini menjadi sebesar ini, Ayah?” Tanya Dewi Mayangsari yang terkejut melihat rumah Ki Arya Saloka.“Sejak kapan? Kau mengatakan itu seolah sudah sewindu tidak mengunjungi tempat ini,” balas Ki Arya saloka.Dewi Mayangsari terkekeh.“Memang berapa lama aku pergi? Setahun? Dua tahun?”Ki Arya
Bab 175Setelah jamuan malam itu berakhir, Ki Arya Saloka mengajak Ki Antasena bekerja sama. Dengan menggunakan merpati pos, mereka menghubungi semua relasi yang bisa membantu menyelesaikan masalah ini. Dan sebelum matahari terbit, apa yang mereka lakukan sudah membuahkan hasil. Ada puluhan orang yang sudah mengantri di gerbang kota Batu Ceper. Mereka adalah utusan-utusan orang yang dihubungi oleh Ki Antasena dan Ki Arya Saloka.Di pusat kota Batu Ceper, Panggung yang begitu megah sudah rampung hanya dalam waktu satu hari. Tak hanya itu, pakaian pengantin yang biasanya selesai lama pun rampung dalam waktu tiga hari saja.Ki Arya Saloka mengawasi semuanya karena tidak ingin terjadi kesalahan sedikit pun. Dan pada matahari tenggelam di hari keempat, semua persiapan sudah selesai. Tamu-tamu dari jauh sudah mulai berdatangan sejak hari kelima, membuat seluruh penginapan di kota Batu Ceper penuh.Hingga akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. Surya Yudha dan Ningrum berdiri di altar pernikah
Bab 174Mendengar jawaban sang ayah, Ningrum mengangguk. berita sebesar itu pasti sudah tersebar ke segala penjuru negeri. Apalagi dengan statusnya sebagai penguasa kota, Tumenggung Adhyaksa pasti sudah mendengar kabar ini lebih cepat dibanding yang lain.Tumenggung Adhyaksa menyapa Dewi Mayangsari begitu melihat wanita tersebut keluar dari kereta kuda.“Nyonya, saya turut berduka cita atas gugurnya Panglima Besar Indra Yudha.”“Terima kasih, Tuan Adhyaksa. Kedatanganku kali ini tidak untuk basa basi, aku ingin membicarakan tentang pernikahan Surya dan Ningrum,” ucap Dewi Mayangsari lugas. Puluhan tahun hidup sebagai istri seorang prajurit, Dewi Mayangsari juga ikut menjadi sosok yang lugas.Tumenggung Adhyaksa mengangguk, hal ini sudah sesuai dengan prediksi Ki Arya Saloka dan Ki Antasena yang sudah datang sejak kemarin.“Kami sudah menyiapkan paviliun untuk Anda istirahat, pembahasan tentang pernikahan Surya dan Ningrum bisa kita lakukan ketika jamuan malam, Nyonya.”Dewi Mayangsari
Bab 173Malam itu, Surya Yudha meminum arak hingga perut mereka kembung. Dengan kekuatan mereka sekarang, minum belasan guci arak pun tidak akan membuat mereka mabuk. Hingga pagi menjelang, keduanya masih minum-minum.Sekar yang bangun pertama kali, segera mengeluh karena aroma arak yang begitu menyengat padahal mereka sedang berada di alam terbuka.“Pagi-pagi kenapa bau arak sekali?” keluh Sekar mendekati Surya Yudha dan Gendon.“Semalem dingin, Dek Sekar, jadi kita minum-minum biar anget,” jawab Gendon mencari alasan.“Dingin? Apa kalian becanda? Aku yang manusia biasa bahkan tidak meraa kedinginan, bagaimana kalian para pendekar bisa selemah itu?”Gendon menggaruk kepalanya yang tak gatal ketika menyadari jika alasannya tidak masuk akal sama sekali.“Iya iya, Gendon sama Den Bagus tadi Cuma seneng-seneng.”“Ndon, bukannya aku sudah bilang, berhenti memanggilku Den Bagus?”“Lah, susah banget tau Den eh Kakang,” balas Gendon dengan bibir mengerucut.Surya Yudha tersenyum nakal. Meman
Bab 172Malam itu, wanita dalam rombongan istirahat lebih awal karena besok perjalanan masih panjang. Surya Yudha dan Gendon berjaga karena khawatir ada hewan buas yang mendekat. Dengan kemampuan yang mereka miliki sekarang, terus berjaga selama seminggu penuh pun tidak akan mengurangi kemampuan mereka.Surya Yudha menatap bara api unggun di depannya. Ada banyak hal yang terngiang di kepalanya, terlalu banyak hingga dia sendiri pun bingung bagaimana mengolahnya.“Den Bagus, jangan ngelamun, ntar kesambet,” celetuk Gendon memecahkan keheningan.Surya Yudha menunduk lantas menoleh kepada sahabatnya itu.“Maaf, Ndon,” ucap Surya Yudha dengan suara parau.“Maaf kenapa, Den bagus?”“Maaf karena ayahku yang menghancurkan keluargamu, maaf karena dulu aku tidak memperlakukanmu dengan baik, maaf karena dulu aku selalu mengusirmu,” ucap Surya Yudha dengan suara bergetar. Rasanya dia tidak mampu menatap wajah sahabatnya itu.Gendon menepuk pundak Surya Yudha.“Kan Gendon udah bilang, kita itu Cu
Bab 134Mendengar penuturan Gendon, Ningrum tidak bisa tidak mendengus. “Kau saja yang memang suka makan, alasan untuk energi segala.”Gendon kembali terkekeh. Pipinya yang dipenuhi lemak bergoyang setiap kali dia tertawa. “Iya lho. Kalo makan Gendon rasanya bahagia banget. Mungkin salah satu hal
Bab 126Mendengar pertanyaan Candrika, Gendon terdiam seketika. Panggilan Gendon berasal dari tubuhnya yang gempal dan gerakannya yang lamban seperti ulat kelapa. Meski dia memiliki nama, tetapi panggilan Gendon sudah terlalu akrab di telinganya. Tidak mudah untuk membiasakan diri memiliki panggila
Bab 125Bukit Naga Liar berada di ujung utara Majapura, letaknya berada di wilayah Netral antara kerajaan Jalu Pangguruh dan Nara Artha. Meski disebut sebagai bukit, nyatanya tempat itu adalah sebuah gunung yang berdiri dengan gagah, bahkan puncaknya seringkali menembus awan.Meski berada di wilaya
Bab 127Begitu pil tersebut selesai, Gendon tidak berhenti. dia mulai meracik pil-pil lain dan membuatnya dengan telaten. Candrika menatap pemuda itu dengan takjub, setiap pil yang dibuat oleh Gendon terbentuk dengan sempurna, tidak ada satu pun yang gagal.Hingga larut malam, Gendon masih sibuk me







